Refleksi: Januari 2003
Rabu 29 Januari 2003
Masa Depan Matahari
Dengan mata telanjang sekalipun, kita bisa melihat bahwa bintang-bintang di langit memiliki warna-warni yang berbeda satu sama lainnya. Mulai dari yang berwarna kemerahan, jingga, kuning, putih, hingga biru.
Warna bintang banyak dipengaruhi oleh suhunya. Bintang berwarna kemerahan memiliki temperatur relatif rendah, sedangkan yang terpanas adalah bintang yang berwarna biru. Matahari kita sendiri merupakan sebuah bintang kuning yang memiliki temperatur rata-rata, tidak terlampau tinggi namun juga tidak terlalu rendah.
Selain menunjukkan temperatur, warna juga menunjukkan tahapan yang sedang dialami bintang bersangkutan. Bintang yang sedang berada pada fase stabil, sebagaimana Matahari kita, terdiri atas hidrogen. Pada intinya terjadi proses fusi termonuklir, yaitu reaksi pembakaran hidrogen menjadi helium. Proses ini menghasilkan energi yang dilepaskan sebagai pancaran cahaya. Saat itu bintang umumnya memiliki warna kuning. Contoh bintang yang juga dalam tahapan serupa adalah bintang Vega.
Suatu saat, sebuah bintang akan kehabisan bahan bakar hidrogen yang dikandungnya. Tergantung pada massanya, saat itu bintang tersebut dapat berubah menjadi tipe bintang raksasa merah (red-giant) yang memancarkan cahaya berwarna kemerahan sebelum kemudian berakhir sebagai sebuah bintang kerdil putih (white-dwarfs). Kemungkinan lainnya, apabila massanya sangat besar, ia dapat berubah menjadi sebuah bintang neutron.
Kita sudah belajar bahwa Matahari adalah sebuah bintang juga, sama seperti bintang-bintang lainnya yang kita lihat bertaburan di langit malam itu. Dengan demikian, Matahari juga memiliki daur hidup yang serupa dengan bintang-bintang lain yang sudah kita kenal.
Setelah menghabiskan bahan bakar hidrogen, lapisan luar Matahari akan menyusut, dan menghasilkan lebih banyak energi. Energi ini menyebabkan Matahari membengkak menjadi sebuah bintang raksasa merah, menelan Bumi dan planet-planet di bagian dalam, melepaskan awan besar yang kita sebut Nebula Planet, sebelum akhirnya mendingin dan menyusut menjadi sebuah bintang kerdil putih.
Berita buruknya, hal ini pasti akan terjadi suatu saat di masa depan. Berita baiknya, ini baru akan terjadi sekitar lima milyar tahun dari sekarang.
"These earthly godfathers of Heaven's lights, that give a name to every fixed star, have no more profit of their shining nights than those that walk and know not what they are."
-- William Shakespeare
-- William Shakespeare
Minggu 26 Januari 2003
Magnitudo Tampak vs Magnitudo Mutlak
Catatan kali ini sekedar menyegarkan kembali pemahaman kita tentang beberapa istilah yang sering kita baca pada catatan-catatan sebelumnya yang berkaitan dengan astronomi. Walaupun sebenarnya saat ini sudah tersedia halaman Daftar Istilah untuk astronomi, disini kita akan bicara agak sedikit detail.
Bahasan kali ini adalah soal magnitudo yang mengacu pada ukuran kecerlangan sebuah objek. Kita mengenal dua jenis magnitudo, yaitu yang disebut Magnitudo Tampak dan Magnitudo Mutlak. Yang disebut Magnitudo Tampak yaitu kecerlangan bintang sebagaimana yang terlihat oleh kita di Bumi. Magnitudo Tampak suatu objek sangat tergantung dari jarak objek bersangkutan dari Bumi, karena dua objek dengan kecerlangan yang persis sama akan terlihat berbeda bergantung dari jarak objek bersangkutan dari pengamat. Makin dekat objek tersebut, makin cemerlang cahayanya, sebaliknya makin jauh ia akan terlihat makin redup.
