Refleksi: Oktober 2002
Rabu 30 Oktober 2002

"Psikologi" Kaum Militan

Life must go on! Begitu kata orang sini. Karangan bunga masih bertebaran di jalan-jalan, spanduk dukacita masih digantungkan, dan bendera setengah tiang masih berkibar di beberapa tempat, tapi roda kehidupan terus berjalan. Kalau melihat pemberitaan di media, banyak yang mungkin menyangka kalau Bali sudah hampir kiamat. Beberapa media yang haus sensasi memberitakan tentang rumah ibadah yang dibakar atau sweeping terhadap penduduk pendatang, hal-hal yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Apa yang semula dikhawatirkan bahwa peristiwa bom Legian akan berkembang menjadi konflik horisontal ternyata tidak terbukti.

Tapi diam-diam di tingkat akar rumput, sentimen negatif terhadap Islam mulai bermunculan. Penangkapan Ustadz Ba'asyir ditafsirkan seolah-olah bahwa umat Islam memang menjadi dalang dari segala kekacauan yang terjadi akhir-akhir ini. Ini juga yang terungkap dari 'omong-omong' dengan penduduk setempat. Secara pribadi, saya tidak bisa menyalahkan pendapat semacam ini. Orang Bali selama ini saya kenal sebagai orang-orang yang 'pragmatis'. Mereka tidak terlalu perduli dengan hal-hal yang terjadi diluar daerahnya. Bagi masyarakat dimana berpindah banjar sudah dianggap sebagai warga pendatang, dan tinggal di kabupaten lain sudah dianggap sebagai perantau, pulau Jawa mungkin dianggap sebagai tempat yang terlalu jauh. Tidak heran kalau pengetahuan tentang Islam di kalangan masyarakat sini juga umumnya sangat minim.

Kiat saya untuk menjawab segala kecurigaan ini mungkin agak ekstrim. Terang-terangan saya mengakui bahwa memang ada umat Islam yang di-indoktrinasi dapat untuk melakukan hal yang paling tidak masuk akal sekalipun atas nama agama. Juga memang benar ada kelompok-kelompok Islam tertentu yang sudah di-brainwashing sedemikian rupa sehingga membunuh atas nama agama mereka anggap sebagai bagian dari 'perjuangan'. Dan bukan rahasia lagi kalau selain para da'i, mubaligh, dan ulama yang mengajarkan kasih sayang dan perdamaian, ada pula yang terus menyebar kebencian, mengobarkan amarah dan menyiarkan hasutan.

Tapi Islam tetap adalah agama yang mengajarkan kasih sayang dan persaudaraan antara umat manusia. Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan (walaupun melawan adalah halal kalau diusik). Sebagian besar kelompok militan yang banyak muncul akhir-akhir ini sebenarnya hanyalah kelompok para pemimpi dan pecundang yang menggunakan agama sebagai justifikasi dari aksi-aksi mereka. Kumpulan orang-orang yang telah menjalani indoktrinasi dan bahkan brainwashing sehingga pola pikir terhadap lingkungannya berubah sedemikan rupa sehingga dipenuhi dengan rasa permusuhan dan kebencian. Sungguh keliru mengidentikkan orang-orang semacam ini dengan Islam. Islam tidak seperti itu!

Psikologi kelompok militan berbasis agama sebenarnya hampir sama dengan gerakan serupa dengan basis ideologi lain, entah komunisme atau fasisme: Kumpulan orang-orang frustrasi yang merasa tertindas dan terpojokkan yang beranggapan bahwa dunia akan lebih berpihak kepada mereka apabila ada revolusi yang menjungkirkan semua tatanan yang ada dan menggantinya dengan tatanan "ideal" versi mereka. Bedanya, gerakan yang berbasis agama menjanjikan sesuatu yang tidak bisa dijanjikan oleh ideologi lain, yaitu kehidupan yang lebih baik di akhirat.

Walaupun agama apapun tidak pernah mengajarkan kekerasan, tapi agama merupakan sarana pembenaran yang paling ampuh untuk melakukan kejahatan-kejahatan kemanusiaan. Bukan rahasia lagi kalau pelaku pemboman di Philiphina adalah orang Islam, para pelaku penyanderaan di Rusia baru-baru ini adalah pejuang Cechnya yang juga notabene beragama Islam, dan jangan lupa dengan pelaku pemboman bunuh diri di Yerusalem! Padahal, persoalan Moro, Cechnya, dan Palestina adalah pesoalan politik dari mereka yang menuntut hak untuk menentukan nasib sendiri, tapi begitu dalil agama yang dijadikan justifikasi, maka yang muncul adalah gerakan-gerakan militan yang bersedia melakukan apa saja untuk mendapatkan pahala jihad!

Lantas, bagaimana dengan kelompok radikal tertentu yang bak MLM mencari anggota di kalangan mahasiswa dan masyarakat umum dengan menjajakan konsep Negara Islam Indonesia itu? Kelompok ini ternyata tidak lebih dari kumpulan orang-orang yang minim dasar pengetahuan agamanya sehingga gampang terpengaruh dengan ceramah-ceramah beracun tentang konsep mereka yang sepintas kedengaran menyejukkan. Juga para mahasiswa yang secara akademis gagal dan mencoba mencari pelarian dengan ikutan organisasi yang aneh-aneh. Konsep Negara Islam Indonesia memang sudah lama dijajakan, dan ini sah-sah saja di negara demokrasi. Namun di kalangan intelektual, konsep ini ditawarkan dengan cara yang lebih elegan dan terhormat, bukannya melalui kelompok-kelompok militan yang biasanya beraksi secara uderground gaya mafia itu.

