Refleksi: Juli 2002
Senin 29 Juli 2002
Aneka Instrumen Untuk Teleskop Modern
Bagi para astronom yang biasa berkutat dengan pengamatan visual, sebenarnya kegiatan meneropong atau memotret dengan pelat fotografi bukan jamannya lagi. Walaupun desain dasar teleskop hanya mengalami sedikit perubahan dalam ratusan tahun kurun waktu pemanfaatannya di dunia astronomi, namun para astronom masa kini banyak terbantu oleh teknologi berbasis digital, diantaranya adalah CCD (chart Coupled Device). Peralatan ini terdiri dari sebuah chip dengan permukaan peka terhadap cahaya. Dengan menempatkan perangkat ini pada teleskop, memungkinkan para astronom untuk menampilkan citra objek yang diamati di layar monitor. Selanjutnya citra tersebut dapat disimpan dalam hard-disk untuk kemudian dianalisis lebih lanjut. Bagi kalangan non-astronomi, teknologi CCD ini sebenarnya bukan barang baru. Perangkat ini juga digunakan pada kamera video (handycam) dan juga pada kamera digital.
Teleskop modern juga diperlengkapi dengan peralatan-peralatan spektroskopi dan fotometrik, misalnya Microdensitometer, Astrometric measuring position machine, dan blink comparator. Peralatan-peralatan ini digunakan untuk melakukan pengukuran hasil observasi, baik itu pengukuran posisi, maupun pengukuran kecerlangan/magnitudo bintang.
Kalau kita di Indonesia masih terkagum-kagum dengan besarnya teropong Zeiss di Observatorium Bosscha [teropong ini terdiri dari dua buah teleskop, masing-masing berdiameter 60 cm dengan panjang fokus hampir 11 meter yang diletakkan dalam satu tabung dengan berat total 17 ton. Sebuah teleskop digunakan untuk pengamatan visual, sedangkan satunya lagi sebagai teleskop fotografi], maka kita mungkin akan ternganga-nganga melihat teleskop yang dipakai di observatorium di negara-negara maju. Bukan hanya ukurannya yang meraksasa, tapi juga kecanggihan dan desainnya pasti membuat iri para astronom negeri kita. Tengok saja teleskop kembar Keck di Mauna Kea, Hawaii. Masing-masing teleskopnya bergaris tengah hingga 10 meter dengan berat total hingga ratusan ton. Asal tahu saja, teleskop kembar Keck merupakan pemegang rekor sebagai teleskop terbesar di dunia.
Berbagai keterbatasan ini membuat perkembangan ilmu astronomi di Indonesia relatif lambat. Namun demikian, ilmu pengetahuan, termasuk astronomi, tidaklah berkembang melalui persaingan, melainkan saling melengkapi. Banyak observatorium besar di seluruh dunia yang membuka kesempatan bagi para peneliti dari luar untuk memanfaatkannya. Kalaupun cara ini juga masih terlampau mahal bagi para astronom Indonesia, maka tidak tertutup kemungkinan bagi astronom di Indonersia untuk mempergunakan "observatorium" di luar angkasa, semisal Chandra atau teleskop Hubble. Dengan didukung kecanggihan teklnologi internet, citra dari Chandra atau Hubble dapat diakses dan dianalisis oleh ilmuwan manapun dari seluruh dunia tanpa beranjak dari ruang kerjanya. Bahkan bagi para amatir macam kita-kita ini, masih bisa menikmati "jepretan" beberapa teleskop di observatorium kelas dunia lewat situs astronomy picture of the day.
Kamis 25 Juli 2002
Beberapa Cabang Astronomi
Astronomi biasanya dianggap identik dengan pengamatan benda-benda langit secara visual. Mungkin ini tidak lepas dari stereotip seorang astronom sebagai ilmuwan yang sehari-harinya sibuk berkutat dengan teleskop di observatorium. Padahal, astronomi sebagaimana ilmu-ilmu lainnya juga terdiri dari beberapa cabang yang dikhususkan untuk mendalami bidang-bidang tertentu.
