Refleksi: Desember 2001
Minggu 30 Desember 2001

Isnetter di Layar TV

Dua hari lalu, saat menyaksikan acara "Bincang-Bincang" di ANteve, saya sempat kaget melihat nama salah seorang nara-sumbernya: Harry Azhar Azis. Saya mengenal baik nama ini sebagai sesama aktifis di Isnet, khususnya sebagai anggota Komite Tarbiyah dan Pengembangan Diskusi Isnet saat beliau masih studi di Oklahoma State University.

Saya jadi ingat sekitar tiga tahun lampau, ketika bang Harry (begitu biasanya beliau disapa lewat email) mengkritik habis cara saya menangani milis is-lam@isnet.org yang dikelola oleh Isnet. Celakanya, tidak lama kemudian seseorang yang satu almamater dengan beliau (yang namanya lebih baik tidak saya sebut disini) melancarkan serangan pribadi kepada saya lewat milis yang sama. Sempat terpikir waktu itu, koq orang-orang dari OkState ini nyebelin banget sih?

Ini bukan yang pertama kalinya saya melihat aktifis Isnet tiba-tiba nongol di layar televisi. Pada "jamannya" Imam Prasodjo dan Andi Malarangeng termasuk mereka yang aktif dalam menyampaikan opininya di milis Isnet. Belakangan ketika mereka kembali ke tanah air setelah studinya di LN usai, nama mereka banyak disebut-sebut sebagai pengamat politik. Imam Prasodjo masih aktif di Komite Media Isnet, sedangkan nama Andi Malarangeng baru muncul kembali setelah beliau dicatat sebagai pendiri Yayasan Media Madani. Beberapa nama lain yang juga lebih dahulu saya kenal lewat Isnet sebelum diekspos media massa di tanah air antara lain adalah ekonom Drajad Wibowo dan pakar telematika, Dr. Budi Rahardjo.

Sayangnya, walaupun banyak melahirkan orang-orang "beken", kodisi milis Isnet sendiri saat ini tidak terlalu bagus. Trafiknya tetap tinggi, tapi mutu diskusinya makin menurun saja. Ini bukan hanya karena ditinggalkan oleh pemikir-pemikir brilian (yang kemudian lebih banyak ber-opini lewat media massa sebagai "pengamat"), namun juga tidak lepas dari semakin meluasnya akses internet di Indonesia. Saat diskusi di milis Isnet masih terbilang sejuk, nuansa intelektual cukup kental karena sebagian besar dari pesertanya adalah para mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi di mancanegara. Ini berbeda dengan kondisi saat ini, dimana posting-posting didominasi oleh peserta pengguna email gratisan (Yahoo atau Hotmail) dengan identitas yang tidak jelas.

Celakanya, dalam kondisi semacam inilah milis tersebut diserahkan kepada saya untuk dikelola. :(

- Diposting oleh Dhani @ 18:57

Selasa 11 Desember 2001

Administrativia

Sejak situs ini mulai beroperasi, cukup banyak masukan dan saran yang saya dapatkan dari para pengaksesnya, baik yang berstatus pengunjung tetap maupun insidentil. Tapi selain berupa masukan, formulir Kontak webmaster juga sering terisi oleh serangkaian pertanyaan tentang berbagai topik yang ter-cover oleh situs ini, mulai dari konsultasi soal virus komputer sampai minta bantuan untuk pengerjaan Tugas Akhir, mulai dari pertanyaan soal Teleskop sampai bagaimana mengukur jari-jari planet lain. Ada juga tipe pengunjung yang berkali-kali datang untuk bertanya macam-macam, atau sebaliknya pertanyaan yang sama yang diajukan berulang-ulang oleh orang yang berbeda (ini biasanya nanya tentang PHP).

Karena saya bukan pakar serba bisa yang mampu menjawab semua pertanyaan :), jadi selain penjelasan seperlunya sejauh yang saya mampu, kadang-kadang saya hanya merespon dengan mengirimkan link ke situs-situs yang relevan. Reaksi yang saya dapatkan setelah mengirim reply biasanya juga beragam. Mulai dari yang lantas menghilang begitu saja, mengajak diskusi lebih lanjut (yang biasanya akan saya layani dengan senang hati), sampai mengirimkan e-card