- Diposting oleh Dhani @ 12:01

Senin 28 Oktober 2002

Di "Ground Zero"

Situasi di sekeliling saya nampak porak poranda, seperti daerah yang habis dilanda perang atau bencana alam. Di sana sini nampak bangunan-bangunan yang hancur atau rusak parah. Rongsokan kendaraan yang setengah terbakar sampai hangus diparkir sembarangan di pinggir jalan aspal yang kini tertutup tanah.

Saya bukan sedang berada di daerah konflik, melainkan di lokasi peledakan bom di Legian, Kuta. Secara tidak sengaja, kemarin, tepat 2 minggu setelah bencana itu terjadi, saya akhirnya berkesempatan untuk melihat langsung lokasi kejadian. Sebelumnya, saya tidak terlalu tertarik untuk berkunjung karena lokasinya tertutup untuk umum, kecuali bagi mereka yang datang untuk berdo'a atau membawa karangan bunga. Tidak heran, banyak orang datang dengan membawa karangan bunga sekedar agar dapat melihat langsung lokasi yang belakangan menjadi pusat perhatian itu walaupun hanya dari jarak beberapa ratus meter. Saya datang sendirian, tanpa membawa karangan bunga, dan juga tanpa rencana sebelumnya. Niat semula hanya ingin menyambangi seorang kerabat yang memiliki art shop di Legian, namun begitu mengetahui bahwa garis polisi (police line) dalam radius 200 m dari pusat ledakan sudah dibuka maka saya tidak menyia-nyakan kesempatan untuk menjenguk lokasi tersebut dari jarak dekat.

Lubang bekas ledakan itu ternyata tidak sebesar yang saya bayangkan dari mengikuti pemberitaan di media. Lubang (atau lebih tepat disebut cekungan) yang diselubungi tenda itu dalamnya palingan hanya selutut orang dewasa (versi resmi polisi menyebutkan sedalam 55 cm tapi berita di media menyebut antara 1-2 m). Sejumlah serpihan logam dan potongan karet bekas ban kendaraan nampak terserak di pinggir lubang. Konon hanya itulah yang tersisa dari mobil yang membawa bom maut tersebut.

Sejumlah ahli forensik (kelihatannya dari Aussie) terlihat masih bekerja, sementara beberapa juru kamera televisi tengah mengambil gambar lokasi kejadian. Seorang polisi berpakaian preman nampak memberi penjelasan kepada wartawan dan pengunjung yang berkerumun tentang situasi terakhir. Sesaat kemudian, sang polisi mempersilahkan para juru kamera untuk mengabadikan reruntuhan Paddy's club untuk terakhir kalinya sebelum sisa-sisa bangunan tersebut dirobohkan, rata dengan tanah beberapa saat kemudian.

Sebelum kejadian yang menggegerkan itu, saya sudah beberapa kali melewati lokasi, tetapi kali ini saya hampir-hampir tidak bisa mengenali tempat ini lagi. Satu-satunya bangunan yang bisa saya jadikan patokan adalah kantor sebuah bank swasta yang kini atap gentingnya berlepasan seperti habis disapu badai, sedangkan bangunan lainnya rata-rata rusak berat atau hancur total. Emper sebuah bangunan yang terletak di sebelah selatan, tepat di depan reruntuhan paddy's club dijadikan tempat untuk menaruh karangan bunga. Selain karangan bunga, juga terlihat bebrapa batang lilin yang menyala, bendera sejumlah negara kebangsaan para korban, serta foto-foto para korban yang digantungkan di dinding bangunan.

Perhatian saya beralih pada rongsokan kendaraan di sekitar lokasi dengan kondisi beragam, mulai dari yang setengah terbakar hingga yang tidak berbentuk lagi. Bangkai sebuah mobil yang hangus--sepertinya berjenis sedan--saya lihat dalam kondisi seolah-olah habis diremas oleh tangan raksasa. Entah bagaimana pula nasib penumpangnya. Sebuah mobil pengangkut es krim yang kondisinya masih relatif lumayan penuh digantungi karangan bunga. Foto seorang lelaki bertato nampak digantungkan di pintunya. Sementara itu sebuah mobil minibus yang kacanya hancur dijadikan tempat untuk melilitkan spanduk berisi ungkapan dukacita dan kutukan bagi si pelaku.

Wisatawan asing masih terlihat walaupun dalam jumlah tidak seberapa dibanding sebelum peristiwa. Beberapa datang dengan wajah sedih sambil membawa karangan bunga. Kontras dengan wisatawan lokal yang malahan antre untuk berfoto dengan wajah riang di depan bangkai kendaraan dimana penumpangnya tewas mengenaskan dengan tubuh terbakar pada saat kejadian. Ironis.