Astronomi sinar kosmis misalnya, merupakan salah satu cabang astronomi yang relatif baru. Cabang astronomi ini lahir dari kenyataan bahwa benda-benda langit tidak hanya sekedar memancarkan cahaya yang tampak oleh mata, namun juga merupakan sumber radiasi kosmis yang terdiri dari pancaran sinar-sinar yang tidak kasat mata, seperti sinar X dan sinar (gamma). Dengan mempelajari radiasi kosmis dari benda-benda angkasa, para astronom berharap dapat mengetahui struktur dan komposisi suatu objek. Radiasi kosmis umumnya tidak sampai ke permukaan bumi karena telah dipantulkan oleh lapisan atmosfir, karenanya observasi terhadap sinar-sinar kosmis haruslah dilakukan dengan bantuan satelit. Salah satu satelit yang dipergunakan untuk keperluan ini adalah observatorium sinar X "Chandra" dan Observatorium Sinar Gamma Compton.
Selain itu, kita juga mengenal astronomi radio. Sudah lama diketahui bahwa beberapa objek tertentu di antariksa memancarkan gelombang-gelombang radio. Fakta ini pertama kali diketahui oleh insinyur berkebangsaan Amerika, Karl Jansky yang bekerja di Bell Telephone laboratories saat ia sedang meneliti interferensi panjang gelombang radio. Ia mendeteksi sedikitnya dua sumber listrik-statis penyebab interferensi: sambaran petir, baik di jarak jauh maupun dekat, dan sumber lainnya yang tidak diketahui. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa gelombang misterius tersebut ternyata berasal dari luar angkasa, tepatnya dari pusat galaksi Bimasakti.
Dewasa ini terdapat beberapa observatorium radio di seluruh dunia yang aktif bekerja merekam dan menganalisis gelombang radio yang berasal dari antariksa. Observatorium radio biasanya bersandar pada peralatan utama berupa piringan parabola raksasa yang berfungsi sebagai antena penerima. Piringan penerima yang terbesar di dunia terdapat di Observarorium radio Arecibo di Puerto Rico.
Di Indonesia sendiri pernah ada rencana untuk mendirikan sebuah observatorium radio yang berlokasi di Sumatera Barat. Namun rencana yang telah ada sejak dasawarsa 1980-an itu tinggal sebatas rencana dan tidak pernah terwujud hingga kini.
Ada pula cabang astronomi yang khusus mempelajari objek-objek tertentu, misalnya Matahari. Matahari adalah objek pengamatan yang penting dalam astronomi. Bukan hanya karena ia adalah bintang yang terdekat, tetapi juga karena aktifitasnya yang tentu sangat berpengaruh pada lingkungan di Bumi, termasuk kepada para penghuninya.
Diantara puluhan observatorium matahari yang tersebar di seluruh dunia, Indonesia memiliki salah satunya. Observatorium tersebut dikenal sebagai Observatorium Matahari Watukosek (Watukosek Solar Observatory, WKSO). Berlokasi di Gempol, Pasuruan, provinsi Jawa Timur, observatorium ini dikelola oleh Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN).
Minggu 21 Juli 2002
Administrativia
Sebagian besar respon lewat Kontak Webmaster berkaitan dengan bidang astronomi. Sementara itu, catatan di server menunjukkan kalau kebanyakan pengunjung yang masuk lewat search engine menggunakan search string yang ada kaitannya dengan astronomi.
Mengingat jumlah tanggapan yang masuk yang cukup banyak, dan untuk merespon juga memerlukan waktu yang tidak sedikit, maka prioritas hingga saat ini masih diberikan untuk mail-mail yang berisi permintaan informasi atau pertanyaan seputar detail topik yang dibahas disini. Sedangkan mail pribadi, apa boleh buat, masuk prioritas yang lebih rendah. Tapi ini juga bukan berarti saya tidak mau membalas, cuma memang banyak keterbatasan--waktu misalnya. Apalagi untuk jawaban mail yang nanya soal-soal rada teknis, saya juga mesti buka-buka referensi. Belum lagi mailboxnya yang suka kepenuhan (sering diitinggal, sih).
