Refleksi: Juni 2003
Minggu 29 Juni 2003
Spica
Bagi yang suka dengan ramalan bintang, konon mereka yang lahir dibawah zodiak Virgo adalah orang-orang yang punya kepribadian yang tenang dan kalem. Well, kebetulan saya lahir dibawah pengaruh zodiak yang satu ini, tapi soal kepribadian ... no comment lah :). Memang (katanya) saya termasuk tenang, pendiam, dan kalem (apa iya?), tapi saya yakin ini cuma kebetulan saja, soalnya saya termasuk yang tidak percaya soal pengaruh zodiak terhadap kepribadian. Tapi kali ini kita tidak bicara soal ramalan bintang koq, tapi tentang salah satu bintang di rasi Virgo ini.
Walaupun merupakan salah satu rasi yang cukup besar, Virgo (perawan euy!) sebenarnya bukan termasuk rasi yang memiliki pola yang menonjol. Karenanya, ia termasuk rasi yang rada susah untuk dikenali, apalagi oleh mata yang belum terbiasa. Satu-satunya ciri yang menonjol dari rasi yang satu ini adalah bintang utamanya yang bernama Spica. Bintang inilah yang akan menjadi bahan obrolan kita kali ini.
Spica biasanya terlihat sebagai sebuah bintang yang kelihatan menonjol di arah tenggara saat musim semi di belahan bumi utara. Ia dengan mudah dapat dikenali dengan mengikuti pola yang dibentuk oleh ujung rasi Ursa Maior (beruang besar) hingga melewati bintang Arcturus di rasi Bootes. Posisinya kira-kira 10 derajat di selatan katulistiwa langit, tepat di daerah ekliptika, jalur perlintasan Matahari. Karena posisinya ini, maka pada waktu-waktu tertentu Spica akan tertutupi oleh Bulan. Matahari melintasi Spica setiap musim gugur dan menandai saat panen gandum. Dari situlah namanya berasal, yaitu dari bahasa latin yang artinya "pucuk gandum".
Spica tergolong bintang yang sangat cemerlang. Dengan jarak sejauh 260 tahun cahaya dari Bumi, ia memiliki magnitudo sebesar 1. Cahayanya 2100 kali lebih cemerlang dari Matahari. Walaupun kelihatan seolah-olah merupakan sebuah bintang tunggal, tapi Spica sebenarnya merupakan sistem bintang ganda yang terdiri dari dua bintang yang saling mengorbit dalam periode empat hari pada jarak yang sangat dekat. Keduanya berwarna biru dan tergolong sebagai bintang yang cukup panas dengan temperatur diatas 20.000°K. Setidaknya salah satu diantaranya adalah bintang raksasa yang sedang memasuki proses kematiannya. Ada indikasi bahwa sistem bintang ganda Spica sebenarnya memiliki dua anggota lainnya yang lebih redup. Selain itu, bintang ini juga diketahui sebagai sumber radiasi sinar X yang cukup kuat.
Sabtu 28 Juni 2003
Kerdil Coklat
Pernah dengar tentang bintang kerdil coklat (brown-dwarf stars)? Kalau belum sih, wajar saja. Soalnya objek ini termasuk baru dikenal, jadi kemungkinan masih belum disebut-sebut dalam literatur astronomi lama.
Memangnya apa istimewanya objek yang satu ini? Bintang tipe kerdil coklat sebenarnya adalah sebuah calon bintang (protostar) yang gagal terbentuk menjadi bintang akibat tidak memiliki cukup masssa untuk membentuk reaksi nuklir yang menyebabkan ia dapat bersinar sebagaimana bintang lainnya pada fase stabil. Untuk mencapai tahapan ini, maka sebuah objek harus memiliki massa setidaknya 80 kali massa Jupiter. Massa sebesar ini akan menciptakan tekanan gravitasi yang cukup untuk membentuk reaksi fusi untuk mengubah inti hidrogen menjadi helium sebagai sumber energinya.
Keberadaan bintang tipe ini sebenarnya sudah lama menjadi hipotesis dikalangan para astronom, namun bukti keberadaannya baru ditemukan sekitar tahun 1995, ketika para astronom meneliti sebuah objek dekat bintang Gliese 229, sebuah bintang redup berjarak sekitar 19 tahun cahaya. Objek tersebut pertama kali ditemukan oleh para astronom di observatorium Mount Palomar, California dan kemudian dikonfirmasikan oleh gambar hasil "jepretan" teleskop antariksa Hubble. Namun bukti paling kuat diajukan oleh para astronom di California Institute of Technology dan Johns Hopkins University yang berhasil mengidentifikasi adanya metana dalam objek--yang kemudian dinamai sebagai GL229B--tersebut. Tidak ada bintang yang mengandung metana, karena keberadaan materi ini pada sebuah objek biasanya menunjukkan bahwa objek tersebut memiliki suhu yang rendah.
