Refleksi: Februari 2004
Sabtu 28 Februari 2004

Setahun Musibah Columbia

Bulan ini, genap setahun berlalunya musibah yang menimpa misi ulang-alik Columbia. Kita tentu masih ingat saat pesawat antariksa tersebut meledak sesaat setelah memasuki atmosfir bumi saat mengakhiri misi dua minggunya pada 1 Februari 2003 lampau.

Selepas musibah Columbia, NASA terus mengevaluasi kembali program ulang-aliknya, baik dari segi teknologi maupun keamanannya. Namun demikian, jangan berharap pesawat ulang-alik akan pensiun dalam waktu dekat ini. NASA masih akan terus menggunakan pesawat ulang-alik untuk misi berawaknya, setidaknya hingga tahun 2010 mendatang. Rencananya, NASA baru akan meluncurkan misi ulang aliknya kembali paling cepat pada September 2004 nanti.

Mandegnya misi ulang-alik pasca musibah Columbia juga membawa konsekuensi yang tidak mengenakkan bagi sejumlah proyek, diantaranya pengembangan Stasiun Ruang Angkasa Internasional (ISS). Kita tahu, bahwa kelangsungan proyek ini juga bergantung pada kontribusi Amerika Serikat, baik dari segi teknologi maupun pengiriman komponen dan awaknya. Setelah musibah Columbia, tanggung jawab ini beralih ke Rusia, negara lain yang juga memiliki kemampuan untuk mengirimkan Manusia ke antariksa. Sayangnya, sekarang Rusia sedang memikul persoalan ekonomi yang cukup berat sehingga tidak mampu mengalokasikan dana yang cukup untuk program ruang angkasanya. Walhasil saat ini program ISS agak tersendat, termasuk dengan dikuranginya jumlah awak yang bertugas disana, dari normalnya tiga orang menjadi hanya dua orang.

Sementara itu, presiden AS sekarang, George W Bush, justeru tidak berhenti mengumbar sensasi. Beberapa bulan lalu, ia mencanangkan rencana pengiriman Manusia ke Mars dalam dasawarsa 2020-an. Terkait dengan rencana itu, ia juga berencana untukmeneruskan kembali misi berawak ke Bulan, setidaknya pada tahun 2015. Segala sumber daya yang ada akan dikerahkan untuk program tersebut, dan sebagai konsekuesinya, AS akan mengurangi keterlibatannya proyek-proyek lain, termasuk juga proyek ISS.

Rencana "futuristik" presiden Bush ini agak mengejutkan, selain karena alokasi dananya tidak tanggung-tanggung (konon mencapai trilyunan dolar AS), manfaatnya juga tidak jelas. Lagipula, kalau dilihat dari latar belakangnya, si 'koboi Texas' ini sebenarnya bukan termasuk orang yang punya minat terhadap teknologi keruang-angkasaan (kecuali mungkin kalau masih berhubungan dengan minyak dan perang). Bisa jadi ini hanyalah manuver Bush dalam menghadapi pemilihan presiden mendatang ditengah popularitasnya yang menurun akibat keputusannya menyerang Afghanistan dan Iraq yang menuai kecaman dunia internasional itu (koq jadi ngomong politik sih!).

Walhasil, nasib dan masa depan ISS menjadi tidak jelas. Sayang juga sih, karena stasiun--yang kelak akan menjadi struktur terbesar yang pernah dibangun manusia di antariksa--ini terancam terbengkalai. Padahal, dari segi ilmiah, proyek ISS lebih menjanjikan manfaat ketimbang misi ke Bulan atau ke Mars yang hanya sekedar mengejar prestise belaka.

- Diposting oleh Dhani @ 07:39

Sabtu 21 Februari 2004

Perintah 'chmod' di xNix

Bagi mereka yang terbiasa menggunakan sistem opersi Unix/Linux tentunya sudah tidak asing lagi dengan perintah chmod yang biasanya digunakan untuk mengubah atribut suatu file. Perintah ini juga kerap digunakan pada server FTP, khususnya yang berbasis xNix (keluarga Unix dan kompatibelnya). Disini perintah chmod biasanya digunakan untuk mengontrol akses pada file-file DHTML (Dynamic HTML). Disinilah para pengguna Windows yang tidak akrab dengan xNix biasanya akan merasa bingung dengan parameter yang digunakan dalam perintah chmod ini.

