Refleksi: September 2002
Jumat 27 September 2002

Ozon

Sekitar setahun silam, seorang pengunjung situs ini pernah mengajukan sebuah pertanyaan menarik tentang ozon. Saya sendiri sudah lupa, dalam konteks apa pertanyaan itu diajukan, tapi yang jelas pada intinya yang ditanyakan adalah, "Saat ini manusia sudah bisa membuat ozon. Mengapa kita tidak memproduksinya banyak-banyak untuk menambal lapisan ozon yang bocor di atmosfir?"

Ini memang pertanyaan yang menarik. Sayangnya, logikanya kurang tepat. Pertama, walaupun ozon (O3) saat ini sudah bisa disintesa di laboratorium dan digunakan secara meluas--antara lain sebagai bahan pensteril--namun perlu disadari bahwa ozon pada hakekatnya adalah senyawa yang bersifat racun bagi mahluk hidup. Jadi, memproduksi ozon banyak-banyak untuk kemudian melepasnya ke atmosfer jelas adalah tidakan yang berbahaya.

Lapisan ozon yang sering diributkan itu sebenarnya tidak berada pada daerah atmosfir yang dihuni mahluk hidup. Sekedar tahu saja, berdasarkan ketinggiannya, atmosfir terbagi atas 4 lapisan. Lapisan yang paling bawah adalah Troposfer (0-20 km), diatasnya ada Statosfer (20-55 km), lantas Mesosfer (55-80 km) dan terakhir adalah lapisan Thermosfer (diatas 80 km). Lapisan Ozon sendiri terdapat pada Statosfer. Sebagai perbandingan, Gunung Everest (gunung tertinggi di dunia) memiliki ketinggian 8,8 km; pesawat jet komersial biasa terbang pada ketinggian 12-16 km, sementara supersonik Concorde biasa terbang pada ketinggian 18 km (pada ketinggian ini para penumpangnya sudah bisa melihat lengkung permukaan bumi).

Yang kedua, senyawa Ozon juga dapat terbentuk secara alami lewat sambaran petir. Jadi, alam sebenarnya sudah punya mekanisme tersendiri untuk memproduksi ozon sehingga tanpa campur tangan manusia sekalipun kebocoran pada lapisan ozon suatu saat akan tertutup dengan sendirinya (walaupun perlu waktu yang cukup lama). Tentu saja dengan catatan bahwa faktor-faktor yang berpotensi mengikis lapisan ozon ini bisa dikurangi. Apabila faktor-faktor negatif tersebut (diantaranya penggunaan zat CFC) tidak berhasil ditekan, maka pembentukan lapisan ozon tidak akan mampu mengimbangi penipisan yang terjadi. Walhasil, bolong pada lapisan ozon di Bumi akan terus menganga dan mengancam kekehidupan para penghuninya.


"There must be no barriers for freedom of inquiry. There is no place for dogma in science. The scientist is free, and must be free to ask any question, to doubt any asssertion, to seek for any evidence, to correct any errors."

-- Robert Oppenheimer

- Diposting oleh Dhani @ 08:38

Rabu 18 September 2002

Polusi Cahaya

Bagi pecinta astronomi, langit malam memang menyajikan pemandangan yang menarik. Taburan bintang dan benda-benda angkasa di langit malam bukan saja indah dipandang, tetapi juga membangkitkan naluri keingin tahuan manusia akan rahasia-rahasia alam yang terkandung didalamnya.

Sayangnya, seiring dengan kemajuan jaman, keindahan langit malam cenderung makin sulit untuk dinikmati. Di daerah perkotaaan, pancaran cahaya terang benderang cenderung mengaburkan pemandangan langit malam hingga menyisakan bulan dan beberapa bintang yang paling terang untuk bisa leluasa disaksikan, sementara bintang-bintang yang lebih redup tidak lagi dapat terlihat karena cahayanya tertutupi oleh gemerlapnya lampu-lampu perkotaan.

Dalam dunia astronomi, fenomena semacam ini disebut polusi cahaya (light polution). Polusi cahaya tidak hanya telah mengganggu mereka yang mengamati langit dengan mata telanjang, namun juga para astronom profesional yang melakukan pengamatan di berbagai observatorium dengan sarana teleskop modern. Observatorium umumnya didirikan di daerah terpencil yang jauh dari perkotaan, dan idealnya berada di puncak-puncak gunung. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada pertimbangan bahwa lokasi observatorium harus berada diatas ketinggian dimana awan rendah pembawa hujan (cumulus) biasa muncul. Sayangnya, perkembangan yang pesat di daerah perkotaan membuat lokasi banyak observatorium tidak lagi menjadi tempat yang ideal untuk pengamatan astronomi.

