Refleksi: Oktober 2003
Minggu 26 Oktober 2003

Awal Ramadhan 1424 H

Sidang itsbat di Departemen Agama tadi malam memutuskan bahwa 1 Ramadhan 1424 H akan jatuh pada hari Senin, 27 Oktober 2003 M. Dengan demikian, malam nanti, umat Islam sudah bisa melaksanakan Shalat Tarawih.

Awal Ramadhan bagi dua ormas Islam terbesar di Indonesia, NU dan Muhamadiyah, nampaknya tidak akan ada perbedaan, mengingat tidak adanya laporan hasil positif dari ru'yat selepas maghrib kemarin. Ijtimak akhir Sya'ban baru terjadi Sabtu malam (25 Oktober 2003) sekitar pukul 19:51 WIB. Saat itu, bulan masih berada dibawah horizon barat, dilihat dari seluruh wilayah indonesia. Karenanya, semua sepakat untuk menggenapkan (istikmal) bulan Sya'ban menjadi 30 hari. Yang agak mengkhawatirkan hanyalah apabila muncul laporan penampakan hilal di Saudi malam itu, karena kalau sampai terjadi demikian bisa dipastikan akan ada kelompok yang mendahului berpuasa pada 26 Oktober (tapi kemungkinan ini kecil karena ketinggian hilal di Saudi juga masih berkisar satu derajat).

Idul Fitri nanti dipastikan juga tidak ada perbedaan karena tinggi hilal menurut hasil hisab sudah cukup memenuhi syarat untuk bisa dilihat (ru'yat). Jadi Insya Allah, untuk tahun ini cukup aman dari kemungkinan adanya perbedaan, baik pada awal puasa maupun perayaan Idul Fitri. Hingga kini saya masih belum memperoleh informasi mengenai publikasi resmi analisis visibilitas hilal untuk Ramadhan/Syawal tahun ini. Data sementara yang saya dapatkan (dari email Ferry M Simatupang/Observatorium Bosscha di milis astronomy) saya sertakan bersama posting ini.

Akhirnya, selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga Allah Swt meringankan langkah kita dalam meningkatkan amal ibadah di bulan suci penuh berkah ini. Mohon maaf atas segala salah dan khilaf, baik yang disengaja maupun tidak.


Analisis visibilitas hilal awal Ramadhan/Syawal 1424 H


a. Ramadhan

Ijtimak terjadi pada tgl 25 okt 2003 12:51 ut (25 okt 2003 19:51 wib). Saat itu, jarak sudut bulan dan matahari adalah 1d 41m 59s. Saat ijtimak ini terjadi, bulan telah berada dibawah horizon barat (telah terbenam), dilihat dari seluruh wilayah Indonesia.

Tinggi bulan saat ijtimak terjadi, dilihat dari kota-kota:
1. Banda aceh: -23d 1m 34s
2. Bandung: -32d 13m 43s
3. Manado: -50d 52m 32s
4. Jayapura: -63d 59m 14s

Besoknya (tgl 26 okt 2003), hilal dipastikan akan bisa diamati saat matahari terbenam (karena umurnya sudah cukup tua). Berarti tgl 26 okt tsb, umat Islam sudah mulai melaksanakan tarawih, dan tgl 27 okt mulai melakukan shaum.

b. Syawal

Ijtimak terjadi pada tgl 23 nov 2003 22:59 ut (24 nov 2003 05:59 wib). Saat itu, jarak sudut bulan dan matahari adalah 0d 59m 22s. saat ijtimak ini terjadi, di sebagian wilayah Indonesia barat, bulan masih berada di bawah horizon timur, dan di wilayah Indonesia lainnya, tinggi bulan masih cukup rendah.

Tinggi bulan saat ijtimak terjadi, dilihat dari kota-kota:
1. Banda Aceh: -8d 52m 38s
2. Bandung: 7d 9m 39s
3. Manado: 20d 2m 41s
4. Jayapura: 36d 15m 4s

Akibatnya, saat matahari terbenam, umur bulan sudah cukup tua dilihat dari seluruh wilayah indonesia, dan kemungkinan besar akan teramati dari seluruh wilayah Indonesia

Tinggi bulan dan saat matahari terbenam, dilihat dari kota-kota:
1. Banda aceh: 4d 48m 40s (matahari terbenam: 18h 20m 27s wib)
2. Bandung: 5d 12m 11s (matahari terbenam: 17h 50m 8s wib)
3. Manado: 4d 3m 9s (matahari terbenam: 16h 28m 29s wib)
4. Jayapura: 3d 42m 45s (matahari terbenam: 15h 31m 5s wib)

Catatan:
1. Konversi dari universal time (ut) ke wib: wib = ut + 7h
2. Tinggi yang bernilai negatif, berarti berada di bawah horizon

- Diposting oleh Dhani @ 06:05

Sabtu 25 Oktober 2003

Internet Computing (2)

Bayangkan seandainya internet computing tidak hanya bermanfaat untuk sekedar melakukan perhitungan-perhitungan, melainkan untuk sesuatu yang lebih kompleks dari itu. Suatu kemungkinan untuk berbagi sumber daya (resource) untuk kepentingan bersama. Berhubung pengembangan sains masa kini dilakukan secara kolaboratif dan multi disiplin, maka kegiatan ini tidak lagi dibatasi oleh suatu institusi maupun negara tertentu. Internet melalui web dan email telah menawarkan mekanisme dasar yang memungkinkan sebuah kelompok ilmuwan untuk bekerja secara bersamaan tanpa menghiraukan batasan geografis. Tapi bagaimana jadinya apabila mereka dapat membangun hubungan (link) antar data, komputer, perangkat sensor, dan sumber daya lain yang mereka miliki untuk membentuk sebuah laboratorium virtual? Grid computing merupakan jawabannya. Grid computing memungkinkan semua itu terwujud dengan menyediakan protokol, servis dan kit pengembangan perangkat lunak untuk keperluan berbagi sumber daya secara fleksibel dan terkendali dalam skala besar.