Magnitudo Tampak sebuah benda angkasa dinyatakan dalam bentuk besaran angka tertentu. Semakin cemerlang sebuah objek, angka magnitudonya akan semakin kecil. Skala Magnitudo diperkenalkan oleh astronom Yunani, Hipparkus sejak lebih dari 2000 tahun lampau. Dalam skala ini, bintang Antares memiliki besaran Magnitudo Tampak sebesar 1. Mata telanjang dapat melihat bintang dengan Magnitudo Tampak sebesar 6 sedangkan teleskop paling kuat dapat mendeteksi objek dengan magnitudo 25 yang berarti 4 milyar kali lebih suram daripada bintang magnitudo pertama. Untuk beberapa objek yang lebih cemerlang dari Antares, maka skalanya akan diperpanjang ke angka minus, misalnya Venus memiliki Magnitudo Tampak sebesar -1,47, sedangkan Matahari sebesar -26,5.
Karena Magnitudo Tampak cenderung bersifat relatif, maka para astronom menetapkan satuan Magnitudo Mutlak, yaitu kecerlangan nyata sebuah bintang. Satuan ini didefinisikan sebagai magnitudo Tampak sebuah bintang apabila ia dilihat dari jarak 10 parsek (32,6 tahun cahaya) dari Bumi. Pada skala itu, bintang paling cemerlang yang diketahui adalah yang berada dalam awan Magellan Besar dengan Magnitudo Mutlak mencapai angka -8,9. Bintang Sirius (bintang paling cemerlang yang terlihat dari Bumi) akan memiliki magnitudo 1,41, sedangkan Matahari kita akan terlihat relatif suram dengan besaran hanya 4,83.
Sabtu 25 Januari 2003
Kembali ...
Hampir setahun situs ini cuma terisi weblog, sepertinya sudah waktunya untuk kembali ke keadaan semula. Tidak betul-betul mirip sih. Beberapa halaman terpaksa kita pangkas karena tidak cukup resource lagi untuk mengelolanya. Kali ini kita hanya berfokus ke Astronomi, IT, dan seputar dunia Internet. Tampilan masih kita pertahankan seperti aslinya, sedangkan untuk Buku Tamu formatnya kita ikut yang baru karena lebih gampang dikelola.
Masih ada sedikit penyesuaian yang diperlukan untuk weblog ini karena link-link yang ada umumnya masih menunjuk ke format file lama dengan ekstensi php3, tapi ini akan dikerjakan lain waktu saja ;). Tentang artikel baru, hanya ada tiga buah. Selengkapnya bisa dilihat di halaman muka.
Rabu 22 Januari 2003
Pergeseran Merah dan Pengembangan Kosmos
Masih ingat dengan Edwin Hubble? Nama astronom kawakan ini pernah kita singgung antara lain waktu berbincang tentang bintang Variabel Cepheid sekitar dua bulan lalu. Namun bukanlah bintang variabel cepheid yang membuat astronom ini mampu mengubah pandangan para ilmuwan mengenai kosmos.
Adalah Vesto Slipher, astronom dari observatorium Lowell, Flagstaff, Arizona yang menemukan bahwa nebula yang jauh memperlihatkan spektrum yang lebih merah daripada yang seharusnya. Hubble yang sudah mengetahui cara menghitung jarak galaksi membuat hubungan antara jarak dengan "pergeseran merah" itu dan mendapatkan bahwa kian jauh galaksi, kian besar pergesaran merah yang berarti kian cepat galaksi menjauhi kita. Ini adalah pertanda bahwa seluruh kosmos mengembang walaupun Hubble sendiri tidak begitu paham mengenai makna sebenarnya dari pengembangan.
Penemuan ini merombak pandangan para astronom kala itu yang yakin bahwa kosmos statis. Bahkan Einstein pernah terkecoh dengan gagasan kosmos tidak statis. Pada tahun 1917 lewat teori relatifitas umum, Einstein menemukan bahwa kosmos seharusnya memuai. Agar tidak bertentangan dengan pandangan ilmuwan saat itu, ia menambahkan tetapan lambda yang bersifat menahan laju pengembangan kosmos.
Komentar Einstein setelah penemuan Hubble adalah bahwa kalau saja penemuan itu 10 tahun lebih cepat, tidak akan pernah ada lambda--yang pernah disebutnya sebagai kebodohan terbesar dalam hidupnya!
"At the last dim horizon, we search among ghostly errors of observations for landmarks that are scarcely more substantial. The search will continue. The urge is older than history. It is not satisfied and it will not be oppressed."
-- Edwin Hubble
-- Edwin Hubble
Minggu 19 Januari 2003
Penamaan Bintang dengan Alfabet Yunani
Penggunaan penamaan bintang dengan alfabet Yunani memang terkadang membingungkan. Sistem ini semula digunakan oleh Johannes Bayer sekitar tahun 1600 untuk menamai bintang-bintang yang cemerlang. Aturan dasarnya adalah bintang yang lebih cemerlang dalam sebuah konstelasi diberi urutan alfabet yang lebih awal, namun ketentuan ini lebih sering dilanggar ketimbang ditaati. Urutan ini biasanya juga bergantung pada posisi bintang dalam sebuah konstelasi.
