Refleksi: Maret 2003
Kamis 27 Maret 2003
Ancaman dari Beppo SAX
Kabar buruk buat negara-negara yang (kebetulan) menempati wilayah di sekitar katulistiwa, termasuk Indonesia. Sebuah satelit astronomi sinar X milik Italia yang telah habis masa operasinya, Beppo SAX, saat ini sedang memasuki proses reentry dan dipastikan akan menembus atmosfir bumi antara tanggal 19 April hingga 21 Juni 2003.
Diperkirakan 47% dari bagian satelit berbobot 1,4 ton dengan ukuran 2,4 x 3,6 x 18 meter ini akan berhasil menembus atmosfir dan kepingannya akan menyebar di rentang wilayah antara 4,4º LU hingga 4,4º LS. Sekitar 40 kepingan akan menghujam Bumi dengan kecepatan 60-450 km/jam, sementara pecahannya yang terbesar diperkirakan berbobot tidak kurang dari 100 kg, dengan luas penampang 30 m2 -- jauh lebih besar dari standar NASA (8 m2). Indonesia, dalam hal ini wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Irian (Papua) masuk dalam daerah yang beresiko tertimpa puing-puing satelit ini.
Yang perlu diwaspadai dari puing-puing Beppo SAX adalah kandungan bahan bakar Hidrazin (N2H4) yang masih tersisa sebanyak 26 kg pada satelit tersebut. Ini adalah bahan yang pada fase uap sangat beracun, terutama apabila terjadi kontak dengan kulit dan mata. Selain itu, Beppo SAX juga masih memuat 0,5 kg oksidan GN2. Untungnya satelit tersebut dilaporkan tidak membawa bahan bakar nuklir.
Berdasarkan Liability Convention tahun 1972 yang telah diratifikasi oleh Indonesia melaui kepres No. 20/1996, apabila pecahan Beppo SAX menimbulkan kerugian, baik harta maupun jiwa, pemerintah dapat meminta pertanggung jawaban dari negara pemilik satelit, dalam hal ini adalah Italia.
Untuk laporan dan permintaan informasi, pihak yang dapat dihubungi adalah Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN), beralamat di Jalan Dr. Djundjunan 133, Bandung 40173, Telepon (022) 6012602, Fax (022) 6014998. Contact person: Dr. Thomas Djamaludin (t_djamal[at]bdg.lapan.go.id).
Senin 24 Maret 2003
Semesta Paralel?
Ini kisah klasik tentang masa depan. Kata Einstein, apabila kita bisa melesat lebih cepat dari kecepatan cahaya maka kita dapat mundur ke masa lalu. Persoalannya, bagaimana bisa menciptakan suatu kendaraan yang bisa melaju lebih cepat dari kecepatan cahaya? Lantas Hawking menawarkan solusi: lewat worm hole (Namanya juga kisah klasik yang sudah terlalu banyak disitir di media populer, jadi detailnya udah nggak perlu kita bahas lagi).
Lantas orang mulai bertanya, seandainya perjalanan menembus waktu kembali ke masa lalu memang mungkin, bagaimana seandainya kita kembali ke masa lalu untuk membunuh kakek kita. Logikanya, kalau sang kakek tewas, orangtua kita tidak mungkin terlahir, dan otomatis kita juga tidak pernah ada di dunia ini. Gimana dong? Karena ini kisah yang sudah klasik, jadi kelanjutannya kita udah apal. Hawking menawarkan solusi tentang alam semesta paralel. Jadi, ada banyak alam semesta, masing-masing dengan jalan ceritanya sendiri-sendiri. Dalam satu semesta, sang kakek meninggal dan kita tidak terlahir, tapi di semesta lain yang paralel, sang kakek masih hidup, punya anak yang kemudian melahirkan cucu-cucu yang manis, yang seorang diantaranya bakalan membunuh dia di semesta paralel yang satunya lagi.
Absurd yah? Jadi mungkin di semesta paralel lain, Taliban masih berkuasa di Afghanistan, di semesta lain, Hitler menikmati kemenangan gemilang di PD II, dan Palestina menjadi negara berdaulat, Amerika Serikat cuma jadi negara besar yang kaya sumber alam tapi tidak berdaya secara ekonomis dan menjadi bulan-bulanan negara lain yang lebih berkuasa, sementara sebuah negara bernama Indonesia muncul sebagai sebuah kekuatan adidaya.