Grid computing sebenarnya merupakan sebuah aplikasi pengembangan dari jaringan komputer (network). Hanya saja, tidak seperti jaringan komputer konvensional yang berfokus pada komunikasi antar pirati (device), aplikasi pada Grid computing dirancang untuk memanfaatkan sumber daya pada terminal dalam jaringannya. Grid computing biasanya diterapkan untuk menjalankan sebuah fungsi yang terlalu kompleks atau terlalu intensif untuk dikerjakan oleh satu sistem tunggal. Dalam pengertian yang lebih teknis, Grid computing merupakan sebuah sistem komputasi terdistribusi, yang memungkinkan seluruh sumber daya (resource) dalam jaringan, seperti pemrosesan, bandwidth jaringan, dan kapasitas media penyimpan, membentuk sebuah sistem tunggal secara vitual. Seperti halnya pengguna internet yang mengakses berbagai situs web dan menggunakan berbagai protokol seakan-akan dalam sebuah sistem yang berdiri sendiri, maka pengguna aplikasi Grid computing seolah-olah akan menggunakan sebuah virtual komputer dengan kapasitas pemrosesan data yang sangat besar.

Konsep Grid computing pertama kali dieksplorasi pada tahun 1995 melalui eksperimen yang dikenal sebagai I-WAY, dimana jaringan berkecepatan tinggi digunakan untuk menghubungkan dalam waktu singkat, suber daya yang sifatnya high-end pada 17 situs di sepanjang Amerika bagian Utara. Selepas aktifitas ini, berkembang pula sejumlah proyek penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan teknologi inti Grid computing untuk hal-hal yang lebih "produktif" bagi berbagai komunitas dan disiplin keilmuan. Tidak kurang dari badan bernama National Technology Grid bentukan US National Science Foundation (Lembaga Ilmu Pengetahuan AS), yang bekerjasama dengan Information Power Grid dari NASA (badan luar angkasa Amerika Serikat), bersama-sama membentuk sebuah infrastruktur Grid computing untuk melayani kegiatan para peneliti di NASA maupun berbagai universitas di Amerika Serikat.

Di Eropa dan Amerika Serikat, European Data Grid, Particle Physics Data Grid, dan proyek Grid Physics Network (GriPhyN), berencana untuk membangun kerjasama dalam pengembangan aplikasi Grid computing untuk kepentingan analisis data pada eksperimen-eksperimen fisika. Sementara itu, the Network for Earthquake Engineering Simulation Grid (NEESgrid) tengah berancang-ancang untuk menghubungkan para insinyur sipil dengan arsip data dan sistem simulasi komputer untuk mengembangkan bangunan dengan kekuatan yang lebih besar.

Seperti halnya aplikasi network lainnya, Grid computing haruslah bersandar pada satu set standar dan protokol tertentu. Kendati tidak ada standar formal yang telah ditetapkan untuk aplikasi Grid computing (saat ini sedang disiapkan oleh Grid Forum), telah ada semacam konsensus dalam teknologi intinya. Pada dasarnya, semua proyek Grid computing dibuat berdasarkan protokol dan servis yang disediakan oleh Globus Toolkit yang dikembangkan oleh Argonne National Laboratory bekerjasama dengan tim dari Information Sciences Institute, University of Southern California dan beberapa institusi lainnya. Infrastruktur yang memiliki arsitektur terbuka (open-architecture) dan bersifat open-source ini menyediakan banyak fungsi dasar yang dibutuhkan untuk membangun sebuah aplikasi yang memanfaatkan Grid computing.

Walaupun internet dan Grid computing adalah teknologi yang relatif baru, namun telah terbukti bermanfaat, dan masa depan teknologi ini kelihatannya cukup menjanjikan. Di masa depan, saat teknologi, sistem jaringan, dan model bisnis untuk keperluan ini telah berkembang, dimungkinkan bagi komunitas ilmuwan untuk membentuk semacam "Science Grids", yang menghubungkan sumber daya yang berbeda untuk mendukung komunikasi, akses data dan komputasi untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Saat itu, penggunaan superkomputer untuk keperluan analisis data dengan kompleksitas tinggi bisa digantikan oleh sejumlah besar workstation yang tersebar di seluruh dunia yang untuk bekerja secara bersamaan dalam Grid computing.

- Diposting oleh Dhani @ 05:58

Minggu 19 Oktober 2003

Internet Computing (1)

Inovasi sepanjang setengah abad telah meningkatkan kecepatan komputer dalam faktor jutaan. Tetapi kecepatan komputer masa kini masih terhitung rendah untuk berbagai aplikasi saintifik berskala raksasa. Sebagai contoh, detektor untuk eksperimen tumbukan hadron berskala besar di laboratorium CERN (laboratorium Fisika Partikel di Swiss), pada tahun 2005 akan menghasilkan data sebesar beberapa petabytes setiap tahunnya -- sejuta kali kapasitas simpan dari kebanyakan komputer desktop masa ini. Analisis yang paling mendasar untuk data sebesar ini memerlukan aplikasi yang menuntut daya komputasi setidaknya 20 teraflops (floating-point operations, operasi matematis) per detiknya. Bandingkan dengan 3 teraflops per detik yang dapat dijangkau oleh superkomputer masa kini. Analisis yang lebih khusus jelas akan membutuhkan daya komputasi yang lebih tinggi.

Salah satu solusi dari masalah kurangnya daya komputasi adalah dengan menjalankan aplikasi pada sejumlah komputer individual yang terhubung ke jaringan. Cara ini dalam terminologi teknis dikenal sebagai clustering. Teknik yang pertama kali dikembangkan pada awal era 1980-an ini, sekarang telah diaplikasikan pada berbagai pusat superkomputer, laboratorium riset, dan industri. Superkomputer tercepat di dunia saat ini terdiri dari sekumpulan mikroprosesor, sebagai contoh, sistem ASCI White di Lawrence Livermore National Laboratory, California, tersusun atas 8000 prosesor. Banyak diantara laboratorium riset yang menjalankan PC sederhana yang membentuk cluster untuk melakukan perhitungan dan analisis data. Teknik ini hanya memerlukan ongkos sebesar kurang dari 1 USD per megaflop tiap detiknya dengan cluster komputer jenis Pentium III, sebuah ongkos yang sangat murah, khususnya apabila dibandingkan dengan superkomputer yang harganya bisa mencapai jutaan dolar itu. Kemajuan ini juga tidak lepas dari dikembangkannya algoritma khusus yang dapat mengeksploitasi penggunaan ribuan prosesor secara efektif.

