Refleksi: April 2002
Kamis 25 April 2002

Pemrograman Komputer, Dulu dan Sekarang

Pada awal era komputer, pengertian "memprogram komputer" lebih mengarah ke penanganan perangkat keras ketimbang rekayasa perangkat lunak sebagaimana pengertian saat ini. Programmer pada masa itu melakukan tugasnya dengan mengeset switch dan relay yang sangat kompleks dari komputer--yang saat itu masih menggunakan tabung hampa (transistor).

Penemuan mikroprosesor membuat terobosan yang besar dalam dunia komputasi. Dengan sistem berbasis mikroprosesor, para programmer dapat membuat perangkat lunak dengan menuliskan kode-kode bahasa mesin atau assembly. Pemrograman semacam ini (dikenal sebagai bahasa pemrograman tingkat rendah/low level language) terbilang sulit karena untuk dapat mendevelop suatu perangkat lunak, sang programmer harus menguasai seluk beluk sistem. Tentu saja ini kurang praktis untuk pengembangan perangkat lunak berorientasi bisnis.

Adalah bahasa FORTRAN (Formula Translator) yang mulai dikembangkan tahun 1954 dan bahasa COBOL (Common Business Oriented Programming Language) yang dikembangkan oleh Grace Murray Hopper pada 1952 yang menandai dimulainya Era High Level Language (bahasa pemrograman tingkat tinggi). Berbeda dengan bahasa pemrograman tingkat rendah dimana program ditulis dengan kode-kode bahasa mesin yang sulit dimengerti, maka dalam bahasa pemrograman tingkat tinggi, baris-baris pemrograman disusun dengan bahasa yang mirip dengan bahasa manusia sehingga lebih gampang dipahami.

Walaupun lebih sederhana, pada kenyataannya program-program yang ditulis dalam bahasa tingkat tinggi lebih banyak memakan memory ketimbang program-program yang ditulis dalam bahasa tingkat rendah. Belakangan, muncul bahasa C/C++ yang digolongkan sebagai bahasa pemrograman tingkat menengah. Bahasa C dan variannnya memiliki struktur yang mirip bahasa pemrograman tingkat tinggi, namun menghasilkan program yang berukuran lebih kecil dibanding program yang sama yang dituluis dalam bahasa pemrograman tingkat tinggi seperti Pacal dan Basic.

Memasyarakatnya sistem operasi berbasis grafis membuat maraknya bahasa-bahasa pemrograman berbasis visual seperti Borland Delphi dan Visual Basic (serta keluarga Visual lainnya dari Microsoft). Dengan pemrograman berbasis visual, rekayasa perangkat lunak cenderung menjadi lebih sederhana karena para programmer dapat berkonsentrasi pada fungsi ketimbang soal tampilan untuk perangkat lunak yang dibuatnya.

Para programmer masa kini cenderung lebih dimanjakan dengan adanya ratusan library yang tersedia di internet. Belum lagi dengan adanya program-program yang bersifat open source. Pekerjaan coding buklan lagi menjadi hal yang memakan waktu, karena berlimpahnya sumber daya yang dapat digunakan. Tentu saja ada harga yang harus dibayar untuk ini. Rekayasa perangkat lunak masa kini cenderung mengabaikan efisiensi dalam memanfaatkan sumber daya perangkat keras. Akibatnya, perangkat lunak masa kini rata-rata berukuran lebih besar dan rakus memori!

- Diposting oleh Dhani @ 16:10

Selasa 23 April 2002

Administrativia

Bandwidth untuk situs ini sudah ditambah. Perlu berhitung sedikit sebelum mulai online secara penuh seperti di F2S dulu, plus butuh waktu untuk optimasi kode-kode PHP, terutama untuk efisiensi penggunaan bandwidth.

Sabar ... ;)

- Diposting oleh Dhani @ 15:15

Senin 22 April 2002

Demam Berdarah

Ini catatan pertama yang saya buat selama sebulan terakhir. Bukan karena mulai bosen atau kehabisan bahan (rasanya bahan yang ada masih lebih banyak daripada yang mampu saya tulis). Alasan klise: sibuk, banyak kerjaan, ditambah satu peristiwa tak terduga: serangan penyakit demam berdarah. Akibatnya, praktis semua rencana yang disusun untuk bulan April--termasuk penyusunan ulang situs ini--harus berganti dengan hari-hari yang membosankan di tempat tidur.

Berikut sekedar oleh-oleh pengalaman dengan penyakit demam berdarah. Siapa tahu berguna buat mereka yang belum atau sedang mengalami penyakit ini.

Diagnosis demam berdarah Dengue biasanya diambil dari hasil pemeriksaan sampel darah di laboratorium. Indikasinya adalah kadar trombosit dalam darah--dalam berkas pemeriksaan laboratorium biasanya bisa dilihat pada entry "PLT". Kadar trombosit yang normal berkisar antara 150-440/mm3 sedangkan ada penderita demam berdarah, trombosit dapat turun hingga dibawah 100.

Perawatan di rumah sakit biasanya difokuskan untuk menaikkan kadar trombosit dalam darah dan pemberian cairan infus untuk mencegah dehidrasi. Penyakit ini tidak ada obatnya, jadi pasien dianjurkan beristirahat total dan minum air putih setidaknya 2 liter perhari. Untuk meningkatkan kadar trombosit, biasanya penderita dianjurkan untuk mengkonsumsi jambu klutuk (guava) dalam bentuk juice, bisa juga dalam bentuk minuman sari buah yang dijual dalam kemasan tetrapak dengan berbagai merk. Pemberian minuman isotonik dapat dilakukan untuk mencegah dehidrasi apabila penderita tidak diopname di rumah sakit. Dalam beberapa hal, minuman isotonik memiliki manfaat serupa dengan infus, terutama karena sifatnya yang mudah untuk diserap tubuh.

Penderita yang diopname biasanya dapat diijinkan pulang apabila kadar trombosit telah melewati angka 85. Sepulang dari rumah sakit, penderita masih memerlukan waktu untuk memulihkan kondisinya kembali ke normal (kadar trombosit diatas 150/mm3). Dalam beberapa kasus, masa pemulihan ini agak lama, bergantung pada kondisi tubuh penderita, namun biasanya pemulihan akan membutuhkan waktu antara 10 hari hingga lebih dari sebulan.

- Diposting oleh Dhani @ 14:57