Objek yang ditemukan ini 250.000 kali lebih redup dari Matahari kita, dengan ukuran relatif sama dengan Jupiter namun dengan massa 20 hingga 50 kali lebih masif. Pengukuran oleh para astronom menunjukkan bahwa ia hanya memiliki temperatur sekitar 1.300 derajat (sayang, sumber saya tidak menyebutkan secara spesifik satuannya, tapi saya asumsikan sebagai derajat Kelvin, karena satuan ini yang paling sering dipakai dalam Astronomi), sangat dingin bila dibandingkan dengan temperatur permukaan Matahari yang mencapai antara 7000 hingga 8000 derajat.
Penemuan atas objek ini menjadi penting dari sisi kosmologi/astrofisika berkenaan dengan apa yang disebut "massa yang hilang" (missing mass). Berbagai teori dan hasil observasi menunjukkan bahwa kita hanya mampu mengenali sekitar 10% dari massa yang membentuk kosmos. Lantas kemana 90% yang lainnya? Salah satu teori menyebutkan bahwa massa yang 90% itu terkumpul dalam bentuk bintang kerdil coklat. Jadi, penemuan sejumlah bintang tipe ini, berapapun banyaknya, dapat membantu mengkonfirmasikan kebenaran teori ini, dan akan menjadi sumbangan yang sangat berarti bagi pemahaman Manusia terhadap kosmos.
Minggu 22 Juni 2003
Antara "Bebas" dengan "Gratis"
Dalam dunia software, istilah "perangkat lunak bebas" sebenarnya lebih disukai ketimbang "perangkat lunak gratis". Alasannya, istilah "gratis" biasanya hanya mengacu pada harga, bukannya kebebasan. Kebebasan dalam hal ini meliputi kebebasan untuk menjalankan suatu program untuk tujuan apa saja, kebebasan untuk mempelajari bagaimana program itu bekerja serta dapat disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya (dimana dalam hal ini akses pada kode program merupakan suatu prasyarat), kebebasan untuk menyebarluaskan kembali hasil salinan program tersebut sehingga dapat membantu sesama pengguna, dan yang terakhir adalah kebebasan untuk meningkatkan kinerja program, dan dapat menyebarkannya ke khalayak umum sehingga semua menikmati keuntungannya. Lebih lengkap soal software bebas bisa dibaca di halaman web ini (dalam bahasa Indonesia).
Kalau begitu, apakah shareware dan freeware berbasis Windows itu juga bisa digolongkan sebagai perangkat lunak bebas? Jawabnya sih: jelas tidak! Para pembuat shareware sebenarnya sama sekali tidak berniat untuk menggratiskan softwarenya. Mereka cuma memberi kesempatan kepada user untuk mencoba selama periode tertentu untuk kemudian memutuskan apakah akan membeli versi komersialnya atau sama sekali tidak menggunakan program tersebut. Sementara itu, para pembuat freeware memang menggratiskan program buatannya, tapi mereka rata-rata tidak menyediakan source code, yang berarti mereka tidak menyediakan akses bagi penggunanya untuk melakukan modifikasi terhadap program untuk menyesuaikan dengan kebutuhannya. Ini jelas bertentangan dengan prinsip perangkat lunak bebas yang sudah kita bahas barusan.
Contoh yang relevan dengan perangkat lunak bebas adalah proyek GNU (dilafalkan sebagai "gen-yu", akronim rekursif dari GNU is Not Unix). Proyek ini telah dimulai sejak tahun 1984 dengan tujuan untuk mengembangkan sebuah sistem operasi lengkap mirip Unix berbasis perangkat lunak bebas. Proyek GNU bernaung dibawah Free Software Foundation (FSF) sebagai organisasi utamanya. FSF merupakan sebuah organisasi nirlaba yang memiliki misi untuk menciptakan Perangkat Lunak Bebas dalam artian bebas untuk digunakan, dipelajari, disalin, diubah, dan diedarkan, serta untuk membela hak para pengguna perangkat lunak bebas.
Sebagaimana FreeBSD yang merupakan pengembangan dari keluarga Unix BSD, maka OS Linux yang populer itu sebenarnya merupakan turunan yang paling populer dari GNU. Linux Torvalds menciptakan Linux sebagai sebuah kernel dari GNU. Karenanya, walaupun sistem buatannya ini sering dirujuk sebagai "Linux" saja, sebetulnya ia lebih tepat jika disebut sebagai sistem GNU/Linux.
Sabtu 21 Juni 2003
Yang Paling Dicari
Bagian mana di situs ini yang mencatat angka kunjungan terbesar? Selain weblog ini, bagian yang paling sering dikunjungi adalah halaman Modul Pengenalan Internet. Sepanjang bulan ini saja, versi PDF-nya tercatat telah didownload sebanyak 448 kali. Selain itu, halaman-halaman glossary, baik dari Astronomi, Teknologi Informasi, maupun Internet juga termasuk yang laris dikunjungi.
Di sisi lain, informasi yang paling banyak dicari, justru masih berkisar soal carding. Rupanya sepotong ulasan tentang aksi carding yang saya tulis bulan Oktober tahun lalu (menjelang meledaknya Bom Bali) mampu memancing orang-orang yang berpikiran kotor untuk berkunjung ke situs ini. Selain itu, tercatat juga search string seperti "asteroid", "teknologi mikroprosesor", "artikel virus komputer", hingga "perkembangan Windows". Sementara itu, search engine internal kita mencatat entry-entry semacam "Visual Basic", "efek Doppler", "Bosscha", "Voyager", sampai "set instruksi pada Pentium".