Walaupun clustering dapat menyediakan peningkatan daya komputasi secara signifikan, sebuah cluster membutuhkan fasilitas khusus dengan dibangun diatas sebuah lokasi tunggal. Ini memunculkan persoalan seberapa besar ruang yang dapat disediakan untuk menampung sekian banyak komputer yang bekerja secara bersamaan itu. Hal ini memunculkan persoalan baru dimana dibutuhkan investasi ekstra untuk membangun gedung-gedung baru, khusus sebagai lokasi cluster.

Kemajuan teknologi komunikasi menawarkan solusi berupa pendekatan desentralisasi untuk mengatasi kebutuhan akan daya komputasi yang lebih tinggi dengan ongkos yang rasional. Terdapat lebih dari 400 juta PC di seluruh dunia, dengan banyak diantaranya memiliki daya komputasi setara dengan superkomputer pada era awal 1980-an. Sebagian besar diantaranya memiliki banyak waktu idle (menganggur) saat digunakan. Setiap institusi besar memiliki ratusan hingga ribuan sistem semacam ini. Sebuah pendekatan yang disebut internet computing merupakan jawaban untuk memanfaatkan workstation dan PC untuk menciptakan sistem komputasi terdistribusi (distributed computing systems) berjangkauan global dengan kapabilitas setara dengan superkomputer.

Kesempatan yang ditawarkan oleh komputer yang berada dalam kondisi idle telah diketahui sejak lama. Pada tahun 1985, Miron Livny menunjukkan bahwa sebagian besar workstation senantiasa berada dalam kondisi idle. Ia mulai merancang sebuah sistem untuk memanfaatkan kondisi itu untuk sesuatu yang lebih bermanfaat. Dengan memanfaatkan kemampuan multitasking dari sistem operasi Unix dan koneksi ke jaringan internet, Livny mengembangkan aplikasi yang disebut Condor yang kini dimanfaatkan secara luas oleh kalangan akademis untuk melakukan analisis data dan pemecahan problem matematis.

Walapun Condor terhitung efektif untuk skala kecil, penggunaan internet computing secara masal harus menunggu lebih lama bagi tersedianya PC yang lebih cepat dan meluasnya penggunaan internet. Pada 1997, Scott Kurowski membangun jaringan yang disebut Entropia dengan fungsi yang serupa: memanfaatkan kodisi idle pada komputer yang terhubung dalam jaringan untuk kepentingan aplikasi saintifik. Hanya dalam waktu dua tahun, jaringan ini berkembang, meliputi lebih dari 30.000 komputer dengan akumulasi kecepatan diatas satu teraflop per detik. Salah satu pencapaian dari jaringan ini adalah ditemukannya bilangan prima yang terbesar.

Loncatan berikutnya dari internet computing adalah diluncurkannya proyek SETI@home oleh David Anderson. Proyek ini bertujuan untuk melakukan analisis data yang diterima oleh teleskop radio Arecibo untuk mencari sinyal-sinyal yang mungkin dikirimkan oleh mahluk cerdas berperadaban dari luar Bumi. Gabungan antara rasa ingin tahu publik dan kemajuan teknologi menyebabkan proyek ini terus berkembang. Berjalan diatas setengah juta PC, proyek SETI@home kini menjelma menjadi komputer tercepat di dunia yang dibangun untuk keperluan khusus.

Apa artinya fenomena ini bagi ilmu pengetahuan dan para ilmuwan? Secara simplistik dapat dikatakan bahwa para ilmuwan kini memperloleh akses bagi sumber daya komputasi yang luar biasa. Apa yang dibutuhkan hanyalah memasukkan problem komputasi dalam sebuah bentuk yang cocok untuk dijalankan pada komputer deskop, dan kemudian melakukan pendekatan pada publik tentang seberapa pentingnya solusi untuk sebuah masalah. Sekali publik dapat diyakinkan, maka selanjutnya bantuan berupa sumber daya komputasi akan segera mengalir dengan sendirinya.

- Diposting oleh Dhani @ 06:14

Sabtu 18 Oktober 2003

Penjelajahan Antariksa: Epilog

Ini adalah epilog dari serangkaian tulisan tentang penerbangan antariksa di sini. China akhirnya berhasil memenuhi ambisinya untuk mengirimkan manusia ke orbit. Rabu 15 Oktober lalu, roket Long March 2F yang membawa kapsul Shenzhou V akhirnya meluncur dari landasan pusat antariksa China di Jiauquan, propinsi Gansu, mencatatkan Yang Liwei sebagai taikonaut (sebutan China untuk astronaut) pertama. Ia kembali ke Bumi dengan selamat pada keesokan harinya setelah menjalani 16 kali orbit dalam misi yang memakan waktu 21 jam itu. Rincian soal peluncuran ini tentunya sudah bisa dibaca atau disaksikan lewat media. Kalaupun tidak terlalu banyak hal yang bisa diungkap, itu karena pemerintah China sendiri sangat tertutup mengenai misi ini, sehingga tidak banyak detail yang bisa diketahui oleh umum.

Kapsul Shenzhou disebut-sebut merupakan modifikasi dari kapsul Soyuz yang dikembangkan oleh Rusia. Sebagaimana halnya Soyuz, Shenzhou terdiri dari modul komando (command module) yang ditautkan dengan sebuah modul jasa (service module). Modul jasa yang memuat mesin roket dan peralatan penunjang pada Shenzhou hampir identik dengan modul serupa pada Soyuz. Perbedaan yang agak mencolok bisa dilihat pada modul komando, yang merupakan tempat para awak melakukan tugasnya. Modul komando pada Soyuz didesain berbentuk bola, sementara di Shenzhou berbentuk seperti lonceng. Di ujung modul komando Shenzhou ditautkan sebuah perangkat ilmiah yang akan dilepas di orbit. Perangkat ini masih akan mengorbit hingga enam bulan setelah peluncuran. Tidak jelas apa fungsi peralatan ini. Kemungkinan adalah satelit yang memang ditumpangkan pada misi tersebut.

