Refleksi: Juni 2001
Kamis 28 Juni 2001
Kisah Netscape
Sebaik era internet dengan World Wide Web nya mulai merambah pada pertengahan dasawarsa 90-an, Netscape Communications, sebuah perusahaan yang semula hanya dipandang sebagai "penggembira" di Silicon Valley, mencatat sukses luar biasa dengan penjualan Netscape Navigator, sebuah produk software browser yang paling populer di masa itu. Sepanjang tahun 1995, perusahaan tersebut berhasil membukukan keuntungan sebesar US$ 81 juta. Sebuah angka fantastis untuk ukuran sebuah industri software. Bulan Agustus 1995, Nescape mencatatkan diri di bursa saham dan berhasil meraup modal hingga US$ 2 milyar dari para pengincar saham blue-chip. Tahun 1996, Netscape bangkit menjadi sebuah perusahaan yang disegani dengan sekitar 2000 staf dengan total keuntungan bersih sebesar US$ 21 juta dari tingkat penjualan sebesar US$ 346 juta. Sebuah kenaikan sebesar 304% dari tahun sebelumnya. Bukan main!
Bintang keberuntungan Netscape mulai meredup saat Microsoft memutuskan untuk membundel browser Microsoft Internet Explorer (IE) 3.0 pada OS Windows 95b yang kemudian segera disusul dengan IE 4.0 pada Windows 98. Praktis pangsa pasar Netscape Navigator yang semula mencapai hingga 90% dari seluruh produk browser di pasaran melorot dengan tajam. Hal ini bisa dimaklumi, karena IE tersedia secara gratis dalam paket OS buatan Microsoft sementara Netscape Navigator saat itu adalah software komersial yang harus dibeli untuk bisa digunakan secara legal. Ujung-ujungnya, harga saham Nescape anjlok hingga separuhnya. Masih berharap untuk memimpin dalam persaingan, Netscape akhirnya memutuskan untuk menggratiskan produk browsernya. Sayang, tindakan tersebut tidak banyak menolong hingga akhirnya perusahaan tersebut dibeli oleh American On Line (AOL).
Kisah semacam ini adalah contoh kecil dari hal-hal yang lumrah terjadi di dunia bisnis IT. Inilah bisnis yang menghasilkan paling banyak milyuner dalam waktu relatif singkat, namun juga paling cepat berubah seiring dengan munculnya inovasi-inovasi baru.
Senin 25 Juni 2001
Inspirasi
Berapa keuntungan yang didapat oleh Karlheinz Brandenburg dari format MP3 temuannya? Tidak banyak. Selain royalti yang jumlahnya tidak seberapa untuk ukuran penduduk di negara maju, boleh dikatakan penemuan itu tidak menghasilkan apa-apa untuk dia. Alih-alih mendapatkan nama besar sebagai penemu sebuah teknologi yang revolusioner, dia malahan dituding oleh industri musik dunia sebagai biang keladi merajalelanya pembajakan rekaman musik yang membuat jutaan Dolar batal mengalir ke kocek mereka.
Linus Torvalds pertama kali mengembangkan Linux saat masih mahasiswa di universitas Helsinki, Finlandia. Siapa mengira, ciptaannya itu kini terpasang pada ratusan ribu server yang tersebar di seluruh dunia. Tidak kurang dari Microsoft, raksasa industri software itu, dibuatnya mencak-mencak karena kehilangan sebagian pangsa pasarnya. Toh Linux bukanlah sesuatu yang bisa membuat penemunya menjadi kaya-raya.
Jujur saja, sosok seperti Brandenburg atau Torvalds sering membuat saya terinspirasi. Mereka berkarya semata-mata demi idealisme, bukan untuk uang atau nama besar. Tapi rasanya tipe orang-orang semacam mereka akan lebih banyak ditemui di negara-negara maju, dimana kebutuhan pokok tidak lagi menjadi masalah bagi sebagian besar penduduknya. Di negara semacam Indonesia, dimana banyak orang cuma bisa membiayai keperluan primer plus sedikit kebutuhan sekunder dari sumber nafkahnya, rasanya setiap inovasi sekecil apapun akan dipandang sebagai peluang bisnis yang harus bisa menghasilkan uang!
Minggu 24 Juni 2001
Inspirasi
"The fairest thing we can experience is the mysterious. It is the fundamental emotion which stands at the cradle of true science. He who knows it not, and can no longer wonder, no longer feel amazement, is as good as dead. We all had this priceless talent when we were young. But as time goes by, many of us lose it. The true scientist never loses the faculty of amazement. It is the essence of his being."
