Refleksi: Februari 2002
Kamis 21 Februari 2002
Kompresi Data
Dalam terminologi pengolahan data, kompresi adalah sebuah cara untuk memperkecil ukuran data untuk mempersingkat waktu pengiriman maupun untuk menghemat penggunaan media penyimpanan. Kita mengenal berbagai algoritma kompresi, namun hanya beberapa diantaranya yang telah distandarisasi dan digunakan secara meluas.
Salah satu teknik kompresi yang sering dipergunakan adalah algoritma ZIP yang menjadi dasar dari software WinZip yang umum digunakan saat ini. Algoritma ZIP dikembangkan dari skema kompresi Lempel-Ziff yang bekerja dengan melakukan pencarian pola-pola perulangan dalam sebuah file dan menggantinya dengan sebuah penanda tertentu.
Algoritma ZIP dan varian-variannya (antara lain ARJ dan GZip) merupakan kompresi non-lossy. Ini berarti bahwa data dimampatkan dengan tidak menghilangkan sedikitpun informasi yang terkandung didalamnya. Beberapa jenis teknik kompresi tertentu bekerja secara lossy, yaitu dengan menghilangkan sebagian informasi dalam file untuk memperbesar rasio kompresi. Kompresi lossy biasanya digunakan pada file-file multimedia berukuran besar, misalnya metode JPEG (Joint Photographic Expert Group) yang digunakan untuk mengkompresi file grafis maupun metode DCT (Discrete Cosine Transform) yang digunakan pada file MPEG (VCD) dan MP3.
Karena dikompresi secara lossy, maka kualitas gambar pada file JPEG/MPEG maupun kualitas suara pada file MP3 sebenarnya tidak sebagus aslinya. Hal ini bergantung kepada seberapa besar rasio kompresi yang digunakan. Rasio kompresi berbanding terbalik dengan kualitas hasil, artinya, makin besar rasio kompresi, maka ukuran file yang dihasilkan akan semakin kecil, namun demikian kualitasnya akan semakin menurun.
Kompresi secara non-lossy, umumnya memiliki rasio kompresi sekitar 50% (1:2) tergantung jenis file yang dikompres. File teks biasanya memiliki rasio kompresi yang cukup tinggi sementara file grafis akan memiliki rasio kompresi yang rendah. Dilain pihak, kompresi lossy dapat memiliki rasio hingga 10% (1:10) dengan hanya sedikit penurunan kualitas.
Kompresi juga memegang peranan penting dalam komunikasi data. CCITT (Comité Consultatif International Téléphonique et Télégraphique), sebuah organisasi yang berwenang untuk menetapkan standar komunikasi internasional telah menetapkan beberapa standar kompresi untuk komunikasi data. Sebagai catatan, CCITT kini lebih dikenal sebagai ITU (International Communication Union).
Salah satu standar yang umum dipergunakan adalah protokol Group 3, sebuah protokol untuk mengirimkan dokumen faksimili melalui saluran telepon. Protokol Group 3 menggunakan format kompresi CCITT T.4 dengan kecepatan transmisi 9,600 baud (bps) dengan dua tingkat resolusi: 203 x 98 pixel dan 203 x 196 pixel. Protokol ini kemudian dikembangkan menjadi protokol Group 4 dengan kemampuan mengirimkan dokumen faksimili melalui jaringan ISDN dan dukungan resolusi hingga 400 dpi.
Belakangan juga dikembangkan protokol komunikasi data via modem. Untuk ini, kita mengenal protokol V.21, V.22, V22bis, V.29 (yang digunakan oleh fax-modem), V.32, V.32bis, V.34, V.42, V.42bis, dan yang terakhir adalah V.90 yang merupakan protokol standar untuk modem 56.6 kbps yang umum digunakan dewasa ini.
Senin 18 Februari 2002
Astronomi Amatir
Berbeda dengan cabang-cabang ilmu lainnya, dalam ilmu Astronomi, para amatir memiliki peranan yang cukup signifikan. Tidak seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang, astronom profesional sebenarnya tidak terlalu banyak menghabiskan waktu di depan teleskop. Umumnya para astronom profesional lebih banyak menekuni hal-hal yang bersifat teknis seperti analisis data maupun sebagai akademisi.
Sementara itu, para astronom amatir umumnya berangkat dari hobi mengamati angkasa. Dengan demikian, para astronom amatir cenderung lebih banyak menghabiskan waktu di depan teleskop untuk melakukan pengamatan terhadap berbagai objek. Dewasa ini, banyak diantara para amatir terlibat secara langsung dalam berbagai kegiatan resmi yang berkaitan dengan astronomi, misalnya dalam program NEAT maupun SETI. Disamping itu, beberapa komet maupun asteroid tercatat ditemukan oleh astronom amatir.
Tidak seperti astronom profesional yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang astronomi dan mendapatkan imbalan finansial untuk profesinya, para astronom amatir terdiri dari mereka yang berasal dari profesi dan latar belakang pendidikan yang beragam. Sebagai astronom amatir, mereka sama sekali tidak mendapatkan insentif khusus. Mereka bekerja semata-mata hanya karena kecintaan terhadap ilmu astronomi.
"Astronomy is the oldest of the sciences and, visually the most beautiful. What is more, it is the only science to which the amateur can make useful contributions. The professional lost in astrophysics and cosmology, leave it to the amateur to spot new comets, asteroids, novae, to monitor changes and note phenomena."