Ganti Tampilan
Perlu penyegaran? Kayaknya kita memang perlu menciptakan suasana baru di sini. Kali ini situs ini tampil dengan layout yang baru. Menu utama yang tadinya disusun berjejer di sebelah kiri layar kini dipindah ke bagian atas. Dengan demikian kita bisa memanfaatkan layar secara lebih efisien dengan menciptakan ruang yang lebih luas untuk content. Juga ada pembaruan untuk beberapa komponen grafis.
Tampilan kali ini sebenarnya lebih sederhana dari tampilan yang lama. Bagi yang suka dengan tampilan halaman web yang meriah, mungkin web ini nggak bakalan masuk hitungan. Tapi biarin lah! Toh soal tampilan bukan hal yang pokok. Sampai sekarang fokus kita masih di content. Persoalan tampilan, itu sih soal sekunder saja.
Minggu 15 Juni 2003
FreeBSD
Kalau ada pertanyaan soal OS varian Unix yang tersedia gratis, hampir pasti jawabannya adalah Linux. Linux memang populer sebagai sistem operasi kompatibel Unix yang dapat diperoleh secara gratis. Padahal, dalam hal ini Linux sebenarnya bukalah satu-satunya karena masih ada FreeBSD.
Apa itu FreeBSD? Untuk itu, kita perlu menengok kembali ke tahun 1969. Cikal bakal Unix dikembangkan di tahun ini, ditulis dalam bahasa Assembly oleh Ken Thompson dan Dennis Ritchie. Tadinya OS ini dinamai UNICS, singkatan dari (Uniplexed Information and Computer System), akan tetapi atas usul dari Brian Kernighan, namanya dirubah menjadi Unix. Tahun 1973, dengan alasan portabilitas, Unix ditulis ulang dalam bahasa C. Selanjutnya, perusahaan AT&T (yang lab-nya, Bell, dipakai untuk mengembangkan Unix oleh Dennis Ritchie) memberikan source code Unix kepada instalasi pendidikan dan pemerintahan untuk lebih mengembangkan penggunaannya.
Pada 1984, AT&T mulai memasarkan Unix dalam versi-versi baru dengan nama semacam System III, System V, dll. Pada saat yang sama, Ken Thompson, salah seorang pengembang Unix pindah ke UCB (University of California at Berkeley) dan mulai membuat modifikasi untuk Unix. Versi Berkeley buatan CSRG (Computer Systems Research Group) ini kemudian dinamai seperti 2BSD, 3BSD, dll. BSD adalah singkatan dari Berkeley Software Distribution.
Istilah Unix kini telah menjadi nama sebuah keluarga yang terdiri dari puluhan sistem operasi. Dewasa ini, pada dasarnya terdapat dua cabang keluarga Unix yang utama, yaitu keluarga System V buatan AT&T dan keluarga BSD. Sebuah pengembangan dari Unix BSD yaitu 4.4 BSD-Lite yang dikembangkan untuk plattform PC compatible inilah yang kemudian dikenal sebagai FreeBSD, yaitu versi gratis dari Unix BSD.
Berbeda dengan Linux yang dibuat secara "keroyokan" oleh para programmer di seluruh dunia, FreeBSD dikembangkan oleh sebuah tim yang terbagi atas tiga kelompok besar, masing-masing adalah FreeBSD Core Team, FreeBSD Developers, dan FreeBSD Documentation Project. FreeBSD Core Team bertindak sebagai semacam "dewan direksi" dari proyek FreeBSD. Tim ini bertanggung jawab untuk menentukan tujuan-tujuan proyek secara keseluruhan serta aturan pelaksanaannya. Tim kedua, FreeBSD Developers, bertanggung jawab terhadap tugas teknis dalam pembuatan FreeBSD, sementara FreBSD Documentation Team menangani tugas-tugas yang berkenaan dengan pendokumentasian proyek, pembuatan manual, FAQ, dan sebagainya.
Saat ini FreeBSD banyak dipercaya sebagai OS untuk server yang menangani beban yang cukup tinggi. Tercatat beberapa situs internet tersibuk di dunia, seperti Yahoo.com, Hotmail.com, dan ftp.cdrom.com menggunakan FreeBSD sebagai sistem operasi bagi servernya. Sementara itu, di Indonesia FreeBSD menjadi tulang punggung dari jaringan AI3 (Asian Internet Interconnection Initiative). Jaringan yang di Indonesia berpusat di ITB ini bertujuan untuk menghubungkan perguruan tinggi serta lembaga pendidikan maupun riset di Indonesia ke jaringan internet melalui gateway internet AI3 di ITB.