-- Hans Selye (1907-1982)
Sabtu 23 Juni 2001
Overload Informasi
Bagaimana rasanya mengalami overload informasi? Sebagian dari kita pasti pernah mengalaminya, khususnya pada beberapa waktu lalu, saat euforia politik sedang mewabah di tanah air. Saat itu siapa sih diantara rakyat Indonesia yang tidak fasih bicara soal politik?
Sayangnya momen itu hanya menghasilkan orang-orang yang hanya mampu berkiprah dalam obrolan tanpa bisa meng-implementasikannya di tataran praktis. Dan sialnya, mereka yang kemudian mendapatkan kesempatan untuk berkiprah secara langsung di lapangan nampaknya harus bisa menerima kenyataan bahwa menjalankan what so called reformasi itu tidak semudah meneriakkannya di jalanan. Tidak heran kalau sekarang rakyat sudah berbalik menjadi skeptis, bahkan apatis terhadap perkembangan perpolitikan di negara ini.
Misi media massa saat itu untuk memberikan pendidikan politik kepada masyarakat (walaupun ada faktor lain yang juga berperan -- euforia kebebasan pers, misalnya) sepintas kelihatannya tercapai. Tapi pada kenyataannya, jejalan arus informasi itu hanya menghasilkan orang-orang yang pandai bicara, dan melejitkan sejumlah nama yang muncul ke permukaaan sebagai "pengamat politik", cukup dengan bermodalkan beberapa patah analisa terhadap situasi yang sedang berlangsung yang kemudian dikembangkan lagi oleh para wartawan dan besoknya akan tercetak sebagai berita besar di halaman muka surat kabar.
Sementara para pembacanya akan muncul sebagai pengamat politik dadakan yang "berkoar" di warung-warung kopi, rapat senat mahasiswa, atau di kantor-kantor (disaat sedang kurang pekerjaan karena sepi order).
Jumat 22 Juni 2001
Oposisi Mars 2001
Mars sedang berada pada jarak 67 juta km dari Bumi, titik terdekat dengan Bumi sejak 1988. Tidak banyak yang bisa saya amati tanpa teleskop dari sini, tapi rasanya memang benar kalau ini adalah objek paling cemerlang di langit malam setelah Bulan dan Venus, bahkan lebih terang dari Sirius (yang nampaknya saat ini sedang dalam posisi yang tidak memungkinkan untuk dilihat).
Rabu 20 Juni 2001
Interpretasi dan Improvisasi di Musik Klasik
Masih bicara tentang musik. Pernah dengar Piano Concerto No. 1 dari Tchaikovsky? Komposisi yang aslinya dikenal dengan "nama ruwet" 1st mov. Allegro non Troppo e Molto Maestoso ini panjangnya hampir 23 menit. Bagi pendengar yang terbiasa dengan musik pop, mungkin masih bisa menikmati komposisi ini, khususnya di bagian awalnya. Tapi itu hanya berlaku pada bagian lima menit pertama saja, setelah itu kemungkinan besar akan terasa membosankan.
Richard Clayderman meng-aransir ulang komposisi ini menjadi sebuah repertoir yang panjangnya cuma sekitar empat menit dengan memuat bagian-bagian tercantik dari sana. Hasilnya adalah komposisi yang tetap bernuansa klasik, namun relatif lebih gampang untuk dinikmati.
Karakter musik klasik yang kaku bukannya tidak memberi ruang bagi adanya improvisasi ataupun interprestasi yang berbeda dibanding karya asli. Meskipun demikian, improvisasi tetap merupakan hak mutlak dari aranger, bukan pemain. Membelenggu kebebasan pemain? Tidak, karena mereka bermain untuk penonton, bukan untuk dirinya sendiri.
Senin 18 Juni 2001
Serumpun Padi
Saya sempat terperangah saat mendengarkan salah satu repertoir diantara sederetan komposisi karya Beethoven yang baru saja saya dapatkan. Repertoir tersebut, "Coriolan, op. 62", di beberapa bagiannya rasanya cukup akrab di telinga saya. Tidak salah lagi, ini mirip dengan bagian pembuka pada lagu "Serumpun Padi", sebuah yang cukup saya kenal sejak saya masih kanak-kanak dulu.
Inilah lagu yang saya maksudkan itu:
Serumpun padi di tengah sawah
Hijau menguning daunnya
Tumbuh di sawah penuh berlumpur
Di pangkuan Ibu pertiwi
Serumpun jiwa suci
Hidupnya nista abadi
Serumpun padi mengandung janji
Harapan bunda pertiwi
Tidak, saya tidak ingin bicara soal penjiplakan disini. Kemiripan yang saya temui itu mungkin hanya kebetulan, atau kalaupun memang terjadi peniruan melodi, itu tidak lebih dari sepuluh not! Disini saya cuma sekedar ingin bernostalgia dengan masa kecil saya yang saya habiskan di sebuah desa di Denpasar, Bali.