-- Isaac Asimov
-- Isaac Asimov
Minggu 10 Februari 2002
Pernak-Pernik Musik
Apa yang anda rasakan ketika mendengarkan sebuah komposisi musik? Mungkin anda bisa merasakan bahwa musik atau lagu yang anda dengarkan berirama gembira atau mungkin sedih. Mungkin bersemangat, atau malahan membuat anda mengantuk. Mungkin apa yang anda dengarkan akan membawa anda ke suasana nostalgia, atau membangkitkan kenangan-kenangan khusus terhadap peristiwa-peristiwa yang pernah anda alami, baik itu berupa peristiwa yang menyenangkan atau menyedihkan.
Anda mungkin tidak terlalu perduli akan komposisi, atau nilai artistik dari apa yang anda dengarkan. Mungkin anda mendengarkan suatu lagu karena anda "ngefans" dengan pelantunnya, menyukai warna musiknya, atau sekedar untuk melepas lelah dan stress, mengikuti irama, dan larut dalam suasana yang ditimbulkannya.
Apabila ini yang ada rasakan, berarti anda mendengarkan musik secara emosional. Komposisi pop biasanya merupakan salah satu aliran musik yang lebih bisa dinikmati secara emosional.
Selain secara emosional, musik juga bisa dinikmati secara intelektual. Menikmati musik semacam ini lebih banyak mengandalkan kepekaan intelektual, ketimbang emosi. Mendengarkan musik secara intelektual membutuhkan sedikit konsentrasi untuk menyimak segi-segi artistik dalam sebuah karya tanpa terjebak oleh kesan sepintas yang bisa ditangkap.
Bisa ditebak, komposisi klasik atau simfonik termasuk diantara jenis musik yang lebih bisa dinikmati secara intelektual ketimbang emosional. Beberapa komposisi simfonik mungkin akan mengundang kantuk, sementara beberapa nomor klasik mungkin akan menimbulkan kesan kacau apabila didengarkan secara sepintas, namun tidak demikian halnya apabila disimak secara lebih serius.
Kuncinya sebenarnya terletak pada kepekaan artistik kita, dalam hal ini, bagaimana kemampuan kita untuk menikmati melodi maupun harmoni dalam sebuah komposisi musik. Menikmati musik secara emosional biasanya hanya akan membawa kenikmatan sesaat, dan pada suatu titik tertentu akan membawa kebosanan. Hal ini jarang kita alami apabila kita menikmati musik secara intelektual. Ini menjelaskan mengapa komposisi-komposisi klasik dapat bertahan hingga berabad-abad lamanya tanpa menimbulkan rasa bosan bagi penikmatnya.
Rabu 06 Februari 2002
Antara Astronomi Kuno dan Modern
Bangsa Sumeria dan Babylonia (3000 sM - 538 sM) telah memahami banyak hal tentang bulan, planet dan bintang dengan melakukan pengamatan terhadap langit malam. Dengan berbekal pengetahuan tentang Astronomi, mereka telah mampu melakukan pencatatan waktu. Mereka membagi satu hari menjadi 24 jam, dimana waktu dari matahari terbit hingga terbenam membutuhkan waktu 12 jam, demikian pula dari waktu matahari tenggelam hingga terbit kembali keesokan harinya. Mereka juga menetapkan bahwa satu jam terdiri dari 60 menit. Sistem tersebut masih kita gunakan hingga saat ini.
Sementara itu, bangsa Mesir Kuno (3500 sM - 332 sM) telah memiliki sistem penanggalan yang akurat dengan bersandarkan kepada pengetahuan Astronomi yang mereka miliki. Mereka membagi kalendar dalam setahun menjadi 12 bulan yang masing-masing mencakup 30 hari. Lima hari ditambahkan pada setiap akhir tahun agar setahun tetap berumur 365 hari.
Sistem penanggalan yang dikembangkan oleh bangsa Mesir Kuno ini dikembangkan berdasarkan pengamatan terhadap peredaran matahari, bulan, dan bintang dari waktu ke waktu. Sistem penanggalan ini menjadi dasar dari sistem penanggalan modern yang kita kenal dewasa ini.
Dibandingkan dengan astronomi modern, ilmu astronomi kuno memang relatif sederhana, namun pemahaman terhadap astronomi di masa itu lebih condong untuk hal-hal yang sifatnya praktis. Sebaliknya ilmu Astronomi modern jauh lebih rumit walaupun boleh dikatakan tidak (atau sangat sedikit) memiliki manfaat praktis.
Sejak penemuan teleskop oleh Galileo, maka titik berat Astronomi mulai bergeser ke arah penelitan objek-objek eksotis di langit untuk memperkaya khazanah pengetahuan umat manusia. Belakangan, pada dasawarsa 1950-an, para astronom menemukan "jendela" lain untuk mempelajari alam semesta dengan lahirnya Astronomi radio (mengenai Astronomi radio sendiri mudah-mudahan dapat kita bahas secara khusus dalam kesempatan lain). Kemajuan teknologi dalam penerbangan antariksa juga telah membuka cakrawala baru bagi para yang mungkin tak terbayangkan oleh Galileo ketika ia memanfaatkan teleskop untuk pertama kalinya.