Penamaan dilakukan dengan menempatkan nama abjad yunani didepan nama konstelasi bintang yang bersangkutan, misalnya Alpha Carinae (Canopus di konstelasi Carina), atau Beta Orionis (Rigel di konstelasi Orion). Bintang-bintang yang kurang dikenal biasanya langsung dinamai menggunakan sistem ini, misalnya Rho Coronae Borealis, atau Upsilon Andromedae.
Urut-urutan abjad Yunani yang digunakan adalah sebagai berikut:
| 1. Alpha | 2. Beta | 3. Gamma | 4. Delta | 5. Epsilon | 6. Zeta |
| 7. Eta | 8. Theta | 9. Iota | 10. Kappa | 11. Lambda | 12. Mu |
| 13. Nu | 14. Xi | 15. Omicron | 16. Pi | 17. Rho | 18. Sigma |
| 19. Tau | 20. Upsilon | 21. Phi | 22. Chi | 23. Psi | 24. Omega |
Jumat 17 Januari 2003
Beberapa Anggota Rasi Orion (2)
Anggota kedua dari rasi Orion adalah Rigel (Beta Orionis). Nama "Rigel" juga berasal dari frasa berbahasa arab "rijl Al-Jauza" yang berarti "kaki" al-Jauza. Bintang ini merepresentasikan kaki kiri dari Orion.
Seperti halnya Betelgeuse, Rigel adalah bintang super-raksasa. Bedanya, Rigel merupakan bintang super-raksasa Biru (blue supergiant), sebuah bintang yang cukup panas dengan temperatur permukaan sekitar 11.000° Kelvin, sekitar dua kali temperatur permukaan Matahari kita. Walaupun merupakan bintang Beta dari Orion, namun karena sebab tertentu, ia kelihatan lebih terang daripada Betelgeuse, bintang Alpha pada Orion. Rigel menduduki peringkat ketujuh dalam urutan kecerlangan diantara bintang-bintang lainnya. Dengan jarak 775 tahun cahaya, Rigel sesungguhnya memiliki cahaya dengan intensitas 40.000 kali Matahari kita. Ia memancarkan radiasi ultra violet yang tidak kasat mata sebesar 66.000 kali dari yang dipancarkan Matahari. Radiasi itu memancar hingga jarak sejauh 70 kali ukuran Matahari.
Rigel sesungguhnya adalah sebuah bintang ganda. Ia memiliki pasangan yang mengedarinya dalam jarak 50 kali jarak Pluto ke Matahari. Normalnya, bintang pasangan Rigel dengan magnitudo ketujuh ini dapat dilihat dengan teleskop kecil pada jarak sekitar 9 detik busur dari Rigel, namun cahayanya hampir-hampir tertutupi oleh terangnya cahaya dari bintang induknya.
Dengan massa 17 kali massa Matahari, Rigel adalah tipe bintang yang sedang menjelang ajalnya. Kemungkinan ia kini sedang menjalani proses fusi helium pada intinya menjadi karbon dan oksigen. Diduga nasibnya akan berakhir dengan sebuah ledakan yang selanjutnya akan mengubahnya menjadi bintang kerdil putih (white dwarf) yang kaya akan kandungan oksigen dan Neon.
"Twinkle, twinkle little star, I don't wonder what you are.
For by spectroscopic ken, I know that you are hydrogen"
-- D Bush, Science & English Poetry, OUP 1950
For by spectroscopic ken, I know that you are hydrogen"
-- D Bush, Science & English Poetry, OUP 1950
Selasa 14 Januari 2003
Beberapa Anggota Rasi Orion (1)
Diam-diam, ternyata bukan cuma saya yang 'ngefans' dengan rasi Orion. Konstelasi yang satu ini rupanya punya banyak penggemar ;). Orion sendiri sudah pernah kita bahas lebih dari setahun lalu (pakai saja search engine kita untuk mencari arsipnya). Kali ini kita akan bicara tentang bintang-bintang utama di rasi yang saat ini sedang mendominasi langit malam itu.