Saya ingat betul, ketika pertama kali mempelajari lagu diatas saat duduk di kelas III Sekolah dasar (SD No. 14 Sesetan, Denpasar). Sekolah saya letaknya persis di tengah hamparan persawahan (saat terakhir kali saya menjenguknya, lokasinya masih berupa persawahan, tetapi di sekitarnya sudah lebih ramai dan jalan raya disana sudah diaspal dan diperlebar). Setiap kali saya mendengar lagu diatas, ingatan saya kembali melayang ke areal persawahan di sekitar sekolah, ke ibu guru yang dulu mengajarkan lagu ini (terakhir kali saya bertemu beliau di dalam kendaraan umum saat saya duduk di kelas 1 SMA, namun herannya beliau masih mengenali saya dan menyapa terlebih dahulu), dan juga ke teman-teman semasa SD dulu yang sebagian besarnya tidak pernah saya temui lagi (Seorang teman perempuan yang akrab dengan saya waktu SD dulu baru-baru ini menelepon saya setelah lama tidak saling kontak. Dia ternyata sudah punya satu anak! Rasanya cepat betul waktu berlalu).
Bagaimanapun saya patut bersyukur menghabiskan masa kecil di desa, ditengah lingkungan pergaulan yang sederhana (beberapa teman saya waktu itu, bahkan televisipun keluarga mereka tidak memiliki). Mungkin kalau saya dibesarkan dalam kondisi yang berbeda, jalan hidup dan kepribadian saya mungkin juga akan berbeda dari yang sekarang. Yah, semua itu tentunya ada yang mengatur ...
Minggu 17 Juni 2001
Iseng-iseng bikin tulisan tentang Asteroid untuk pengisi ruangan Astronomi di web ini.
Kamis 14 Juni 2001
Intisari
Download versi Elektronik dari Intisari edisi bulan Januari 2001 (tidak sempat nyari edisi cetaknya berhubung waktu itu lagi liburan ke luar kota). Akhirnya sempat juga membaca salah satu tulisan terakhir dari pak Slamet Soeseno yang tutup usia akhir bulan itu juga. Saya termasuk yang merasa sangat kehilangan atas berpulangnya beliau. Setiap majalah ini sampai ke tangan saya, tulisan-tulisan beliau --yang punya ciri khas: Enak dibaca, jenaka, namun tidak kehilangan unsur ilmiahnya-- itu termasuk yang pertama kali saya baca.
Majalah seperti Intisari ini memang tergolong barang langka di tanah air, seperti halnya penulis ilmiah-populer seperti pak Slamet Soeseno yang juga sangat jarang. Intisari memang bukan majalah yang murni ilmiah. Diantara halaman-halamannya, kita masih bisa bertemu dengan tulisan-tulisan ringan, artikel human interest, bahkan cerita dari dunia klenik dan mistik! Tapi untuk ukuran media Indonesia yang dipenuhi oleh hingar bingar politik dan gossip selebritis, rasanya keberadaan majalah ini sudah sangat menolong (FYI, ini adalah SATU-SATUNYA media terbitan Indonesia yang masih saya baca secara teratur).
Rasanya masih sulit untuk membayangkan ada majalah ilmiah yang serius semacam Scientific American atau semacamnya di tanah air. Memang kondisi masyarakat kita saat ini masih belum memungkinkan bagi adanya pihak yang berani berinvestasi untuk media semacam ini. Tapi untuk sementara mungkin portal BeritaIptek cukup membantu (walaupun dari segi tampilan sedikit kedodoran, plus agak jarang di-update).
Senin 11 Juni 2001
Mars
"Bintang" cemerlang berwarna kuning kemerahan yang kelihatan di southeast (apa yah bahasa Indonesianya), di sekitar rasi Scorpius itu ternyata adalah planet Mars yang sedang dalam oposisi dengan Bumi! Saya baru tahu setelah sempat membaca Skyline edisi minggu ini. Ahh ... andai saya punya teleskop ...
Minggu 10 Juni 2001
Update Pembawa Bencana
Kemarin iseng-iseng saya download update driver untuk modem internal Motorola SM56 yang terpasang di PC saya. Sialnya, saat driver itu diinstall, tepatnya beberapa saat setelah progress bar "Updating PnP Peripheral Database" (or s'thing like that), PC langsung hang! Coba lagi diulang prosedur instalasinya. Hang lagi di titik yang sama. Modem saya copot, lantas seluruh driver saya hapus. Komputer direstart lantas dimatikan. Modem dipasang lagi, dicoba install driver lagi, eeh, masih gagal juga.