- Diposting oleh Dhani @ 13:35

Kamis 24 Oktober 2002

Administrativia

Install buku tamu, sekalian manfaatin MySQL yang masih belum kepake :). Templatenya masih default, belum ada waktu untuk ngoprek-ngoprek, tapi yang jelas sudah pake resource sendiri. Rencananya search engine juga bakal pakai resource sendiri tapi ini mungkin akan dikerjakan kapan-kapan saja. Masalahnya, kita punya software, punya resource, tapi kita nggak punya waktu :(.

Sementara ini, provider search enginenya diam-diam sudah diganti sejak beberapa minggu lalu. Semula kita pakai Freefind, sekarang pakai Whatuseek. Pertimbangan utamanya adalah soal efektifitas dan fleksibilitasnya yang lebih baik.

- Diposting oleh Dhani @ 13:23

Senin 21 Oktober 2002

Nobel dan Dinamit

Teknologi bahan peledak sebenarnya sudah lama digunakan untuk tujuan damai. Ia dipergunakan di dunia pertambangan, untuk meledakkan batuan dalam pembuatan terowongan dan jalan. Namun di sisi lain, ia juga merupakan senjata mematikan yang bisa mencabut nyawa sekian banyak orang hanya dalam sekali ledakan.

Sudah sejak dahulu, bubuk mesiu dikenal sebagai bahan yang dapat menimbulkan efek ledakan. Sekitar tahun 1847, seorang ahli kimia berkebangsaan Italia, Ascanio Sobrero menemukan bahan peledak lain yang lebih kuat, yaitu Nitrogliserin, bahan eksplosif berbentuk cair berdaya ledak tinggi yang terdiri dari campuran gliserin dengan asam sulfur dan asam nitrit. Sayangnya, bahan ini sangat berbahaya untuk digunakan karena walaupun daya ledaknya jauh lebih tinggi dibandingkan bubuk mesiu, namun ia sangat mudah meledak dalam suhu dan tekanan tertentu yang tidak dapat diprediksi.

Tiga tahun kemudian, penemuan ini menarik minat seorang ilmuwan berkebangsaan Swedia, khususnya untuk mendukung pekerjaaannnya dalam bidang konstruksi. Tantangan besar yang dihadapi ilmuwan ini adalah mengembangkan sistem peledakan yang terkontrol dari bahan ini. Ia nekad untuk melakukan serangkaian percobaan untuk itu, namun ini harus dibayar mahal dengan serangkaian ledakan, termasuk salah satunya pada tahun 1864 yang menewaskan seorang saudara kandungnya serta beberapa orang lain. Pemerintah Swedia segera menetapkan bahwa produksi nitrogliserin adalah sangat berbahaya dan melarang percobaan dilakukan dalam wilayah kota Stockholm. Ilmuwan yang pantang menyerah ini kemudian memindahkan lokasi laboratoriumnya ke sebuah laboratorium terapung di tengah danau Mälaren.

Pada tahun 1864 ia berhasil memulai produksi masal dari nitrogliserin. Untuk membuatnya lebih aman, ilmuwan ini mengkombinasikannya dengan bahan aditif lainnya. Ia segera menemukan bahwa campuran nitrogliserin dengan silika dapat mengubah bentuknya dari bentuk cair menjadi bentuk pasta yang dapat dimasukkan dalam sebuah batangan dengan bentuk dan ukuran yang sesuai untuk ditempatkan pada sasaran peledakan. Tahun 1867, ia mematenkan penemuannya ini dengan nama "Dinamit". Ia juga menemukan detonator peledakan yang dapat diaktifkan dengan saklar. Penemuan ini akhirnya dapat mereduksi secara drastis biaya untuk meledakkan batuan, mengebor terowongan, membangun kanal, dan berbagai kerja kostruksi lainnya.

Namun, di belakang hari, penemuan ini juga digunakan dalam bidang kemiliteran. Dinamit segera menjelma menjadi senjata pembunuh yang mematikan. Sebelum sang penemu wafat pada 10 Desember 1896, sebagai wujud dari rasa tanggung jawabnya, ia mendedikasikan bunga dari harta warisaannya untuk dibagikan setiap tahun sebagai hadiah untuk mereka yang menelurkan karya besar dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Ilmuwan itu adalah Alfred Bernard Nobel, dan hadiah yang dibagikan setiap tahun itu kelak dikenal sebagai hadiah Nobel.


"My dynamite will sooner lead to peace than a thousand world conventions. As soon as men will find that in one instant whole armies can be destroyed, they surely will abide by golden peace."

-- Alfred Bernard Nobel

- Diposting oleh Dhani @ 13:06

Senin 14 Oktober 2002

Buuum!

Suara gemuruh yang terdengar menjelang tengah malam itu mirip seperti dentuman atau mungkin sambaran petir. Lepas dari rasa kaget, saya segera memeriksa sekeliling rumah mencari apa kira-kira sumber suara gemuruh itu. Tapi tidak ada hal yang mencurigakan. Sempat terpikir kemungkinan ada sambaran petir, tapi sebelumnya saya tidak melihat adanya kilat, dan suasana malam juga cukup cerah dan gerah. Tidak mungkin ada sambaran petir dalam kondisi seperti ini.

