Refleksi: November 2002
Kamis 28 November 2002

Gerhana Matahari Total Menutup Bulan Ramadhan

Ramadhan kali ini akan ditutup oleh peristiwa Gerhana Matahari Total yang akan berlangsung tanggal 4 Desember 2002 (bertepatan dengan terjadinya ijtima' awal Syawal 1423 H). Tentang itu, artikel berikut sudah cerita banyak, jadi tidak perlu saya tambahin lagi (jangan khawatir, pakai bahasa Indonesia koq).

Peristiwa astronomi lain yang menarik di bulan November ini adalah Leonid Meteorid Shower yang puncaknya telah terjadi pada 19 November lalu. Ini adalah event rutin tahunan yang sudah pernah kita ulas disini tahun lalu (catatan tanggal 14 November 2001), jadi untuk saat ini saya rasa tidak perlu dibahas kembali.

- Diposting oleh Dhani @ 13:25

Sabtu 23 November 2002

Hati-Hati Menulis di Milis

Ceritanya berawal sekitar 2 tahun lalu; seorang petugas dari Curriculum Corporation Australia, meminta izin untuk mempublikasikan sebuah materi diskusi di Isnet yang pernah berlangsung bulan November 1998 dalam sebuah CD-ROM untuk keperluan pendidikan di negaranya.

Karena materi diskusi yang diminta ternyata adalah materi yang lumayan "sensitif" yaitu soal jilbab, maka walaupun pihak Isnet sendiri tidak keberatan, namun untuk mencegah "hal-hal yang tidak diinginkan", saya--dalam kapasitas sebagai administrator milis Isnet--meminta agar pihak Isnet diijinkan untuk memeriksa naskah berkaitan dengan materi yang diminta tersebut sebelum diterbitkan agar tidak sampai ada hal-hal yang menimbulkan misunderstanding tentang Islam bagi para pembacanya.

Permintaan tersebut diterima baik oleh pihak Curriculum Corporation dengan mengirimkan terjemahan awal (preliminary translation) yang kemudian saya teruskan ke pengurus terkait untuk diperiksa beramai-ramai. Walhasil, ada beberapa koreksi, antara lain mengenai alur diskusi yang perlu diperjelas, kesalahan kosa-kata terjemahan, dan terakhir--dan yang paling penting--terjemahan Al-Qur'an dalam bahasa Inggeris yang disesuaikan dengan terjemahan Abdullah Yusuf Ali (standar terjemahan Al Qur'an dalam bahasa Inggris).

Singkat cerita, beberapa lama setelah koreksi tersebut saya kirimkan, sebuah email berisi ucapan terima kasih tiba di mailbox saya sekaligus mengabarkan bahwa materi tersebut telah disertakan dalam CD-ROM bertitel Voices and Visions from Indonesia. Perkembangan selanjutnya kelihatannya cukup menggembirakan karena CD-ROM tersebut mendapatkan award dari The Australian Awards for Excellence in Educational Publishing dalam katagori Secondary Technology Showcase.

* * *

Untungnya thread diskusi yang dicuplik punya 'cita-rasa' yang agak lain dengan kebanyakan diskusi yang pernah berlangsung di Isnet. Walaupun berlangsung keras--seperti tipikal diskusi di Isnet umumnya--tapi diskusi berakhir dengan saling memaafkan, sesuatu yang (terus terang) jarang terjadi disana.

Saya ambil hikmahnya saja; walaupun kelihatannya cuma sebuah diskusi informal, jangan dikira bahwa yang memantau sebuah milis hanyalah pihak-pihak yang secara langsung berkepentingan dengan materinya. Banyak "pihak luar" yang turut memantau apayang didiskusikan dan kemudian memanfaatkannya untuk berbagai kepentingan. Opini-opini di milis sering 'diculik' untuk bahan tulisan di Media, dan--sekedar untuk mengingatkan--jangan dikira tidak ada dari pihak intelejen yang ikutan memantau apa yang ditulis disana ;).

Beberapa pihak yang mendapatkan stempel 'miring' juga sering memanfaatkan milis, misalnya yang pernah saya alami sendiri saat ada seseorang yang mengaku pentolan GAM (ya betul, GAM yang Gerakan Aceh Merdeka itu) berkirim email ke saya untuk sekedar numpang mengirim pengumuman yang berkaitan dengan aktifitas kelompoknya untuk disampaikan ke milis. Sepanjang tidak bertentangan dengan aturan, permintaan semacam itu biasanya saya penuhi saja, tentunya dengan sedikit embel-embel catatan dari saya saat dipublikasikan ke milis.

