Refleksi: Agustus 2002
Jumat 30 Agustus 2002
Mana Yang Lebih Sering?
Dalam satu periode, mana yang lebih sering terjadi, gerhana matahari atau gerhana bulan?
Jawaban yang benar adalah gerhana matahari. Namun demikian gerhana bulan yang lebih jarang terjadi itu dapat dilihat oleh lebih banyak orang (penduduk setengah bagian bumi yang mengalami malam hari). Sebaliknya, gerhana matahari hanya dapat dilihat dari daerah yang ditutupi bayangan bulan yang meliputi hanya sebagian kecil dari daerah yang sedang mengalami siang hari. Karenanya, kita lebih sering menyaksikan gerhana bulan (yang lebih jarang terjadi itu) ketimbang gerhana matahari (yang sebenarnya lebih sering terjadi).
Kamis 22 Agustus 2002
Musik Klasik dan Simfonik
Di Indonesia, musik klasik dan simfonik sering dianggap sebagai musiknya orang-orang tua. Padahal anggapan semacam ini tidak sepenuhnya benar. Beberapa serial kartun klasik seperti Donal Bebek dan Woody Wodpecker yang populer di kalangan anak-anak misalnya, ilustrasi musiknya sering menggunakan potongan komposisi musik klasik. Sementara itu, kartun Disney (yang segmen penontonnya juga kebanyakan anak-anak) juga hampir selalu menggunakan orkestra untuk ilustrasi musik dan soundtracknya.
Selain stereotip sebagai musiknya orang tua, musik jenis ini juga sering dipersepsikan sebagai musik yang berat, rumit, kurang merakyat, dan hanya untuk kalangan atas saja.
Citra seperti inilah yang perlahan-lahan dicoba untuk dihapus oleh para musisi kita, misalnya Addie MS dengan Twilite Orchestranya yang sering berpentas dengan mengetengahkan repertoir yang tidak terlalu rumit dengan harga tiket yang relatif terjangkau (walaupun sering mendapat kritik dari 'mainstream' penggemar musik klasik karena dianggap 'melanggar pakem'). Disamping itu, kelompok ini dahulu juga sering menggelar pertunjukan secara gratis di sekolah-sekolah dasar di Jakarta. Tujuannya jelas untuk memperkenalkan musik jenis ini kepada anak-anak usia sekolah selain untuk menepis angggapan bahwa musik klasik dan simfonik adalah "selera tua". Sayangnya kegiatan itu saat ini terhenti karena alasan kekurangan dana.
Terobosan cukup berarti dimulai sejak penyanyi cilik berbakat Sherina memulai debutnya pada 1999 dengan melepas album perdananya yang full orkestra itu. Tidak diduga, album yang sebelum diluncurkan sempat menuai kritik dan kecaman, bahkan dianggap kurang komersil itu belakangan ternyata laku keras di pasaran.
Perlahan-lahan stereotip miring tentang orkestra mulai bisa dihapus dari benak masyarakat kita. Dewasa ini, di Indonesia mulai bermunculan beberapa kelompok orkestra yang cukup dikenal, mulai dari yang mengusung aliran Pops (musik pop dengan sentuhan simfonik orkestra) seperti yang sering dibawakan oleh Twilite, hingga klasik murni seperti Surabaya Symphonic Orchestra pimpinan Solomon Tong. Para penyanyi idola remaja tidak lagi canggung untuk menyanyi dengan diiringi orkestra. Tidak semuanya memang, karena penyanyi dengan modal suara pas-pasan pasti akan terlihat konyol apabila menyanyi dengan iringan orkestra.
Ada yang menarik dari kelompok-kelompok orkestra Indonesia ini. Kalau kita perhatikan, anggota kelompok orkestra--macam Twilite, Erwin Gutawa, atrau Purwacaraka--sebenarnya terdiri dari orang yang itu-itu juga. Jadi yang membedakan sebenarnya paling jauh cuma konduktornya saja :). Maklum saja karena musisi berkualitas di tanah air memang masih sangat kurang. Padahal, dengan makin seringnya event yang menggelar orkestra membuat para pemain-pemain ini menjadi kebanjiran order. Akibat sampingannya, makin sulit saja bagi sebuah kelompok orkestra untuk melakukan latihan atau gladi bersih sebuah event karena harus disesuaikan dengan jadwal para pemainnya.