Sumber suara yang mengagetkan itu baru saya ketahui esok paginya, Minggu 13 Oktober 2002 lewat siaran berita televisi. Sebuah bom berdaya ledak tinggi telah meledak di Legian, Kuta dan menewaskan puluhan orang--belakangan diketahui mencapai ratusan (sampai tulisan ini diketik angka korban telah mencapai 184 orang). Saya berada di lokasi dalam radius 8-9 km dari pusat ledakan dan suara dentuman itu saya dengar demikian keras. Jelas bahwa kekuatan bahan peledak yang dipakai tidak bisa danggap enteng.

Dua stasiun televisi lokal (TVRI Denpasar dan Bali TV) terus menayangkan gambar-gambar mengerikan dari mayat-mayat setengah terbakar, anggota tubuh yang berserakan dan onggokan daging yang hangus dari lokasi peristiwa. Rumah Sakit Sanglah (tempat saya sempat "terkapar" karena serangan Demam Berdarah beberapa bulan lalu) ramai dipenuhi orang-orang yang ingin tahu nasib keluarganya. Telepon saya terus berdering dari sanak keluarga dan handai tolan yang khawatir, dan sayapun juga bolak-balik menelepon ke kerabat dan sahabat yang tinggal di sekitar lokasi. Alhamdulillah mereka semua selamat.

* * *

Hari ini, sehari setelah peristiwa itu. Jalan-jalan di Denpasar relatif lengang. Bendera-bendera setengah tiang berkibar dimana-mana (pemda setempat menetapkan 3 hari masa berkabung untuk peristiwa ini). Lantas?

Lepas dari persoalan siapa pelakunya, dan apa motifnya saya cuma sempat berpikir. Apa sih yang ada dalam otak pelakunya saat meledakkan bom itu? Saya sendiri cenderung beranggapan bahwa siapapun pelakunya, jelas adalah orang yang sudah menjalani semacam proses "cuci-otak", entah atas nama kelompok, negara, atau malahan Agama. Mirip-mirip seperti tentara yang memang dididik untuk membunuh atas nama negara (makanya saya juga tidak terlalu respek dengan yang namanya militer), atau laskar-laskar yang kepalanya sudah dipenuhi indoktrinasi dan sederet argumen pembenaran dari kitab suci.

Masih segar di ingatan saya, betapa jengkelnya saya saat menyaksikan segerombolan yang mengatasnamakan agama mengobrak-abrik tempat hiburan di Jakarta, termasuk menganiaya seorang penjaga. Walaupun Muslim, saya tidak bisa menerima tindakan semacam ini, dan saya yakin Islam tidaklah semacam itu. Juga masih terbayang betapa jengkelnya saya dengan cara-cara yang ditempuh pemerintahan Taliban di Afghanistan, sampai sampai posting pertama saya di Isnet (November 1998) berisi 'omelan' tentang Taliban, dan posting-posting terakhir saya (Desember 2001) penuh dengan rasa syukur atas rontoknya kelompok ini dari bumi Afghanistan.

"Akal manusia itu terbatas sehingga dalam melaksanakan perintah agama tidak ada pilihan lain kecuali melaksakannya dengan sepenuh hati", kira-kira demikian yang sering saya dengar melalui berbagai forum diskusi keagamaan. Rupanya doktrin ini, khususnya pada kalimat "perintah agama" ini juga sering dipakai oleh mereka yang mengatasnamakan agama untuk segala macam tindakan kekerasan. Padahal, Tuhan Semesta Alam selain menciptakan manusia dengan akal juga dibekali dengan nurani. Dan saya yakin, bagi siapapun ia--entah para Tentara yang sedang menginvasi suatu negara lain, atau Laskar yang sibuk berperang atas nama agama--seberapapun dalamnya sebuah doktrin tertanam di otak mereka, mereka pasti tidak akan mampu membohongi nuraninya sendiri.

Mestinya sih saya tidak nulis soal ini, takutnya dicap SARA dan saya di Bali termasuk golongan minoritas. Agama saya pakai sebagai latar hanya untuk menjelaskan soal "cuci-otak" ini walaupun ini bukan satu-satunya motif. Masih banyak lagi motif yang bisa ditelusuri: sabotase, politik, atau kesukuan. Semoga saja peristiwa ini tidak sampai berdampak kemana-mana. Duka saya untuk ratusan korban dan keluarga yang ditinggalkan. Duka saya untuk ribuan orang yang kehilangan nafkahnya dalam peristiwa ini, dan duka saya untuk tiga juta masyarakat Bali yang saat ini sedang mengalami masa-masa sulit.

- Diposting oleh Dhani @ 12:05

Sabtu 12 Oktober 2002

Hacker dan Cracker

Tidak seperti carding yang sebenarnya melulu mengandalkan nasib baik, kegiatan hacking dan cracking memang betul-betul memerlukan otak dan kemampuan teknis yang lebih tinggi.

Sebelum berbincang lebih lanjut soal hacker, kita perlu tahu dulu bahwa pengertian hakcer itu sebenarnya tidak selalu berkonotasi negatif. Kalau dilihat per-definisi, bisa dikatakan bahwa hacker sebenarnya hanyalah peminat komputer yang karena rasa ingin tahunya begitu tinggi ditambah kemampuannya yang memang mumpuni menjadikan dia bisa menguasai seluk beluk sistem dengan sempurna. Ada hacker yang menggunakan kemampuannya untuk hal positif, namun ada juga hacker yang kebablasan menggunakan ilmunya untuk hal negatif, bahkan destruktif. Nah, tipe hacker macam ini yang biasa kita sebut sebagai cracker alias pembobol itu.