Rahasia parameter chmod sebenarnya sederhana saja. Dalam lingkungan OS keluarga xNix, setiap file akan memiliki atribut tertentu yang menyangkut level penggunanya (user, group, atau others), dan hak akses (read, write, dan execute). Perintah chmod dengan parameter numerik akan terdiri dari tiga digit angka antara 0 hingga 7. Ketiga digit tersebut masing-masing secara berurutan mewakili level pengguna file bersangkutan, mulai dari user, group, hingga others. Hak akses diwakili oleh angka, masing-masing 4 untuk read, 2 untuk write, dan 1 untuk execute. Sebagai contoh penggunaan, perintah 'chmod 777' akan memberikan akses penuh untuk setiap level pengguna (7=4+2+1), sementara 'chmod 660' akan memberikan akses read dan write untuk user dan group (6=4+2). Bagaimana seandainya kita hanya memberikan akses read untuk user? Sudah bisa ditebak kan? Betul, perintahnya adalah 'chmod 400'.

Dalam shell xNix, perintah chmod juga bisa dipanggil dengan parameter berupa huruf yang mewakili level pengguna dengan hak aksesnya dengan diikuti tanda + (plus) dan - (minus) untuk memberikan atau mencabut hak akses untuk suatu file tertentu. Misalnya perintah chmod dengan parameter ug+rw adalah setara dengan parameter numerik 660.

Banyak pengguna Windows yang kebingungan ketika file DHTML (PHP misalnya) yang dipasang pada webserver berbasis IIS mengalami error ketika dijalankan karena membutuhkan level akses tertentu. Solusinya di Windows jelas tidak ada, karena ini menyangkut perbedaan manajemen file yang sangat mendasar antara Windows dengan keluarga xNix. Solusinya, jalankan file tersebut hanya di lingkungan server berbasis xNix, baik secara remote maupun lokal. Nah, sekarang sudah tidak bingung lagi kan? (atau jangan-jangan malahan tambah bingung?)

- Diposting oleh Dhani @ 09:31

Minggu 15 Februari 2004

Java

Ini bukannya cerita tentang pulau Jawa, pulau yang paling padat penduduk di negeri ini. Pun juga bukan cerita tentang kopi jawa yang sudah menjadi nama "generik" untuk kopi dalam bahasa Inggris. Ini adalah cerita soal bahasa pemrograman yang terkenal dengan slogannya: Write once, run anywhere.

Java, sebutan untuk bahasa pemrograman yang dikembangkan oleh Sun Microsystem ini memang mengusung sejumlah kelebihan yang memungkinkannya untuk mengatasi segala jenis perbedaan pada aneka platform yang ada saat ini. Java dikembangkan dari bahasa pemrograman yang semula disebut sebagai OAK, yang merupakan salah satu turunan dari bahasa C. Nama Java sendiri konon diambil dari nama minuman kegemaran para developernya saat pikiran sedang buntu: kopi dari pulau Jawa.

Apa yang membuat Java begitu menarik? Jawabnya terletak pada kemampuannya untuk menghasilkan program yang mampu berjalan di atas segala jenis platform. Memang kemampuan semacam ini bukan hal yang baru. Bahasa pemrograman semacam C misalnya, juga didesain dengan kemampuan serupa. Seorang programmer bisa saja menulis program dalam bahasa C di Linux dan menjalankannya tanpa modifikasi di Windows. Tapi itu terbatas untuk program-program sederhana. Apabila program yang dibuat mulai menyentuh bagian-bagian yang spesifik, semacam operasi I/O, komunikasi dalam network, atau kemampuan multithreading, maka mau tidak mau, programmer akan berhadapan dengan berbagai keunikan pada masing-masing patform yang memaksanya untuk melakukan modifikasi agar programnya bisa berjalan mulus di platform yang berbeda. Dalam Java tidaklah demikian. Sekali kita menulis program dalam bahasa Java, maka ia akan siap bekerja di segala jenis platform tanpa perlu modifikasi.