Cuma, kita meyakini bahwa kelak di Hari Akhir, akan ada perhitungan tentang amal dan dosa yang kita perbuat. Lantas kalau kita punya banyak kepribadian di dunia paralel gimana dong? Apa mungkin kita menjadi auliya sekaligus fasiq, atau malahan menjadi penghuni syurga dan neraka secara bersamaan? Errr ... kayaknya ceritanya bakalan lebih ribet dari paradoks kucing Schrödinger nih.
Minggu 23 Maret 2003
Antara Taliban dan Saddam
Seperti halnya rezim Taliban -- yang kejatuhannya saya sambut dengan riang-gembira, segembira rakyat Afghanistan sendiri (BTW, sampai sekarang kalau mendengar nama 'Taliban' disebut-sebut, tensi saya masih suka mendadak naik), jatuhnya rezim Saddam sebenarnya merupakan hal yang saya tunggu-tunggu juga. Tapi cara-cara yang ditempuh Bush, si cowboy Texas itu, memang betul-betul memuakkan. Kayaknya bukan cuma saya yang bingung untuk berada di pihak mana, tapi secara pribadi saat ini saya putuskan untuk memihak rakyat Iraq saja deh.
Sementara itu, ada juga pihak yang mencoba mengarahkan opini bahwa ini adalah perang agama. Silly :). Soalnya, semua orang tahu kalau Saddam berasal dari partai Baath yang notabene berhaluan sosialis. Cuma kebetulan saja negara ini terletak di timur tengah yang gampang diasosiasikan dengan Islam. Kalau bukan di timur tengah, Iraq lebih cocok disejajarkan dengan negera-negara di Eropa Timur yang mayoritas juga berpaham sosialis.
Tapi kalau mau diukur, tingkat ketidaksukaan saya terhadap Taliban masih jauh lebih tinggi daripada terhadap rezim Saddam. Kenapa? Taliban dengan segala kebuasannya justeru membawa-bawa bendera Islam. Walaupun mengaku berhaluan Islam yang berlandaskan pada Al-Qur'an dan As-Sunnah, tapi keberadaan rezim ini malah membuat citra Islam coreng-moreng. Orang dengan mudah akan berkata "begitulah kalau Islam dijadikan dasar negara". Ironisnya, rezim ini juga menghasilkan banyak ahli bom yang luarbiasa mumpuni. Tidak kurang dari para Bali bomber itu juga merupakan alumnus Afghanistan (yeah, akhirnya saya menemukan alasan kenapa selama ini saya begitu membenci kelompok yang satu ini). Lantas kalau sekarang citra Islam terpuruk, dikatakan sebagai agamanya kaum teroris haus darah, kira-kira siapa yang patut dipersalahkan? Masih mending rezim Saddam, walaupun sama tidak warasnya dengan kaum Taliban, dia tidak menjalankan pemerintahannya sambil mengibar-ngibarkan bendera Islam.
Lantas kenapa saya lebih menyorot kebejatan sebagian kaum Muslim ketimbang kebiadaban segolongan kaum non-Muslim? Karena kita beda dengan mereka! Kita sholat lima kali sehari, dan selalu mengulang-ulang lafal basmalah: Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Lucu kalau sifat rahmaan dan rahiim itu tidak tertanam dalam sanubari kita. Lucu kalau kita masih juga menganggap bahwa Islam dapat ditegakkan dengan pedang dan kekerasan.
Sabtu 22 Maret 2003
Akhirnya ...
Tengat waktu itu akhirnya terlewati. Mesin-mesin perang mulai beraksi dan negeri seribu satu malam itu mulai menjelma menjadi padang Kurusetra. Do'a kita untuk rakyat Iraq, semoga Allah swt memberikan yang terbaik untuk mereka, bukan untuk Saddam, juga bukan untuk Bush.
"Musuh-musuh kita yang sebenarnya bukanlah negara tetangga yang manapun melainkan kelaparan, kedinginan, kemiskinan, ketidaktahuan, kebiasaan, tahayul, dan prasangka. Alih-alih bekerjasama untuk memerangi kemiskinan dan ketidaktahuan, orang-orang saling mendorong dan bersaing dalam semangat patriotik yang berlebih-lebihan dan buta, pertumpahan darah tanpa guna, serta kebuasan yang sungguh-sungguh ganas (dan) pada masa damai berusaha keras untuk menerapkan kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan demi seni pemusnahan."