So, menulis di milis sebenarnya tetap memerlukan tanggung jawab penuh, bukan sekedar menulis opini tanpa bukti atau sekedar asbun (asal bunyi!) saja. ingat, yang membaca tulisan Anda mungkin akan lebih banyak daripada yang Anda duga! ;).

- Diposting oleh Dhani @ 14:25

Jumat 22 November 2002

Berpuasa dalam Ritme Harian yang Ekstrim

Beberapa daerah yang berada di lingkaran kutub akan mengalami perbedaan panjang siang dan malam yang "ekstrim". Ambil contoh di Islandia, dimana saat musim salju, matahari hanya muncul beberapa jam setiap harinya. Sebaliknya di musim panas, matahari nyaris bersinar sepanjang hari. Sementara itu, di Nord, sebuah kota di utara Greenland yang juga tercatat sebagai salah satu kota paling utara di Bumi, Matahari bersinar selama 6 bulan penuh tiap tahun yang akan disusul dengan malam yang lamanya juga selama 6 bulan.

Dengan ritme harian yang "kacau" semacam ini, bagaimana umat Islam disana (kalau ada) menentukan waktu Shalat atau menjalankan ibadah puasa? Beberapa tahun lalu, saya pernah membaca artikel tentang umat Islam di Islandia yang menggunakan waktu di Mesir sebagai patokan untuk menjalankan ibadahnya. Alasan untuk menggunakan waktu Mesir ternyata sederhana saja, yaitu karena umat Islam disana kebanyakan adalah imigran asal Mesir. Tapi apakah ijtihad seperti ini bisa diterima?

Berkaitan dengan ini, kebetulan dua hari lalu, seorang pengunjung situs ini (mas Joko Sudiyono) menawarkan satu metodologi yang cukup menarik untuk bahan kajian kita. Berikut adalah kutipan email yang saya terima dari beliau:

Islam adalah agama dengan ajarannya yang bersifat universal, sehingga berlaku di belahan bumi manapun. Oleh sebab itu konten-konten dalam hadits yang bersifat khusus di arab atau biologis nabi Muhamad tidak serta merta sebagai ajaran Islam. Karena itu, dalam hal konten hadits bersifat khusus tsb, untuk menjadi formulasi ajaran islam perlu dicari titik universalitasnya.

Berkenaan dengan puasa di wilayah waktu yang ekstrim, kita bisa mengajukan hipotesa sebagai berikut : apakah perhitungan waktu yang diukur dg alat jam/arloji itu dapat digunakan sebagai titik universalitas penentuan lamanya puasa di lokasi yang memiliki bagian waktu yg sama (dg daerah ekuator). Kalau hipotesa tsb benar, maka ulil amri daerah kutub dapat menetapkan/mengacu jam mulai puasa/buka sesuai dg jam daerah ekuatornya.

Metode ini merupakan metode yang digunakan ulama dalam memformulasikan ketentuan zakat fitrah. Dalam hadits, zakat fitrah berupa kurma/gandum yang ternyata tidak semua daerah dimuka bumi ini ada. Dg demikian, apakah ajaran zakat fitrah ini tidak berlaku di tempat tsb ? Karena ajaran islam itu berlaku di semua tempat maka soal wujud zakat fitrah tsb perlu dicari titik-titik keumumannya (universalitasnya), dimana para ulama terdahulu menemukannya sebagai makanan pokok. Dengan demikian formulasi zakat fitrah itu ditetapkan zakat fitrah berupa makanan pokok (pada hal haditsnya kurma dan gandum). Dengan demikian ada kemungkinan penetapan jam mulainya puasa dan jam mulainya berbuka bagi warga muslim di daerah kutub daat mengacu pda metodologi diatas.

- Diposting oleh Dhani @ 13:28

Kamis 14 November 2002

Hikmah Penanggalan Qamariah

Pernah memperhatikan jadwal imsakiyah Ramadhan kali ini? Kalau kita amati, bagi kota-kota di belahan selatan katulistiwa, waktu maghrib dari hari ke hari cenderung mundur sedangkan waktu subuh justeru maju. Hal sebaliknya dialami penduduk di belahan utara, waktu maghrib cenderung maju sendangkan subuh malahan mundur. Artinya, di belahan selatan saat ini siang lebih panjang dari malam, sedangkan di utara sebaliknya. Apa artinya hal ini?