Persoalan ini membuat kelompok orkestra asal Indonesia jadi terkesan kurang profesional. Karenanya, tidak heran apabila banyak penyanyi Indonesia yang hendak membuat rekaman dengan diiringi orkestra lebih memilih untuk menggunakan orkestra dari luar negeri untuk menghemat waktu. Ambil contoh Hadad Alwi dan Sulis yang melakukan rekaman untuk album "Cinta Rasul" versi orkestra harus jauh-jauh merekamnya ke Australia beserta Victoria Philharmonic Orchestra. Sementara itu, Sherina, untuk album ketiganya yang dilepas Mei lalu, merekamnya di Singapura beserta Singapore Symphony Orchestra (SSO). Namun demikian, pilihan ini juga tidak terlepas dari keterbatasan studio rekaman di Indonesia yang memang belum ada yang cukup representatif untuk merekam orkestra dengan pemain berjumlah besar.
Anyway, meski orkestra di Indonesia sudah bukan barang yang asing lagi, rasanya masih belum saatnya untuk 'mencekoki' audiens disini dengan komposisi klasik yang lebih berat, macam Wagner atau Stravinsky. Ini perlu pembiasaan dulu, sementara saat ini arahnya masih untuk memperkenalkan publik kita dengan musik yang lebih serius. Saat ini beberapa iklan televisi sudah berani menggunakan ilustrasi klasik, walaupun masih yang itu-itu saja: Blue Danube-nya Strauss atau Air from Suite-nya Bach. Sepintas saya pernah melihat iklan sebuah produk susu Balita yang menggunakan ilustrasi dari karya Mozart. Semoga saja ini bukan cuma fenomena musiman yang hanya berlangsung sesaat.
"Dengan ilmu hidup menjadi mudah, dengan seni hidup menjadi indah, dan dengan agama hidup menjadi terarah."
-- Buya HAMKA
-- Buya HAMKA
Sabtu 17 Agustus 2002
Bug
Kalau dilihat di kamus, kata "bug" seharusnya bermakna "kutu busuk", tapi dalam dunia pemrograman komputer, kata ini berarti kesalahan pada program. Proses penelusuran kesalahan program biasanya disebut sebagai debugging yang tentu saja tidak bisa sembarangan diartikan sebagai mencari kutu.
Penggunaan istilah ini sebenarnya ada sejarahnya. Kisahnya berawal dari ngadatnya ENIAC (Electronic Numerical Integrator and Computor) yang merupakan salah satu komputer generasi pertama pada 1946. Tentu jangan dibayangkan ENIAC ini seperti komputer masa kini yang cukup mungil untuk ditaruh diatas meja atau ditenteng kemana-mana itu. ENIAC berukuran 1 x 2.1 x 33 meter, terdiri dari 18.000 tabung hampa, 150 relay, dan mengkonsumsi daya listrik 180 kWh dengan berat 30 ton! Pemrograman dilakukan dengan mencolokkan kabel dan mengeset switch, sementara entry data dilakukan dengan bantuan kartu berlubang (punched cards).
Setelah diteliti, ternyata ngadatnya ENIAC ini akibat adanya seekor serangga (bug) yang nyasar diantara tabung-tabung hampa di komputer tersebut sehingga merusak beberapa sirkuit. Peristiwa ini dicatat sebagaio bug pertama dalam sejarah komputasi, sedangkan istilah "debugging" pertama kali digunakan oleh Laksamana Grace Murray Hopper (seorang anggota tim ENIAC yang kelak tercatat sebagai pencipta bahasa pemrograman COBOL) dalam konteks bercanda saat melakukan pelacakan kesalahan program di mesin itu. Siapa sangka istilah ini kemudian menjadi mendunia di kalangan para programmer hingga era Pentium sekarang ini.
Agustusan ...
17 Agustusan koq ngomongin soal bug? Apa karena banyak "bug" di negara ini, atau mungkin karena UUD 45 (yang lebih tua dari ENIAC) itu memang banyak menyimpan "bug" sehingga perlu diamandemen?