-- Henry Dunant (1828-1910), pendiri gerakan Palang Merah.
-- Henry Dunant (1828-1910), pendiri gerakan Palang Merah.
Minggu 16 Maret 2003
Evolusi
Percayakah saya dengan teori evolusi? Entahlah. Saya agak 'gamang' untuk menjawab pertanyaan semacam ini. Mungkin saya termasuk yang belum bisa menerima bahwa Manusia adalah turunan kera, tapi saya juga termasuk yang meyakini kalau segala sesuatu yang di alam semesta tidaklah tercipta secara seketika.
Dari belajar astronomi secara amatir :), saya jadi menyadari bahwa dalam skala makro, jagad raya pun bukannya tercipta secara instan, muncul begitu saja dari ketiadaan. Dengan bantuan peralatan astronomi modern, manusia dapat melihat jutaan bintang yang terlahir, mengalami fase stabil hingga akhirnya memasuki proses kematiannya. Hal yang persis sama juga dialami Matahari kita dengan segenap anggota tata suryanya. Jelas alam raya ini terbentuk melalui sebuah proses.
Dalam skala yang lebih mikro, Bumi juga berevolusi. Planet Bumi yang kita kenal sekarang sangatlah berbeda dengan Bumi yang sama, jutaan bahkan milyaran tahun lalu. Adalah tidak mungkin bagi sebagian besar spesies yang kita kenal pada masa kini untuk hidup pada masa lalu, saat bumi masih relatif "muda".
Dalam tingkatan tertentu, proses evolusi mahluk hidup masih terus berlanjut. Kita dapat melihat bagaimana pil Kina tidak lagi merupakan obat yang paling manjur untuk 'menghabisi' virus penyebab malaria, dan bagaimana pemberian antibiotika secara serampangan oleh para dokter malahan memicu imunitas kuman, juga munculnya spesies-spesies hama yang lebih tahan terhadap insektisida. Semua proses ini berawal dari adanya seleksi alam yang tidak lain adalah inti dari teori evolusi itu sendiri.
Lantas bagaimana dengan teks dalam kitab suci (dalam hal ini Al-Qur'an)? Tentu saja kita tidak mungkin mengkoreksi isi Al-Qur'an agar lebih sesuai dengan kondisi jaman sebagaimana kita juga tidak bisa memaksakan jaman untuk menyesuaikan diri dengan isi Al-Qur'an. Solusinya, harus ada sesuatu yang menjembatani antara Al-Qur'an dengan perkembangan jaman.
"Jembatan" itu bernama tafsir. Apabila fakta sejarah maupun fakta sains ternyata tidak bersesuaian dengan apa yang secara tekstual tercantum dalam Al-Qur'an, maka disinilah tafsir berperan. Tafsir merupakan kajian kontekstual dari paparan di kitab suci. Kajian kontekstual ini dapat berubah dari jaman ke jaman sesuai dengan perkembangan pengetahuan umat manusia.
Kalau dalam Al-Qur'an tersurat bahwa alam semesta dan seisinya diciptakan dalam waktu enam hari, itu bukannya harus diartikan secara harfiah sebagaimana enam hari yang kita kenal sekarang, karena sains modern telah membuktikan bahwa alam semesta terbentuk melalui proses yang panjang dan memakan waktu hingga milyaran tahun. Begitu pula apabila kita meyakini bahwa Allah swt menciptakan Adam as dari tanah, atau Siti Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, maka inipun tidak dapat begitu saja dimaknai secara tekstual.
Apa artinya itu? Islam tidak mengkotak-kotakkan ilmu dunia dengan ilmu agama. Bahkan ayat Al-Qur'an yang pertama kali diturunkan berisi suatu anjuran yang sangat universal: Iqra' (bacalah!). Dalam pengertian yang sebenarnya, istilah "ulama" tidaklah selalu berarti mereka yang selalu bergelut dengan ilmu-ilmu agama. Ulama juga merujuk kepada mereka yang menguasai ilmu-ilmu seperti matematika, astronomi, atau kedokteran. Tapi belakangan makna istilah ini terdegradasi, hanya merujuk kepada mereka yang menguasai ilmu-ilmu agama, sementara mereka yang mempelajari ilmu-ilmu duniawi mendapat predikat yang lebih 'keren': ilmuwan.