Well, tentu saja saya merasa perlu menulis catatan ini bukan semata-mata untuk pamer ;), tapi juga untuk memberitahukan bahwa dalam beberapa hari kedepan saya mungkin akan terputus untuk sementara dari dunia maya sehingga mungkin tidak bisa merespon apapun yang dikirimkan ke alamat saya. Saya cuma khawatir saja bakal mengecewakan beberapa orang karena akhir-akhir ini volume "konsultasi tidak resmi" ini lumayan meningkat (kemarin saja ada dua pesan yang masuk). Penyebabnya? Entahlah, tapi waktu saya mengecek log, rupanya dalam dua minggu belakangan, jumlah pengunjung situs ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

- Diposting oleh Dhani @ 05:01

Minggu 09 Desember 2001

Jam Biologis

Weekend, dan tidak ada pekerjaan yang terlalu mendesak untuk segera dikerjakan. Setelah kemarin berkutat dengan sederet persoalan di dunia maya, mulai dari soal satuan astronomi sampai tracing log qmail-smtpd -- tentu saja di dunia nyata juga ada banyak persoalan, tapi itu cerita lain lagi ;) -- hari ini saya berencana untuk istirahat total, jadi selepas subuh, saya putuskan untuk tidur sebentar. Sebentar?

Saya terbangun oleh dering telepon berkali-kali. "Koq lama nggak diangkat?" tanya suara di seberang sana -- itu seorang kawan saya. "Lagi ketiduran," jawab saya polos. "Udah jam 4 koq masih tidur?" cecarnya lagi. Sejenak saya melirik ke arah jam. "jam 4 pagi koq udah terang begini?", batin saya. Mungkin perlu dua detik bagi saya untuk menyadari bahwa saat itu sudah jam 4 sore. Astaga!

Selesai menerima telepon, apa boleh buat, Sholat Dhuhur dan Ashar mesti digabung. Puasa kali ini jadi tidak terasa, karena begitu habis subuh, waktu seperti meloncat ke jam 4 sore :), jadi hitung-hitung puasa efektif saya hanya sekitar satu setengah jam.

***
Apa sih yang sebenarnya terjadi? Ini sebenarnya tidak terlalu sulit untuk ditelusuri. Kebiasaan lembur saya akhir-akhir ini, ditambah dengan puasa Ramadhan yang memerlukan sahur di tengah malam dan ritme kerja di siang hari yang tidak berubah membuat waktu tidur saya terpangkas habis-habisan, akibatnya ini mengacaukan jam biologis di tubuh saya.

Bicara tentang jam biologis. Istilah ini dipakai untuk menamai mekanisme pengaturan waktu internal dalam tubuh yang bekerja secara otomatis dan berkelanjutan. Mekanisme ini mengendalikan pola ritme dalam kelakuan dan sifat mahluk hidup, juga adaptasi mahluk hidup terhadap lingkungannya, baik internal maupun eksternal.

Salah satu faktor yang bertanggung jawab terhadap jam biologis, terutama pada mahluk vertabrata, adalah hormon melatonin. Hormon ini diproduksi oleh kelenjar pineal, sebuah organ kecil yang tersambung ke dinding posterior pada otak. Melatonin diproduksi dari neutransmiter serotonin pada kelenjar tersebut.

Ritme pada jam biologis (disebut sebagai bioritmik, atau oscilasi) memiliki suatu "periode" yang diukur dari suatu titik atau fase tertentu hingga fase yang sama terulang. Ukuran periode dalam satu ritme biologis diperkirakan sama dengan yang ditunjukkan oleh jam biologis pada tubuh. Ritme yang terjadi lebih dari sekali dalam sehari, disebut ritme ultradian (detak jantung, pernafasan); sekali sehari, circadian (tidur, bangun, fluktuasi suhu tubuh); sekali setahun, circannual (terjadi pada beberapa mamalia yang kehilangan berat badan atau tidur pada musim-musim tertentu); dan yang memiliki periode beberapa hari namun kurang dari satu tahun, disebut infradian (biasanya berkaitan dengan reproduksi, seperti periode ovulasi maupun menstruasi pada wanita).

Apa yang saya alami barusan mirip seperti gejala jetlag. Tubuh kehilangan patokan, kapan harus merasa mengantuk dan kapan harus tidur karena kebiasaan yang tidak menentu. Akibatnya, saat secara psikologis tidak ada hambatan, maka otomatis otak akan memerintahkan tubuh untuk beristirahat total sepuas-puasnya. [ngomong-ngomong, tidur saya tadi emang nyenyak bener, tapi karena kelamaan, malam ini malahan jadi nggak bisa tidur, makanya saya putuskan untuk mengisi waktu dengan mengetik weblog ini, sekalian menunggu sahur :) ].

