Refleksi: Maret 2004
Rabu 31 Maret 2004

Sedna

Peristiwa astronomi penting bulan ini: Penemuan objek baru yang dinamai Sedna (2003 VB12), kembali merubah pandangan kita tentang tata surya, termasuk membuka lagi debat lama tentang status keplanetan Pluto.

Disebut-sebut merupakan anggota tata surya terluar, Sedna, yang namanya diambil dari nama Dewi Laut bangsa Inuit itu, berada pada jarak 90 Satuan Astronomi (AU), atau tiga kali lebih jauh dari orbit Pluto atau Neptunus. Dalam jarak sejauh itu, perlu waktu 10.500 tahun bagi Sedna untuk mengorbit Matahari.

Objek ini ditemukan pada 14 november 2003 oleh suatu tim yang dipimpin oleh Michael E. Brown, Profesor astronomi dari California Institute of Technology (Caltech), namun penemuan ini baru diumumkan ke publik pada 15 Maret 2004 lalu. Sedna ditemukan dengan bantuan teleskop Samuel Oschin 48-inch di Observarorium Mount Palomar, dekat San Diego, California. Penemuan ini kemudian dikonfirmasikan oleh Teleskop Antariksa Spitzer milik NASA.

Dengan diameter 1800 km, sekitar tiga-perempat dari diameter Pluto, Sedna juga tercatat sebagai objek terbesar yang pernah ditemukan setelah penemuan Pluto tahun 1930. Sebelum penemuan Sedna, tercatat juga penemuan objek sejenis yang dinamai Quaoar dengan diameter 1250 km. Berbeda dengan Quaoar yang merupakan keluarga objek sabuk kuiper (kuiper belt objet), maka Sedna tidak bisa dimasukkan dalam golongan ini karena letaknya yang sangat jauh, diluar sabuk tersebut. Banyak pihak yang berpendapat bahwa Sedna dan Quaoar bisa saja digolongkan sebagai planet, sebagaimana halnya dengan Pluto. Persoalannya sekarang, apa definisi yang tepat untuk "planet"?

- Diposting oleh Dhani @ 11:00

Minggu 21 Maret 2004

Kenapa Tidak Tentang Tata Surya?

Tidak seperti situs-situs lain yang juga bicara soal astronomi, kajian soal astronomi di situs ini relatif sedikit berbicara soal tata surya. Ini berbeda dengan kebanyakan situs atau resource astronomi yang justeru didominasi oleh kajian soal tata surya.

Tata surya dengan segala macam pernik-perniknya sebenarnya sudah menjadi wacana 'klasik' dalam astronomi profesional. Walau demikian, topik ini masih mendapatkan perhatian yang cukup besar dari para peminat astronomi amatir. Untuk kalangan peminat astronomi, 'daya tarik' wacana seputar tata surya mungkin terletak pada keluarga planet yang menghuninya beserta ciri-ciri unik masing-masing.

Pengetahuan kita tentang anggota tata surya memang terus berkembang dari waktu ke waktu. Kendatipun demikian, sebenarnya tidak banyak hal baru secara fundamental yang bisa digali dalam kurun waktu tiga dasawarsa terakhir ini. Cerita soal planet-planet di literatur astronomi populer terbitan terbaru misalnya, hanya memuat sedikit fakta tambahan dibandingkan literatur dengan topik serupa terbitan tahun 1970-an.

Perkembangan dalam pemahaman seputar tata surya, biasanya berkisar pada fakta-fakta baru yang ditemukan berkaitan dengan komposisi mineral yang membentuk permukaan planet, khususnya yang pernah disinggahi oleh wahana pendarat buatan manusia, termasuk juga komposisi gas yang membentuk selubung atmosfir pada planet. Tidak ketinggalan pula, jumlah satelit alam (bulan) yang terus bertambah dari waktu ke waktu, khususnya pada planet bagian luar, seiring dengan makin canggihnya teknologi teleskop yang digunakan dewasa ini.

Perkembangan yang cukup signifikan terjadi saat ditemukannya objek kuiper belt. Maklum, dengan penemuan objek anggota "baru" tata surya ini, maka definisi soal planet yang sudah dianut selama berabad-abad mulai dipertanyakan kembali. Penemuan ini bahkan juga mengusik status keplanetan dari Pluto. Diluar itu, tidak banyak hal baru yang bisa digali. Parameter-parameter yang sudah baku seperti gerak dan periode orbit, serta massa dari anggota tata surya misalnya, relatif sudah final.

