Refleksi: Agustus 2001
Senin 20 Agustus 2001
Masih Mencari Bentuk
Walaupun berada di situs pribadi, weblog ini memang sengaja dirancang untuk menampilkan tulisan-tulisan, bukannya catatan harian. Jadi, harap maklum kalau isinya kebanyakan menyoal sains dan cuma sedikit berisi hal-hal pribadi.Topiknya juga sering meloncat-loncat tidak teratur. Di masa mendatang, tulisan-tulisan di weblog ini akan lebih banyak didominasi oleh topik soal astronomi atau IT. Topik lain ada juga, tapi nggak banyak, soalnya untuk saat ini prioritas kita masih di dua bidang itu saja.
Biasanya topik yang serius diulas dengan gaya yang juga serius, tapi disini kita coba tampilkan secara ser-san (serius-santai) saja. Lagipula, website ini juga dibangun tidak dengan tujuan muluk-muluk (malahan cenderung iseng!). Yang penting apa yang kita tampilkan itu bisa dicerna oleh para pembaca dan tidak terlalu memusingkan. Anyway, karena situs ini juga masih dalam pencarian bentuk yang pas, maka saran dan masukan juga sangat ditunggu.
Jumat 10 Agustus 2001
Mimpi
Beberapa waktu yang lalu, seorang penanya di halaman Konsultasi Islam di web Isnet bertanya soal mimpi dan penyebabnya. Pertanyaan model begini biasanya jarang sekali diajukan disana, dan karena yang ditanyakan juga terlalu general maka saya mencoba menjawab dari segi ilmiahnya saja dengan bantuan beberapa literatur yang ada pada saya.
Sebagian besar literatur tentang mimpi, biasanya akan diawali dengan pembahasan tentang teori psikoanalisa dari Sigmund Freud tentang alam bawah sadar, tapi saya tahu kalau pendekatan seperti ini jelas tidak cocok untuk pertanyaan yang mengharapkan jawaban yang "Islami" (walaupun bahasan yang "Islami" tentang mimpi juga tidak kunjung saya temukan). Persoalannya adalah selain beliau (Freud) adalah orang Yahudi, dia juga dianggap pendukung setia teori Darwin (yang ditentang keras oleh mereka yang mengaku "beriman" itu).
Akhirnya yang muncul adalah jawaban panjang lebar tentang kondisi REM dalam tidur, dan teori penyebab terjadinya mimpi yang sama sekali tidak menyinggung tentang Freud. Tentu saja jawaban model begini tidak diarsipkan di situs Isnet, tapi rasanya ada gunanya kalau saya pampangkan di halaman ini saja.
Secara umum, mimpi biasanya didefinisikan sebagai proses dari bayangan, perasaan, pergerakan dan pikiran yang kita alami saat tertidur. Mimpi dapat dialami pada setiap fase dalam tidur kita, dan tidak harus selalu melibatkan rangsang tertentu (misalnya rangsang visual). Orang buta, misalnya, mengalami mimpi melalui rangsangan pendengaran maupun perasaan dan gerakan (sensorik-motorik). Mimpi juga bukan merupakan keistimewaan yang hanya dialami manusia. Penelitian menunjukkan bahwa mimpi juga dialami oleh hewan. Fase REM dalam tidur Sekitar tahun 1953, peneliti Nathaniel Kleitman membuat suatu penemuan penting mengenai fase REM (Rapid Eye Movement) dalam tidur. Fase ini ditandai dengan pergerakan bola mata yang cepat secara periodik yang terjadi baik pada manusia maupun hewan saat tertidur. Dalam sebuah penelitian yang melibatkan sukarelawan sebagai subjek penelitian, saat tidur subjek penelitian dihubungkan dengan peralatan-peralatan EEG (electroencephalogram, pengukur gelombang otak), EMG (electromyogram, pengukur pergerakan otot), dan EOG (electroculogram, pengukur gerakan bola mata). Sekitar 90% subjek yang dibangunkan dari tidur saat mengalami fase REM melaporkan bahwa mereka mengalami mimpi (sekitar 60% subjek yang dibangunkan sebelum mengalami fase REM juga melaporkan mengalami aktifitas mirip mimpi dalam tidurnya). Sebelum adanya penelitian mengenai REM, masih belum diketahui persis seberapa sering manusia bermimpi. Beberapa teori bahkan menyebutkan bahwa impian merupakan tanda-tanda gangguan mental bagi mereka yang mengalaminya. Melalui riset laboratorium mengenai mimpi, subjek dibangunkan dari tidurnya setelah mengalami fase REM untuk