Roket Long March 2F sebagai kendaraan peluncur adalah hasil pengembangan para ilmuwan China sendiri. Ini adalah sebuah roket konvensional bertingkat tiga, dengan empat roket tambahan pada tingkat pertama yang berfungsi sebagai booster. Di pihak lain, Soyuz diluncurkan dengan bantuan roket Energiya. Roket ini tidak memakai booster, namun tingkat pertamanya terdiri dari empat roket yang bekerja secara simultan dengan daya yang sama. Sistem ini menghasilkan gaya dorong yang cukup powefull sehingga hanya diperlukan dua tingkat pada roket untuk meluncurkan muatan ke orbit. Teknologi roket yang dimiliki Rusia ini memang masih belum bisa ditiru oleh negara lain. Karena itulah Rusia juga sering mendapat kepercayaan untuk meluncukan muatan berat ke orbit, termasuk modul-modul inti dari Stasiun Ruang Angkasa Internasional (International Space Station, ISS). Indonesia sendiri pernah memanfaatkan jasa roket Rusia untuk meluncurkan satelit Garuda-1 yang memang tergolong satelit berukuran besar.

Dari segi ilmiah, misi berawak China ini memang tidak menghasilkan apa-apa selain prestise sebagai negara ketiga di dunia yang berhasil meluncurkan manusia ke antariksa. Namun demikian, China sudah pula berancang-ancang untuk mengirimkan misi-misi lanjutan, diantaranya rencana untuk menempatkan stasiun ruang angkasanya sendiri, bahkan mengirim misi berawak ke bulan.

Setelah China, lantas siapa lagi? Konon kabarnya, Jepang dan India juga sedang melirik kemungkinan untuk mengirimkan misi berawaknya. Dahulu, rencana semacam ini tidak bakalan dipandang serius oleh negara-negara maju yang memang sudah lama berkecimpung dalam teknologi ruang angkasa. Tapi keberhasilan China meluncurkan misi berawak sepertinya berhasil menyadarkan mereka bahwa bangsa-bangsa Asia tidak lagi bisa dipandang remeh. Kita lihat saja, langkah-langkah apa yang akan diambil kedua kandidat Asia ini nantinya. Indonesia? Sudah deh, nggak usah dibahas lagi. :).

- Diposting oleh Dhani @ 07:14

Minggu 12 Oktober 2003

Penjelajahan Antariksa: Quo Vadis Indonesia?

Walaupun belum pernah terlibat secara langsung dalam ekspolorasi ruang angkasa, Indonesia sebenarnya termasuk negara yang cukup disegani karena pengalamannya dalam mengeksploitasi teknologi keantariksaan. Saat penggunaan satelit bagi sebagian besar negara masih dianggap sebagai 'barang mewah', Indonesia telah meluncurkan satelitnya yang pertama, Palapa A1 pada 9 Juli 1976. Ini mencatatkan Indonesia sebagai negara ketiga di dunia setelah AS dan Canada yang menggunakan satelit komunikasi domestiknya sendiri.

Kurang dari dua tahun sejak pesawat ulang-alik pertama diluncurkan, Indonesia sudah memanfaatkan jasanya untuk meluncurkan satelit Palapa generasi kedua, Palapa B1, pada 19 Juni 1983. Operasi penyelamatan satelit Palapa B2, menyusul kegagalan pada peluncurannya--yang juga dilakukan oleh misi ulang-alik--merupakan operasi bersejarah yang kerumitannya boleh ditandingkan dengan operasi perbaikan teleskop antariksa Hubble pada dasawarsa 90-an. Pada pertengahan era 1980-an, Indonesia bahkan sempat bersiap-siap untuk mengirimkan astronautnya dalam mengikuti misi ulang-alik. Sayang, bencana Challenger akhirnya membuyarkan semua rencana itu.

Dalam teknologi peroketan, Indonesia tercatat sebagai negara kedua di Asia, setelah Jepang, yang berhasil meluncurkan roketnya sendiri. Prestasi ini ditorehkan melalui keberhasilan LAPAN meluncurkan roket Kartika 1 pada 14 Agustus 1964. Tentu saja tidak bisa dipungkiri bahwa keberhasilan ini juga tidak lepas dari bantuan terknis dari Rusia yang saat itu tengah 'lengket' dengan Indonesia.

Sayangnya, dibalik semua catatan gemilang itu, Indonesia gagal melakukan alih-teknologi. Akibatnya, selama lebih dari seperempat abad sejak meluncurkan satelit pertamanya, Indonesia hanya bisa bertindak sebagai konsumen. Sementara itu, negara-negara lain justeru mulai menyiapkan diri untuk mulai belajar mengembangkan teknologi satelit melalui pembuatan satelit mikro (mikrosat). Malaysia misalnya, yang semula tertinggal puluhan tahun dari Indonesia dalam pemanfaatan teknologi satelit, sejak tahun 2000 telah berhasil meluncurkan satelit mikronya yang pertama, Tiungsat-1, yang merupakan hasil kerjasama dengan Universitas Surrey, Inggris. Sementara itu, Indonesia baru mulai berancang-ancang membuat satelit mikronya pada tahun 2003 ini melalui kerjasama dengan Univeresitas Berlin, Jerman. Program yang dilaksanakan dalam dua tahap selama lima tahun hingga 2007 itu, sekarang masih memasuki tahap pertama yang direncanakan selama tahun 2003-2004 (Harian Kompas, Minggu 2 Februari 2003).

Dalam bidang teknologi roketpun ceritanya setali tiga uang. Pasca 1965, hubungan dengan Rusia merenggang. Upaya transfer teknologi yang sudah dirintis akhirnya mandeg. Akibatnya, pengembangan teknologi roket Indonesia nyaris jalan ditempat, sementara negara-negara Asia lain, seperti India dan China, yang lebih belakangan menekuni teknologi ini akhirnya melampaui Indonesia dengan keberhasilannya meluncurkan roket pengangkut satelit ke antariksa.

Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang jarang dimiliki negara lain untuk mengembangkan teknologi antariksanya sendiri. Potensi itu berupa garis katulistiwa yang membentang diatasnya. Sekitar 13% dari garis katulistiwa berada di atas wilayah Indonesia. Dengan demikian, Indonesia tercatat sebagai negara pemilik garis katulistiwa yang terpanjang di dunia. Hal ini menjadikan wilayah Indonesia sebagai tempat yang sangat ideal untuk menjadi lokasi peluncuran roket pengangkut satelit. Kebanyakan satelit yang diluncurkan saat ini, terutama satelit komunikasi, merupakan satelit dengan orbit geostasioner, yang memang harus menetap pada posisi diatas ekuator. Peluncuran roket dari dekat garis katulistiwa akan lebih menghemat bahan bakar roket, dan karenanya lebih murah dari segi biaya.

Potensi inilah yang juga dilirik oleh pihak-pihak asing. Rusia misalnya, sudah lama mengincar pulau Biak di Irian Jaya (Papua) untuk menjadi lokasi bandar antariksanya. Tapi lagi-lagi kita membuat blunder dengan ketidak mampuan menangkap peluang itu. Akibatnya, Rusia akhirnya memilih pulau Christmast di Australia sebagai lokasi bandar antariksanya. Kini Indonesia yang sibuk memprotes rencana kerjasama Australia dengan Rusia itu, karena akan menjadi pihak pertama yang bakal terkena risiko kegagalan peluncuran roket. Dari segi militer, bandar antariksa dengan mudah bisa diubah menjadi anjungan utama untuk menembakkan roket kendali berhulu ledak ke wilayah RI. Maklum, pulau yang juga dikenal sebagai pusat perjudian ini letaknya hanya sekitar 500 km dari pantai selatan pulau Jawa.

Sebenarnya Rusia masih lebih condong untuk memilih Biak sebagai lokasi bandar antariksanya karena lokasinya yang tepat berada di garis katulistiwa. Sayang sekali, karena pemerintah kita yang kurang tanggap, rencana prestisius--yang kalau terwujud dapat mendudukkan Indonesia sejajar dengan negara-negara pemilik teknologi keruang-angkasaan itu--akhirnya buyar.

Selain Rusia, Sebuah perusahaan swasta AS juga pernah amat tertarik dan bersedia menanam investasi untuk menjadikan biak sebagai lokasi peluncuran roket. Rencanamya, roket yang akan dioperasikan dari jenis berbahan bakar padat, diangkut lewat laut dari pantai timur AS ke dermaga bandar antariksa Biak. Alternatif lain, bagian-bagian roket diterbangkan dan mendarat di bandar udara Frans Kasiepo Biak, kemudian diangkut lewat darat ke tempat peluncuran. Sialnya, Rencana yang sudah matang itu, entah kenapa, kemudian hilang tak tentu rimbanya. Konon karena "rebutan rezeki" tingkat atas, yang membuat proyek bergengsi ini lepas dari genggaman (Harian Kompas, Minggu 28 April 2002).

Satu-satunya pihak asing yang telah memanfaatkan potensi Biak adalah Badan Ruang Angkasa India (Indian Space Research Organization, ISRO) yang telah bekerjasama dengan LAPAN untuk membangun stasiun TT&C (Tracking, Telemetry, and Command) di sana. Stasiun ini menjadi penting karena saat India meluncurkan roket pengangkut satelitnya, proses pelepasan muatan roket dilakukan diatas angkasa Irian, dan satu-satunya stasiun Bumi yang bisa memonitor dan mengendalikan proses ini hanyalah stasiun di Biak (Republika, Minggu 8 Juni 2003).

Pengembangan teknologi keantariksaan memang bukan prioritas di negara semacam Indonesia. Tapi paling tidak, kita masih memiliki harapan untuk menuju ke arah sana. Kita di Indonesia sebenarnya tidak kekurangan orang-orang pintar. Yang kurang sebenarnya adalah kemauan politis (political will) dari pemerintah, disamping persoalan fulus tentunya. Tapi hal ini tentu tidak boleh menyurutkan semangat kita untuk terus belajar dan mengejar ketertinggalan dalam bidang teknologi dari negara-negara yang lebih maju.

- Diposting oleh Dhani @ 06:33

Sabtu 11 Oktober 2003

Penjelajahan Antariksa: Era Ulang Alik

Penerbangan berawak ke antariksa selalu menyedot dana yang tidak sedikit. Sebelum era pesawat ulang-alik, seluruh komponen wahana antariksa bersifat sekali pakai. Akibatnya, mengirim misi berawak sama halnya dengan membuat wahana baru. Selain boros biaya, cara ini juga riskan karena apabila terjadi masalah (baca: kecelakaan) dalam misi berawak di ruang angkasa, mengirim misi untuk melakukan pertolongan adalah tindakan yang hampir mustahil. Musibah yang menimpa misi Apollo-13 memberikan pelajaran bahwa misi berawak ke antariksa tidak lain adalah sebuah petualangan yang penuh resiko.

Atas pertimbangan itulah, maka sejak akhir dasawarsa 1970-an, NASA mulai mengembangkan pesawat ulang-alik. Misi ulang-alik dinilai lebih "murah" karena hampir seluruh komponennya dapat dipergunakan kembali pada misi-misi sesudahnya. AS kembali mencatat sejarah dengan keberhasilannya meluncurkan pesawat ulang-alik pertamanya, Columbia, pada bulan Juni 1981. Dengan digunakannya teknologi ulang-alik, terbuka kesempatan untuk meluncurkan misi berawak dengan frekuensi yang lebih sering dengan pembiayaan yang lebih kecil. Bahkan saat peluncuran perdana Columbia, pihak NASA (Badan luar angkasa AS) sempat mematok target untuk meluncurkan setidaknya satu misi berawak tiap minggu.

Namun, dalam kenyataannya target itu tidak pernah tercapai. Misi ulang-alik sendiri mulai dipertanyakan efektifitas dan efisiensinya mengingat dana yang diserap ternyata tidak jauh berbeda dengan pada era roket-sekali-pakai yang sudah ditinggalkan NASA. Nahas yang menimpa pesawat ulang-alik Challenger yang meledak saat peluncuran (28 Februari 1986) dan menewaskan ketujuh awaknya memang sempat membuat NASA merestrukturisasi kembali program ulang-aliknya, khususnya dalam persoalan keamanan. Namun demikian, teknologi ulang-alik sendiri tidak banyak berubah, bahkan selama lebih dari 20 tahun sejak pertama kali digunakan.