Observatorium Bosscha di Lembang, utara Bandung, merupakan salah satu observatorium di dunia yang mengalami problem ini. Pada saat observatorium ini dibangun tahun 1928, Lembang merupakan tempat yang ideal untuk pengamatan astronomi. Posisinya di belahan bumi selatan dan hanya sekitar 6° dari ekuator menjadikan observatorium Bosscha merupakan tempat yang strategis untuk melakukan pengamatan langit belahan selatan. Saat itu, Bandung belum seramai sekarang sementara Lembang masih berupa hamparan kebun teh yang diselingi kerimbunan hutan pinus. Hal ini kontras dengan situasi sekarang, dimana Bandung telah berkembang menjadi pemukiman padat yang tentu saja menghasilkan "limbah" cahaya di malam hari. Belum lagi daerah Lembang sendiri yang mulai dikembangkan sebagai daerah wisata alternatif (menggantikan Puncak yang sudah mulai sumpek) sehingga mulai banyak tumbuh pemukiman dan bahkan villa-villa yang tentu saja turut memperparah polusi cahaya yang melanda observatorium.

Salah satu tempat ideal yang masih tersisa untuk kegiatan observasi astronomi adalah pulau Mauna Kea di Hawaii. Pulau yang merupakan puncak sebuah gunung berapi bawah laut di tengah samudera Pasifik ini pernah kita singgung beberapa waktu lalu sebagai lokasi berdirinya observatorium kembar Keck, Selain Keck, pulau ini juga merupakan rumah bagi belasan observatorium kelas dunia lainnya, termasuk sebuah observatorium milik Jepang, Subaru, sebuah teleskop Inframerah 3.8-meter milik Inggeris, sebuah submillimeter array milik Smithsonian-Taiwan, serta sebuah teleskop yang dioperasikan secara bersama oleh Kanada dan Prancis.

Di masa mendatang, polusi cahaya diperkirakan akan menjadi ancaman serius bagi kegiatan observasi astronomi. Para astronom mengantisipasi masalah ini dengan memperbarui desain teleskop dan peralatan penunjang lainnya yang dipakai di observatorium. Teleskop yang digunakan dalam observatorium modern umumnya memiliki ukuran diameter lensa yang besar dengan maksud agar dapat mengumpulkan cahaya sebanyak mungkin. Kamera infra merah juga dipergunakan untuk memperjelas penampakan suatu objek. Disamping itu, para astronom juga bereksperimen untuk menggabungkan citra dari beberapa teleskop untuk menghasilkan satu citra tunggal yang lebih jelas. Teknik ini disebut sebagai interferometri. Solusi yang lebih mahal adalah menempatkan sebuah teleskop di antariksa, misalnya seperti yang sudah dicoba pada teleskop antariksa Hubble.

"Astronomy compels the soul to look upwards and leads us from this world to another."

--Plato

- Diposting oleh Dhani @ 13:21

Kamis 05 September 2002

Administrativia

Setelah down beberapa hari, situs ini berhasil diaktifkan kembali. Untuk sementara, pengunjung akan langsung di-redirect ke halaman Refleksi. Halaman muka yang berisi "pengumuman pindah alamat" itu sudah kita hapus; beberapa "remeh-temeh" soal situs ini kita taruh di halaman ini, sedangkan search engine yang sudah lama hilang kini kita adakan lagi.

Saat ini kendala bandwidth sudah bisa diatasi, dan ini berarti situs ini sudah bisa melayani trafik yang lebih besar, content yang lebih banyak dan update yang lebih sering :).

- Diposting oleh Dhani @ 14:20


Intermezzo

Hiburan disela-sela kesibukan mendevelop ulang situs ini ...

Di bukit yang sunyi jauh dari keramaian
Terdengar dengung lebah memecah kesunyian
Terbang kesana kemari menukik berputar-putar
Hingga menemukan sebuah pohon yang besar.

Sang lebah seg'ra menyingsingkan lengan bajunya
Tuk membangun sebuah rumah tinggal untuknya
Dan berdoalah sebelum ia akan memulainya
Kiranya diberikan kekuatan baginya.

T'lah kukumpulkan ranting kering serta dedaunan
Kulumatkan semua bahan tuk jadi adonan
Hanya dengan ketekunan semua dapat kuatasi
Rumah susun segi enam cocok kutinggali.