Lepas dari soal definisi, dunia hacker sebenarnya adalah dunia yang rada remang-remang untuk orang kebanyakan kayak kita-kita ini. Soanya memang tidak ada patokan yang jelas, mengapa seseorang disebut sebagai hacker. Bisa jadi ada user yang suka ‘petantang-petenteng’ dengan kemampuanya, lantas secara tidak resmi oleh lingkungannya dijuluki sebagai hacker, padahal sebenarnya kemampuannya masih cetek. Tidak juga menutup kemungkinan ada orang yang jago tapi tidak menunjukkan kemampuannya secara terang-terangan sehingga tidak ada orang yang melabelinya dengan julukan itu. Pendeknya sejauh ini, julukan hacker itu lebih banyak berkaitan dengan pengakuan, baik dari lingkungan atau dari komunitas sesama hacker.

Lain hacker, lain pula craker. Para cracker umumnya lebih gampang dikenali (dan mendapat pengakuan) lewat “karya” mereka yang destruktif itu. Inilah yang menyebabkan banyak crackers melakukan berbagai tindak perusakan, hanya untuk menunjukkan eksistensinya sekaligus untuk mendapatkan pengakuan dari lingkungannya.

Bagi kebanyakan orang, aksi para hacker biasanya diidentikkan dengan pembobolan situs web atau penggantian tampilan di halaman muka sebuah situs. Tindakan semacam ini (bahasa kerennya: defacing) memang cukup marak akhir-akhir ini, malahan baru beberapa hari yang lalu, situs Tempo Interaktif sempat jadi korban dari tindakan ini. Namun demikian, hacker tidak selalu identik dengan tindakan-tindakan semacam ini. Defacing cuma salah satu saja dari aksi-aksi destruktif para hacker (tepatnya: cracker), dan motif tindakan inipun beragam. Mulai dari sekedar menunjukkan kemampuan, persaingan dagang atau malahan motif politik.

Contoh kasus defacing bermotif politik pernah terjadi beberapa tahun lalu waktu kita masih ribut dengan Portugal soal Timor-Timur (sekarang Timor Leste). Saat itu, situs Deplu pernah di-deface oleh hacker Portugal. Caranya mengganti tampilan di halaman mukanya dengan foto Menlu Indonesia (kala itu), Ali Alatas yang direkayasa sedemikian rupa sehingga terihat seolah-olah ia sedang mengacungkan jari tengahnya (tahu kan artinya?). Walaupun tanpa banyak gembar-gembor, aksi ini juga sempat dibalas oleh hacker Indonesia dengan mematikan TLD (Top Level Domain) .pt milik Portugal selama beberapa menit sehingga situs-situs negara tersebut tidak dapat diakses.

Modus utama dari kegiatan hacking sebenarnya adalah menembus masuk dalam satu sistem milik orang lain dan kemudian mengutak-katiknya. Hacker 'baik-baik' umumnya tidak melakukan perusakan apapun karena yang dicari bukan itu, melainkan hanya kebanggaan karena telah berhasil membuktikan kemampuannya. Kadang-kadang mereka malahan meninggalkan pesan kepada administrator sistem yang dimasukinya bahwa sistem yang ia kelola punya kelemahan yang perlu diperbaiki.

Sayangnya, ada juga hacker-yang kalau di dunia persilatan bisa disamakan dengan penganut aliran sesat-yang justeru memanfaatkan momen ini untuk melakukan perusakan, contohnya yang barusan kita bahas itu, defacing. Selain defacing, hacker yang menembus sebuah sistem juga seringkali melakukan aksi pencurian data-data penting yang ada dalam sistem yang dimasukinya. Lucunya, situs-situs milik badan pemerintah Amerika Serikat macam CIA atau FBI justeru paling sering jadi korban. Untungnya, diantara para hacker yang berhasil mencuri data-data sensitif itu jarang ada yang mengkomersialkan atau membocorkannya ke pihak luar. Bisa jadi tindakan itu hanya dilakukan karena ada unsur tantangan dan yang dicari adalah kepuasan karena dapat mematahkan tantangan tersebut plus unsur gengsi juga karena bisa menembus sistem milik lembaga yang terkenal 'angker' itu.

Walaupun tetap bukan untuk dibanggakan, hacker Indonesia tergolong cukup disegani juga. Masih ingat kasus seorang remaja Indonesia (yang namanya baiknya nggak usah disebutin disini) yang berhasil membobol sistem milik sebuah Universitas di Singapura sekitar 2 tahun lalu? Ini cuma salah satu kasus diantara beberapa contoh 'keberhasilan' hacker asal negeri ini. Tapi ini mungkin juga menunjukkan bahwa orang Indonesia memang dari 'sono'nya punya mental perusak. Who knows?