Putus asa akhirnya saya reinstall driver yang versi lama. Bisa. Tapi saat modem dipakai, malahan terjadi crash. Selidik punya selidik, rupanya ada konflik dengan driver VGA. Driver VGA diinstall ulang, masih kacau juga. Masuk ke save mode, driver VGA dihapus, kemudian masuk ke modus VGA standar (256 warna), lantas dicoba connect ke Internet. Crash lagi. Lho, kenapa ini? Walhasil kegiatan perkomputeran saya seharian ini terganggu gara-gara para elit di CPU pada berkonflik. Menyesal? Jelas, karena tataran yang sudah normal selama ini akhirnya harus berantakan hanya karena ada usaha "pembaharuan".
Jurus terakhir terpaksa dikeluarkan. PnP BIOS saya set ke kondisi default, semua driver, baik VGA maupun Modem dihapus dan kemudian diinstall ulang. Tentu saja, untuk modem saya pakai driver yang versi lama.
Akhirnya sistem berjalan normal lagi. Sudah puas? Belum! Bagaimanapun juga, rasanya ada yang nggak lengkap kalau masih pakai driver yang versi lama. Tapi rasio juga yang akhirnya bicara. Perlu waktu yang tidak sedikit untuk utak-atik sistem, dan banyak pekerjaan yang mesti tertunda karenanya. So, untuk sementara saya harus cukup puas dengan kondisi saat ini. Driver versi baru masih saya simpan, menunggu ada waktu luang yang cukup untuk "perjuangan" meng-installnya.
Tapi ... hmmm ... driver SM56 untuk Linux sudah tersedia nih. Udah lama pengin nyoba online via Linux. Dipasang apa enggak yhaaa ? :p
Kamis 07 Juni 2001
Antara Beethoven dan Politik
Q: What a difference between Beethoven and Indonesian politics?
A: Beethoven make music. Indonesian politics make me sick!
Kedengarannya sarkastik yah? Tapi mana ada lagi ungkapan yang lebih halus dari ini selain dari diam saja?
Rabu 06 Juni 2001
Namaku Dijual?!
NameZero menyurati saya, katanya domain www.graifhan.net yang saya daftar dengan gratis setahun lalu itu mesti di-renew dengan imbalan $19.95. Apabila account tidak di-renew sampai awal Juni ini, domain tersebut akan dijual di second market dengan harga minimal $50. Pintar juga strategi mereka :)
Tapi rasanya domain graifhan.net nggak terlalu valuable juga. Saya daftar account gratisan dengan username "graifhan" di layanan yang sudah overload, macam Hotmail atau Yahoo sekalipun (dimana kalau assign username pakai nama asli sudah hampir-hampir nggak mungkin) juga selalu bisa. Saya dulu daftar di NameZero juga cuma sekedar iseng, lagian accountnya juga nggak pernah saya pakai. Tapi sayang juga rasanya kalau nama sendiri dijual mahal, sementara yang punya nama justeru nggak dapet apa-apa dari sana. Oh, the silly world of cyberspace :(
Minggu 03 Juni 2001
Nama-Nama "Kejawen"
Setelah kemunculan Java, nampaknya pemakaian nama-nama yang berbau "kejawen" mulai marak di dunia IT. Setelah Gamelan yang "dibajak" untuk menamai sebuah situs yang memuat resource untuk pemrograman Java, kini muncul pula JAMU (Java Advanced Modeling Utility). Sepintas saya perhatikan, sistem email robot dari FreeFind yang berbasis Java juga dinamai MERAK. Yang ini entah singkatan dari apa. Jangan-jangan yang menamai produk-produk ini juga memakai ilmu utak-atik gathuk yang memang asli dari tanah Jawa :).
Tapi berbeda dengan Java di dunia maya yang sedang naik daun, di dunia nyata nampaknya Java Isle alias pulau Jawa sedang dalam kondisi kebalikannya. Di ujung barat pulau yang sudah sesak menampung lebih dari 100 juta penduduk ini, para politisi yang sedang asyik berebut pengaruh, sibuk kasak kusuk mengeluarkan jurus-jurusnya, sementara di ujung timur, rakyat kecil yang frustrasi melihat tokoh idolanya siap-siap digusur dari kursi nomor satu di negeri ini akhirnya nekad menggelar acara bakar-bakaran.