Kasus pengkotak-kotakan seperti inilah yang akhirnya menghambat kemajuan bagi umat Islam sendiri. dalam hal yang berkaitan dengan agama, masyarakat lebih suka mengacu ulama sementara untuk urusan keduniaan, maka para ilmuwan yang dijadikan rujukan. Ketika kemudian ilmu agama dan ilmu dunia dituntut bersinergi--seperti dalam kasus penetapan kehalalan produk pangan atau penentuan awal bulan hijriyah--tinggallah masyarakat awam yang terperangkap dalam kebingungan!
Sabtu 15 Maret 2003
Antara Sains dan Agama
Pernah ada pengunjung situs ini yang menyarankan agar saya menulis soal sumbangan Islam dalam Astronomi. Tadinya sih saya berniat untuk menulisnya--dan kebetulan saya punya bahan tulisan untuk itu--tapi belakangan saya berubah pikiran dan memutuskan untuk tidak dan tidak akan pernah menulis hal-hal semacam itu disini.
Pikir saya, sebuah penemuan dalam bidang sains hendaknya dipandang sebagai sumbangan seorang (atau sekelompok) manusia kepada seluruh umat manusia, bukan sumbangan dari umat tertentu, atau bangsa tertentu. Okelah Islam pernah berjaya dalam bidang sains, tapi itu dulu. Saat ini umat Islam tertinggal di segala bidang. Bernostalgia mengenang kejayaan masa lalu bukanlah solusinya.
Apakah saya sekuler? Entahlah. Pandangan saya mungkin tidak sebebas (mereka yang menamakan dirinya) Islam liberal, tapi saya juga kurang cocok dengan pendekatan ala (mereka yang dilabeli sebagai) Islam garis keras (haruskah kita mengkotak-kotakkan Islam seperti ini?). Tapi yang jelas, saya termasuk yang beranggapan bahwa soal agama adalah masalah hati. Menonjolkan perilaku agamis boleh-boleh saja, tapi dalam sains, kita tidak berpatokan kepada "siapa", melainkan "apa", "mengapa", dan "bagaimana".
Bukan. Ini bukan berarti saya akan menerima fakta sains yang bertentangan dengan teks di kitab suci, bukan juga berarti saya akan berbangga apabila kebetulan ada fakta sains yang sesuai dengan teks kitab suci agama yang saya anut. Agama terlalu tinggi nilainya apabila hanya diukur dengan sains. Dulu saya pernah terkesan dengan bukunya Maurice Bucaille, tentang kesesuaian beberapa ayat Al Qur'an dengan fakta sains. Tapi toh fakta-fakta itu tidak membuat penulisnya menjadi seorang Muslim. Lantas apa gunanya? Lagipula, kalau kita menemukan fakta sains yang tidak sesuai dengan isi kitab suci, haruskah kita menjadi berpaling dari agama yang kita anut?
Yang saya khawatirkan, eksplorasi sains yang berbasis agama akan cenderung mencari pembenaran, bukan kebenaran. Ciri-ciri eksplorasi sains yang mencari pembenaran adalah cenderung kepada mencari-cari bukti yang sesuai atau yang berlawanan dengan sebuah teori (tergantung kepentingannya: menerima atau menolak) ketimbang menyelami teori itu sendiri secara objektif. Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada mereka yang menentang teori evolusi, alangkah baiknya apabila selain mengumpulkan dan mencari-cari bukti kelemahan teori itu, tolonglah diperhatikan kasus resistensi kuman terhadap antibiotika. Ini bentuk evolusi juga lho!
"Science without religion is lame, religion without science is blind."
-- Albert Einstein
-- Albert Einstein
Minggu 09 Maret 2003
Kawah Benturan Meteorit di Bumi
Kalau kita melihat foto-foto permukaan planet lain, khususnya planet bagian dalam, kita dapat dengan mudah mengenali keberadaan kawah-kawah bekas tumbukan meteorid. Bahkan permukaan Bulan, kita sudah tahu, penuh dengan kawah-kawah semacam ini. Anehnya, pemandangan semacam itu, justeru langka di Bumi kita. Apa penyebabnya?