Waktu berbincang tentang rotasi Bumi pada Ramadhan tahun lalu (catatan 4 Desember 2001), kita tahu bahwa dalam setahun ada dua hari dimana siang dan malam tepat sama panjang, yaitu apabila posisi Matahari (relatif terhadap Bumi) berada di atas garis katulistiwa, tepatnya saat Matahari mencapai titik Vernal Equinox (21 Maret) dan Autumnal Equinox (22 September). Selepas titik Autumnal Equinox, posisi Matahari cenderung bergeser ke selatan. Konsekuensinya, belahan Bumi selatan akan mengalami siang yang lebih panjang. Hal ini akan berpuncak pada saat matahari mencapai titik balik musim dingin pada 21 Desember saat Matahari secara berangsur-angsur akan kembali mengarah ke katulistiwa hingga mencapai titik Vernal Equinox dimana hal sebaliknya akan berlangsung, posisi Matahari akan bergeser ke utara sehingga siang hari di belahan utara akan lebih panjang dari di belahan selatan katulistiwa.

Hikmah apa yang bisa dipetik dari hal ini? Allah swt Maha Adil! Seandainya penanggalan hijriyah menggunakan sistem Matahari (Syamsiah/Solar System) maka dapat dipastikan ada penduduk di satu belahan Bumi yang selalu mengalami puasa yang sangat lama sementara di belahan lain juga selalu mengalami puasa yang sangat pendek. Untuk kita di Indonesia yang berada di daerah tropis, selisih waktunya memang tidak terlalu berarti, tetapi bagi mereka yang tinggal di wilayah dengan 4 musim, terutama di daerah dekat kutub, perbedaan panjang siang dan malam akan sangat terasa. Karena penanggalan Hijriyah telah ditetapkan menggunakan perhitungan Bulan (Qamariah/Lunar System), maka akan terjadi pergiliran. Ada wilayah yang penduduknya mengalami puasa yang singkat dan ada yang lebih panjang, namun suatu saat semuanya akan berkesempatan untuk mengalami hal yang sebaliknya. Subhanallah!Q

- Diposting oleh Dhani @ 11:49

Rabu 13 November 2002

Variabel Cepheid (2)

Masih dari dunia astronomi, dan masih berbincang tentang bintang Variabel Cepheid. Pengetahuan kita tentang bintang tipe ini tidak bisa dilepaskan dari nama Henrietta Swan Leavitt. Ia bekerja untuk Edward Pickering, direktur pada Harvard College Observatory sebagai bagian dari tim yang terdiri dari beberapa orang wanita ahli Matematika yang diberi tugas untuk melakukan perhitungan-perhitungan untuk mereduksi data-data astronomis pada sekitar awal abad XX.

Dalam usahanya tersebut, Leavitt tercatat telah menemukan sekitar 2400 bintang bertipe Variabel Cepheid. Kemudian, pada 1912 ia mengkatalogkan sekitar 1777 bintang Variabel Cepheid di sekitar kebut Magellan (saat itu, Magellan dianggap sebagai sebuah kabut debu dalam lingkungan galaksi Bimasakti). Saat mengklasifikasikan Cepheid tersebut berdasarkan periodenya, ia berhasil menemukan fakta tentang hubungan antara periode dan kecerlangan bintang tipe ini. Penemuan ini terbukti berhasil membawa manusia pada kemampuan untuk mengukur jarak pada kosmos, sebuah parameter penting untuk pemahaman terhadap alam semesta sebagai dasar untuk berkembangnya astronomi modern. Banyak diantara parameter fisik yang kita ketahui tentang bintang dan galaksi (ukuran, massa, dsb.) dapat dihitung dengan mengetahui jarak objek tersebut. Saat ini, saat kendala pengukuran jarak sudah bisa diatasi, kita dapat memperkirakan skala dan struktur alam semesta.

Salah satu debat paling terkenal dalam astronomi (terkenal sebagai "The Great Debate") adalah mengenai skala alam semesta, melibatkan dua orang astronom terkenal: Harlow Shapley dan Herber Curtis. Curtis mempercayai bahwa alam semesta terdiri dari banyak galaksi (atau "spiral nebulae" menurut istilah yang dikenal saat itu) seperti halnya galaksi Bimasakti kita, sedangkan Shapley berpendapat bahwa "spiral nebulae" tidak lebih dari kabut gas dan alam semesta hanya terdiri dari sebuah galaksi besar. Akan halnya posisi Matahari kita, Shapley percaya bahwa Matahari terletak dekat dengan pusat galaksi, sementara Curtis berpendapat sebaliknya.