Puncaknya terjadi pada peristiwa kecelakaan yang menimpa Columbia, 1 Februari 2003 lampau, ketika pesawat tersebut meledak di udara sesaat setelah memasuki atmosfir Bumi dalam proses pendaratan. Peristiwa yang menewaskan tujuh awak tersebut kembali membuka perdebatan mengenai keamanan serta kepentingan misi ulang-alik. Buntut dari kecelakaan ini adalah dibekukannya program luar angkasa AS sambil mengkaji kembali berbagai faktor dalam penerbangan ulang-alik, termasuk kemungkinan digunakannya teknologi yang sama sekali baru, dengan efisiensi dan tingkat keamanan yang lebih tinggi. Ada beberapa alternatif pengganti pesawat ulang-alik yang saat ini sedang dikembangkan, walaupun masih belum jelas teknologi mana yang kelak akan dipilih untuk menggantikan model peluncuran pesawat ulang-alik. Sepeninggal Challenger dan Columbia, AS masih memiliki tiga pesawat ulang-alik lain, yaitu Discovery, Atlantis, dan Endeavour, ditambah dengan satu prototipe yang tidak pernah mengudara, Enterprise, yang kini menghuni museum Smithsonian.

Sementara itu, dalam megejar ketertinggalannya dari AS, Rusia tercatat juga sempat mengembangkan pesawat ulang-aliknya sendiri yang diberi nama Buran, dari bahasa setempat yang berarti Badai Salju. Tahun 1988, Buran sempat diuji-coba dalam sebuah penerbangan tanpa awak. Sayangnya, krisis politik maupun ekonomi yang melanda Uni Sovyet sesaat sebelum bubar membuat proyek Buran tersendat, dan bahkan terhenti sama sekali sebelum sempat berkembang.

Pecahnya Uni Sovyet akhirnya juga membawa malapetaka bagi program antariksa Rusia. Pangkalan peluncuran Rusia yang berada di Tyuratam (dikenal sebagai kosmodrom Baikonur) kini telah masuk wilayah Kazakhstan, sebuah negara kecil yang secara ekonomi tidak begitu makmur. Tentu saja pemerintah Kazakhstan tidak ingin membiarkan begitu saja sebagian teritorinya dipakai secara gratis oleh negara "asing" untuk kepentingannya sendiri. Pendeknya, pemerintah Kazakhstan menuntut pihak Rusia untuk membayar semacam ongkos sewa untuk dapat terus menggunakan pangkalan tersebut, hal mana cukup memusingkan bagi pihak Rusia yang perekonomiannya juga sedang sekarat dibelit "krismon". Walhasil, pasca bubarnya Sovyet, program rang angkasa Rusia sempat tersendat selama beberapa waktu.

Walaupun terkesan "ala kadarnya", Rusia masih terus melanjutkan program antariksa mereka dengan memanfaatkan stasiun luar angkasa Mir. Sayangnya, pembiayaan yang tersendat-sendat, ditambah lagi dengan kondisi Mir yang memang sudah uzur akhirnya membuat otoritas Rusia terpaksa memutuskan untuk mengakhiri riwayat stasiun kebanggaan mereka itu pada bulan April 2001. Anggaran yang "cekak" pula yang menyebabkan Rusia "kreatif" mencari cara, termasuk yang tidak biasa, untuk membiayai program luar angkasanya. Dengan membayar biaya sekitar US$ 20 juta, siapa saja bisa mengikuti penerbangan antariksa Rusia. Dengan cara ini pula, Dennis Tito, seorang milyarder asal AS, akhirnya bisa tercatat sebagai turis antariksa yang pertama dalam sejarah. Belakangan, Rusia berniat menjadikan program "turis antariksa" ini sebagai salah satu cara untuk memperoleh dana segar guna melanjutkan program luar angkasanya.

Ruang angkasa memang terlalu luas untuk dieksplorasi oleh satu atau dua negara tertentu saja. Dewasa ini, pemanfaatan luar angkasa dilakukan atas dasar kerjasama, bukan lagi persaingan seperti pada awalnya. Kini, AS dan Rusia, bersama-sama dengan negara-negara maju lainnya bahu-membahu mengembangkan Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station) yang diharapkan kelak menjadi pusat kegiatan eksplorasi antariksa secara lintas negara. Sementara itu, teknologi roket juga tidak lagi merupakan monopoli AS atau Rusia. Tercatat negara-negara seperti Jepang, India, China, dan Uni Eropa, juga telah berhasil mengembangkan teknologi roketnya sendiri. Rencana China untuk meluncurkan misi berawak ke antariksa dalam waktu sangat dekat ini kiranya akan menorehkan sejarah baru dalam dunia penerbangan antariksa.

Diantara sekian banyak kemajuan yang ditorehkan oleh negara lain, dimanakah posisi Indonesia dalam bidang keantariksaan? Ini akan menjadi topik kita dalam kesempatan mendatang. Ditunggu saja :)

- Diposting oleh Dhani @ 06:42

Minggu 05 Oktober 2003

Penjelajahan Antariksa: Era Perang Dingin

China saat ini sedang bersiap-siap meluncurkan manusia ke ruang angkasa. Diperkirakan pada pertengahan Oktober mendatang, taikonaut -- demikian China menyebut astronautnya -- akan meluncur menggunakan wahana Shenzhou V dari pusat penerbangan antariksa China yang berlokasi di tengah gurun Gobi. Selama ini, penerbangan berawak ke ruang angkasa hanya merupakan "monopoli" dua negara besar, Amerika Serikat (AS) dan Rusia. Walaupun terpaut lebih dari 40 tahun sejak kedua pendahulunya mulai "menaklukkan" antariksa, China sangat berharap bisa menjadi negara ketiga di dunia yang berhasil mengirimkan manusia ke sana.