Cerita kita awali dari Betelgeuse, bintang utama di Orion. Seperti biasa, para astronom lantas meyebutnya sebagai Alpha Orionis. Kita masih ingat, bahwa rasi Orion digambarkan oleh orang Yunani kuno sebagai pemburu. Nah, Betelgeuse menandai sudut bahu kiri sang pemburu. Soal namanya, Betelgeuse adalah 'pelesetan' dari kata dalam arab "yad al jauza" (kalau dilafalkan secara cepat, bunyinya jadi mirip "betelgeuse") yang artinya "tangan al-jauza". Al Jauza sendiri menurut legenda Arab kuno adalah seorang wanita misterius yang dijuluki "seseorang yang utama".
Betelgeuse merupakan salah satu dari dua bintang super-raksasa merah (red supergiant) yang tampak dengan mata telanjang setelah Antares (yang ini sudah pernah kita bahas juga beberapa bulan lalu). Bintang yang satu ini adalah salah satu bintang terbesar yang dapat dilihat, bahkan juga terbesar diantara bintang yang pernah ditemukan. Intensitas cahaya yang dipancarkannya juga luar biasa. Kecerlangannya berubah-ubah pada besaran sekitar 40.000 hingga 100.000 kali intensitas cahaya Matahari kita.
Para astronom sepakat bahwa Betelgeuse adalah bintang yang sedang berevolusi setelah menghabiskan bahan bakar hidrogen pada intinya. Hasilnya, inti bintang berkontraksi menjadi lebih panas dan padat serta bagian luarnya membengkak. Kita tidak tahu pasti kondisi bintang tersebut kini, namun yang pasti bahwa pada intinya sedang terjadi proses fusi helium menjadi karbon dan oksigen. Betelgeuse juga merupakan bintang variabel dengan periode yang sangat lama. Ia melontarkan bagiannya sendiri dalam bentuk "angin" yang sangat kuat. Ia juga dilingkupi oleh lapisan debu yang amat tebal. Hal ini diperkirakan terkait dengan hot spot berukuran raksasa yang terlihat pada permukaannya seperti yang terekam oleh teleskop ruang angkasa Hubble.
Masa depan bintang yang satu ini juga mengundang kontroversi. Secara teori, massanya seharusnya menurun hingga besaran antara 12-17 kali massa Matahari. Pada puncaknya, pada inti bintang akan terjadi proses fusi terhadap elemen-elemen seperti neon, magnesium, sodium, dan silikon menjadi besi. Ini akan berakhir dengan terjadinya kolaps dan bintang ini akan meledak sebagai sebuah supernova--mirip-mirip dengan nasib yang diperkirakan juga bakal menimpa Antares--kemudian berakhir sebagai sebuah bintang neutron, bintang seukuran kota kecil di bumi namun juga sangat padat (sejumput materi dari bintang neutron akan berbobot jutaan ton!). Apabila ia meledak saat ini, maka bintang ini akan kelihatan sama cemerlang seperti bulan sabit, hingga cahayanya dapat dilihat dari Bumi pada siang hari. Namun apabila massanya lebih tinggi dari besaran tadi, maka bintang ini akan mengkerut dan menjadi bintang kerdil putih (white dwarf) dengan ukuran sebesar Bumi. Namun pada Betelgeuse, kasusnya bakal berbeda dengan Kebanyakan bintang kerdil putih lainnya. Bintang jenis ini biasanya terdiri dari karbon dan oksigen, sedangkan apabila Betelgeuse akhirnya mencapai tahapan ini, ia akan memiliki cukup massa untuk menjadi bintang kerdil putih yang terdiri dari neon dan oksigen, jenis yang sangat jarang ditemui.
Nasib apa yang bakalan menimpa Betelgeuse nantinya? Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah dengan menunggu sampai beberapa juta tahun lagi ;).
Minggu 12 Januari 2003
Kendurkan Saraf Sejenak
Sedikit mengendurkan saraf lagi setelah pusing membaca tulisan-tulisan disini :). Terima kasih untuk dik Nadhia di Serpong atas kiriman liriknya [jadi kayak redaksi aja nih :)].