Rahasianya ada pada apa yang disebut sebagai Java Virtual Machine (JVM). Inilah "jantung" dari kehidupan software yang ditulis dalam bahasa Java. Tanpanya, program Java tidak mungkin bisa dijalankan. JVM berfungsi sebagai jembatan antara program yang ditulis dengan dengan kompleksitas dan keunikan yang dimiliki oleh platform dimana program tersebut akan dijalankan.

JVM memiliki standar yang mengacu pada spesifikasi yang dikeluarkan oleh Sun Microsystem. Masing-masing platform saat ini telah memiliki JVM-nya sendiri-sendiri, entah yang dikembangkan oleh vendor platform tersebut, oleh pihak ketiga (third party), maupun oleh sukarelawan. JVM untuk Linux misalnya, dikembangkan oleh IBM (www.ibm.com/java), sementara paket distribusi macam RedHat menyertakan sebuah JVM bernama Kaffe yang dikembangkan oleh TransVirtual.

Hingga saat ini, Sun masin memegang kendali utama tentang masa depan Java. Beberapa programmer tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi sebagian menginginkan agar teknologi Java ini lebih terbuka, seperti halnya Linux yang dikembangkan secara bersama-sama oleh perorangan maupun kelompok programmer dari seluruh dunia. Polemik soal ini bisa diikuti di website javalobby.org.

Menulis program dalam bahasa Java tidak jauh berbeda dengan menggunakan bahasa pemrograman lainnya. Apabila dalam bahasa pemrograman lain, kita melewati langkah-langkah mulai dari penulisan dengan teks editor, dilanjutkan dengan kompliasi dan linking untuk memperoleh file yang siap dieksekusi (executable), maka dalam Java, kode program disimpan dengan ekstensi java. Selanjutnya, Java compiler akan mengkompilasi program tersebut menjadi Java Bytecode yang tersimpan sebagai file berekstensi class. Java Bytecode inilah yang akan dieksekusi oleh JVM .

JVM dalam hal ini menyembunyikan kompleksitas platform dan program yang ditulis. Sekilas kita akan berpikir bahwa penggunaan lapisan tambahan ini akan membuat program berjalan lebih lambat daripada aplikasi yang dirancang secara spesifik untuk platform tertentu. Pada mulanya memang demikian, namun kini telah dikembangkan apa yang disebut Just In Time Compiler (JIT). JIT membaca program java dan segera melakukan kompilasi guna menghasilkan program yang spesifik untuk platform yang bersangkutan. Dengan cara ini, pada awalnya user memang harus sedikit menunggu saat JIT melakukan tugasnya, namun begitu proses ini selesai, maka program dapat melaju tanpa hambatan.

Java adalah bahasa pemrograman yang network centric (berorientasi pada jaringan), dalam artian baik runtime maupun library yang disediakannya sangat kondusif untuk digunakan untuk mengembangkan aplikasi network, mulai dari level rendah hingga pengembangan aplikasi terdistribusi. Dewasa ini, trend pemrograman memang makin bergeser dari desktop computing ke network computing (dengan Internet sebagai final frontier-nya). Karena itu, Java adalah bahasa pemrograman yang patut dipelajari bagi mereka yang ingin mengembangkan kemampuannya dalam membangun aplikasi network yang bersifat lintas platform.

- Diposting oleh Dhani @ 11:27

Sabtu 14 Februari 2004

Peristiwa Langka?

Seberapa seringkah terjadi peristiwa "langka" dalam astronomi? Akhir-akhir ini kita sering mendengar soal peristiwa yang melibatkan benda-benda langit yang terjadi untuk kurun waktu yang fantastis. Apa betul kita hidup di masa dimana segala peristiwa langka mulai bermunculan?