Lantas mana yang lebih baik, Linux atau FreeBSD? Jawaban untuk ini mungkin subjektif tergantung dari kebutuhan tiap-tiap orang. Dari segi penggunaan, walaupun sama-sama dikembangkan sebagai OS untuk server, tapi Linux juga banyak dipakai untuk keperluan personal untuk menjalankan aplikasi-aplikasi standar seperti pengolah kata, spreadsheet, database, dan sebagainya. Ini bukan berarti FreeBSD tidak bisa dipakai untuk keperluan itu, tapi aplikasinya memang tidak seluas Linux.
Disamping itu, Linux bersifat Open Source dan dikembangkan oleh komunitasnya sendiri, sedangkan FreeBSD dikembangkan oleh sebuah perusahaan yang meskipun juga menyediakan source code tapi hanya untuk kalangan terbatas. Karena Linux dikembangkan secara bersama-sama oleh para programmer dari seluruh dunia, maka patch dan update kernel untuk Linux juga teredia jauh lebih cepat ketimbang patch dan kernel untuk FreeBSD.
"Unix is simple, but it takes a genius to understand the simplicity."
-- Dennis Ritchie
-- Dennis Ritchie
Sabtu 14 Juni 2003
Milis
Bicara soal milis, ini mungkin merupakan salah satu layanan internet 'favorit' orang Indonesia, bahkan sejak internet mulai masuk ke negeri ini (sekitar 1994 lewat ISP IndoInternet) milis sudah dilirik sebagai sumber informasi alternatif. Kita mungkin masih ingat dengan hiruk-pikuk politik menjelang dan sesudah "reformasi". Saat itu, yang namanya milis nyaris identik dengan debat kusir urusan politik. Memang ada segelintir milis yang membahas hal-hal yang lebih berfaedah seperti milis Pau-Mikro (sejak 1992) dan milis Dokter Indonesia (sejak 1996), tapi popularitasnya kalah jauh dengan milis politik.
Satu milis paling terkenal di era itu adalah milis yang disebut Indonesia-L yang waktu itu masih menggunakan alamat apakabar[at]clark.net. Karena accountnya itu, maka milis ini juga populer dengan nama Apakabar. Pada jamannya, milis yang dimoderatori oleh John McDougall ini terkenal sebagai milis yang cukup aktif sebagai corong kaum oposan. Disinilah tempatnya para aktifis Indonesia bebas menumpahkan segala macam uneg-uneg, maupun keluh kesah sampai makian tentang pemerintah kita kala itu.
Selain Indonesia-L, sebenarnya masih ada puluhan milis politik lainnya, termasuk yang sedianya bukan ditujukan untuk diskusi politik tapi penuh dengan posting-posting soal politik. Ada juga Newsgroup, macam soc.culture.indonesia. Isinya idem ditto: full politik! Soal yang satu ini, banyak pihak yang berpendapat bahwa milis punya peranan cukup besar dalam gerakan Reformasi yang berhasil menjungkirkan penguasa kala itu.
Tapi akhirnya 'survey membuktikan' kalau politik ternyata menjemukan juga. Apalagi ternyata reformasi yang digembar-gemborkan itu tidak menghasilkan apa-apa selain persoalan yang makin menggunung. So, milis politik mulai dijauhi. Beberapa milis mulai sepi dan akhirya gulung tikar, termasuk diantaranya milis Apakabar yang dalam beberapa tahun belakangan tidak pernah kedengaran kabarnya lagi.
Tapi bukan berarti orang Indonesia lantas kapok bermilis-ria. Apalagi sejak munculnya layanan milis gratisan seperti eGroups (sekarang YahooGroups). Hal ini bisa dilihat dari banyaknya milis berbasis Indonesia yang menggunakan layanan semacam ini. Topik yang dibahas juga makin variatif. Mulai dari alumni suatu sekolah, penggemar aliran musik tertentu, fans klub sepakbola, sampai "materi dewasa" bisa ditemui wadahnya yang berupa milis. Maraknya milis berbasis Indonesia juga tidak lepas dari meluasnya akses internet di negeri ini sehingga makin banyak orang yang mampu melanggan atau mendapatkan akses internet, baik di kantor, kampus, maupun lewat warnet.
Tapi sayangnya (lagi), ditengarai dengan makin banyaknya pengguna milis membuat mutu diskusi di banyak milis cenderung kian menurun. Banyak keluhan seputar milis yang dulunya banyak berisi diskusi maupun informasi yang bermanfaat, kini hanya menjadi ajang debat kusir maupun obrolan remeh yang tidak karuan juntrungannya. Soal lain yang juga kerap memusingkan para admin milis adalah mengontrol identitas anggotanya. Dulu, saat internet masih menjadi barang mewah yang eksklusif, mendapatkan account email tidaklah gampang. Karena itu, setiap user email akan berusaha untuk menggunakan accountnya secara lebih bertanggung jawab. Sebaliknya, sekarang dengan jutaan email gratisan yang tersedia, tidak sulit bagi seseorang untuk gonta-ganti email sesukanya. Karenanya, di banyak milis kita bisa menemui pengacau yang menggunakan taktik 'hit and run', melempar isu panas dan kemudian meninggalkan milis setelah diskusi berubah menjadi 'flame war'.