Duh, otak saya mah nggak kuat kalo ngomongin soal yang kayak gituan. Itu mah urusan orang pinter. Orang bodo kayak saya mending ngurusin komputer ajah. Belasan bulan lalu, saya memang suka berkomentar minor untuk urusan kenegaraan disini, tapi tambah usia, mestinya juga tambah dewasa. Kalo nggak bisa bicara yang baek-baek ya, mendingan diem aja.
Btw, senang juga ngeliat aubade di upacara bendera di Istana Negara yang sudah diiringi orkestra. Jauh lebih bagus ketimbang band militer yang membosankan itu (yang dipakai di tahun-tahun sebelumnya). Jadi ingat dengan catatan pertama saya, Mei tahun lalu ;).
Kamis 08 Agustus 2002
Bahasa Indonesia Untuk Komputer
Keasyikan nulis soal Astronomi, sampai hampir lupa kalau situs ini juga punya misi lain yang juga harus dijalanin. OK, kali ini giliran topik IT yang kita ulas.
Kita tahu, istilah-istilah komputer biasanya menggunakan bahasa Inggris. Hal ini bukan karena tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia, melainkan karena istilah-istilah yang semula nampak wajar apabila ditulis atau diucapkan dalam bahasa aslinya itu mendadak jadi terasa janggal apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
Ambil contoh kata "hard disk" yang dipadankan dengan "cakram padat" dan Compact Disk sebagai "cakram kompak" yang walaupun sudah dibakukan namun tetap saja terasa kurang familiar. Bagaimana dengan "mouse"? Para ahli di pusat bahasa rupanya lebih memilih meng-Indonesiakan penulisannya menjadi "maus" saja ketimbang menterjemahkannya secara harfiah. Ini beda dengan tetangga di negeri jiran yang langsung me-Melayukan [bukan berarti melarikan lho ;)] menjadi "tetikus". Sebaliknya, untuk kata "button", di Malaysia malah mengalami penyesuaian dengan lidah setempat menjadi "butang" sementara kita di Indonesia cenderung menerima kata "tombol" sebagai padanannya. Sementara itu, di Indonesia, keyboard komputer diterjemahkan sebagai "papan kunci" mungkin untuk membedakan dengan keyboard yang alat musik yang sudah lebih dulu di-Indonesiakan sebagai "kibor".
Dalam dunia softare, bahasa juga mengundang persoalan tidak kalah ruwetnya. Bagi kita yang telah terbiasa mengakses menu File, Command, Options, Settings, dsb, menggunakan menu berbahasa Indonesia malahan jadi terasa kurang familiar dan cenderung membingungkan. Produsen perangkat lunak yang melepas produknya dalam versi bahasa Indonesia sering memilih untuk mempertahankan struktur menu dalam bahasa aslinya dan hanya menggunakan bahasa Indonesia dalam menu bantuan (help) saja. Ini bisa kita lihat misalnya dalam software Lotus-123 versi bahasa Indonesia.
Persoalan lainnya bisa ditemui pada fasilitas spell checker (penguji ejaan) dan grammar checker (penguji tata bahasa). Berbeda dengan bahasa Inggris yang telah memiliki struktur yang mantap, bahasa Indonesia menyimpan banyak inkonsistensi, baik dalam struktur maupun tata bahasanya. Ini bisa kita lihat pada penggunaan awalan, imbuhan, maupun akhiran atau pada bentuk-bentuk perulangan. Karenanya, pembuatan fasilitas ini dalam bahasa Indonesia cenderung lebih rumit. Saya sendiri ragu apakah ini pernah dibuat atau tidak, tapi sependek yang saya tahu sih belum pernah.
Tapi persoalan sesungguhnya tidak sampai disitu saja. Beberapa produsen perangkat lunak ternama--seperti Microsoft--sudah berkomitmen untuk tidak menyediakan dukungan bahasa lokal terhadap negara-negara dimana tingkat pembajakan softarenya tergolong tinggi. Gampang ditebak, Indonesia--sebagai salah satu negara biang pembajakan--masuk dalam daftar hitam mereka. Karena itulah maka kita di Indonesia tidak perlu berharap ada MS Windows atau MS Office versi bahasa Indonesia, setidaknya dalam waktu dekat ini.