BULAN BINTANG
Saujana
Rembulan cahayanya menawan
Menerangi kegelapan malam
Bebintang sinar berkelipan
Menghiasi cahaya rembulan
Bulan dan bintang menjadi saksi
Kebesaran Ilahi
Bintang-bintang bertaburan
Di angkasa, angkasa raya
Panduan mereka yang berkelana
Perjalanan oh rembulan
Merentasi cakrawala
Petunjuk perkiraan tahunan
Bulan dan bintang menjadi saksi
Kebesaran Ilahi
Sinaran mentari menyinari
Bumi Tuhan ceria kembali
Awan berarak bebasnya
Memayungi alam semesta
Tunduk dan syukur pada Ilahi
Kurniaan abadi
Saujana
Rembulan cahayanya menawan
Menerangi kegelapan malam
Bebintang sinar berkelipan
Menghiasi cahaya rembulan
Bulan dan bintang menjadi saksi
Kebesaran Ilahi
Bintang-bintang bertaburan
Di angkasa, angkasa raya
Panduan mereka yang berkelana
Perjalanan oh rembulan
Merentasi cakrawala
Petunjuk perkiraan tahunan
Bulan dan bintang menjadi saksi
Kebesaran Ilahi
Sinaran mentari menyinari
Bumi Tuhan ceria kembali
Awan berarak bebasnya
Memayungi alam semesta
Tunduk dan syukur pada Ilahi
Kurniaan abadi
Jumat 10 Januari 2003
Misi Galileo
Bagi para ilmuwan, meluncurkan wahana penyelidik ke luar angkasa, terutama ke planet-planet lain bisa jadi semacam 'gambling'. Mereka harus mempertaruhkan miliaran dolar dana masyarakat dengan memastikan misi tersebut sukses atau dana yang berasal dari para pembayar pajak itu akan menguap sia-sia. Pada kenyataannya, angka keberhasilan misi-misi antar planet memang kurang begitu menggembirakan. Misi wahana penyelidikan ke Mars misalnya, lebih seperempat abad sejak wahana Viking 1 dan 2 mendarat di permukaannya, namun dari serangkaian misi selanjutnya yang dikirim kesana, hanya kurang dari sepertiganya yang menemui keberhasilan.
Sebelum diluncurkan, misi Cassini ke Saturnus sempat mendapat tentangan keras dari sebagian masyarakat AS. Selain karena menyedot biaya yang kelewat mahal, ada kekhawatiran terhadap bahan bakar Plutonium seberat 30 kg yang dibawanya. Persoalannya, kalau peluncuran tidak berjalan mulus dan terjadi sesuatu pada roket peluncur (meledak misalnya), maka dapat dipastikan bahan ini akan menyebar radiasi yang sangat berbahaya bagi daerah sekitarnya. Alasan lainnya karena Cassini dianggap tidak akan banyak memberikan informasi berarti ketimbang misi Pathfinder yang saat itu baru menuai sukses besar dengan mendarat di permukaan Mars dan mengirimkan serangkaian gambar dari sana. Namun, kenyataannya, keberatan dari sementara pihak ini tetap tidak menggoyahkan rencana NASA untuk meluncurkannya. Untungnya, peluncuran Cassini dapat berjalan dengan mulus tanpa terjadinya hal-hal yang semula dikhawatirkan. Perjalanan Cassini ke Titan pun hingga sejauh ini diketahui lancar-lancar saja.
Cerita agak berbeda dialami oleh wahana Galileo yang dikirim untuk menyelidiki Jupiter beserta bulan-bulannya. Misi ini sendiri sudah mengalami awal yang kurang bagus. Semula Galileo direncanakan untuk meluncur pada Mei 1986, namun bencana Challenger membuat peluncurannya tertunda hingga tiga tahun lebih. Galileo baru berhasil diluncurkan melalui kargo pesawat ulang alik Atlantis pada 18 Oktober 1989.
Galileo dirancang untuk memanfaatkan gravitasi planet Venus dan Bumi untuk dapat melontarkannya ke Jupiter sehingga dapat menghemat bahan bakar. Para ahli yang terlibat menyebut teknik ini sebagai VEEGA (Venus-Earth-Earth Gravity Assist).
Beberapa saat setelah Galileo memulai perjalanannya, mulai timbul masalah. Antena utamanya diketahui tidak mengembang secara sempurna sehingga pengiriman data dari wahana tersebut ke Bumi mengalami hambatan karena sinyalnya yang terlalu lemah. Kesulitan masih belum berakhir disitu, karena beberapa waktu kemudian, lagi-lagi terjadi 'trouble'. Kali ini giliran tape drive pada wahana tersebut yang digunakan untuk merekam data sebelum dikirimkan ke bumi ternyata ngadat dan tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Hal ini memaksa para peneliti untuk memilih prioritas dalam misi penyelidikan yang diemban oleh wahana tersebut serta mengorbankan beberapa penyelidikan yang dianggap kurang penting walaupun telah direncanakan sebelumnya.