Ancaman lain datang dari para spammer. Selain mengirimkan spam ke sebuah milis, "mahluk" yang satu ini suka memanfaatkan milis untuk mengumpulkan alamat email para anggota (baca: calon mangsa). Belakangan, ulah para spammer ini membuat popularitas milis agak merosot. Banyak admin milis mengantisipasi hal ini dengan menetapkan prosedur pendaftaran anggota yang ketat atau mengeset milisnya menjadi milis termoderasi.
"Discussion is an exchange of knowledge; argument an exchange of ignorance."
-- Robert Quillen
-- Robert Quillen
Senin 09 Juni 2003
Isnet (2)
Kegiatan Isnet sebenarnya tidaklah melulu berkisar pada diskusi di milis. Walaupun berstatus sebagai sebuah komunitas cyber, Isnet sebenarnya juga banyak mewadahi kegiatan yang bersifat nyata melalui komite-komite kerja yang dibentuk. Ambil contoh Komite Beasiswa yang merupakan organisasi berbadan hukum resmi (terdaftar di negara bagian Delaware, USA) yang menyalurkan beasiswa kepada sejumlah anak-anak dari keluarga kurang mampu yang terancam putus sekolah. Demikian pula Komite Zakat, Infaq, dan Shadaqah (KZIS) yang menyediakan layanan penyaluran ZIS dari masyarakat Indonesia di manca negara ke pihak-pihak yang berhak menerimanya di Indonesia. Juga Komite Buku Isnet (KBI) yang berkomitmen untuk menyediakan buku-buku yang didapat dari sumbangan para donatur untuk lembaga pendidikan Islam yang membutuhkan. Tidak kurang pula kegiatan yang bersifat offline, misalnya pengoperasian sebuah klinik layanan kesehatan yang berlokasi di Bantul, Yogyakarta.
Sementara itu, layanan online Isnet lebih banyak bertumpu pada dua komite kerja, masing-masing Komite Media dan Komite Tarbiyah dan Pengembangan Diskusi Isnet (KTPDI). Komite Media bergerak untuk mendokumentasikan referensi keislaman melalui penyediaan kepustakaan elektronik di internet, sedangkan penanganan milis-milis dan layanan konsultasi keislaman, termasuk pengarsipannya, menjadi tanggung jawab KTPDI. Untuk dukungan teknis, termasuk penanganan server dan milis, komite-komite kerja ini dibantu oleh Komite Administrasi dan Teknis Isnet (KATI)
Banyak hal yang bisa dipelajari dari pengoperasian cyber community semacam Isnet. Yang nomor satu, tentulah soal biaya. Operasional Isnet memerlukan dana yang sangat besar, terutama untuk hardware serta operasional server. Penggunaan sistem berbasis Linux dapat menghemat ongkos untuk software. Begitu pula untuk SDM yang semuanya terdiri atas para sukarelawan. Koneksi internet hingga saat ini masih menggunakan jaringan milik berbagai universitas di Amerika Serikat yang walaupun gratis tapi harus siap dipindah sewaktu-waktu.
Tidak sedikit kendala yang dihadapi dalam menjalankan layanan-layanan Isnet. Diskusi di milis-milis umum di Isnet terkenal ramai. Sering terjadi flame war yang dibumbui aneka ungkapan yang terdengar 'pedas'. Moderator perlu bekerja ekstra keras untuk merespon setiap situasi yang terjadi. Menjadi moderator milis-milis Isnet merupakan pekerjaan yang selain menyita waktu juga menguras tenaga dan pikiran. Tidak heran apabila hanya sedikit orang yang sanggup berlama-lama duduk di 'kursi panas' sebagai moderator di milis Isnet. pengalaman kurang menyenangkan juga pernah dialami volunteer dari KZIS. Pasca peristiwa Bom Bali (Oktober 2002), komite ini dituding sebagai penyalur dana untuk teroris (!). Akibatnya, beberapa aktifisnya di manca negara (Prancis dan Jerman) sempat 'diciduk' oleh polisi setempat untuk menjalani interogasi berkaitan dengan aktifitas mereka di komite ini.
Materi diskusi di milis maupun di website yang sering kurang berkenan bagi sebagian orang juga membuat sistem Isnet rawan terhadap serangan cracker. Tidak terhitung banyaknya 'serangan' yang pernah menimpa server Isnet. Boleh dibilang kalau 'sekedar' portscanning, ibaratnya sudah makanan sehari-hari. Alhamdulillah, hingga saat ini, server Isnet masih belum pernah 'kebobolan'. Untuk yang ini, kita perlu angkat topi buat para pengawal server yang berpangkalan di KATI.
Minggu 08 Juni 2003
Isnet (1)
Salah satu aplikasi email yang sering dimanfaatkan adalah milis (mailing list). Milis sendiri sebenarnya bukan hal yang betul-betul baru. Di era jaringan pra-internet, forum diskusi yang mirip dengan milis yang kita kenal dewasa ini juga sudah dikenal, baik melalui jaringan komputer lokal di perguruan tinggi maupun via BBS (Bulletin Board System). Seperti yang dikisahkan di situs web http://rms46.vlsm.org/1/24.html, email dan jaringan diskusi online telah dimanfaatkan jauh sebelum internet mewabah.