- Diposting oleh Dhani @ 01:03

Kamis 06 Desember 2001

Seandainya Saja ...

Tidak seperti planet-planet lain di tata surya kita, Bumi telah terkondisi sedemikian rupa hingga memungkinkan munculnya bentuk kehidupan yang sedemikian beragam di permukaannya. Mulai dari bentuk kehidupan yang paling sederhana seperti organisme bersel satu, hingga mahluk cerdas berakal yang menyebut dirinya 'manusia', tumbuh dan berkembang biak dalam kondisi yang sangat ideal di planet ini.

Namun seandainya jarak rata-rata antara Bumi-Matahari lebih besar atau lebih kecil dari 1,49597870691 × 1011 m (1 AU), andaikata periode rotasi bumi bukan 24 jam, andaikata bumi tidak berevolusi setiap 365,25 hari, atau andaikata sudut kemiringan sumbu rotasi Bumi tidak berada pada angka 23,5 derajat, maka kehidupan--setidaknya yang kita kenal sekarang--tidak akan mungkin untuk terbentuk di permukaannya. Munculnya angka-angka tersebut tentu bukanlah sesuatu yang kebetulan belaka, karena sebagai umat beragama, kita tentu percaya bahwa ada 'the invisible hand' yang mengatur semua itu.

Astronomi adalah ilmu yang lahir dari ketakjuban manusia atas alam semesta dan fenomena-fenomena yang melingkupinya. Dari zaman ke zaman, benda-benda angkasa seringkali dikaitkan dengan mitologi Dewa-Dewi, ramalan peruntungan, hingga alamat pembawa petaka. Rasa takjub inilah yang mendorong manusia untuk tidak henti-hentinya berusaha menggali dan mempelajari segala fenomena alam semesta. Sungguhpun demikian, semakin manusia memahaminya, rasa takjub itu bukannya lantas berkurang, namun justeru semakin bertambah. Semakin suatu rahasia alam terkuak, serentetan misteri lainnya bermunculan, menunggu untuk disingkap. Mempelajari astronomi--sebagaimana ilmu-ilmu lain yang mempelajari fenomena-fenomena sunatullah di alam--Insya Allah akan semakin membuka cakrawala kita atas keagungan dan kebesaran dari Sang Maha Pencipta.


Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.

(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya
Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka."


-- QS Ali Imran : 190-191

- Diposting oleh Dhani @ 01:13

Rabu 05 Desember 2001

Periode Sideral dan Periode Sinodik

Satu periode Sideral--waktu yang diperlukan oleh Bumi untuk berputar satu kali pada sumbunya relatif berdasarkan latar belakang bintang--ialah 23 jam 56 menit dan 4 detik. Sementara itu satu periode Sinodik (periode Matahari) adalah 24 jam, dihitung antara saat terbitnya matahari hingga momen yang sama keesokan harinya. Matahari melintasi langit hingga periode 365,24 hari, dimana ia menyelesaikan perjalanannya relatif terhadap ekliptika. Pergerakan ini disebut sebagai satu hari rata-rata Matahari. Tetapi karena kecepatan pergerakan (relatif) Matahari tidaklah konstan, dan Bumi bergerak dalam orbit eliptik, maka satu hari matahari rata-rata berkurang atau bertambah sekitar 10 menit, dan ini disebut sebagai 'waktu persamaan' (equation time). Ini menjelaskan mengapa walaupun satu hari tidak tepat 24 jam tetapi sistem penanggalan tidak pernah meleset.

Dua hari dalam setahun, Matahari mencapai titik paling utara atau paling selatan dalam perjalanannya. Dalam hal ini, Matahari dikatakan telah mencapai titik baliknya. Titik balik musim panas di belahan Utara jatuh pada tanggal 21 Juni, sedangkan titik balik musim dingin terjadi tiap tanggal 21 Desember. Dalam periode ini, siang hari di salah satu belahan bumi akan jauh lebih panjang dibanding malam harinya, sementara di belahan bumi yang berseberangan mengalami kebalikannya; waktu malam jauh lebih panjang daripada siang hari.