Ngomong-ngomong, bagaimana sih cara kerja para hacker? Baiknya pertanyaan ini jangan diajukan ke saya karena saya juga bukan hacker. Konon sih, aksi hacking itu lebih berat ke 'seni' ketimbang teknik. Sama seperti tidak ada manual khusus bagaimana menjadi maling yang efektif, tapi setiap maling profesional tentu punya trik andalan sendiri-sendiri, entah dengan membuat kunci palsu, mencongkel kaca nako, atau dengan menodong pemilik rumah :).

Sebagaimana halnya maling, para hacker dalam beraksi juga punya 'style' sendiri-sendiri, tapi intinya tetap sama: mencari lubang sekuriti (security hole) di sebuah sistem, lantas meng-eksploitir agar bisa masuk ke sistem itu. Apa saja lubang sekuriti di sistem itu? Bisa macam-macam, antara lain di softwarenya. Mereka umumnya telah punya pengetahuan soal OS yang biasa digunakan untuk menjalankan sebuah sistem serta titik-titik lemahnya. Dengan memanfaatkan titik lemah tesebut (tentunya dengan trik-trik tertentu), maka sebuah sistem dapat dijebol. Hacker yang 'sakti' malahan punya kemampuan mencari dan menemukan lobang sekuriti ini untuk kemudian memanfaatkannya.

Pada umumnya, hacker bukan tipe orang yang pelit untuk berbagi ilmu, karenanya, satu trik biasanya sering disebarluaskan ke komunitas sesama hacker, bahkan terkadang ada juga yang mendevelop perangkat lunak khusus untuk menjebol sistem sehingga bagi orang yang tidak punya pengetahuan teknis sekalipun dapat juga melakukan aksi hacking denga bantuan perangkat lunak ini. Akibatnya ulah mereka makin memusingkan saja bagi para administrator sistem.

- Diposting oleh Dhani @ 14:19

Rabu 09 Oktober 2002

Carding

Kasus-casus carding mulai marak lagi, dan ujung-ujungnya user internet di Indonesia yang kena batunya karena baru-baru ini sebagian besar penyedia layanan komersial di internet alias e-commerce di Amerika Serikat telah memblok setiap akses transaksi yang berasal dari IP Indonesia. Tragis.

Untuk yang belum tahu, carding (pelakunya biasa disebut carder), adalah kegiatan melakukan transaksi e-commerce dengan nomor kartu kredit palsu atau curian. Nggak perlu nyuri atau memalsu kartunya secara fisik, melainkan cukup tahu nomor kartu plus tanggal kadaluarsanya saja. Jangan bandingkan carding dengan aksi para hacker atau cracker. Kenapa? Ada dua alasan, pertama, nanti mereka jadi besar kepala kalau disejajarin dengan hacker, sedang alasan keduanya adalah karena kegiatan carding tidak terlalu memerlukan otak.

Para carder biasanya mendapatkan nomor kartu dengan beberapa cara. Cara yang paling ‘primitif’ adalah dengan mengais-ngais nota transaksi kartu kredit di pusat-pusat perbelanjaan. Yang sedikit lebih canggih adalah memperoleh nomor kartu kredit melalui sebuah program generator (bukannya generator listrik lho, melainkan program yang dapat meng-generate nomor-nomor kartu kredit yang dijamin valid). Cara lain--yang lebih memerlukan otak--adalah dengan meng-intercept (mencegat) lalu lintas transaksi melalui situs e-commerce. Tapi cara ini biasanya dilakukan oleh mereka yang punya kemampuan sekelas hacker. Ada lagi sih beberapa cara lain tapi baiknya nggak usah kita ulas disini [takut ada yang niru ;)].

Kalau dilihat dari modusnya, carding sebenarnya tidak layak disebut sebagai cybercrime, apalagi digolongkan sebagai white collar crime melainkan lebih cocok disejajarin dengan pelaku kriminal biasa: setara dengan maling, rampok, atau copet, cuma caranya saja yang lebih halus alias tidak kasat mata. Tapi yang jelas intinya tetap sama: nyolong sesuatu yang bukan haknya. Lagipula orang yang ngerti soal seluk beluk transaksi e-commerce umumnya tidak mau nekad melakukan hal ini karena resiko ketahuan umumnya cukup tinggi (kecuali kebetulan anda beruntung mendapatkan nomor kartu kredit orang superkaya yang tidak mau repot untuk komplain soal transaksi ‘kelas teri’ yang dilakukan carder asal sebuah negara melarat yang bernama Indonesia).

- Diposting oleh Dhani @ 12:26

Minggu 06 Oktober 2002

Kenapa Awal Puasa dan Lebaran Sering Berbeda?

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadhan. Seperti biasa, isu perbedaan awal Ramadhan/Syawal sering mencuat pada saat-saat semacam ini. Apa saja sih faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan tersebut? Inilah yang akan kita pelajari dalam catatan kali ini.

Kita tahu bahwa penanggalan Islam dihitung berdasarkan peredaran bulan mengelilingi Bumi (dikenal sebagai penanggalan sinodis). Fase bulan--yang semula gelap lalu nampak kecil berbentuk sabit tipis, lantas semakin besar hingga purnama untuk kemudian mengecil lagi--dijadikan pedoman dalam menentukan bulan-bulan Islam.