Debat ini berakhir dengan penemuan monumental dari Edwin Hubble. Saat mempelajari gambar fotografi dari nebula Andromeda dalam rangka pencarian sebuah Nova (bintang yang meledak), ia menandai tiga buah objek yang diduga sebagai nova, namun kemudian ia menyadari bahwa satu diantara ketiganya adalah sebuah bintang Variabel Cepheid. Pada 1923, berdasarkan pengukuran terhadap 12 bintang Variabel Cepheid di sekitar Andromeda, Hubble akhirnya menemukan bahwa Andromeda ternyata merupakan sebuah galaksi tersendiri, diluar galaksi Bimasakti! Hubble juga menemukan bahwa alam semesta sesungguhnya berekspansi (mengembang).

Hubble telah memberikan sumbangan yang monumental terhadap pemahaman manusia atas alam semesta sehingga tidak berlebihan apabila namanya diabadikan sebagai sebutan untuk teleskop antariksa yang kini tengah mengorbit: Teleskop Antariksa Hubble (Hubble Space Telescope, HST). Dengan instrumennya yang canggih, HST mampu mempelajari bntang Variabel Cepheid yang berjarak lebih dari 30 juta tahun cahaya dalam galaksi kita (observasi dari Bumi hanya mampu mengamati hingga sejauh 12 juta tahun cahaya) untuk mempelajari ekspansi alam semesta. Pada tahun 1994, observasi terhadap Cepheid M100 (56 juta tahun cahaya) melalui HST telah memungkinkan standar pengukuran yang lebih presisi dapat tercapai.

"Equipped with his five senses, man explores the universe around him and calls the adventure science."

-- Edwin Hubble

- Diposting oleh Dhani @ 12:45

Senin 11 November 2002

Variabel Cepheid (1)

Waktu membahas tentang Polaris beberapa waktu lampau, kita pernah menyinggung sedikit tentang bintang variabel cepheid.Bintang variabel cepheid adalah adalah tipe bintang yang telah menggunakan seluruh bahan bakan hidrogen pada intinya. Bintang tersebut kemudian akan menjadi tidak stabil dan nampak seolah-olah berdenyut dalam periode yang teratur. Saat suatu bintang variabel cepheid berdenyut, sebenarnya terjadi perubahan intensitas cahaya yang sangat besar, dimana bintang tersebut mengeluarkan cahaya dengan intensitas sampai dua kali lipat intensitas normalnya, sehingga bintang tersebut terlihat jauh lebih cemerlang.

Periode denyutan pada bintang variabel cepheid bervariasi antara satu hari hingga sekitar 50 hari. Dengan membuat sebuah kurva sederhana terhadap intensitas cahaya, para astronom dapat menentukan apakan sebuah bintang termasuk tipe variabel cepheid atau bukan, dan proses penentuan periodenya juga cukup sederhana, yaitu dengan menentukan waktu yang diperlukan dari tingkat kecerlangan rata-rata sebuah bintang ke tingkat kecerlangan maksimumnya.

Dalam dunia astronomi, bintang variabel cepheid memegang peranan penting sebagai indikator jarak bagi benda-benda angkasa. Para astronom telah menemukan hubungan antara periode dari sebuah Cepheid dengan kecerlangannya. Fakta ini membantu para astronom untuk melakukan pengukuran jarak terhadap benda-benda angkasa. Dengan memanfaatkan hubungan antara periode dengan kecerlangannya, dapat ditentukan magnitudo mutlak dari sebuah bintang variabel cepheid. Selanjutnya, dapat dihitung sejauh mana sebuah bintang dengan magnitudo tersebut dapat berpindah dari jarak standar 32,6 tahun cahaya untuk dapat terlihat seperti sebuah bintang dengan magnitodo tertentu yang sedang diamati. Dari sana dilakukan estimasi jarak objek bersangkutan dari Bumi.

Tentu saja tingkat presisi dari pengukuran jarak benda-benda angkasa tidak mungkin bisa betul-betul akurat, tetapi setidaknya dapat memberikan gambaran mengenai sejauh mana jarak yang memisahkan kita dengan sebuah objek nun jauh di kedalaman antariksa, di tempat yang tidak terbayangkan untuk bisa kita datangi.