Juga dalam dua hari di setiap tahun, periode Sideral akan tepat sama dengan periode Sinodik. Saat itu matahari tepat berada di atas katulistiwa, sehingga siang dan malam akan memiliki panjang yang sama. Periode yang disebut sebagai Ekuinoks ini terjadi setiap tanggal 21 Maret dan 22 September. Yang terakhir ini bertepatan dengan tanggal kelahiran saya :).

- Diposting oleh Dhani @ 06:13

Selasa 04 Desember 2001

Gerak Rotasi Bumi

Berbeda dengan lahirnya teori heliosentris yang yang penuh liku-liku, kemunculan teori tentang gerak rotasi Bumi boleh dikatakan tidak mengalami hambatan yang berarti. Semenjak manusia mulai menyadari bahwa Bumi berbentuk bulat, tidak berbeda dengan planet-planet lainnya dalam tata surya, maka teori tentang rotasi Bumi dapat diterima secara meluas. Tapi ironisnya, hingga saat ini faktor penyebab gerakan rotasi Bumi (dan planet-planet lainnya) masih menjadi teka-teki. Bahkan para ilmuwan NASA sekalipun masih belum bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Karenanya, pertanyaan mengapa dunia berputar itu sebenarnya bukan pertanyaan main-main, setidaknya dilihat dari kacamata ilmu astronomi ;).

Untuk memahami gerak rotasi planet, kita perlu mengingat bagian tentang momentum linear dan momentum sudut dalam pelajaran Fisika dasar di sekolah menengah dahulu. Dalam bahasa sehari-hari, istilah 'momentum' menunjukkan besar tenaga untuk menghentikan benda yang bergerak. Dalam Fisika, kurang lebih begitu juga. Dalam sistem gerak lurus tanpa gesekan, sekali bergerak, benda akan tetap bergerak, kecuali apabila ada hambatan dari luar. Ini dinamakan prinsip kekalan momentum. Nilai numerik momentum linear diperoleh dari hasil perkalian massa benda dengan kecepatannya: p = m.v. Hukum Newton? Salah! Galileo sudah tahu jauh sebelum Newton.

Dalam sistem berputar tanpa gesekan, prinsip yang sama juga berlaku, Sekali berputar dalam orbit tertutup, benda akan bergerak dengan momentum sudut tetap, juga kecuali apabila ada hambatan dari luar. Definisinya adalah perkalian massa benda dengan kecepatan dan radius orbit: L = m.v.r, dimana m adalah massa dan v adalah kecepatan berputar.

Teori momentum sudut dapat membantu kita memahami mengapa bumi masih berputar secara kontinyu, namun jangan lantas diartikan sebagai konstan! Dalam pengamatan, kecepatan rotasi bumi setiap harinya selalu bertambah atau berkurang dalam ukuran beberapa milidetik tergantung pada distribusi massa Bumi dan perubahan kondisi atmosfir. Gempa bumi serta pergerakan air dan lapisan udara di permukaan Bumi juga merupakan faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan rotasi. Para astronom juga berspekulasi bahwa di suatu waktu, jutaan tahun lampau, Bumi kemungkinan berotasi lebih cepat dibandingkan dengan saat ini.

- Diposting oleh Dhani @ 05:23


Kecepatan Rotasi Bumi

Masih berbincang tentang rotasi. Apakah kita bisa mengetahui kecepatan rotasi Bumi di lokasi tertentu? Jawabnya: Bisa.

Keliling Bumi di katulistiwa adalah 40,070 km, dan satu hari sepanjang 24 jam, dimana Bumi berotasi pada kecepatan 1670 km/jam. Ini berkurang sesuai dengan besarnya kosinus posisi lintang (latitud) di suatu lokasi. Di Jakarta dengan latitud 6º LS -> cos(6) = 0,994, maka kecepatan rotasi Bumi disana adalah 0,994 x 1670 = 1660 km/jam. Kencang juga yah ;)

- Diposting oleh Dhani @ 05:03

Senin 03 Desember 2001

Heliosentris

Periode Renaissance yang menandai kebangkitan kembali ilmu pengetahuan menjelang akhir abad pertengahan membuka jalan bagi perkembangan yang menakjubkan dalam bidang kesenian dan ilmu pengetahuan. Tetapi dalam astronomi, kelahiran kembali tersebut sulit dan menyakitkan. Pandangan Plato dan Aristoteles bahwa Bumi merupakan pusat alam semesta telah diterima secara luas sehingga gagasan-gagasan lain tidak berkembang.