Jawabannya sederhana saja. Dibandingkan planet lainnya, Bumi relatif memiliki peluang yang sama untuk menerima tumbukan meteorit. Namun Bumi terlindung oleh lapisan atmosfir sehingga kebanyakan meteorit yang menghantam bumi akan terbakar habis sebelum sempat sampai ke permukaannya. Disamping itu, sebagian besar permukaan Bumi terdiri dari lautan sehingga banyak meteorit yang berhasil menembus lapisan atmosfir akhirnya tercebur ke laut.
Alasan lainnya, mengapa kawah meteorid jarang ditemui di Bumi, adalah karena permukaan Bumi secara geologis lebih aktif daripada di planet lainnya. Akibatnya, kawah meteor yang ada dalam waktu yang tidak seberapa lama akan tertutupi oleh aktifitas-aktifitas geologis. Pengamatan melalui satelit membuktikan bahwa terdapat banyak kawah meteorit di Bumi yang tidak terlihat melalui pengamatan dari darat.
"Shoot for the moon. Even if you miss it you will land among the stars."
-- Les Brown
-- Les Brown
Sabtu 08 Maret 2003
Meteor (2)
Kita sudah mengetahui bahwa saat sebuah komet mendekati Matahari, ia akan mengalami penguapan karena semburan partikel partikel matahari (yang dikenal sebagai angin surya/solar wind). Partikel-partikel hasil penguapan yang berukuran cukup besar akan bergerak dalam lintasan komet asalnya. Bila orbit Bumi memotong orbit partikel-partikel tinggalan komet ini, maka kita di Bumi dapat melihat apa yang disebut sebagai hujan meteor (meteorid shower/meteor rain).
Hujan meteor biasanya nampak bersumber pada suatu titik di langit yang disebut radiant. Biasanya hujan meteor dinamai berdasarkan rasi bintang tempat radiantnya, misalnya hujan meteor Leonid yang radiantnya berada di sekitar rasi Leo (perhatikan: meteornya sendiri bukan berasal dari rasi Leo, tapi terlihat seolah-olah muncul dari satu titik di rasi tersebut).
Gugusan material tinggalan komet itu sifatnya berbeda-beda tergantung umurnya. Ada yang masih padat tetapi terkonsentrasi di sekitar inti komet sehingga hanya akan menyebabkan hujan meteor periodik, sesuai dengan waktu kehadiran komet mendekat bumi. Golongan ini diwakili oleh hujan meteor Draconids (pada awal Oktober) tahun 1933, 1946, dan 1985 yang disebabkan oleh komet Giacobini-Zinner.
Golongan ke dua adalah gugusan meteoroid tipis di sepanjang lintasannya, tetapi di dekat kometnya kerapatannya tinggi. Misalnya, gugusan meteoroid Leonids (penyebab hujan meteor 14-19 November) yang disebabkan oleh komet Tempel-Tuttle.
Golongan ke tiga adalah gugusan meteoroid yang tersebar merata di sepanjang lintasannya yang menyebabkan hujan meteor yang hampir seragam intensitasnya setiap tahun. Misalnya, hujan meteor Geminids (11-16 Desember) yang disebabkan oleh komet yang telah mati, asteroid Phaethon. Makin tua umurnya, gugusan meteoroid itu makin tipis dan akhirnya tidak menunjukkan lagi gejala hujan meteor.
Beberapa hujan meteor telah diidentifikasikan berkaitan dengan komet yang masih aktif, seperti hujan meteor Eta Aquarids (3-10 Mei) dan Perseids (7-15 Agustus) yang masing-masing disebabkan oleh komet Halley dan Swift-Tuttle. Beberapa lainnya dikaitkan dengan komet yang telah hancur, seperti hujan meteor Andromedids (5-23 November) dari debu komet Biela yang hancur sekitar 1860-an. Ada juga yang berasal dari komet yang telah mati, seperti hujan meteor Geminids yang diakibatkan oleh komet mati yang tinggal intinya berupa asteroid Phaethon. Dan beberapa hujan meteor lainnya yang belum diketahui komet-komet penyebabnya seperti hujan meteor Quadrantids 2 - 5 Januari.