- Diposting oleh Dhani @ 14:07

Minggu 10 November 2002

Tamu Tak Diundang

Hah?! Ada pengunjung dari militer US di situs ini (*.mil -- sic in the log file)? Oooo ... seraaam! Takuuut! ;) ;) ;)

- Diposting oleh Dhani @ 13:35

Senin 04 November 2002

Penentuan Awal Ramadhan dan Syawal 1423 H

Beralih ke isyu lain, soal awal Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi. Ijtima' akhir bulan Sya'ban 1423 H diperhitungkan terjadi pada Selasa 5 November 2002 pukul 03:37:09 WIB sehingga umat Islam bisa mulai berpuasa hari Rabu, 6 November 2002. Di wilayah Indonesia, pada saat ru'yat ketinggian hilal berkisar antara 4º 33' sampai 7º 06'. Berdasarkan kaidah astronomi, "kans" untuk diru'yat nampaknya cukup besar (kecuali kalau terhalang awan mendung), jadi Insya Allah untuk awal Ramadhan tidak ada perbedaan.

Masalah justeru terjadi di penentuan awal Syawal karena walaupun Ijtimak akhir Ramadhan 1423 H akan berlangsung pada Rabu 4 Desember 2002 jam 14:35 WIB, ketinggian hilal di Indonesia saat maghrib masih berkisar antara -1º 01' hingga 0º 54' sehingga tidak mungkin dapat di ru'yat. Akibatnya, perbedaan tidak bisa dielakkan lagi. Bagi yang berpatokan pada hisab, sudah bisa berlebaran pada hari Kamis, 5 Desember 2002, namun bagi yang berpatokan pada ru'yat, perlu bersabar sampai sehari kemudian :).

Analisis selengkapnya bisa dibaca di sini.

- Diposting oleh Dhani @ 13:52

Sabtu 02 November 2002

Vega

Bintang yang suatu saat akan menggantikan posisi Polaris sebagai bintang kutub ini namanya mungkin sudah tidak asing lagi, malahan boleh dibilang sebagai bintang paling terkenal di langit. Begitu terkenalnya sehingga nama bintang ini sering dipakai sebagai merek dagang bagi suatu produk. Tidak heran, sebab namanya memang cantik dan simpel: Vega.

Vega, atau yang juga dikenal sebagai Alpha Lyrae (sudah tahu kan sebabnya?) adalah komponen utama dari rasi Lyra, sebuah rasi kecil tapi menarik di langit belahan utara. Nama Lyra sendiri berasal dari sebutan untuk harpa milik Orpheus, seorang musisi dalam mitologi Yunani Kuno, sedangkan nama Vega berasal dari kata dalam bahasa arab yang berarti "elang yang menukik". Vega adalah salah satu dari tiga bintang cemerlang yang membagi langit belahan utara menjadi tiga bagian bersama Arcturus dan Capella, dan bersama bintang Altair dan Deneb membentuk apa yang disebut Summer Triangle (segi-tiga musim panas), membentang di langit di bagian barat laut. Dengan magnitudo 0 (makin kecil magnitudo, makin cemerlang bintang tersebut), Vega merupakan bintang kelima yang paling cemerlang di langit malam. Dengan magnitudo sebesar itu, Vega juga digunakan sebagai acuan standar untuk mengukur magnitudo bintang-bintang lainnya.

Vega juga merupakan salah satu bintang tetangga terdekat kita. "Dekat" dalam pengertian astronomi, karena masih terbentang jarak sejauh 25 tahun cahaya yang memisahkan bintang ini dengan kita Bumi. Dengan intensitas cahaya 50 kali lebih cemerlang dibandingkan dengan cahaya Matahari kita, dan temperatur permukaan sebesar 9500 derajat Kelvin, Vega adalah tipe bintang putih yang sedang menjalani tahapan utamanya. Seperti halnya Matahari, Vega juga sedang menjalankan fusi termonuklir terhadap Hidrogen pada intinya. Vega 2,5 kali lebih masif dari Matahari, dengan demikian ia menggunakan bahan bakar hidrogen dengan lebih cepat. Persediaan hidrigen pada intinya diperkirakan akan habis dalam waktu kurang dari satu milyar tahun, kurang dari 10 persen dari umur Matahari kita.