Di akhir dasawarsa 80-an, banyak perguruan tinggi di Amerika Serikat yang telah terhubung dalam jaringan online. Kondisi ini memungkinkan para mahasiswa di negara tersebut untuk saling berkirim email dan kemudian membentuk kelompok-kelompok diskusi semacam milis. Kemudahan ini juga dimanfaatkan oleh para mahasiswa Indonesia yang kala itu juga sedang menuntut ilmu di negara tersebut. Tidak jelas, siapa yang pertama kali membangun milis berbasis Indonesia, namun diantara sekian milis berbasis Indonesia di era itu, ada satu diantaranya yang cukup populer yaitu milis bernama "Janus" yang beralamat di indonesia[at]janus.berkley.edu.
Diskusi di milis ini tidak dibatasi pada topik tertentu, dan karenanya setiap pesertanya bisa mendiskusikan apa saja secara bebas. Beberapa mahasiswa Indonesia memanfaatkan milis ini untuk mengirimkan artikel dan diskusi keagamaan. Rupanya banyak peserta milis yang berkeberatan dengan topik yang satu ini sehingga kemudian kelompok diskusi keagamaan membentuk milisnya sendiri. Dari sinilah awal mula terbentuknya milis Isnet (Islam) dan ParokiNet (Katolik). Kini walaupun milis Janus sendiri sudah tidak berjalan lagi, tetapi Isnet dan ParokiNet masih tetap eksis dan mejadi salah satu milis tertua di Indonesia yang masih aktif. Catatan kali ini akan menyorot secara khusus seputar Isnet dan kegiatannya, yang selama ini sering sepintas disinggung dalam catatan-catatan sebelumnya.
Milis Isnet (The Islamic Network) sendiri berawal pada bulan Oktober 1989 melalui server milik Indiana University di Bloomington, dengan nama islamic[at]iuvax.cs.indiana.edu yang dimaintain oleh Tri Djoko Wayhono. Tidak lama kemudian, mailing list dipindah ke University of Wisconsin, Madison, dengan nama is-lam[at]vms.macc.wisc.edu dengan maintainer Bachtiar Muin. Sejak 1992, Isnet telah beroperasi dengan servernya sendiri, diawali dengan servernya yang pertama, sebuah Sun SPARClassic II yang dibeli dari hasil fundraising. Server ini ditempatkan di Lab. Electronic Engineering, University of Manitoba, Winnipeg, Canada di bawah pengawasan Budi Rahardjo, masih dengan domain isnet.ee.umanitoba.ca. Domain isnet.org sendiri baru mulai didaftarkan untuk server ini pada bulan Mei 1994.
Dalam perjalanannya, Isnet pernah mengoperasikan server lain, sebuah Sun Sparc yang dibeli sekitar bulan Oktober 1995 dengan dana sumbangan seorang donatur. Server ini semula ditempatkan di Lowell lalu ke Newton, dekat Boston, Massachussets, dan dimanfaatkan untuk chatroom dan layanan webhosting, beroperasi dengan domain iscom.com. ISCOM sendiri adalah singkatan dari Isnet Communication and Computing Services. Sever ini sempat digunakan sebagai backup untuk milis-milis Isnet saat server utama (SparClassic) mengalami crash pada Juni 1997. Sayangnya, biaya operasional yang tinggi akhirnya menghentikan penggunaannya sekitar tahun 1998.
Sementara itu, karena server berbasis Sun dinilai terlalu complicated dan mahal, maka diputuskan untuk menggunakan server berbasis Intel Pentium Pro untuk menggantikan SparClassic yang tidak berhasil diperbaiki. Server baru ini beroperasi sejak Oktober 1997 dan ditempatkan di Lab. Geofisika Purdue University, di bawah pengawasan Bogie Soedjatmiko. Untuk sistem operasinya, dipilihlah Debian Linux dengan pertimbangan utama pada penghematan biaya ketimbang memakai software komersial yang mahal. Kini Isnet beroperasi dengan sebuah server berbasis Pentium III dengan RAM setengah gigabyte yang ditempatkan di jaringan milik University of Illinoiss at Urbana Champaign (UIUC) dibawah pengawasan Ranti Yunus. Server ini beroperasi sejak November 2001 menggantikan server Pentium Pro yang dirasa sudah tidak lagi memadai.
Sabtu 07 Juni 2003
Scam dan Surat Berantai
Selain oleh spam, 'bursa' junk mail di internet juga diramaikan oleh mail scam dan surat berantai (chain letters). Kedua jenis mail ini sebenarnya hanyalah perpanjangan dari aksi-aksi serupa yang telah berlangsung melalui media surat-menyurat konvensional maupun faksimili jauh sebelum internet mewabah.
Mail scam atau mail tipuan biasanya menawarkan kepada penerimanya untuk mendapatkan sejumlah besar uang, baik dengan motif seolah-olah memenangkan sebuah undian berhadiah atau imbalan untuk sebuah 'pertolongan'. Salah satu scam yang cukup populer adalah apa yang dikenal sebagai West African Fraud/Nigerian Advance Fee Fraud.