Hal inilah yang antara lain menjadi alasan kenapa saya hanya memberikan porsi yang sedikit tentang tata surya di situs ini. Astronomi modern memang tidak cuma bicara soal tata surya. Diluar itu, masih ada tak terbilang objek eksotis yang cukup menantang naluri ilmiah para astronom. Mulai dari objek astrofisika energi tinggi semacam pulsar dan kuasar, hingga sistem keplanetan lain diluar tata surya, semua itu tentunya memiliki pesona tersendiri untuk dikaji dan dipelajari.

- Diposting oleh Dhani @ 02:15

Sabtu 20 Maret 2004

Kajian Soal Hardware

Adakah media komputer saat ini yang tidak mencantumkan review produk, baik hardware maupun software, sebagai salah satu rubrik tetapnya? Saya rasa sebagian besar, untuk tidak mengatakan semua, media yang menyebut diri media komputer pasti menyediakan rubrik semacam ini.

Mencantumkan review produk sebenarnya tidak mengapa, asalkan tetap dalam koridor sebagai pedoman bagi calon konsumen untuk mengambil keputusan soal produk yang akan dibeli. Yang jadi persoalan, ada saja pihak yang terjebak pada pandangan bahwa itulah dunia IT. Dengan demikian media komputer diidentikkan dengan "pameran" sejumlah produk baru, lengkap dengan benchmark dan ulasan dari para pakar.

Celakanya, beberapa kali saya menjumpai seseorang yang dipandang oleh lingkungannya sebagai "pakar" komputer, ternyata tidak lebih dari "kamus berjalan" soal hardware dan software terbaru. "Pengetahuannya" itu jelas dia peroleh dari banyak membaca review di majalah komputer!

Terus terang, saya merindukan media komputer yang cerdas macam majalah Mikrodata (entah bagaimana kelanjutannya media ini sekarang) yang banyak berisi ulasan teknis yang bermanfaat itu. Media komputer sekarang sepertinya sudah banyak berubah. Satu dasawarsa lalu, saat media komputer berbahasa Indonesia masih dalam hitungan jari, isu-isu yang dimuat umumnya lebih edukatif. Tidak terlalu banyak ulasan tentang processor tercepat, chipset tercanggih, atau kartu grafis paling gegas seperti yang mendominasi media komputer sekarang.

Bagi mereka yang pernah merasakan 'kejayaan' bahasa pemrograman berbasis DOS pada awal era 1990-an, tentunya masih ingat, bagaimana asyiknya menyalin listing program dari media komputer dahulu. Program dalam bahasa Basic, Pascal, atau C itu mesti disalin dengan hati-hati huruf demi huruf. Jaringan online belum ada atau belum memasyarakat sehingga mendownload listing program masih belum ada dalam kamus para 'maniak' komputer kala itu.

Sayangnya, di era yang penuh kemudahan ini, media komputer malahan terdegradasi, bukan lagi sebagai sarana belajar, tapi sebagai media pemuas hobi belaka. Tidak semuanya sih, tapi kalau dilihat sepintas, sebagian besar media komputer berbahasa Indonesia saat ini memang lebih berorientasi hobi ketimbang pendidikan. Dan hobi komputer, harus diakui adalah hobi mahal, setidaknya bagi sebagian besar masyarakat di negara kita.

- Diposting oleh Dhani @ 01:09

Sabtu 13 Maret 2004

Rekayasa Sosial

Dewasa ini, 'trend' penyebaran virus maupun worm yang menyerang PC tidak lagi terjadi dengan teknik konvensional seperti yang selama ini kita kenal. Ketimbang menggunakan teknik-teknik yang rumit semacam stealth atau polymorphism, para 'psikopat' pembuat virus kini cenderung memanfaatkan kelemahan pihak pengguna sendiri untuk secara tidak langsung ikut menyebarkan virus buatannya. Trik semacam ini dikenal sebagai rekayasa sosial (social engineering). Disebut demikian karena dalam hal ini para perekayasa virus memanfaatkan sifat manusia sebagai mahluk sosial dengan segala kecenderungan manusiaiwinya.

Walaupun baru belakangan ini istilah tersebut mulai diperkenalkan, prinsip rekayasa sosial sebenarnya bukan hal baru, baik dalam dunia IT maupun dalam kehidupan sehari-hari. Virus jenis trojan horse misalnya, yang sudah dikenal sejak jaman DOS dahulu, juga menyebar dengan memanfaatkan prinsip ini. Dalam lingkup diluar dunia IT, upaya-upaya penipuan atau pembobolan bank yang memanfaatkan kecerobohan si korban atau pihak bank bersangkutan bisa juga disebut sebagai rekayasa sosial. Belakangan, dengan maraknya penggunaan internet dan email, teknik ini juga dimanfaatkan oleh programmer virus/worm untuk mendukung aksinya. Contohnya bisa kita lihat pada penebaran virus Love Bug dan MyDoom, dengan segala variannya akhir-akhir ini.