Kubuat dan kurawat ruang pelepas penat
T'lah tercipta pula dapur yang sangat memikat
Kusiapkan madu 'super asli' yang kaya manfaat
Tuk tamu istimewaku yang akan lewat.

Tuk tamu istimewaku yang akan lewat.
Tuk tamu istimewaku yang akan lewat.



KISAH SANG LEBAH
Vokal: Sherina
Lirik: Vera Sylvina
Aransemen kwartet gesek: Elva Secioria

- Diposting oleh Dhani @ 14:09

Rabu 04 September 2002

Gratisan di Internet

Siapa sih yang tidak doyan dengan hal-hal yang gratisan? Di internet kita bisa menemukan aneka layanan yang gratis, mulai dari alamat email, milis, sampai webhosting dengan segala perangkat pendukungnya, Tapi apa benar sih kalau semua itu betul-betul gratis?

Pada kenyataannya, sebagian besar layanan "gratis" di internet tidaklah betul-betul gratis. Penyedia layanan seperti mail maupun hosting gratisan, biasanya mendirikannya untuk tujuan komersial dengan pendapatan dari iklan. Jadi, tetap ada "harga" yang harus dibayar oleh pengguna layanan macam ini, yaitu banner-banner iklan, baik di halaman webmail maupun situs web yang mereka sediakan. Beberapa penyedia layanan gratis mengandalkan pemasukan dari keanggotaan "premium", yaitu pelanggan yang mendapatkan fasilitas lebih dengan membayar sejumlah tertentu.

Sebagaimana bisnis pada umumnya, maka penyedia layanan gratis juga sewaktu-waktu dapat terancam kolaps sehingga menutup, atau tidak lagi menggratiskan layanannya. Belakangan, hal ini telah menimpa beberapa layanan yang semula menjanjikan content gratis kepada pelanggannya. Contoh paling mutakhir adalah ditutupnya layanan gratis dari F2S yang semula merupakan hosting situs ini. Penutupan ini memang sangat disayangkan mengingat layanan yang mereka sediakan tergolong berkualitas sangat baik. Namun demikin, dari segi bisnis, penutupan ini merupakan langkah yang cukup masuk akal. Toh F2S bukan layanan sosial yang bak Sinterklas menbagi-bagikan account gratisan.

Kalau tidak menutup layanannya, pengguna layanan gratisan yang terdesak biasanya akan menyiasati dengan menurunkan kualitas layanannya. Contoh yang paling gampang adalah Geocities yang sejak beberapa bulan lalu telah menutup layanan FTP bagi pengguna layanan gratisnya. Upload untuk keperluan updating situs tetap bisa dilakukan, namun lewat situs web yang tentu saja "bertaburan" banner iklan.

Penyalah gunaan layanan juga sering menjadi alasan ditutupnya beberapa layanan gratisan. Ini menjadi alasan ditutupnya sebagian besar layanan mail forwarder. Konon, layanan ini sering dimanfaatkan sebagai sarana untuk melakukan mailbombing, atau memasuk-paksakan sebuah alamat email ke dalam milis.

Prosedur pendaftaran ke layanan gratisan juga merupakan titik rawan yang perlu diwaspadai. Jangan kaget kalau sehabis mendaftar untuk sebuah layanan gratis, alamat email kita mendadak dibanjiri mail-mail bernada promosi. Maklum saja, karena dari sanalah sumber pendapatan penyedia layanan tersebut berasal.

Bicara tentang layanan gratisan, pengguna di Indonesia mungkin termasuk yang paling antusias. Maklum saja, walaupun internet di negeri ini bukan barang baru lagi, tapi pengguna yang bisa mengakses lewat fasilitas milik sendiri jumlahnya masih sangat kecil. Kebanyakan masih menggunakan warnet atau fasilitas milik kantor atau kampus. Karenanya, layanan gratis masih menjadi pilihan yang cukup menjanjikan kepraktisan.

Sialnya, selain dikenal sebagai penggemar gratisan, user Indonesia juuga dikenal sebagai user yang ceroboh dan kurang ngerti aturan (sorry!). Banyak user yang asal membuka account lantas menelantarkannya, padahal setiap account yang dibuka perlu maintenance oleh pengelolanya. Belum lagi kasus penyalahgunaan layanan oleh user. Ambil contoh Yahoogroups. Diantara bejibun milis Indonesia disana, yang betul-betul aktif hanya beberapa. Belum lagi satu topik sering dicover oleh banyak milis.

- Diposting oleh Dhani @ 14:12