Scam semacam ini biasanya 'bermain' dengan menawarkan sebuah 'bisnis rahasia' yang melibatkan uang haram berjumlah sangat besar. Ada beberapa varian dari scam ini, namun intinya tetap saja sama. Si pengirim scam biasanya mengaku sebagai orang yang memiliki sejumlah besar uang yang perlu ditransfer secara aman ke luar negeri. Untuk itu, ia memerlukan seorang partner--dalam hal ini adalah penerima scam--yang bisa bekerjasama dengan imbalan fee sebesar sekian persen dari uang yang ditransfer (tentu jumlahnya sangat menggiurkan).
Namanya juga penipuan, tentu saja kisah-kisah semacam itu adalah fiktif belaka. Bagi calon korban yang percaya, maka siap-siaplah untuk masuk perangkap yang sengaja dipasang oleh si scammer (pengirim email scam). Mungkin sudah sifat manusia yang apabila merasa mendapat 'rejeki nomplok' lantas jadi kurang rasional. Akibatnya sampai saat ini, tidak sedikit korban yang sudah berjatuhan karena termakan' oleh scam semacam ini.
Lain lagi dengan email berantai. Dibanding scam, motif email berantai lebih beragam, tidak melulu soal uang. Isi email berantai sebenarnya tipuan juga, tapi dikemas seolah-olah merupakan informasi penting yang harus disebarkan ke sebanyak mungkin orang. Email semacam ini gampang dikenali karena selalu menyertakan pesan supaya penerimanya meneruskan (forward) ke sebanyak mungkin alamat email yang dikenalnya.
Banyak email berantai mengeksploitasi rasa kemanusiaan penerimanya, misalnya dengan mengaku memiliki sanak saudara yang membutuhkan donor organ tertentu. Mungkin kasus dalam mail ini memang otentik, tapi mengingat mail ini sudah beredar dari tangan-ke-tangan dalam waktu entah berapa lama, kita perlu tetap bersikap rasional. Ada baiknya sebelum meneruskan rantai peredaran mail tersebut dilakukan klarifikasi ke pengirim awalnya, siapa tahu isinya sudah 'basi'.
Kasus lain yang cukup terkenal adalah email yang mengaku berasal dari sebuah produsen ponsel terkenal yang berbasis di Swedia [hmmm ... ;)] yang menawarkan ponsel gratis apabila bisa menyebarkan email tersebut ke sekian puluh orang dan mengirim CC ke sebuah account email di server perusahaan tersebut (yang sebenarnya fiktif). Mail ini jelas tipuan. Motifnya kemungkinan adalah sabotase. Bisa dibayangkan akibatnya apabila mailserver perusahaan ponsel ini sampai diserbu oleh mail dari jutaan orang dari seluruh dunia yang semuanya berharap mendapat ponsel gratis hanya dengan meyebar email berantai.
Sering juga ditemui email berantai yang sebenarnya hanya merupakan perpanjangan dari surat berantai konvensional yang sudah menyebar sejak puluhan tahun lalu. Salah satu contoh adalah surat yang pertama kali dikirim oleh seseorang yang mengaku penjaga makam Rasulullah saw di Madinah. Surat ini sebenarnya sudah menyebar entah sejak kapan melalui pos, namun belakangan ini juga diketahui menyebar lewat email. Surat ini sebenarnya berisi nasihat, namun ditutup dengan ancaman untuk menyebarkan ke sekian puluh orang atau si penerima akan mendapat nasib buruk. Untuk yang satu ini, teman-teman di komite Media Isnet telah mendokumentasikan klarifikasinya.
Satu pelajaran yang bisa kita petik dari keberadaan scam maupun chain email ini adalah perlunya kehati-hatian saat menerima email dari pengirim yang tidak dikenal atau yang mengobral 'janji-janji surga'. Perlu disadari bahwa 'uang gratis' itu sebenarnya tidak ada, so buang jauh-jauh mimpi untuk memperoleh duit sekian ratus ribu Dolar hanya dengan beremail ria.
"Once a man do lie, he need Ten more lies to make the first lie sounds like a truth".
-- Pepatah Inggris
-- Pepatah Inggris
Senin 02 Juni 2003
Spam (2)
Bagaimana cara menghindar dari incaran spammer? Intinya jelas: jangan sembarangan 'mengumbar' alamat email pribadi kita. Jangan menggunakan mail pribadi untuk mendaftar ke layanan-layanan gratisan di internet, juga untuk melanggan mail list. Hindari pula memajang alamat email di situs web. Kalau ISP anda mengijinkan untuk membuka lebih dari satu account email, maka gunakan satu account untuk keperluan korespondensi pribadi. Account lainnya bisa anda gunakan untuk melanggan mail list, dipajang di website pribadi anda, atau digunakan untuk mendaftar di 1001 layanan gratisan yang ada di internet. Sesudah beberapa waktu, Anda bisa menghitung sediri berapa banyak mail sampah yang masuk ke account email sekunder anda itu.
