Refleksi: Mei 2001
Selasa 29 Mei 2001
Belajar (Dari) Sejarah
Tahun berapa Perang Diponegoro meletus? Kapan terjadinya peristiwa Sumpah Pemuda? Tanggal 20 Mei diperingati sebagai hari apa?
Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang seringkali muncul di kelas-kelas pelajaran Sejarah, mulai dari tingkat Sekolah Dasar hingga SMU. Para siswa dicekoki dengan hafalan sementara esensi di balik peristiwa-peristiwa bersejarah yang sedang dikaji nyaris terlupakan. Kalaupun ada esensi yang dibahas, itu tak lebih dari tafsiran yang sudah baku seperti yang termuat dalam buku pegangan. Pendeknya, ruang berpikir serta daya nalar siswa terbatasi oleh apa yang ada di antara halaman-halaman buku teks.
Mungkin inilah salah satu sebab mengapa perjalanan sejarah bangsa ini tidak pernah mulus. Setiap era selalu datang dengan persoalannya sendiri-sendiri yang kemudian hanya melahirkan kajian berupa apa, siapa, kapan dan dimana, sementara kajian tentang mengapa atau bagaimana akhirnya hanya menjadi "hak prerogatif" dari segelintir kalangan tertentu.
Kita memang masih dalam tahap belajar sejarah. Masih belum mampu untuk belajar dari sejarah.
Senin 28 Mei 2001
Site-Site Lain
Ceritanya, beberapa hari yang lalu Mas Koen merombak tampilan situsnya sampai ungu total, dan nama saya dibawa-bawa pula sebagai yang bikin gara-gara [jadi deh, purple club-nya ;)]. Seingat saya sih, situs pertama yang ber-ungu-ria adalah situsnya KTPDI-Isnet. Mulanya karena kombinasi warna sebelumnya yang kuning kecoklatan itu terasa agak kurang nyaman di mata, akhirnya entah dapat idea dari mana, seluruh halamannya saya rombak menjadi bernuansa ungu.
BTW, tulisan singkat soal Kuiper Belt sudah saya selesaikan dan bisa dijenguk-jenguk di halaman ini. Tulisan-tulisan yang sama juga saya muat pada ruangan astronomi di situs Media Isnet.
Cerita sedikit tentang Media Isnet. Halaman astronomi disini sudah saya pegang sejak bulan Maret tahun 2000. Rasanya sayang kalau sampai terbengkalai hanya karena sudah ada situs ini -- yang IMHO sebenarnya memang lebih cocok untuk ketempatan materi soal astronomi. Tadinya saya juga berpikir kalau halaman astronomi mungkin agak kurang cocok ditaruh di situs Media, tapi karena sudah terlanjur disiapkan halaman khusus untuk artikel IPTEK disana, maka halaman astronomi akhirnya dipasang juga dengan materi utama berupa link dan klipping artikel astronomi populer yang dicomot dari sana-sini, plus supaya tetap ada nuansa Islami-nya, maka saya sertakan juga beberapa tulisan dari para astronom di Obs. Bosscha [aneh, situsnya serba ungu juga ;)] yang membahas seputar hisab dan ru'yat. Saya pikir ini perlu juga. Masak sih, orang lain sudah sampai di bulan, kita masih terus stuck di persoalan apakah bulan sudah kelihatan atau belum.
Komunikasi via email dalam tiga-empat hari ini jadi rada-rada terhambat. TelkomMail yang jadi andalan utama untuk urusan surat menyurat elektronik mendadak suka down di siang hari dan baru hidup lagi menjelang tengah malam (untuk kemudian down lagi pada besok siangnya). Dampak negatifnya, kegiatan di milis, incl. Milis Isnet, "warisan" dari Mas Koen :), untuk sementara terpaksa dihentikan. Dampak positifnya, jadi ada cukup waktu untuk membenahi website ini. Memang selalu ada hikmah dibalik segala hal :).
Sabtu 26 Mei 2001
Beberapa Objek Sabuk Kuiper
Dalam edisi bertanggal 21 April 2001, Skyline, newsletter elektronik dari majalah Sky & Telescope memuat kisah tentang Kuiper Belt Object (juga dikenal sebagai Objek Trans Neptunian) berkode 1998 WW31 yang kini diindikasikan sebagai objek berpasangan yang saling mengedari (binary object).
Sementara itu, tanggal 24 Mei 2001, website CNN juga memberitakan mengenai Varuna, objek Kuiper Belt yang terbesar yang diketahui setelah Pluto dan satelitnya, Charon.
Nampaknya menarik juga untuk menulis seputar objek-objek beku yang beredar pada posisi selepas orbit planet Neptunus ini untuk pengisi bilik Astronomi. Ditunggu saja yah :).
Senin 14 Mei 2001
Musik dan Keteraturan
Saya menyukai musik klasik dan orkestra karena mengajarkan keteraturan. Tidak ada alat musik yang boleh dimainkan melenceng keluar dari partitur, tidak ada musikus yang bisa seenaknya berimprovisasi. Semua bermain tertib sesuai notasi yang sudah digariskan oleh sang dirigen.
Memang sih, ini mencerminkan suasana yang kurang demokratis. Ada tokoh yang berujar kalau demokrasi harusnya "dimainkan" seperti musik Jazz, penuh improvisasi tapi tetap harmonis. Tapi musik jazz itu -- menurut pandangan saya -- terlalu berorientasi kepada pemain, bukan pendengar. Mungkin hanya mereka yang pernah merasakan nikmatnya bermain musik yang bisa memahami musik jazz. Padahal pemerintahan itu seharusnya berorientasi ke rakyat sebagai "pendengar", bukan penyelenggara sebagai "pemain".
Sekarang kita melihat para penyelenggara negara yang sibuk berimprovisasi pada jalurnya sendiri-sendiri. Mungkin mereka menikmati hal ini, tapi di telinga rakyat kebanyakan sebagai pendengar, permainan ini entah kenapa terasa sumbang. Mungkin karena para pendengar ini kebanyakan bukan politisi yang pernah merasakan nikmatnya bermain politik. Entah kapan mereka bisa bermain dengan orientasi ke penonton. Mungkin nanti kalau pendengar sekaligus penonton yang sudah jenuh itu merangsek maju dan membakar panggung!