diteliti aktifitas mentalnya selama tidur secara seksama. Manusia diketahui mengalami mimpi pada setiap malam. Pada manusia dewasa, mimpi biasanya berlangsung pada sekitar 90 menit setelah mulai tertidur dan terjadi lagi setiap 90 menit dengan durasi yang lebih lama, selama total 2 jam fase REM dalam tidur malam. Dengan rata-rata 5 mimpi tiap malam, manusia rata2 mengalami 136.000 impian sepanjang hidupnya dengan waktu yang setara dengan 6 tahun fase REM dalam tidur! Saat mengalami mimpi dalam fase REM, manusia mengalami peningkatan pada detak jantung, pernafasan, tekanan darah, konsumsi oksigen, dan pengeluaran getah lambung. Tidur fase REM biasanya disebut sebagai tidur paradox karena memiliki karakteristik seperti tidur fase awal (light sleep) dan tidur fase lanjut (deep sleep) sekaligus: Berdasarkan pengukuran pada EEG, fase REM adalah tidur fase awal (tingkat I), sedangkan berdasarkan pengukuran EMG merupakan tidur fase lanjut (tingkat IV), karena sebagian besar otot seolah-olah "dilumpuhkan" secara bersamaan untuk mencegah si pemimpi secara fisik melakukan apa yang diimpikannya (misalnya berjalan sambil tidur). Beberapa teori mencoba menjelaskan mengenai manfaat fase REM dalam tidur diantaranya:
Penyebab terjadinya Mimpi Berlawanan dengan apa yang diyakini kebanyakan orang, mimpi TIDAK disebabkan karena memakan makanan tertentu sebelum tidur, atau stimulus (rangsangan) tertentu dari lingkungan sekitarnya selama tidur. Mimpi disebabkan oleh proses biologis internal dalam tubuh. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sel otak besar pada bagian belakang otak secara periodik pecah dalam selang waktu sekitar 90 menit, dan mengirimkan rangsangan (stimuli) yang bersifat acak (random) ke bagian korteks (cortex) pada otak. Sebagai akibatnya, bagian memori, sensorik, kontrol saraf, dan kesadaran pada otak ter-stimulasi secara acak yang berdampak adanya rangsangan pada puncak bagian korteks pada otak. Menurut penelitian ini, proses diatas mengakibatkan kita mengalami apa yang kita sebut sebagai mimpi. Pada akhir-akhir ini, kontroveresi yang paling signifikan mengenai mimpi berkisar pada pertanyaan apakah mimpi memiliki kaitan langsung dengan pribadi seseorang ataukah tidak. Sebagian psikoterapis berpendapat bahwa saat rangsangan neurologis dari otak memicu proses terjadinya mimpi, isi atau representasi dalam mimpi dapat berasal dari kebutuhan, keinginan, atau harapan dari alam bawah sadar dan kehidupan sehari-hari pada orang yang mengalami mimpi tersebut. Karena itu sebagian psikoterapis beranggapan bahwa mimpi merupakan cetusan dari alam bawah sadar seseorang. Penjelasan ini dikenal sebagai penjelasan "phenomenological-clinical", atau "top-down". Dilain pihak, penjelasan neourologis, atau "bottom-up", menyatakan bahwa mimpi sama sekali tidak memiliki arti khusus. Diantara keduanya terdapat pendekatan yang disebut "context analysis", yang menjelaskan dan mengklasifikasikan representasi yang ditemukan seseorang dalam mimpinya, seperti manusia, rumah, kendaraan, pohon, kendaraan, tanpa interpretasi yang mendalam mengenai detil objek tersebut. Perbedaan antara representasi telah ditemukan antara mimpi yang dialami pria dan wanita, serta mimpi yang dialami manusia dalam berbagai tingkatan pertumbuhan. Mengenai arti perbedaan tersebut saat ini masih dalam penelitian |
Minggu 05 Agustus 2001
"A human being is a part of a whole, called by us _universe_, a part limited in time and space. He experiences himself, his thoughts and feelings as something separated from the rest... a kind of optical delusion of his consciousness. This delusion is a kind of prison for us, restricting us to our personal desires and to affection for a few persons nearest to us. Our task must be to free ourselves from this prison by widening our circle of compassion to embrace all living creatures and the whole of nature in its beauty."