Peristiwa hujan meteor ini sama sekali tidak berbahaya bagi Manusia. Partikel-partikel tinggalan komet itu ukurannya terlalu kecil sehingga akan habis terbakar sebelum sempat mencapai permukaan bumi. Walaupun demikian, kejadian ini bukannya tidak membawa risiko. Debu meteor walaupun ukurannya sangat kecil, umumnya dalam ukuran butiran pasir, namun dengan kecepatan tinggi sekitar 70 km/detik (252.000 km/jam) sangat berbahaya bagi satelit. Meteor Leonids merupakan meteor yang bergerak paling cepat bila dibandingkan kecepatan rata-rata hujan meteor lainnya yang hanya sekitar 30 km/detik (108.000 km/jam). Panel surya, detektor, dan perangkat elektronik peka lainnya pada satelit terancam oleh meteor Leonids ini.
Selain dampaknya pada satelit, masuknya meteor ke atmosfer bumi bisa menimbulkan ionisasi pada ketinggian 80-100 km. Lapisan ionosfer "dadakan" ini--yang dikenal sebagai lapisan E sporadis--dapat mengganggu komunikasi radio gelombang pendek. Adanya lapisan ion yang lebih rendah memungkinkan terjadinya gangguan pemantulan gelombang radio. Gangguan komunikasi ini disebabkan oleh hujaman meteor yang mencapai lapisan ionosfer bumi sehingga akan membuat lubang di lapisan tersebut. Sedangkan jalur komunikasi manusia sebagian besar menggunakan jalur FM yang menggunakan lapisan ionosfer sebagai pemantul gelombang radio. Adanya lubang pada lapisan ionosfer membuat gelombang radio yang telah dipancarkan tidak dapat dipantulkan kembali ke permukaan bumi. Gangguan radio ini akan normal kembali dalam beberapa jam seiring dengan menutupnya kembali lubang-lubang yang ada di lapisan ionosfer dengan sendirinya.
"The scientist does not study nature because it is useful; he studies it because he delights in it, and he delights in it because it is beautiful. If nature were not beautiful, it would not be worth knowing, and if nature were not worth knowing, life would not be worth living."
-- Jules Henri Poincaré (1854-1912)
-- Jules Henri Poincaré (1854-1912)
Senin 03 Maret 2003
Meteor (1)
Sebenernya udah lama saya berniat untuk menulis soal meteor, tapi gara-gara sekarang banyak orang yang tergila-gila dengan 'meteor' yang lain di TV, saya malahan jadi kehilangan selera untuk nulis soal ini. Bukan masalah jalan ceritanya sih (soalnya saya nggak ngikuti, jadi nggak bisa ngasih penilaian), tapi histeria terhadap para pemainnya--yang namanya mirip sebuah tombol fungsi di keyboard--itu betul-betul membikin saya mau muntah. :(
Balik ke soal meteor (meteor beneran, bukannya 'meteor' yang itu). Ini adalah istilah bagi sebuah fenomena yang biasa kita sebut sebagai "bintang beralih", berupa kilatan cahaya di langit yang berasal dari objek ruang angkasa yang terbakar saat memasuki atmosfir Bumi. Objeknya sendiri disebut sebagai meteorid. Berdasarkan ukurannya, kita mengenal dua jenis meteorid, yaitu mikrometeorid dan meteorid. Mikrometeorid hanya berukuran sepersepuluh cm hingga beberapa cm. Ia berasal dari debu lapisan komet yang menerima terpaan angin surya (solar wind). Mikrometeorid biasa ditemukan di berbagai tempat di Bumi, termasuk di kutub.
Partikel yang besarnya lebih dari 10 cm disebut meteorid. Diduga ia berasal dari asteroid yang bergerak terlalu dekat dengan Bumi hingga terpengaruh oleh gravitasinya dan akhirnya menembus atmosfer. Sebagian besar meteorid akan musnah terbakar dalam gesekan dengan atmosfer Bumi, namun apabila tidak habis terbakar, maka ia akan menghujam ke permukaan Bumi dengan kecepatan sekitar 100 km/dt. Apabila membentur permukaan tanah, meteorid jenis ini dapat menyebabkan sebuah lubang yang biasa disebut sebagai kawah meteorid.