Terlepas dari segala masalah yang dialaminya, misi Galileo tetap memberikan hasil yang berarti bagi para ahli. Dalam perjalanannya ke Jupiter, Galileo sempat melintasi dua asteroid dari jarak dekat. Ini pertama kalinya sebuah wahana berhasil mendekati asteroid. Kedua asteroid yang dilintasi tersebut adalah Gaspra (29 Oktober 1991) dan Ida (28 Agustus 1993). Galileo juga sempat merekam peristiwa tabrakan antara pecahan komet Shoemaker-Levy dengan planet Jupiter pada Juli 1994.
Galileo tiba di orbit Jupiter pada 7 Desember 1995. Sejak itu, ia melakukan sekitar 30 kali orbit mengelilingi planet raksasa tersebut, dan biasanya terbang mendekat ke salah satu dari empat bulan utama Jupiter setiap sekali mengorbit. Wahana ini menemukan bukti kuat bahwa bulan Jupiter, Europa memiliki air dalam bentuk cair dibawah lapisan es yang melingkupinya. Galileo juga menemukan indikasi bahwa dua bulan lainnya, juga memiliki lapisan yang menyimpan air dalam bentuk cair.
Misi ini juga menghasilkan beberapa data ilmiah dari dari kegiatan vulkanis yang sangat aktif dari bulan Jupiter lainnya, Io. Galileo juga berhasil mengukur kondisi atmosfer Jupiter secara lebih akurat serta menemukan medan magnet yang dihasilkan oleh Ganymede.
"When you make the finding yourself - even if you're the last person on Earth to see the light - you'll never forget it."
-- Carl Sagan
-- Carl Sagan
Rabu 08 Januari 2003
Titan yang Misterius
Salah satu event yang paling ditunggu oleh kalangan Astronomi pada tahun 2004 (jadi, masih setahun lebih dari sekarang), adalah tibanya wahana antariksa Cassini di orbit Saturnus. Wahana yang diluncurkan oleh NASA dari Cape Canaveral Florida pada 15 Oktober 1997 dengan kendaraan peluncur roket raksasa Titan IV-Centaur ini membawa sebuah modul, dinamai sebagai Huygens, yang rencananya akan didaratkan di salah satu bulan Saturnus, Titan.
Satelit alam Saturnus yang ditemukan oleh Christiaan Huygens pada 1655 ini memang cukup membuat penasaran para astronom karena keadaannya yang diyakini mirip dengan Bumi pada awal masa pembentukannya. Sudah lama para Astronom menduga bahwa bulan terbesar daris Saturnus ini memiliki lapisan atmosfir, sesuatu yang tidak lazim pada satelit alam lainnya. Ini mungkin disebabkan ukurannya yang sangat besar dibandingkan satelit alam lainnya. Bahkan pada kenyataannya, Titan memiliki ukuran yang lebih besar dari dua planet anggota tata surya kita: Merkurius dan Pluto. Namun demikian, Titan bukanlah satelit alam terbesar, karena rekor ini dipegang oleh satelit alam Jupiter, Ganymede. Dalam hal ini, Titan hanya menduduki urutan kedua.
Permukaan Titan diduga terdiri dari "lautan" atau "danau" dari metana dan etana. Air dalam bentuk yang kita kenal akan membeku karena temperaturnya yang rendah. Pengamatan oleh wahana Voyager 1 pada tahun 1980 tidak menghasilkan data yang berarti karena Titan ternyata diselimuti oleh awan dan atmosfir tebal berwarna jingga yang tidak dapat ditembus oleh peralatan sensor yang dibawa Voyager.
Sejauh ini masih sangat sedikit yang diketahui tentang Titan. Temperatur pada permukaannya diperkirakan sekitar -178°C (-289°F). Ia diduga memiliki lapisan atmosfir yang lebih tebal apabila dibandingkan dengan Merkurius, Bumi, Mars, maupun Pluto dengan tekanan atmosfir sebesar 1,6 bar, 60% lebih tinggi dari tekanan atmosfir Bumi. Atmosfirnya didominasi oleh nitrogen dan elemen-elemen hidrokarbon lain yang membentuk warna jingga pada permukaannya. Banyaknya elemen hidrokarbon ini dapat membentuk asam amino yang dibutuhkan untuk terbentuknya suatu bentuk kehidupan. Dari sinilah muncul spekulasi bahwa permukaan Titan mungkin sangat mirip dengan Bumi saat masih "muda" saat belum terbentuknya kehidupan yang menghasilkan atmosfir pada permukaannya.