Nama pulau ini akhirnya makin terkenal saja di berbagai penjuru dunia. Tapi sayang, dibandingkan dengan Java di dunia IT yang mengesankan sebuah kecanggihan dan kemajuan jaman, maka Java yang ini lebih mengesankan sebagai sebuah ketertinggalan sekaligus kekonyolan (atau kalau mau pakai "bahasa" IT, sementara para programmer SUN berusaha mendevelop Java sebagai bahasa pemrograman yang sifatnya cross plattform, di Java isle, orang-orangnya masih pada sibuk berkutat dengan fanatisme buta terhadap plattform masing-masing -- cocok nggak yah analogi yang ini? ;P).
Hei, Saya nulis ini bukan berarti saya doyan ngomong politik lho! Kalau saya punya ketertarikan tentang dunia yang satu ini, maka pasti situs ini akan saya sediakan halaman berisi info politik Indonesia, lengkap dengan kamus istilah-istilah ajaib yang sering dipakai semacam "memorandum", "amandemen", atau akronim seperti SI, MPR, DPR, ...err... apa lagi yah? Sepertinya perbendaharaan kosa-kata politik saya cuma berkisar di situ-situ saja sih ;).
Sabtu 02 Juni 2001
Sains Lewat Media Populer
Belajar Fisika bersama Britney Spears? Why not?. Tapi sayangnya saya kurang kenal dengan Britney Spears, mungkin karena selera kuping saya yang agak beda dengan orang kebanyakan :).
Entah disengaja atau tidak, lewat artis atau film terkenal terkadang minat masyarakat awam terhadap sisi menarik dari sains bisa terbangkitkan. Ambil contoh popularitas film Jurassic Park yang berhasil mengundang ketertarikan banyak orang tentang Dinosaurus. Ujung-ujungnya mereka mulai berusaha mencari literatur tentang mahluk purba ini ataupun mendatangi museum-musem yang memiliki koleksi fosilnya.
Di Indonesia, sukses film Petualangan Sherina akhirnya malah membuat repot pihak Observatorium Bosscha dalam melayani serbuan dari para pengunjung cilik. Agak aneh, mengingat sejak masih duduk di bangku SMU hingga saat ini saya sudah beberapa kali berkunjung ke sana dan rasanya jarang sekali bertemu dengan anak-anak, kecuali sesekali rombongan siswa sekolah menengah yang berkunjung dengan diantar gurunya. Profil gedung ini dan apa yang dikerjakan oleh orang-orang didalamnya mendadak sontak banyak diulas di media massa populer (bukannya di jurnal ilmiah). Para staff di Bosscha pun nampaknya bisa "memanfaatkan" situasi ini. Keluhan tentang seretnya pembiayaan untuk pemeliharaan gedung dan peralatannya hingga persoalan polusi cahaya di sekitar observatorium mulai bisa didengar oleh masyarakat umum lewat media massa (setelah mungkin dulunya mereka sempat tidak tahu harus "berkeluh kesah" kemana).
Memang ada perbedaan yang besar antara sisi populer dengan sisi yang sebenarnya dari dunia sains. Bagi astronom amatir, menatap bintang-bintang di langit atau memuaskan keingin tahuan lewat literatur ilmiah populer rasanya memang jauh lebih asyik daripada berkutat dengan rumus-rumus Fisika Kuantum atau melakukan riset dan analisis data seperti yang dilakukan oleh astronom betulan. Begitu juga mempelajari ilmu komputer --bagi para maniak komputer sekalipun-- juga sama sekali tidak se"nikmat" bongkar-pasang hardware atau kutak-katik software. Apalagi bila dibandingkan dengan asyiknya bermain game atau browsing web di internet.
Saya termasuk yang berharap banyak dari upaya-upaya untuk menanamkan rasa cinta akan ilmu pengetahuan dikalangan masyarakat luas di negeri ini. Namun demikian, jujur saja, rasanya masih perlu waktu lama untuk mengubah selera kebanyakan masyarakat kita yang selama ini sudah terlanjur "terprogram" oleh media massa dengan isyu-isyu politik maupun gossip selebritis untuk mau sedikit melirik ke hal-hal yang berkaitan dengan sains. Padahal, ibaratnya main kartu, dewasa ini sains merupakan salah satu dari sedikit kartu truf yang masih bisa kita gunakan. Kartu-kartu lain seperti "kartu" politik atau eknonomi, rasanya sudah jadi kartu mati. Hopeless!
"It is only by introducing the young to great literature, drama and music, and to the excitement of great science that we open to them the possibilities that lie within the human spirit--enable them to see visions and dream dreams."
--Eric Anderson
--Eric Anderson