Refleksi: Mei 2004
Minggu 23 Mei 2004
Wikipedia
Salah satu fungsi internet, khususnya WWW adalah untuk membentuk apa yang disebut knowledge base (basis pengetahuan). Sebuah knowledge base bisa berupa sebuah situs yang memuat informasi secara terstruktur dan terkodifikasi dengan baik. Di internet, kita bisa menemui banyak situs knowledge base, diantaranya adalah situs-situs ensiklopedia atau pengetahuan populer. Situs inipun sebenarnya juga bisa dipandang sebagai sebuah knowledge base, walaupun tidak ideal karena isinya kurang terstruktur.
Umumnya situs knowledge base dikelola oleh satu pihak, baik secara individual maupun kelompok. Namun demikian, ada pula contoh situs semacam ini yang dibangun secara "keroyokan", bahkan bersifat open-source. Untuk itu, situs Wikipedia bisa menjadi contoh.
Proyek Wikipedia merupakan suatu proyek bersama untuk mewujudkan ensiklopedia terlengkap dalam semua bahasa. Proyek ini dimulai sejak Januari 2001 dan sudah mempunyai lebih dari 200.000 artikel dalam bahasa Inggris (14 Maret 2004), dan masih terus ditambah dan disempurnakan. Wikipedia dikelola oleh organisasi nirlaba Wikimedia Foundation, dan dikembangkan secara kolaboratif dengan menggunakan software wiki.
Seluruh konten Wikipedia dikerjakan oleh usernya. Tidak ada seorangpun yang bisa mengklaim sebagai pemilik, dan tidak ada artikel yang dianggap final. Semuanya akan terus berubah dan mengalami revisi dari waktu ke waktu. Konten yang termuat bersifat free dibawah Lisensi GNU Free Documentation, artinya semuanya bebas untuk digunakan, diedit, dikopi, dan di-redistribusi.
Situs kita ini juga telah berpartisipasi di proyek Wikipedia melalui halaman Kamus Istilah Astronomi. Tapi maaf, bukan di seksi Indonesia, tapi justeru di seksi Malaysia (lha, mereka yang duluan minta. Masak saya tolak!). Untuk ini, harus saya akui bahwa bagian Malaysia dikelola secara lebih baik ketimbang bagian Indonesia [halo developer Indonesia :)].
Sabtu 15 Mei 2004
Planet Ekstrasolar Temuan Putera Indonesia
Berikut sepenggal kisah dari perburuan planet ekstrasolar. Baru-baru ini, Max-Planck-Insitute for Astronomy di Heidelberg, Jerman, mengumumkan penemuan satu kandidat planet ekstrasolar berupa objek substellar yang mengedari bintang HD 11977. Benda substellar adalah benda-benda langit yang massanya jauh lebih kecil daripada massa bintang pada umumnya, misalnya bintang katai coklat (brown dwarfs) dan planet.
Penemuan benda substellar ini menggunakan metode Pengukuran kecepatan radial menggunakan FEROS, sebuah spektrometer berresolusi tinggi. Instrument ini semulanya ditempatkan di teleskop 1.52m ESO (European Southern Observatory) yang kemudian dipindahkan ke teleskop MPG/ESO 2.2m di observatorium La Silla, Chile.
Adanya perubahan pada kecepatan radial ini dapat dijelaskan sebagai akibat adanya benda lain tak terlihat yang mengedari bintang tersebut. Hal ini disebabkan oleh gaya gravitasi (gaya tarik-menarik) antara kedua benda tersebut. Massa benda tak terlihat tersebut adalah antara 9 sampai 19 kali lebih besar daripada massa planet Yupiter, planet terbesar di tata-surya kita. Orbit benda pengedar tersebut masih belum dapat dipastikan secara pasti, namun waktu yang ditempuh untuk sekali peredaran dapat diperkirakan antara 700 sampai 1600 hari (2 sampai 5 tahun). Hal ini menyimpulkan bahwa jarak benda substellar tersebut ke bintang induknya adalah antara 2 sampai 4 kali dari jarak bumi ke matahari.