Titan mungkin merupakan salah satu objek paling menarik di tata surya kita. Permukaan macam apa yang ada dibawah lapisan awan tebal itu? Misteri apa yang terkandung dibalik selubung jingga pada atmosfernya? Jawaban atas pertanyaan ini masih harus menunggu hingga Juni 2004, ketika Cassini memasuki orbit Saturnus untuk melakukan pengamatan melalui radar. Cassini juga membawa wahana pendarat Huygens untuk menyelidiki permukaan Titan. Wahana Huygens merupakan hasil kerjasama NASA dengan the European Space Agency and the Italian Space Agency.
"Realization that our whole knowledge of the universe is simply a residue of impressions clouded by our imperfect sense makes the quest of reality seems hopeless."
-- Albert Einstein
-- Albert Einstein
Sabtu 04 Januari 2003
Antara Astronomi dan Astrologi
Astronomi sebagai ilmu yang mempelajari benda-benda langit sering rancu dengan Astrologi yang mempelajari soal peredaran benda langit dan kemudian mengaitkannya dengan nasib seseorang. Padahal keduanya jelas sangat berbeda. Walaupun sama-sama erat kaitannya dengan ramal-meramal, tapi dalam Astronomi yang diramal adalah peristiwa astronomis, sedangkan dalam Astrologi ini dikaitkan lagi dengan peruntungan manusia.
Kalau para Astronom (ahli astronomi) "meramalkan" bahwa bulan Ramadhan 2001 dan Idul Fitri 2002 bakalan ada perbedaan, juga akan ada gerhana matahari tanggal 4 Desember 2001, itu bukan berarti mereka punya indera keenam atau "dibisiki" oleh kekuatan supra-natural, melainkan melalui perhitungan matematis berdasarkan pemahaman mengenai orbit benda-benda langit dan implikasinya terhadap gejala-gejala alam yang nampak.
Para Astrolog (pelaku Astrologi) percaya bahwa fenomena astronomis mempengaruhi nasib manusia, padahal "ilmu" yang sudah berusia ribuan tahun itu banyak kelemahannya. Konsep zodiak, misalnya, walaupun masih digemari sampai sekarang, sebenarnya sudah tidak relevan lagi karena zodiak yang dipetakan pada zaman Yunani Kuno tersebut saat ini sudah banyak menyimpang karena orbit benda langit tidaklah statis (masih ingat dengan "gerak diri"?).
Ambil contoh saya yang lahir pada 22 September, dipercaya berada dibawah pengaruh zodiak Virgo, karena menurut perhitungan Astrologi, saat itu, matahari sedang berada di rasi Virgo. Padahal dalam kenyataaannya, matahari tidak pernah berada di rasi Virgo. Yang benar, menurut perhitungan posisi matahari saat terbit (pada jaman Yunani Kuno) berada di rasi Virgo, namun kenyataannya kini (di abad-21), Matahari tanggal 22 September sudah bergeser ke arah rasi Libra. Kalau sudah tahu begini, apa kita masih bisa percaya pada zodiak?
Para ahli Atronomi menganggap hal ini tidak lebih dari fenomena alam biasa yang rutin terjadi tiap tahun, tapi para penggemar Astrologi pasti punya tafsir tersendiri yang menghubungkan peristiwa tersebut dengan nasib baik atau nasib buruk yang akan menimpa seseorang. Anda sendiri pilih yang mana?
Rabu 01 Januari 2003
Refleksi Awal Tahun
Biasanya momen akhir tahun dimanfaatkan banyak orang untuk berefleksi. Karena sudah banyak pihak yang menggelar acara Refleksi Akhir Tahun, maka supaya lain dari yang lain, kali ini kita tampil di awal tahun, jadi sebut saja ini Refleksi (edisi) awal tahun :).
Secara kebetulan, tahun 2002 saya awali dengan tulisan bernada minor soal perayaan tahun baru di Bali (catatan tanggal 5 Januari 2002). Dan ternyata, dalam tahun baru 2003 ini, Bali malahan jadi pusat perhatian. Bermacam acara digelar dan bisa ditonton dari seluruh Indonesia melalui tayangan televisi. Sayangnya acara tahun-baruan yang "liar" seperti yang pernah saya tulis tahun awal tahun 2002 itu bukannya sudah tidak ada lagi. Saya sendiri melewatkan tahun baru dirumah saja, karena memang saya tidak punya kebiasaan untuk merayakan tahun baru, lagipula, kalau Anda masih ingat, waktu situs ini masih jadi situs pribadi, saya pernah cerita bahwa saya sebenarnya tidak suka keramaian.