Teknologi penerbangan antariksa sebenarnya merupakan "buah" dari era perang dingin dan persaingan antara Amerika Serikat dengan Rusia yang saat itu masih bernama Uni Sovyet. Teknologi roket yang merupakan dasar dari sistem penerbangan antariksa pada mulanya dikembangkan untuk keperluan persenjataan. Bicara soal teknologi roket, kita tidak bisa lepas dari nama Wehrner Von Braun, ilmuwan Jerman yang direkrut Hitler untuk mengembangkan misil V2, sebuah peluru kendali dengan teknologi roket dalam masa Perang dunia II. Saat perang usai, Von Braun hijrah ke AS dan membantu pengembangan teknologi roket untuk kepentingan penerbangan antariksa di sana. Namun demikian, entah kenapa, cetak biru V2 kemudian jatuh ke tangan Rusia, dan digunakan oleh pihak rusia sebagai acuan untuk mengembangkan roketnya sendiri. Kedua negara adidaya itu kemudian terlibat dalam persaingan sengit untuk mengeksplorasi ruang angkasa.

Rusia unggul lebih dahulu dengan keberhasilannya meluncurkan satelit buatan yang pertama di dunia dengan nama Sputnik I pada 4 Oktober 1957. AS kemudian menyusul dengan meluncurkan satelit pertamanya yang dinamai Explorer I pada 31 Januari 1958. Pada 12 April 1961, Rusia kembali memimpin dengan meluncurkan manusia pertama ke angkasa luar, Yuri Alekseyivich Gagarin, seorang mayor Agkatan Udara Rusia yang meluncur dengan kapsul Vostok I. Kurang dari sebulan kemudian, AS yang "kebakaran jenggot" karena terus didahului Rusia meluncurkan astronaut pertamanya, Alan B Shepard dengan kapsul Mercury 7. Peluncuran ini dilakukan secara terburu-buru dengan teknologi yang belum "matang" sehingga Shepard hanya mampu mengangkasa selama 15 menit dengan ketinggian maksimal 184 km, kalah jauh dengan Gagarin yang mencatat waktu 108 menit dan ketinggian maksimal 301,4 km dalam sekali orbit.

Misi Shepard sendiri sebenarnya hanyalah penerbangan naik-turun dan tidak sampai mengorbit Bumi. Wajar kalau Rusia sempat mengejek misi ini sebagai "penerbangan kutu loncat". AS baru berhasil mengirimkan pesawat pengorbit pada 20 Februari 1962, ketika kapsul Friendship 7 yang diawaki oleh Letkol John Herschel Glenn berhasil melakukan 3 kali orbit dalam penerbangan selama 4 jam 56 menit. Prestasi ini masih kalah jauh dengan kemajuan yang dicapai Rusia pada 6 bulan sebelumnya, ketika Mayor German Stephanovich Titov berhasil mengorbit sebanyak 17 kali dalam penerbangan selama 25 jam 18 menit dalam kapsul Vostok II.

Bulan menjadi sasaran berikutnya dari kedua negara yang tengah bersaing itu. Rusia lagi-lagi mendahului dengan mengirim wahana tak berawak Lunik II pada 14 September 1959. Wahana ini tercatat sebagai wahana buatan manusia pertama yang mendarat di permukaan bulan. Sayangnya, Lunik II mendarat secara keras (hard landing), dengan akibat seluruh peralatan yang dibawanya rusak sehingga tidak mampu mengirimkan data apapun ke Bumi. Rusia baru berhasil mendaratkan wahana yang mampu melakukan pendaratan Lunak (soft landing) pada Februari 1966 melalui wahana Lunik IX.

Bagaimana dengan AS? Walaupun pada awalnya sempat tertinggal, AS berhasil mengirimkan wahana untuk melakukan pendaratan lunak pada 1966. Setahun kemudian, sebuah wahana AS lainnya berhasil mengirimkan gambar TV pertama dari permukaan bulan. Puncaknya terjadi pada 17 Juli 1969, ketika Neil Armstrong dan Edwin Aldrin berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai manusia pertama yang menginjak permukaan bulan melalui misi Apollo-11. Misi ini dilanjutkan dengan 5 pendaratan lainnya, masing-masing Apollo-12 (November 1969), Apollo-14 (Februari 1971), Apollo-15 (Agustus 1971), Apollo-16 (April 1972), dan terakhir, Apollo-17 (Desember 1972). Misi Apollo juga pernah mencatat kegagalan, tepatnya menimpa misi Apollo-13 yang mengalami kecelakaan (ledakan pada salah satu modulnya). Lewat tindakan pertolongan yang legendaris, para awaknya dapat kembali dengan selamat ke Bumi walaupun gagal menjejak ke permukaan Bulan.

Sementara itu, Rusia tercatat pernah mengirimkan modul Lunkhod I pada 17 November 1970. Modul ini berupa robot yang dikendalikan dari Bumi. Namun demikian, sesudahnya program antariksa Rusia di Bulan tidak lagi berlanjut. Begitu pula dengan AS. Setelah berakhirnya misi Apollo-17, AS tidak lagi mengirimkan manusia ke Bulan.

Supaya tidak kepanjangan, kisah ini baiknya kita potong dulu sampai disini. Lanjutannya akan ditayangkan pada kesempatan berikutnya.

- Diposting oleh Dhani @ 06:33

Sabtu 04 Oktober 2003

Mengenal Format MP3 (2)

Sebenarnya isyu yang melingkupi format file MP3 lebih banyak yang bersifat non-teknis ketimbang teknis. Secara teknis, algoritma MP3 memang masih terus dikembangkan dengan sasaran untuk memperoleh rasio kompresi yang lebih tinggi dengan kualitas suara yang lebih jernih. Namun demikian, masih diperlukan waktu yang lumayan lama untuk menyempurnakan format file MP3 yang kita kenal sekarang. Belum lagi faktor popularitas format MP3 yang terlanjur familiar bagi para user PC, sehingga format-format lain yang belakangan dikembangkan, seperti VQF atau MP4 tidak begitu memperoleh sambutan dari pasar.

Isyu yang sebenarnya justeru jauh dari persoalan teknis, yaitu berkaitan dengan hak cipta. Bukan rahasia lagi kalau berkembangnya format ini menyebabkan para pelaku industeri rekaman mencak-mencak. Hasil karya mereka yang berupa rekaman lagu dapat dengan mudah dikopi dan disebarluaskan, baik lewat internet maupun lewat CD bajakan yang di Indonesia sering dijajakan secara terbuka itu. Akibatnya jelas mereka harus menangguk kerugian yang tidak sedikit.