Berdasarkan komposisinya, sebuah meteorid dapat dibagi menjadi tiga macam: yang hampir seluruhnya terdiri atas logam, yang terdiri dari batuan, dan yang terakhir adalah campuran batuan-logam. Meteorid logam umumnya memiliki komposisi yang didominasi oleh besi dan nikel, berwarna coklat dengan kerapatan yang tinggi. Apabila diteliti melalui mikroskop, struktur kristalnya menunjukkan kalau ia telah melewati proses pemanasan dan pendinginan dalam pembentukannya. Meteorid campuran besi dan batuan disebut lithosiderit, dan umumnya mengandung logam-logam seperti besi, alumunium, magnesium, dsb. Meteorid batuan banyak yang ditemui mengandung bahan yg disebut chondrule. Meteorit semacam ini disebut sebagai chondrite sedangkan yang tidak mengandung bahan ini disebut meteorid achondrite.
Chondrite--yang hanya ditemui dalam meteorid--masih belum diketahui asal-usulnya. Diantara semua chondrite, yang paling menarik perhatian adalah chondrite karbon yang banyak mengandung air, karbon, dan bahan-bahan seperti silikat dan logam. Hal yang membuatnya sangat menarik adalah adanya bahan-bahan organik seperti asam amino, hidrokarbon, dan lipida. Zat-zat organik ini terbentuk di dalam awan gas yang membentuk Matahari dan diduga merupakan bahan-bahan yang memungkinkan terjadinya suatu bentuk kehidupan. Meteorid jenis achondrite berasal dari kerak bagian luar asteroid, sementara meteorid logam berasal dari intinya, sedangkan meteorid campuran berasal dari perbatasan antara inti dan kerak.
Bagaimana caranya meteorid dapat sampai di Bumi? Para astronom menduga bahwa pada mulanya meteorid adalah bagian dari anggota sabuk asteroid yang kemudian mendapat gangguan dari gravitasi Jupiter sehingga akhrnya melenceng dari orbitnya dan kemudian memotong orbit planet Bumi.
Tulisan ini akan dilanjutkan dengan topik seputar meteorid shower atau yang populer disebut meteor rain alias hujan meteor. Tapi yang ini kita simpan untuk kesempatan berikutnya saja yah!
"My goal is simple. It is complete understanding of the universe, why it as it is and why it exists as all."
-- Stephen Hawking
-- Stephen Hawking
Minggu 02 Maret 2003
Upaya Menyatukan Kriteria Visibilitas Hilal
Menyambut tahun baru Hijriyah, 1424 H, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) membuat gebrakan dengan mencoba menyatukan berbagai kriteria visibilitas hilal yang dianut oleh ormas-ormas Islam di Indonesia lewat surat terbuka berikut. FYI, perbedaan kriteria inilah yang sering berujung pada pelaksanaan perayaan Hari Besar Islam yang berbeda antar ormas seperti sudah kita alami berkali-kali dalam dua tahun terakhir ini (awal puasa 1422 H, Idul Adha 1422 H, Idul Fitri 1423 H, Idul Adha 1423 H).
Walaupun ini membutuhkan upaya yang tidak ringan, tapi patut kita beri dukungan. Masih dengan spirit dari "pemeo" lama: Orang lain sudah sampai di bulan, masak kita masih ribut terus soal apakah bulan sudah kelihatan atau belum!