Bunyi ledakan yang saya dengar pada malam 12 Oktober lalu ternyata menyisakan buntut yang panjang. Cerita soal itu sudah pernah saya tulis dalam web ini (catatan tanggal 14 Oktober 2002) yang kemudian diikuti dengan serangkaian catatan yang salah satunya rada pedas (catatan 30 Oktober 2002) sehinga sempat memancing komentar negatif dari seorang pengunjung situs ini. Anyway, saya tidak mengedit atau memperbaiki tulisan bermasalah itu karena menurut saya tulisan itu masih sangat-sangat relevan dengan situasi sekarang. Saya sendiri juga nggak menduga kalau Serpihan yang saya lihat dipinggir lubang bekas ledakan waktu mengunjungi lokasi peristiwa (catatan 28 Oktober 2002) itu ternyata belakangan bisa "bicara" banyak.
Saya nggak berminat bicara soal teori konspirasi atau semacamnya. Bagi saya, teori konspirasi itu lebih sering dipakai sebagai pelarian bagi mereka yang memang ingin melarikan diri dari kenyataan. Masih percaya kalau putri Diana dibunuh agen rahasia karena "berpacaran" dengan lelaki Muslim? Atau yang menabrak gedung Pentagon itu sebenarnya bukan pesawat penumpang, melainkan UFO? Kalau saya sih, maaf saja, rasanya lebih suka mempercayai fakta ketimbang teori konspirasi yang berbelit-belit itu.
Ketimbang sibuk mengkutak-katik teori konspirasi, lebih baik peristiwa ini kita jadikan bahan introspeksi bahwa memang ada sebagian dari umat Islam yang merasa dirinya "berjihad" atau "berjuang dijalan Allah" padahal sebenarnya tidak lebih dari psikopat yang bertindak semata-mata untuk memuaskan nafsu dendam dan permusuhan yang bersarang di hati mereka. Kebencian dan permusuhan itu ditanamkan secara terus-menerus lewat pengajian-pengajian maupun ceramah tertutup yang full infoktrinasi oleh para ustadz yang juga punya pemahaman yang keras terhadap Islam. Bisa jadi para ustadz ini sebenarnya tidak bermaksud memprovokasi para santrinya untuk menjadi teroris atau tukang rakit bom, tapi permusuhan dan kebencian yang mereka tanamkan bisa membuat gelap mata para pendengarnya sehingga memunculkan "semangat jihad" yang kebablasan. Dan inilah yang saya maksudkan dengan brainwashing alias cuci otak itu.
Daripada sibuk menyumpah-nyumpah para pelaku bom Bali, lebih baik kita jadikan pengingat. Adakah diri kita, keluarga kita, atau orang-orang terdekat kita yang mulai memiliki pemahaman keagamaan yang sempit semacam yang saya gambarkan itu? Hati-hati!
Ramalan paranormal sepertinya memang sudah menjadi sajian wajib di media kita setiap akhir tahun, dan sayangnya masih banyak orang yang percaya dengan hal-hal macam begini. Kalau memang paranormal-paranormal itu mumpuni, tentu di awal tahun lalu sudah ada yang meramalkan dengan tepat peristiwa meledaknya bom Bali atau meletusnya gunung Papandayan, tapi kenyataannya kalau kita buka arsip ramalan paranormal akhir tahun 2001, tidak pernah ada yang bicara secara spesifik tentang hal-hal macam begini. Yang ada hanyalah sederetan "clue" yang kabur dan multitafsir. Di awal tahun lalu (29 Januari 2002) disini saya sudah pernah cerita tentang "modus" para peramal yang buka praktek pada jaman Yunani Kono, dan ternyata di abad 21 ini, orang masih saja percaya dengan hal yang sama :).
Di tahun ini kita mungkin akan mengalami peristiwa-peristiwa besar. Kerusuhan, aksi massa, ledakan bom, ekonomi yang seret, intrik politik, dan semacamnya. Tentu akan ada kecelakaan sarana transportasi, baik yang membawa korban jiwa atau tidak, juga bencana alam: banjir, gunung meletus, tanah longsor dan sebagainya (pernahkah kita melewati satu tahun tanpa peristiwa semacam ini?). Terlepas dari itu semua, mari kita sambut 2003 dengan optimisme. Memang sih, semua sudah digariskan oleh Yang Kuasa, tapi kita sebagai manusia wajib berikhtiar untuk memperoleh yang terbaik.