Kalau sudah terlanjur menjadi sasaran spam, maka satu-satunya cara memang dengan melakukan filtering. Saya tidak menganjurkan untuk memfilter secara otomatis dengan perangkat lunak khusus karena berdasarkan pengalaman, tindakan ini malahan tambah merepotkan, alih-alih membantu. Para spammer memiliki banyak cara untuk mengecoh software filter ini, sebaliknya software ini juga sering berbuat kesalahan dengan memfilter mail pribadi yang bukan spam. Dalam banyak kasus, memfilter secara manual lebih efektif. Filter yang paling efektif sebenarnya adalah yang langsung dilakukan di mailserver. Cobalah hubungi pengelola layanan email yang anda gunakan dan mintalah supaya Ia memasang spam assasin atau yang semacam itu di mailservernya.
Beberapa jenis spam menyediakan opsi untuk 'unsubscribe' dari layanan mereka. Banyak pihak yang menyarankan untuk tidak menggunakan layanan ini, namun menurut pengalaman, ada beberapa pihak pengirim mail spam yang cukup konsekuen untuk tidak lagi mengirimkan mailnya apabila kita melakukan unsubscribe. Biasanya yang semacam ini berupa mail promosi yang dikirim secara berseri oleh satu perusahaan tertentu. Untuk spam yang dikirim oleh perorangan, apalagi yang identitasnya tidak jelas, memang lebih baik didiamkan saja. Tidak perlu memberikan respon apapun, termasuk memilih opsi unsubscribe.
Terakhir, apabila jumlah spam yang masuk ke email Anda sudah sedemikian banyaknya, memang tidak ada jalan lain selain mengganti alamat email. Jadikan pengalaman terdahulu dengan mail spam sebagai pelajaran. Jangan sampai melakukan kesalahan yang sama pada alamat baru anda seperti yang dilakukan pada alamat email terdahulu.
Minggu 01 Juni 2003
Spam (1)
Spam alias junk mail. Ini soal email-email promosi yang dikim tanpa permintaan ke mailbox kita. Banyak keluhan akhir-akhir ini soal makin besarnya jumlah spam yang berkeliaran. Perkiraan kasar menyebutkan bahwa spam sudah 'meguasai' hingga 60% trafik email. Bukan angka yang menyenangkan mengingat itu bisa diartikan bahwa lebih dari setengah email yang didistribusikan oleh mailserver sebenarnya adalah sampah! Kita bicara tentang kerugian, baik bandwidth, biaya, maupun waktu yang dikeluarkan untuk menangani mail sampah ini.
Bagi para pemasar produk, internet memang peluang lahan yang luarbiasa. Mulanya pemasaran produk masih dilakukan melalui jalur yang akseptabel: lewat web, maupun e-commerce konvensional. Tapi pemasaran memerlukan promosi. Apa boleh buat, email memang merupakan target promosi yang paling mudah dan murah. Parahnya, kegiatan ini ditiru secara serampangan oleh banyak pihak. Akhirnya muncul mail-mail yang bukan cuma berisi promosi produk, tapi juga arisan berantai, penipuan berkedok 'uang gratis', sampai penyebaran virus.
Logika yang dipakai oleh para spammer (pengirim mail spam) memang agak ekstrem. Mereka melihat internet dan segaal aktifitas didalamnya semata-mata sebagai sebuah peluang bisnis (bagi orang-orang semacam ini, apa sih yang tidak bisa dibisniskan?). Mereka selalu berpandangan bahwa pemasaran lewat email adalah cara yang tepat dan murah untuk memperkenalkan sebuah produk sekaligus menggaet konsumen. Bagi para pebisnis online, promosi lewat email seolah-olah adalah sebuah keniscayaan. Akibatnya, persoalan apamming menjadi perdebatan yang tidak ada ujungnya antara para pebisnis online dengan para pengelola layanan email beserta usernya.
Dalam usaha mencari pembenaran terhadap kegiatannya, para spammer menawarkan untuk menggolongkan email promosi menjadi dua jenis: TDEM (Targetted Direct Email Marketing) dan UCE (Unsolicited Commercial Email). Perbedaan antara keduanya ialah soal targetnya. TDEM dikirimkan pada target tertentu yang (dianggap) memiliki minat terhadap produk yang ditawarkan sementara UCE dikirimkan secara acak tanpa batasan apapun. Mereka, para spammer, berkeras bahwa sepanjang mail yang dikirimkan berjenis TDEM, maka apa yang mereka lakukan adalah legal. Sebaliknya, mereka sepakat bahwa pengiriman mail UCE memang layak untuk dibatasi.
Sepintas logika ini kelihatan masuk akal, tapi dalam prakteknya, tidak banyak user email yang menyukai untuk menerima email yang dikirim tanpa permintaan (unsolicited), apapun juga bentuknya. Pendeknya, persoalannya bukan terletak pada jenisnya, tapi soal waktu dan tenaga yang dihabiskan untuk menyortir dan membaca mail-mail yang tidak diinginkan. Belum lagi kalau sudah dikaitkan ke persoalan privasi. Siapa sih yang suka nama dan alamat emailnya 'bocor' ke tangan pihak lain yang kemudian menggunakannya untuk hal-hal yang tidak bertanggung jawab?