Untungnya, bagi software berjenis GPL (General Public Licence) dan open source seperti halnya Linux, soal pembajakan bukanlah persoalan yang perlu ditakuti. Karena itu, penggunaan bahasa Indonesia di Linux sudah bukan barang baru lagi. Tercatat beberapa paket distribusi (istilahnya: distro) seperti Redhat dan Mandrake sudah menyediakan dukungan bahasa Indonesia dalam petujuk dan prosedur instalasinya. Bahkan paket distribusi Trustix Merdeka telah menyediakan dukungan penuh bagi pengguna Indonesia, termasuk juga dalam persoalan bahasa tentunya.
Selasa 06 Agustus 2002
Para Penemu Planet
"Pertanyaan berikutnya bernilai 500 juta rupiah," kata Tantowi Yahya, pemandu kuis "Who Wants to be a Milionaire" yang ditayangkan Sabtu malam lalu di RCTI. "Siapa nama penemu planet Uranus?". Peserta yang sebelumnya telah berhasil meraup hadiah uang sebesar 250 juta rupiah dalam episode kali itu cuma bisa bengong sebelum akhirnya menyatakan menyerah. Perhitungan tim penyusun soal untuk memberi nilai yang cukup tinggi pada pertanyaan ini ternyata tidak meleset.
Orang yang namanya (seharusnya) bisa membawa peserta ini untuk meraup hadiah sebesar setengah miliar rupiah itu adalah Wiliam Herschel, seorang astronom berkebangsaan Inggris. Planet Uranus ditemukanya pada tahun 1781. Tahun 1789 ia juga menemukan dua satelit alam (bulan) terbesar Uranus: Titania dan Oberon. Selain Uranus dan kedua bulan utamanya, Herschel juga tercatat telah mengkatalogkan lebih dari 800 bintang ganda dan 2500 nebula.
Ditemukannya Uranus ini kemudian disusul dengan penemuan planet Neptunus oleh Johann Gotfried Galle pada 23 September 1846 dari Observatorium Berlin bersama dengan Louis d'Arrest, seorang mahasiswa Astronomi berdasarkan prediksi matematis yang dibuat oleh Urbain Jean Joseph Le Verrier. Walaupun Galle merupakan orang pertama yang berhasil mengobservasi Neptunus secara visual, namun yang dipandang sebagai penemu sebenarnya adalah John Couch Adams (yang membuat kalkulasi awal) dan Le Verrier.
Berikutnya, penemuan ini memicu pencarian anggota baru dari tata surya. Adalah Percival Lowell, seorang astronom berkebangsaan Amerika Serikat yang memperhitungkan kemungkinan adanya anggota ke-9 dari tata surya kita. Lowell juga dikenal sebagai astronom yang getol meneliti planet Mars. Dari pengamatan melalui observatoriumnya di Arizona, ia meyakini keberadaan kanal-kanal di permukaan Mars dimana dari sana ia berkesimpulan bahwa mars dihuni oleh mahluk berperadaban. Namun demikian pencarian terhadap anggota baru tata surya yang dipeloporinya tidak membawa hasil hingga kematiannya pada 1916. Usahanya kemudian diteruskan oleh Clyde W.Tombaugh yang akhirnya menemukan planet tersebut pada 19 Februari 1930. Planet tersebut kemudian dinamai Pluto, diambil dari nama Dewa kematian bangsa Yunani Kuno. Yang tidak banyak diketahui orang ialah bahwa dua huruf awal dari nama planet tersebut (PL) merupakan penghormatan bagi Percival Lowell.
Cerita tadi bukan cuma berakhir disini. Ditemukannya Pluto sebagai planet ke-9, memicu spekulasi adanya planet kesepuluh di tata surya kita. Setelah simpang-siur kisah seputar planet--yang biasa disebut sebagai Planet X--tersebut beredar, barulah disadari bahwa orbit di sekitar Pluto ternyata penuh dengan benda-benda angkasa yang kemudian dalam dunia astronomi dikenal sebagai Kuiper-Belt Object.
Belakangan kenyataan ini membuat status Pluto sebagai sebuah planet mulai diragukan. Ini adalah kenyataan yang Ironis mengingat bahwa usaha pencarian anggota yang kesepuluh dari tata surya malahan membawa kepada kemungkinan berkurangnya jumlah anggota yang sudah ada. Kisah selengkapnya seputar objek kuiper-belt pernah saya tulis di halaman berikut.