Astronomi adalah ilmu yang mempelajari objek-objek yang tak terkira banyaknya yang bergerak dan menempati ruang yang maha luas. Dalam kondisi itu, hampir semua hal yang berlangsung pada setiap objek selestial adalah unik dan langka. Sepanjang waktu, kita akan selalu berurusan dengan peristiwa seperti transit yang terjadi setiap periode ratusan tahun, atau komet yang melintas sekali setiap sekian ribu tahun, misalnya. Tidak perlu merasa beruntung setiap kali kita mengalami hal-hal semacam itu. Peristiwa serupa akan selalu berlangsung terus menerus sepanjang peradaban manusia--tentu dengan melibatkan objek dan skenario berbeda. Lagipula, apalah artinya sekian ratus atau ribu tahun dibandingkan miliaran tahun usia alam semesta ini?

Akhir-akhir ini, intensitas pemberitaan tentang peristiwa-peristiwa astronomis memang cukup gencar. Ini juga tidak lepas dari meningkatnya minat masyarakat akan bidang yang satu ini, sehingga berita-berita semacam mendekatnya planet Mars, atau terjadinya dua gerhana dalam waktu berdekatan, mulai dianggap memiliki "nilai jual" oleh media. Sayangnya, pemuatan berita-berita semacam ini kadang ditambahi juga dengan unsur-unsur sensasi yang membuat sebuah peristiwa yang sebetulnya biasa menjadi kelihatan luar biasa. Hal ini diperparah oleh kenyataan bahwa banyak berita tentang astronomi dimuat dengan pemahaman yang kurang memadai dari wartawan yang menulisnyua. Akibatnya muncul salah kutip, salah menterjemahkan, hingga salah interpretasi. Hal ini memunculkan berbagai kekeliruan dalam pemberitaan yang tidak jarang terlihat konyol, bahkan menyesatkan.

Jangan kaget kalau seandainya pemberitaan soal transit Venus bulan Juni nanti akan ditambahi dengan "bumbu" sensasional, atau pernyataan yang menyesatkan lainnya. Itu mungkin memang sudah sifat dasar media. Sebenarnya di periode lampau juga banyak terjadi peristiwa-peristiwa "langka" dalam astronomi, tetapi karena teknik perhitungan dan instrumen pengamatan yang masih belum canggih, ditambah dengan akses informasi yang terbatas, membuat banyak peristiwa astronomis terlewat begitu saja tanpa ada perhatian dari publik, dan bahkan tanpa disadari oleh ahli-ahli astronomi itu sendiri.

- Diposting oleh Dhani @ 11:43

Minggu 08 Februari 2004

Transit Venus

Seperti halnya Merkurius yang sewaktu-waktu dari Bumi terlihat menyilang cakram Matahari-yang dikenal sebagai peristiwa transit, maka planet Venus juga berpeluang mengalami hal serupa. Venus berada pada posisi di antara Matahari dan Bumi pada setiap 584 hari sekali, dan oleh karenanya peristiwa konjugasi ini akan terjadi tiap sekitar 19 bulan sekali, yaitu saat Venus berada dalam bidang orbit Bumi.

Sayangnya, bidang orbit Venus memiliki kemiringan lebih dari 3° terhadap bidang rotasi Bumi. Pada saat Venus masuk ke konjugasi, pada umumnya Venus berada di atas atau di bawah orbit Bumi sehingga transit praktis tidak terjadi. Namun demikian, sekali setiap 243 tahun, Venus akan berada pada konjugasi bawah sekaligus dalam bidang orbit Bumi. Dalam keadaan inilah transit Venus terjadi.

Transit selalu berlangsung dalam bulan Juni atau Desember, namun dalam selang waktu yang tidak teratur. Transit terjadi secara berpasangan, dimana antara satu transit dan transit pasangannya akan dipisahkan oleh selang waktu sekitar 8 tahun. Setelah transit kedua berlangsung, tidak akan ada transit lagi dalam waktu lebih dari seabad kemudian. Transit Venus terakhir kali terjadi pada bulan Desember 1874 dan Desember 1882. Dua transit berikutnya akan terjadi pada Juni tahun 2004 ini, dan akan disusul oleh transit pasangannya pada Juni 2012.