Persoalan lain menyangkut bandwidth. Walaupun alokasi bandwidth sudah ditambah (dan barusan ditambah 50 MB lagi), rasanya online secara penuh masih akan menghabiskan seluruh jatah yang tersedia. FYI, dengan kondisi seperti sekarang ini saja, kita sudah menghabiskan hampir sepertiga alokasi bandwidth tiap bulannya. Padahal, catatan di hosting lama menunjukkan, trafik dalam beban puncak bisa sebesar lima-enam kali beban trafik normal di situs ini. Solusinya, format situs lama mesti dirombak dengan membuang atau memindahkan bagian-bagian yang tidak relevan [sambil berharap ada penambahan bandwidth barang 100 mega lagi :)]. Rencananya, untuk masa mendatang, situs ini tidak lagi menjadi situs pribadi, melainkan betul-betul didedikasikan untuk pengembangan web sains berbahasa Indonesia dengan titik berat ke Astronomi, IT, dan Internet. Lantas, kapan akan terujud? I have working on it, tapi ini balik lagi ke skala prioritas. Untuk sementara, nikmati dulu serangkaian tulisan tentang astronomi berikut ini.
Rabu 03 Juli 2002
Tulisan Lawas
Saya sendiri sudah hampir lupa pernah menulis artikel ini sampai secara tidak sengaja saya musuk ke websitenya. Mengherankan juga kalau keyword "graifhan" di search engine semuanya langsung mengarah ke saya. Mungkin di dunia cuma saya yang menggunakan nama ini ;).
Tulisan tadi sebenarnya saya buat untuk konsumsi milis is-lam@isnet.org. Waktu itu sedang musim pemilu dan semua orang pada sibuk bergunjing soal tokoh-tokoh politik tertentu. Saya--yang pada dasarnya waktu itu memang sudah muak dengan yang namanya politik--sengaja menulisnya sebagai pengingat. Reaksi di milis sih tidak seberapa bagus, dan dari situlah milis siyasah@isnet.org dibentuk sebagai ajang ngobrol soal politik di Isnet. Pembentukannya juga tidak lepas dari pro-kontra, baik di anggota milis is-lam@ sendiri maupun para pengurusnya. Tapi kenyataannya politik makin lama memang makin terasa tidak menarik dan makin banyak orang yang tadinya maniak berbubah menjadi muak. Sekarang ini, saya yakin politik bukan menjadi bahan perbincangan (baca: gunjingan) yang menarik lagi.
Btw nih, bicara tentang Isnet disini membuat saya agak merasa bersalah. Apalagi melihat banyak tanggung jawab saya di sana yang terbengkalai. Web KTPDI hampir-hampir tidak tersentuh perubahan, permintaan mas Djoko untuk merancang grafis baru bagi web Media belum bisa dipenuhi, sementara milis is-lam@ sendiri ... aduuuh!
Senin 01 Juli 2002
Multimedia
Apa yang terlintas di benak kita saat mendengar istilah "multimedia"? Bagi sebagian orang, yang terbayang mungkin seperangkat komputer lengkap dengan CD-ROM, sound card dan speaker yang dapat memainkan VCD, musik MP3, dan (tentu saja!) games dengan tampilan grafis yang aduhai dan suara yang menggelegar.
Tapi apa sih sebenarnya definisi dari multimedia itu? Definisi dari multimedia sendiri sebenarnya agak simpang siur. Salah satu yang menarik untuk disimak adalah dari Newton's Telecom Dictionary, 15th edition, dalam bahasa aslinya:
Multi-media is the combination of multiple forms of media in the communication of information. Multimedia enables people to communicate using integrated media: audio, video, text, graphics, fax, and telephony. The benefit is more powerful communication. The combination of several media often provides richer, more effective communication of information or ideas than a single media such as traditional text-based communication can accomplish. Multi-media communication formats vary, but they usually include voice communications (vocoding, speech recognition, speaker verification and text-to-speech), audio processing (music synthesis, CD-ROMs), data communications, image processing and telecommunications using LANs, MANs, and WANs in ISDN and POTS networks. Multimedia technology will ultimately take the disparate technologies of the computer, the telephone, the fax machine, the CD player, and the video camera and combine them into one powerful communication center. Technologies that were once analog-video, audio, telephony-are now digital. The power of multimedia is the integration of these digital technologies. To many people, "multimedia" (as defined above) is a disparate collection of technologies in search of a purpose.
And it's true: most of the merger of media (as above) is taking place in business communications in the moving around of compound documents. Meantime, multimedia has moved into training and in the home for education and entertainment."