Refleksi: Juli 2001
Kamis 05 Juli 2001
Menyaksikan Gerhana Bulan
Abis nonton gerhana bulan. Menarik juga biarpun cuma gerhana bulan sebagian. Jadi ingat gerhana tanggal 16 Juli tahun lalu -- yang konon gerhana terpanjang sejak 180 tahun itu. Waktu itu kebetulan saya ada di Bali. Cuaca cerah dan gerhana bisa saya amati dengan jelas dari pinggir pantai Kuta ;). Besoknya dapat kabar dari milis astronomy@, pengamatan di Jakarta, Bandung ama Surabaya gagal total karena cuaca mendung. Saya kirim aja laporan tentang "keberhasilan" saya di Bali. Biarin aja semua pada iri :D.
Rabu 04 Juli 2001
Gerhana Bulan
DetikCom kembali membuat blunder. Gerhana Bulan Sebagian yang akan berlangsung tanggal 5 Juli besok malahan diberitakan terjadi pada malam ini (4 Juli). Mana mungkin terjadi gerhana saat fase bulan masih 0,98?
Jadwal Gerhana Bulan besok (data dari obs. Bosscha):
- Fase umbra (U1) : 20:05:34 WIB - 05/07/2001
- Puncak gerhana : 21:55:12 WIB - 05/07/2001
- Akhir fase umbra (U4) : 23:15:15 WIB - 05/07/2001
- Akhir gerhana (P4) : 00:39:40 WIB - 06/07/2001
Total panjang gerhana 5 jam 28 menit 54 detik, fase umbra selama 2 jam 40 menit 11 detik.
Minggu 01 Juli 2001
Paranoia Internet (Dulu)
Weekend ini saya manfaatkan untuk beres-beres koleksi buku dan majalah lama yang terserak di lemari buku. Biasanya kalau lagi begini, saya malahan suka terjebak untuk sekilas membaca artikel-artikel lama.
Lantas nggak sengaja ketemu dengan tabloid Komputek keluaran bulan Januari 1996 -- saat masih terbit dengan edisi artpaper 42 halaman yang lux seharga Rp. 3.000 per eksemplar, tergolong mahal untuk ukuran saat itu (padahal tabloid yang sama sekarang diecer Rp. 3.500 untuk 32 halaman yang kertasnya cuma sedikit lebih baik dari kertas koran). Terpampang disana gambar tampilan situs Isnet tempo doeloe dibawah header yang cukup provokatif: "Di Internet Tak Cuma Porno".
Lucu juga rasanya kalau mengingat-ingat bagaimana paranoidnya masyarakat kita waktu pertama kali diperkenalkan dengan dunia cyber ini. Sepertinya waktu itu kalau mendengar kata "internet" asosiasi orang-orang bakalan mengarah ke situs-situs ngeres, gosip politik dan sebangsanya. Sempat terpikir, jangan-jangan ini justru merupakan "trik" dari ISP saat itu untuk menarik pelanggan dari kalangan umum. Bukankah kalau mengandalkan komunitas peneliti, ilmuwan atau pemerhati informasi -- apalagi yang mampu membiayai langganan internet, jumlahnya kala itu hanya segelintir? Who knows?
Anyway, pengalaman ini sebenarnya mengajarkan bahwa sudah satnya kita meninggalkan sikap paranoid serta terlalu menyorot segi-segi negatif ketimbang positifnya dari suatu hal baru. Masyarakat kita sebenarnya sudah cukup dewasa koq!
Lagi Soal Browser
Menyambung catatan kemarin tentang browser; Alkisah, setelah penetrasi penggunaan Internet Explorer buatan Microsoft telah mencapai angka yang signifikan, maka seperti praktek yang biasa mereka lakukan, perusahaan milik Bill Gates ini mulai melangkah ke sasaran berikutnya, yakni membuat (atau tepatnya "memaksakan") standarnya sendiri untuk kode-kode HTML.
Pada umumnya tag HTML yang diperkenalkan oleh Microsoft untuk penggunaan di IE tidak kompatibel dengan standar W3C yang secara de facto diakui sebagai acuan dalam penulisan kode-kode HTML. Secara cerdik, Microsoft mengimplementasikan standar ini pada perangkat lunak editor MS FrontPage. Kisah selanjutnya bisa ditebak dengan semakin banyaknya situs web yang muncul dengan memajang icon "Best Viewed with Microsoft Internet Explorer".
Ini sekaligus menjelaskan kenapa tampilan di situs ini kelihatan sedikit berbeda di browser selain IE. Karena tidak ingin membuang banyak waktu untuk urusan tampilan, maka saya memang sengaja memilih untuk "potong kompas" saja dengan menggunakan standar Microsoft untuk kode-kode HTML termasuk CSS (cascading style sheet) di situs ini. Saya akui, standar ini memang sangat menghemat waktu dalam desain serta memperkecil ukuran halaman web. Misalnya, dalam standar Microsoft, kita bisa menggunakan elemen "CLASS" yang sudah didefinisikan pada file CSS dalam sebuah tabel atau kolom, sedangkan standar W3 (yang dianut oleh Netscape) mengharuskan kita untuk hanya menggunakan elemen "CLASS" dalam tag <SPAN>. Ini membebaskan saya dari kewajiban untuk bolak-balik mengganti jenis dan ukuran font di setiap cell pada tabel (yang juga beresiko membengkakkan ukuran file HTML).
Biarpun demikian, saya sebenarnya bukan fanatik Microsoft koq. Sampai sekarang saya masih ogah memasang Icon "Best Viewed ..." itu di web ini. Situs ini dibuat dengan orientasi pada isi, jadi selama seluruh kata didalamnya bisa terbaca dan fungsi-fungsi yang ada bisa berjalan normal, maka tidak ada alasan untuk pindah browser cuma untuk mendapatkan tampilan yang lebih baik. Bukan begitu?