Untuk penetapan awal Ramadhan dan Syawal, Rasulullah memerintahkan "Berpuasalah kamu jika melihat bulan, dan berbukalah jika melihat Bulan". Perintah ini praktis karena dapat dilakukan oleh setiap orang tanpa harus mengetahui perhitungan dan data astronomis. Berdasarkan perintah Rasul tersebut, maka tiap bulan menjelang awal bulan Ramadhan dan Syawal, diadakan pengamatan untuk melihat bulan sabit (hilal). Kegiatan inilah yang biasa disebut sebagai ru'yatul hilal atau juga dikenal sebagai ru'yat saja. Ru'yat diadakan sesaat setelah matahari terbenam karena bulan sabit pertama akan nampak di sekitar arah matahari terbenam. Jika bulan sabit tersebut nampak, maka malam itu dan keesokan harinya dihitung sebagai tanggal satu bulan baru (Ramadhan/Syawal), namun apabila bulan tidak terlihat maka dilakukan istikmal (menggenapkan bulan berjalan sebanyak 30 hari).

Selain ru'yat, kita juga mengenal metodologi hisab untuk untuk menentukan awal bulan hijriyah. Hisab dalam bahasa Arab artinya menghitung, jadi metodologi ini menggunakan perhitungan untuk menentukan awal bulan hijriyah.

Tahun lalu, disini kita pernah belajar tentang kriteria visibilitas hilal sebagai salah satu faktor yang penentu dari perbedaan awal bulan suci umat Islam (kalau lupa, silahkan dijenguk lagi catatan 26 Oktober 2001 lalu). Tapi sesungguhnya perbedaan awal bulan hijriyah ini bukan hanya sesederhana persoalan kesesuaian antar hasil hisab dan ru’yat saja.

Persoalan pertama adalah soal ru’yat. Ada ketidaksesuaian pendapat tentang sejauh mana hasil ru’yat berlaku. Ada ulama yang berpendapat bahwa hasil ru'yat hanya berlaku lokal dengan radius sekitar 90 km (disebut sebagai matla') dengan alasan bahwa hilal selalu terlihat terlebih dahulu di daerah yang terletak lebih ke sebelah barat sementara di sebelah timurnya bulan masih ada di bawah ufuk (cakrawala). Adapun Angka 90 km dianalogikan dengan jarak yang membolehkan seseorang meng-Qashar sholatnya. Namun ada pula ulama yang beranggapan bahwa hasil ru’yat dapat berlaku untuk satu wilayah regional tertentu (misalnya seluruh wilayah Indonesia). Pendapat lain adalah bahwa hasil ru’yat dapat berlaku untuk keseluruhan wilayah suatu negara tanpa memperhitungkan keterpisahan lokasi geografis (misalnya walaupun secara geografis terpisah jauh, namun karena masih dalam satu wilayah negara, maka hasil ru’yat di Hawaii juga dapat berlaku di seluruh Amerika Serikat).

Golongan yang lebih "ekstrim" malahan berpendapat bahwa hasil ru’yat dapat berlaku untuk seluruh dunia, artinya bahwa dimanapun ada laporan penampakan hilal, maka di wilayah manapun di dunia, esoknya akan dihitung sebagai tanggal satu bulan berikutnya. Kelompok ini mendasarkan argumennya pada persatuan umat Islam. Sayangnya, dari segi penanggalan konsep ini tidak ideal karena dengan demikian, tanggal yang sama akan jatuh pada hari yang berbeda pada tempat yang berbeda. Kasus lainnya adalah penentuan hasil ru’yat penentu awal bulah Dzulhijjah sebagai patokan hari raya Haji (Idul Adha). Karena ritual Haji dilaksanakan di Arab Saudi, maka banyak pihak yang berpendapat bahwa hasil ru’yat yang digunakan adalah hasil ru’yat di Arab Saudi.

Persoalan kedua, menyangkut hisab. Sebagian kaum muslimin menggunakan ilmu ini dengan cara mencari data ketinggian dan arah hilal serta mengancang-ancang berapa lama hilal berada di atas ufuk setelah matahari terbenam. Kelompok ini tetap berpegang kepada ru'yat dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan, artinya, walaupun hilal menurut perhitungan sudah mungkin dapat dilihat tetapi dalam kenyataannya tidak ada seorangpun yang dapat melihatnya, maka tetap harus dilakukan istikmal. Sebagian lainnya berpendapat bahwa perhitungan yang akurat dapat dijadikan penenetu awal dan akhir Ramadhan. Kelompok ini tidak lagi melakukan ru'yat untuk menentukan awal dan akhir Ramadhan. Ru'yat bagi mereka hanya sesekali dilakukan hanya untuk mengecek dan menyempurnakan data dan sistem perhitungan mereka.

Masalahnya, data dan sistem perhitungan bulan yang berkembang dan digunakan oleh umat Islam di Indonesia sampai saat ini masih berbeda-beda. Ada yang menggunakan data dan sistem yang dikembangkan pada abad ke XV masehi, dengan data tetap dan koreksi yang sederhana, sementara ada juga yang sudah menggunakan data kontemporer yang diambil dari lembaga-lembaga astronomi internasional dengan perhitungan matematika mutakhir. Karena sistem perhitungannya berbeda maka tingkat akurasinya tentu juga berbeda. Akibatnya, sering terjadi ketidak cocokan antara satu sistem perhitungan dengan sistem lainnya.