Vega juga dikenal sebagai bintang pertama yang diketahui memancarkan radiasi infra-merah, menandakan adanya semacam kabut debu disekitarnya. Karena Vega terlihat berotasi dengan kutubnya mengarah ke Bumi, kabut tersebut mungkin merepresentasikan bentuk cakram yang tidak berbeda dengan bentuk cakram yang terlihat di sekeliling Matahari. Beberapa bintang lain yang mirip dengan Vega (sebagai contoh: Formhault, Denebola, dan Merak) juga menunjukkan bentuk cakram yang sama, dan ini menimbulkan spekulasi bahwa Vega mungkin memiliki planet yang membentuk tata surya seperti halnya pada Matahari. Namun demikian, bukti adanya planet di sekelilingnya sampai saat ini belum ditemukan. Pun seandainya ada planet di sekeliling bintang ini, sangat kecil kemungkinan adanya suatu bentuk kehidupan karena umur yang pendek dari bintang yang panas ini.


"We can now see as far as the beginning of time itself, not because we ourselves are anymore clever than our predecessors, but because we have been able to follow a trail up the tallest of scientific mountains, a trail blazed by generations of astronomers and physicists."

-- John Gribbin

- Diposting oleh Dhani @ 12:51

Jumat 01 November 2002

Polaris

Kembali lagi ke bisnis semula :). Berbeda dengan langit malam di belahan Bumi selatan hingga katulistiwa, langit belahan Utara tidak terlalu kaya dengan bintang. Salah satu bintang paling menarik di langit belahan utara adalah sebuah bintang yang kali ini menjadi objek pembahasan kita.

Menariknya, tidak seperti bintang-bintang lainnya yang memiliki gerak semu harian dari timur ke barat (sebagai akibat dari rotasi bumi), maka bintang yang akan kita bahas ini malahan tidak demikian. Bintang ini seolah-olah tetap berada di tempatnya, sepanjang musim, sepanjang waktu. Karena itulah bintang ini disebut Polaris atau Bintang Kutub. Polaris adalah bintang paling terang dari rasi Ursa Minor (beruang kecil), sehingga di kalangan astronom bintang ini juga dikenal dengan nama Alpha Ursae Minoris.

Kenapa bisa demikian? Penyebabnya tidak lain karena kebetulan kutub utara bumi berada dalam posisi nyaris tegak lurus dengan posisi bintang ini. Karenanya, polaris juga dipakai sebagai penunjuk arah utara geografis. Seperti pernah kita pelajari disini, arah geografis dan magnetis--seperti yang ditunjuk oleh jarum kompas--sebenarnya agak berbeda (kalau lupa tentang hal ini, bisa dijenguk lagi catatan tanggal 13 Maret 2002). Sebenarnya, Polaris tidak betul-betul tegak lurus dengan kutub, karenanya bintang ini juga memiliki gerak semu berbentuk lingkaran dengan garis tengah sekitar 1,5 derajat.

Polaris dikenal sebagai bintang yang tidak terlalu cemerlang, walaupun juga bukan termasuk bintang yang redup. Dengan magnitudo (tingkat kecerlangan) rata-rata sebesar 2.02, bintang ini hanya berada di urutan ke-40 diantara bintang-bintang paling terang di langit malam, tapi tingkat kecerlangan sebesar itu lebih banyak disebabkan jaraknya yang sangat jauh, sekitar 430 tahun cahaya. Bintang ini sebenarnya bertipe super-raksasa kuning (yellow supergiant) kelas F dengan cahayanya yang 2200 kali lebih cemerlang daripada cahaya Matahari kita. Fusi hidrogen pada inti bintang tersebut telah terhenti dan kini berada pada fase ketidak-stabilan dimana ia secara teratur berdenyut dengan periode sekitar 4 hari. Karena itulah, Polaris juga dikenal sebagai bintang bertipe variabel cepheid. Lebih lanjut soal bintang variabel cepheid ini baiknya kita pelajari dalam catatan tersendiri saja ... kapan-kapan ;).

Karena adanya siklus pergeseran kutub bumi setiap 26.000 tahun, kutub utara Bumi secara perlahan akan bergerak mendekati posisi Polaris, dan kemudian akan kembali menjauh pada puncaknya, sekitar tahun 2100. Beberapa ribu tahun dari sekarang, Polaris akan menjauh dari kutub dan posisinya akan digantikan oleh sebuah bintang lain. Bintang apa yang akan menggantikannya? Kita simpan untuk kesempatan mendatang saja ;).

- Diposting oleh Dhani @ 13:29