Ini diperparah lagi dengan munculnya layanan sharing file MP3 via jaringan peer to peer di internet. Layanan ini semula dipelopori oleh Napster (situsnya dulu di www.napster.com). Memanfaatkan layanan ini, pengguna internet dapat melakukan pertukaran file MP3 dengan user lain yang terhubung dalam jaringan internet. Penyedia layanan menyediakan sebuah software yang berfungsi sebagai semacam 'mesin pencari' untuk menemukan file MP3 yang sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan. File-file tersebut merupakan file yang sengaja disediakan oleh pengguna lain dari layanan yang sama. Jadi, layanan ini sama sekali tidak menyediakan file MP3, melainkan sebatas memfasilitasi pertukaran file antar penggunanya saja.

Pada akhirnya, tuntutan dari para pelaku industri rekaman berhasil memaksa Napster gulung tikar. Tapi ibarat kata pepatah 'gugur satu tumbuh seribu', maka layanan sejenis justeru bermunculan 'bak jamur di musim hujan'. Merasa kesulitan untuk melawan layanan semacam ini, industri rekaman mulai berganti jurus. Alih-alih memperkarakan penyedia layanan, mereka malah mulai membidik usernya. Beberapa user yang tertangkap tangan menggunakan layanan ini, kini harus berurusan dengan UU Hak Cipta Amerika Serikat yang terkenal keras itu dengan ancaman denda yang jumlahnya tidak main-main. Persoalan kemudian bergulir ke debat soal hukum yang tentunya tidak terkait lagi dengan masalah teknis.

- Diposting oleh Dhani @ 07:20

Jumat 03 Oktober 2003

Mengenal Format MP3 (1)

Sedikit cerita tentang format file MP3 yang populer itu. Bicara soal MP3 tidak lepas dari format file MPEG (Motion Pictures Expert Group). MPEG (biasanya dilafalkan sebagai eM-PEG) kita kenal sebagai format standar dalam penyimpanan dan pendistribusian data multimedia terkompresi. Kita tahu, data berupa rekaman audio maupun video akan berukuran sangat besar, dan dengan demikian akan sangat menyita spasi di media penyimpanan. Teknik kompresi semacam MPEG dapat membantu mereduksi ukuran file multimedia tanpa menghilangkan informasi yang tersimpan didalamnya. Salah satu aplikasi MPEG yang paling populer adalah format VCD (Video Compact Disc). Sekedar tahu saja, saat kita menyetel film pada VCD, maka yang dilakukan oleh perangkat player VCD itu sebenarnya adalah membaca sebuah file yang disimpan dalam format MPEG di dalam cakram VCD dan menampilkan hasilnya di layar televisi.

Berbeda dengan format kompresi ZIP yang tetap mempertahankan struktur data aslinya (non-lossy), teknik kompresi pada MPEG bersifat lossy, yang artinya bahwa teknik ini menghilangkan sebagian informasi yang dianggap tidak signifikan. Dengan algoritma tertentu, yang disebut DCT (Discrete Cosine Transform), maka sebuah rekaman video dapat dikompres dengan rasio kompresi hingga diatas 10:1, artinya dari 10 MB data, dapat direduksi menjadi hanya 1 MB dengan kualitas yang hanya sedikit lebih rendah dari format file asli. Dengan semakin berkembangnya teknologi mikroprosesor, yang menghasilkan kecepatan pemrosesan data yang semakin tinggi, maka teknik kompresi MPEG dapat terus disempurnakan hingga menghasilkan kualitas gambar yang setara dengan aslinya. Format kompresi yang diterapkan pada DVD (Digital Versatile Disk) maupun siaran televisi digital contohnya, juga dikompres dengan metode MPEG, namun dengan algoritma yang lebih maju ketimbang yang diterapkan pada VCD.

Pada dasarnya, rekaman file multimedia yang tersimpan dalam format MPEG terdiri dari tiga layer (lapisan). Layer pertama adalah frame (bingkai gambar), berikutnya adalah motion (gerakan), dan layer ketiga, atau terakhir adalah sound (suara). Nah, file MP3 sebenarnya adalah file MPEG yang khusus hanya menangani layer yang ketiga itu saja. Maka itulah ia disebut demikian, yaitu singkatan dari MPEG Layer 3. Format file MP3 pertama kali dikembangkan oleh Karlheinz Brandenburg dari Universitas Fraunhofer, Jerman, pada sekitar tahun 1996. Karenanya algoritma MP3 juga sering disebut sebagai algoritma Fraunhofer.

Cara kerja kompresi MP3 ini adalah dengan menghilangkan suara-suara pada frekuensi yang tidak dapat didengar oleh telinga manusia. Cara ini memiliki efektifitas yang cukup signifikan. Apabila sebuah CD Audio (dalam format CDDA) dengan kapasitas sekitar 640 MB hanya mampu menyimpan rekaman sepanjang 70 menit, maka format MP3 memungkinkan sebuah file audio dengan data rate 128 kpbs sepanjang 1 menit hanya menghabiskan spasi sebesar 1 MB pada media penyimpanan. Hitung sendiri berapa banyak lagu yang bisa dijejalkan dalam satu keping CD bila rata-rata panjang sebuah lagu adalah sekitar 4-5 menit.

Karena dikompresi dengan metode lossy, sebenarnya kualitas suara pada file MP3 tidaklah sebagus rekaman aslinya dalam format CD -- walaupun masih jauh lebih baik daripada dengan media kaset. Karena itulah maka format MP3 tidak pernah diklaim sebagai 'sekualitas CD' (CD quality), melainkan hanya 'mendekati kualitas CD' (Near CD Quality). Namun demikian, bagi kebanyakan orang, perbedaan ini hampir-hampir tidak terasa. Mungkin bagi para audiophile (maniak audio) tetap bisa merasakan adanya perbedaan kualitas suara, tapi sejauh mana, saya juga kurang tahu, berhubung saya bukan orang seperti itu :).

- Diposting oleh Dhani @ 07:19