Saat ini teknik perhitungan fase bulan sudah berkembang semakin maju sehingga tingkat akurasinya juga makin tinggi. Namun demikian sebagian besar kaum Muslimin, masih tetap merasa perlu melakukan ru'yat, selain untuk memberikan kepastian, juga mengikuti perintah Rasulullah. Disini ada permasalahan yang muncul karena dalam perhitungan astronomis, ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan hilal tidak dapat diru'yat walaupun "diatas kertas" sudah terlihat. Persoalan lainnya menyangkut hisab (dan ini patut disayangkan) adalah bahwa banyak kalangan yang masih mengira kalau kegiatan hisab adalah sesuatu yang bersifat "supra natural", yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu yang punya semacam "indera keenam". Padahal, perhitungan awal bulan hijriyah adalah murni perhitungan matematis, lengkap dengan segala variabel dan konstanta yang harus diolah dalam sebuah rumus. Akibatnya, banyak orang yang cenderung lebih percaya hasil hisab oleh "orang pintar" ketimbang astronom. Aneh memang.

- Diposting oleh Dhani @ 11:16

Kamis 03 Oktober 2002

Rahasia Pola Segi-Enam

Kenapa lebah membangun sarangnya dalam bentuk pola segi-enam (bukannya segi tiga, segi empat, atau lainnya)? Ahli matematika punya jawaban yang menarik: Bentuk segi enam adalah bentuk geometris yang paling cocok untuk mengisi sebuah ruang dengan kerapatan yang maksimal. Dengan kata lain, lebah menggunakan bentuk ini untuk dapat menampung madu sebanyak mungkin dengan menggunakan sesedikit mungkin bahan baku. Lebah membuat sarangnya dari bahan sejenis lilin yang dihasilkan oleh sebuah kelenjar yang terletak di dalam abdomennya. Satu kilogram lilin dapat digunakan untuk membangun 70.000 sel segi enam yang mampu menampung 22 kilogram madu!

Metode pembuatannya juga luar biasa. Lebah memulai membangun konstruksinya dari dua atau tiga titik yang berbeda dan merangkainya secara simultan, namun walaupun mereka memulai dari titik yang berbeda, lebah dalam jumlah besar tersebut bisa membangun pola persegi enam yang identik dan kemudian di satu titik rangkaian tersebut akan bertemu dengan presisi yang luar biasa tepat.

Tentu saja untuk ini lebah tidak perlu belajar matematika atau ilmu kostruksi. Mereka bertindak semata-mata atas dasar insting.

* * *

Kita kembali ke “bisnis” utama kita: astronomi [yang tadi itu cuma bisnis sampingan saja :)]. Tanggal 8 Agustus 2001, misi ulang alik Discovery melepaskan sebuah wahana yang dinamai Genesis. Wahana ini memiliki misi untuk mengumpulkan sampel dari angin matahari (solar wind). Rencananya, wahana tersebut akan membawa sampel-sampel tersebut ke Bumi dan akan tiba pada tahun 2004. Dengan menganalisis sampel ini, para ahli berharap dapat menjawab dua pertanyaan yang paling mendasar: dari apakah matahari kita terbentuk, dan apakah Bumi dan planet lain dalam tata surya kita terbentuk dari bahan yang sama?

Yang menarik dari wahana ini adalah pengumpul sampel angin matahari (Solar Wind Collector) yang dibawanya. Kolektor ini terdiri dari bidang-bidang terbuat dari wafer silikon dengan ketebalan antara 0,4 s/d 0,6 mm yang berbentuk … persegi-enam. Kenapa bentuk segi-enam yang dipilih? Jelas para perancangnya tidak hanya mengandalkan insting seperti halnya lebah. Berdasarkan perhitungan matematis, dapat diketahui bahwa bentuk segi-enam memaksimalkan areal pengumpulan dan memungkinkan kolektor tersebut dirangkai dengan presisi yang tinggi. Kelak, ketika wahana ini kembali ke bumi, para ahli dapat memeriksa elemen dan isotop serta elemen radioaktif yang terkadung didalam sampel yang menempel pada kolektor ini.

Bentuk segi-enam ala sarang lebah juga mengilhami para perancang teleskop kembar yang digunakan di Observatorium W. M. Keck di Hawaii. Teleskop ini terdiri dari 36 segmen cermin berbentuk persegi-enam, masing-masing berdiameter 1,8 m dan berbobot 440 kg yang dirangkai membentuk sebuah teleskop dengan cermin pemantul (reflektor) raksasa yang juga berbentuk segi-enam berdiameter 10 m seberat 270 metrik ton (298 ton). Disini bentuk segi-enam juga dipilih lantaran ia merupakan bentuk yang paling optimal untuk mengumpulkan cahaya sebanyak mungkin.


"There is inherent in nature a hidden harmony that reflects itself in our minds under the image of simple mathematical laws. That then is the reason why events in nature are predictable by a combination of observation and mathematical analysis. Again and again in the history of physics this conviction, or should I say this dream, of harmony in nature has found fulfillments beyond our expectations."

-- Hermann Weil

- Diposting oleh Dhani @ 13:20