-- Albert Einstein
Rabu 01 Agustus 2001
Radiasi Ponsel
Hingga saat ini masalah radiasi ponsel masih merupakan hal yang mengundang pro-kontra di kalangan para ilmuwan yang berkompeten. Beberapa ahli radiasi berpendapat bahwa secara fisik ponsel tidak akan berdampak biologis, demikian yang ditulis oleh majalah Scientific American edisi September 2000. Emisi ponsel berada dalam kisaran frekuensi antara 800-2000 MHz. Emisi sebesar kurang dari 1000 MHz merupakan gelombang radio, sedangkan diatas itu termasuk gelombang mikro. Radiasi berdaya tinggi mampu "mematangkan" bahan organik, mirip-mirip seperti oven microwave yang sering digunakan oleh para ibu rumah tangga itu. Namun demikian daya emisi ponsel yang hanya 0,25 watt itu jelas terlalu lemah untuk bisa "mematangkan" jaringan manusia.
Walaupun emisi ponsel sangat kecil, apabila antenanya berada di dekat kepala selama beberapa menit dapat menaikkan suhu sel dekat otak sekitar 0,1º C. Tapi itu masih dianggap kecil dibandingkan dengan kenaikan suhu otak secara alami dan tidak mungkin mempengaruhi organ otak. Lagipula medan radiofrequency (RF) yang diciptakan ponsel bersifat non-ionizing sehingga tidak menyebabkan ionisasi atau radioaktifitas dalam tubuh.
Namun demikian bukan berarti "ancaman" dari para ilmuwan soal bahaya radiasi ponsel tidak lagi didengar orang. Penelitian oleh Dr. Gerald Hyland, ahli fisika dari University of Warwick (UK) menunjukkan bahwa radiasi ponsel dapat mengacaukan gelombang otak, mengakibatkan sakit kepala, kelelahan, dan hilang memori, sementara penelitian oleh Wireless Technology Research Group di AS menyebutkan bahwa pemakaian ponsel bisa menyebabkan tumor otak. Risiko lain yang dilaporkan meliputi pula perubahan aktifitas otak dan gangguan tidur, bahkan diduga dapat menyebabkan kerusakan sel saraf, hilang konsentrasi, merusak sistem kekebalan tubuh, tekanan darah meningkat dan mata lelah (saya tekankan sekali lagi deh: itu semua masih bersifat dugaan).
Walaupun resiko pemakaian ponsel hingga saat ini masih sebatas dugaan dan belum ada bukti yang betul-betul akurat, namun berhati-hati dalam penggunaan ponsel jelas adalah tindakan yang bijaksana. Caranya? Yang paling simpel tentunya adalah meminimalkan pemakaian ponsel dengan tidak terlalu sering atau terlalu lama menggunakannya. Juga kurangi atau kalau mungkin hindari penggunaan ponsel ketika sinyal sedang lemah. Saat sinyal sedang lemah, ponsel akan bekerja lebih keras sehingga memperkuat radiasi. Usahakan pula untuk tidak menempelkan ponsel ke telinga saat bicara. Last but not least, hindari penggunaan ponsel dalam mobil karena mobil terbuat dari bahan logam yang dapat memperkuat radiasi (Lagipula ingat resiko tabrakan karena konsentrasi pengemudi yang terpecah ke pembicaraan di ponsel).
Omong-omong, berapa sih nomor ponsel saya? Hehehe :), terus terang sampai sekarang saya masih belum tertarik untuk memiliki ponsel. Bukannya takut kena radiasi, tapi emang belum merasa perlu saja. Bagi saya, saluran telepon konvensional yang ready to internet seperti yang biasa saya gunakan sehari-hari jelas jauh lebih bermanfaat :).