Pada saat Venus dalam posisi transit, mata telanjang dapat melihatnya sebagai sebuah titik hitam pada permukaan cakram Matahari. Namun jangan coba-coba untuk memandang langsung ke arah Matahari tanpa menggunakan pelindung mata. Jika dilihat dengan menggunakan teleskop, maka Venus akan terlihat sebagai sebuah cakram hitam yang membayang pada cakram Matahari yang jauh lebih besar. Venus memerlukan waktu sekitar 8 jam atau kurang untuk melintasi permukaan Matahari. Yang menarik, tepat pada saat terjadinya kontak antara Venus dengan permukaan Matahari, dan juga saat Venus meninggalkan cakram Matahari, planet itu akan terlihat dikelilingi seluruhnya atau sebagian oleh suatu cincin cahaya yang cerah.

Seperti halnya transit Merkurius yang selalu ditunggu dengan penuh minat oleh para astronom guna membuktikan teori relativitas Einstein (bagaimana duduk perkaranya sudah pernah kita bahas disini), transit Venus juga pernah menjadi momen yang ditunggu-tunggu, karena peristiwa ini akan memberikan suatu metoda untuk menghitung secara akurat jarak antara Matahari dan Bumi. Planet ini memerlukan waktu yang berbeda untuk melintasi permukaan Matahari apabila dilihat dari posisi pengamatan yang berbeda pula. Dengan mengetahui waktu transit pada suatu pos pengamatan dan membandingkan dengan waktu di pos pengamatan lain yang jaraknya sudah diketahui, maka jarak Bumi-Matahari dapat dihitung. Namun dengan ditemukannya metode lain yang lebih praktis akurat, maka para astronom tidak perlu lagi berlama-lama menunggu terjadinya peristiwa ini hanya untuk alasan tersebut. Namun demikian, sebagai peristiwa astronomi yang tergolong langka, peristiwa transit Venus ini tetap saja sayang untuk dilewatkan.

- Diposting oleh Dhani @ 11:40

Senin 02 Februari 2004

Update Minor

Sedikit catatan teknis (lagi). Setelah lama tidak mengalami updating, dua artikel baru telah ditambahkan halaman Astronomi dan Informatika, masing-masing menyorot tentang sejarah penerbangan antariksa (Astronomi) dan isu mengenai distributed computing (Informatika). Kedua artikel ini sebenarnya merupakan rangkuman dari tulisan dengan topik serupa yang pernah ditulis secara bersambung disini pada beberapa bulan lampau. Pendekatan seperti ini sengaja dipilih dengan pertimbangan praktis, agar artikel-artikel tersebut dapat dinikmati secara lebih runtut dan jelas, dibandingkan apabila dibaca dalam format weblog.

Beberapa update minor lainnya antara lain perbaikan pada form Kontak Webmaster yang untuk beberapa waktu sempat ngadat. Beberapa pengunjung meminta supaya halaman-halaman tertentu diberi ilustrasi grafis yang sesuai. Sebenarnya hal ini sudah lama diterapkan, misalnya di halaman Apa dan Siapa (Astronomi), dan Kamus Istilah untuk semua ruangan. Namun demikian, ilustrasi itu hanya muncul apabila dikehendaki (Dengan mengklik tulisan "lihat gambar"). Cara ini sengaja dipilih mengingat situs ini memang dibuat untuk konsumsi masyarakat internet Indonesia yang kita tahu, aksesnya masih belum begitu kencang.

Terakhir, bagi yang merasa bahwa halaman ini makin jarang di-update: Anda benar. Sebenarnya saya tidak ingin lama-lama menelantarkan web ini, tetapi belakangan ini banyak hal lain yang harus diprioritaskan. Saya bukannya orang yang super sibuk, tapi kadang-kadang waktu luang menjadi barang langka yang penggunaannya perlu diatur baik-baik :).

- Diposting oleh Dhani @ 19:15