Nicolaus Copernicus, seorang astronom Polandia, berpandangan bahwa gerakan planet dapat diterangkan dengan mengandaikan bahwa Bumi beserta planet-planet bergerak mengitari Matahari. Namun demikian, Copernicus enggan menerbitkan pandangannya karena sesungguhnya ia tidak dapat membuktikan kebenarannya. Adalah Georg Joachim Rheticus, muridnya, yang berhasil meyakinkan Copernicus bahwa ia harus menyampaikan pandangannya kepada masyarakat. Bukunya, De Revolutionibus Orbium Coelestium (Tentang Perputaran Bola-Bola Angkasa) akhirnya diterbitkan pada tahun 1543, dimana ia juga wafat di tahun yang sama. Dalam bukunya ini, Copernicus menamai gerak edar planet mengelilingi Matahari sebagai revolusi. Konon dari sinilah kata "revolusioner" itu berasal. Pandangan Copernicus ini dikenal sebagai teori heliosentrik, sedangkan pandangan bahwa bumi sebagai pusat alam semesta dikenal sebagai teori geosentrik.

Sayangnya teori heliosentrik ini ditentang habis-habisan oleh pemuka agama pada masa itu. Di Italia pada tahun 1633, Galileo dituntut atas kegiatannya menyebarkan paham ini. Ada alasan lain mengapa teori Copernicus tidak dapat diterima di kalangan agamawan. Konon dalam teorinya, Copernicus mengenalkan konsep tak terhingga dalam alam semesta sehingga secara implisit ia menafikan peranan Tuhan.

Sementara itu, Tycho Brahe, astronom observatorium terbesar abad itu berpandangan bahwa planet-planet lain bergerak mengitari matahari seraya mengelilingi Bumi. Walaupun nampak aneh, teori itu masih belum dapat dibuktikan kesalahannya. Namun demikian, dari pengamatan Brahe, Johannes Keppler akhirnya dapat menunjukkan bahwa semua gerakan planet dapat diterangkan secara tepat apabila bergerak dalam orbit elips mengelilingi matahari, dan bukan dalam orbit lingkaran.

Kemajuan ilmu astronomi kemudian berpindah ke Inggris. Teori yang sudah sejak lama dirintis di Yunani kuno akhirnya secara gemilang berpuncak pada penemuan Isaac Newton bahwa gaya berat (gravitasi) menahan planet dan bulan pada orbitnya. Teori ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1687.

Setelah Galileo merintis penemuan teleskop, maka penekanan dalam astronomi mulai bergeser ke pengamatan. Dalam tahun 1728, James Bradley mendapatkan bukti akhir bahwa bumi memang benar-benar beredar mengelilingi matahari. Bukti itu didapatnya dengan mengamati gejala yang disebut Aberasi Cahaya Bintang. Gejala ini merupakan akibat dari gerakan Bumi mengedari Matahari yang menyebabkan perubahan kecil dalam posisi bintang yang diukur. Untuk memahami gejala ini, kita dapat membayangkan andaikata kita mengemudi dalam hujan. Meskipun hujan jatuh secara vertikal, namun gerak maju kendaraan membuat butiran air hujan nampak datang dari depan. Demikian pula dengan gerakan Bumi melintasi garis cahaya yang datang dari bintang menyebabkan penyimpangan arah bintang yang dapat diukur.

Pengamatan tata surya selanjutnya mencapai banyak kemajuan dengan ditemukannya planet Uranus tahun 1781 oleh Sir William Herschell disusul oleh penemuan Neptunus (1846) dan Pluto (1930).

Astronomy, by the very nature of its inquiry, exists at the border between science and religion. How, then, should we as astronomers and educators address questions of proof, faith, and meaning?

-- Michael C. LoPresto

- Diposting oleh Dhani @ 02:30

Sabtu 01 Desember 2001

Somewhere Over the Rainbow

Somewhere over the rainbow way up high
There's a land that I've heard of once in a lullaby
Somewhere over the rainbow skies are blue
And the dreams that you dare to dream really do come true

Someday I'll wish upon a star and wake up when the clouds are far behind me
Where troubles melt like lemon drops away above the chimney tops
That's where you'll find me

Somewhere over the rainbow blue birds fly
Birds fly over the rainbow why then, oh why can't I?
If happy little blue birds fly across the rainbow
Why oh why can't I?

- Diposting oleh Dhani @ 21:05