Dalam rekayasa sosial, yang dipandang sebagai titik lemah dalam sebuah sistem, bukanlah pada perangkat keras (hardware) atau perangkat lunak (software) sebagaimana pada pandangan konvensional, namun justeru pada manusia yang menjalankannya (brainware). Mengeksploitasi sifat manusiawi, semacam rasa ingin tahu, senang dipuji, ceroboh, dan sebagainya, merupakan 'trik' khas dari rekayasa sosial. Contohnya, siapa sih yang tidak akan meraa tersanjung saat mendapatkan email tidak dikenal dengan kalimat 'I Love You' pada baris subject? Yang bersangkutan mungkin tidak sempat berpikir bahwa kalimat tersebut hanya pancingan untuk membuka email, dan mengeksekusi attachment, yang sebenarnya berisi rutin-rutin berbahaya yang dapat melumpuhkan sistemnya.

Untuk menangkal penyebaran virus atau worm yang menggunakan teknik ini juga gampang-gampang susah. Gampang, karena umumnya program perusak yang dirancang dengan teknik ini tidak memiliki rutin penularan, dengan demikian, selama programnya tidak dieksekusi, maka kondisi sistem akan aman-aman saja. Sulitnya, tidak semua orang, bahkan yang melek IT sekalipun, memiliki pemahaman terhadap soal ini. Perlindungan lewat anti virus saja tidka cukup karena teknik penyebaran dan varian baru akan terus berkembang, tergantung 'kreativitas' sang programmer virus (yang tentunya berada diatas para pembuat antivirusnya).

Satu-satunya cara yang efektif dalam menangkal serangan dengan cara ini adalah dengan menerapkan kehati-hatian yang tinggi dalam mengoperasikan sistem komputer. Jangan sembarangan membuka attachment yang tidak jelas juntrungannya, apalagi yang berjenis executable, walaupun itu dikirimkan oleh yang sudah dikenal sekalipun. Memang sih, kelihatannya kita jadi dipaksa untuk bersikap 'paranoid' dan tidak gampang mempercayai orang lain. Prinsip 'safety first' itu tidak cuma berlaku di jalan raya lho!

- Diposting oleh Dhani @ 09:17

Minggu 07 Maret 2004

Fenomena Astronomi Bulan Ini

Diantara fenomena-fenomena astronomis menarik yang akan terjadi tahun ini adalah munculnya dua buah komet yang dapat diamati dengan mata telanjang. Keduanya masing-masing adalah komet Linear (C/2002 T7) dan komet Neat (C/2001 Q4).

Komet Linear sebenarnya sudah dapat diamati sejak awal Februari, sesaat setelah matahari terbenam. Namun untuk dapat mengamatinya kita masih harus menggunakan alat bantu seperti binokular. Komet ini baru bisa diamati dengan mata telanjang mulai 7 Maret 2004 hingga 25 Maret 2004, ketika ia berada pada magnitudo diatas 6.

Dalam rentang waktu antara 25 Maret 2004 hingga 17 mei 2004, komet Linear akan nampak pada pagi hari, sesaat sebelum terbitnya matahari. Selanjutnya, mulai dari tanggal 18 Mei 2004, komet tersebut akan tampak di malam hari, setelah matahari terbenam. Mulai tanggal tersebut, kecerlangannya akan terus berkurang sehingga tidak dapat diamati lagi.

Seperti halnya komet Linear, komet Neat dapat dilihat dengan binokular atau teleskop kecil sejak Februari 2004, sesaat setelah matahari terbenam. Komet tersebut dapat dilihat dengan mata telanjang mulai pertengahan Maret 2004. Penampakannya semakin hari akan semakin cemerlang hingga mencapai kecerlangan maksimumnya pada 7 Mei 2004.

Memang penampakan kedua komet ini tidak secemerlang komet-komet terkenal lain seperti komet Halley misalnya. Namun demikian, pemunculan kedua komet ini tetap menjadi pertunjukan yang menarik untuk disaksikan berhubung kemunculan sebuah komet yang bisa diamati dengan mata telanjang adalah peristiwa langka, dan karenanya sungguh sayang untuk dilewatkan.

- Diposting oleh Dhani @ 09:11