PUSAT PEMANFAATAN SAINS ANTARIKSA Jalan Dr. Djundjunan 133, Bandung 40173, Telepon 022 - 601 - 2602, Fax 022 - 601 - 4998 25 Februari 2003 Nomor : B/227/II/2003 Lampiran : Satu berkas Hal : Agenda 1424 H Mencari Titik Temu Kepada Yth. Pimpinan Ormas Islam Pelaksana Hisab Rukyat Di Indonesia Sebagai lembaga penelitian antariksa, Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa LAPAN Bandung telah memiliki komitmen dalamm visi dan misinya untuk memberikan layanan informasi keantariksaan bagi masyarakat, salah satunya dalam bentuk "Layanan Informasi Aplikasi Astronomi bagi Masyarakat". Masalah perbedaan penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha yang sering membingungkan masyarakat dan berpotensi meresahkan masyarakat merupakan salah satu masalah yang kami upayakan penyelesaiannya. Kami menyadari masalah perbedaan interpretasi hukum antara hisab dan rukyat, di luar kewenangan kami peneliti antariksa. Namun, dari analisis perkembangan dalam sepuluh tahun terakhir, kami menyimpulkan justru masalah perbedaan interpretasi hukum tersebut bukan lagi sumber pokok perbedaan, melainkan perbedaan kriteria visibilitas hilal atau imkanur rukyat. Kriteria imkanur rukyat sendiri sebenarnya merupakan titik temu antara penganut hisab dan penganut rukyat. Metode boleh berbeda, tetapi bila kriterianya sama, insya Allah keputusannya akan sama. Karena masalah kriteria lebih banyak masalah interpretasi astronomis (yang bisa berubah sejalan dengan perkembangan iptek) atas pemahaman "hilal", maka LAPAN Bandung bersama dengan lembaga-lembaga astronomi lainnya (Observatorium Bosscha, Departeman Astronomi ITB, dan Planetarium Jakarta) bersedia menjadi mediator dalam mengkaji ulang kriteria untuk mendapatkan kriteria baru yang bisa disepakati bersama oleh semua ormas Islam. Departemen Agama RI pun dalam pertemuan Badan Hisab Rukyat telah bersedia menjadi fasilitator mencari titik temu tersebut. Surat ini dimaksudkan untuk membangkitkan kesadaran bersama semua ormas Islam dan instansi-instansi terkait untuk bersedia mengkaji ulang kriteria yang telah ditetapkan demi mencapai titik temu nasional. Upaya kajian lintas ormas yang telah atau akan dilakukan oleh berbagai pihak yang peduli dengan masalah ini diharapkan bukan sekadar penyataan pribadi wakil ormas tetapi merupakan cerminan suara ormas. Artinya, suatu kesepakatan hendaknya bisa menjadi masukan bagi masing-masing ormas untuk ditindaklajuti. Sebagai masukkan awal, kami lampirkan dua tulisan (http://media.isnet.org/isnet/Djamal/, "Menyatukan Dua Idul Fitri" dan "Menyatukan Hari Besar Islam") untuk menjadi bahan kajian intern di masing-masing ormas. Apa pun pro-kontra yang terjadi diharapkan bisa didokumentasikan untuk menjadi bahan kajian bersama lintas ormas, baik yang akan difasilitasi oleh Depag RI maupun oleh instansi atau lembaga lainnya. Tinjauan astronomis yang jernih yang terlepas dari fanatisme pendapat sebelumnya, diharapkan akan mendapatkan titik temu kriteria visibilitas hilal atau imkanur rukyat yang baru yang dapat digunakan baik oleh kalangan hisab maupun rukyat. Tentunya kita semua tidak menutup mata dan telinga akan kehendak masyarakat awam untuk mendapatkan ketenangan dalam beribadah yang waktunya tidak membingungkan. Tentunya kita pun tidak menghendaki bila hanya masyarakat yang dituntut untuk bisa saling menghargai, sedangkan para tokoh ormasnya tetap bangga (sadar atau tak sadar) dengan keputusan organisasi yang telah diambil dalam muktamar atau rapat pimpinannya tanpa upaya untuk mencari titik temu. Menyambut tahun baru 1424 Hijriyah dengan tekad bersama mencari titik temu, kami berharap adanya keterbukaan semua ormas Islam untuk mengkaji ulang kritria penentuan awal bulan qamariyah. Kami siap memberikan masukan kepada semua ormas Islam. Atas perhatian dan kerja sama yang baik saya ucapkan terima kasih. Kepala Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN Bandung, Dr. T. Djamaluddin Tembusan disampaikan kepada Yth. Menteri Agama RI Yth. Kepala LAPAN Yth. Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan, LAPAN Yth. Direktur Bina Peradilan Agama, Depag RI Yth. Ketua Majelis Ulama Indonesia Yth. Kepala Observatoarium Bosscha Yth. Ketua Departemen Astronomi ITB Yth. Kepala Planetarium Jakarta Yth. Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa LAPAN Yth. Kepala Biro Humas dan Kerjasama Kedirgantaraan LAPAN Pers |