HD 11977 sendiri adalah sebuah bintang raksasa merah dengan massa sekitar 3 kali lebih besar daripada massa matahari. Jaraknya dari bumi adalah sekitar 200 tahun cahaya. Selain itu bintang raksasa ini adalah 10,6 kali lebih besar daripada matahari. Ketika masih berusia muda atau menengah, bintang-bintang yang massanya beberapakali atau mungkin jauh lebih besar daripada matahari sangat sulit diselidiki akan adanya benda pengedar. Kemungkinan besar, HD 11977 dahulunya adalah sebuah bintang kerdil kelas A, yang artinya bintang sebesar matahari tetapi bersuhu tinggi sekitar 11000 derajat Celcius. Setelah bintang ini berevolusi dan lebih tua usianya, atmosfir bintang ini mendingin menjadi sekitar 5000 derajat Celcius. Hal ini menjadikan bintang ini obyek yang cocok untuk pengukuran kecepatan radial.
Yang menarik dan juga membanggakan adalah bahwa program perburuan planet ini dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari para astronn Eropa dan Brazil dibawah pimpinan Johny Setiawan dari Max-Planck-Insitute for Astronomy. Nama Johny Setiawan mungkin agak mengejutkan, karena kedengaran familiar. Beliau memang astronom berkebangsaan Indonesia yang kini bekerja di lembaga tersebut. Cerita selengkapnya tentang penemuan ini bisa dibaca disini.
Data terakhir dari situs Extrasolar Visions menyebutkan bahwa sejauh ini telah tercatat 110 objek yang dikonfirmasi sebagai planet ekstrasolar. Selain itu, juga telah terdata objek-objek substellar berupa 20 bintang katai coklat dan 5 objek transit yang kondisinya di tengah-tengah antara planet dengan bintang katai coklat.
Minggu 09 Mei 2004
Teori Pembentukan Alam Semesta (2)
Gambaran Hubble mengenai alam semesta yang mengembang berpengaruh dramatis pada astronomi. Bukan saja untuk pertama kalinya ia menguak dimensi dan struktur kosmos, tapi juga memberikan petunjuk pembentukannya. Hal ini menjadi sasaran astronom Belgia, Georges Lemaitre pada 1927. Ia menjelaskan bahwa jika kini alam semesta mengembang, maka di masa silam mestinya ia berukuran lebih kecil, dan dalam kurun waktu jauh sebelumnya, alam semesta mestinya berupa massa tunggal. Massa ini kemudian meledak bercerai-berai dan membentuk galaksi-galaksi. Dengan kata lain, alam semesta terbentuk dari suatu ledakan besar (big bang), dan sejak itu terus mengembang.
Pada 1938 fisikawan Amerika, Hans Bethe, menerangkan bahwa bintang menghasilkan energi dari pengubahan Hidrogen menjadi Helium dalam proses fusi termonuklir. Seorang Amerika lain, George Gamow, menerapkan teori ini atas ledakan besar dan menyatakan bahwa ledakan ini menghasilkan Helium dan Hidrogen. Pengamatan kemudian ternyata membenarkan prediksi ini. Namun tidak semua astronom yakin. Bahwasannya alam semesta tercipta pada suatu waktu tertentu di masa silam merupakan hal yang sulit dipercaya oleh sebagian astronom. Jika alam semesta mengembang dan memiliki masa depan tak terhingga, mengapa ia tidak memiliki masa lampau yang tak terhingga pula?
Atas dasar itu, pada 1948, tiga astronom, masing-masing adalah astronom Inggris, Sir Herman Bondi dan Sir Fred Hoyle, serta seorang astronom Amerika, Thomas Gold mengajukan sebuah teori alternatif yang disebut teori keadaan tetap (steady state). Teori ini menyatakan bahwa alam semesta tidak memiliki suatu awal khusus dan tak pernah akan berakhir. Galaksi akan terus saling menjauh untuk selamanya sementara galaksi baru akan terbentuk secara spontan untuk mengisi ruang diantaranya. Pembentukan alam semesta terjadi secara perlahan dan kontinyu sehingga kepadatan alam semesta -- jumlah galaksi dalam ruang tertentu -- akan selalu sama.
Teori keadaan tetap tidak dapat menarik banyak pengikut karena ketiadaan bukti pendukung. Sebaliknya, teori ledakan besar memunculkan banyak bukti pendukung. Selain bukti berupa keberadaan Hidrogen sebagai sisa ledakan besar, Hoyle juga berhasil membuktikan bahwa sebagian panas yang tersisa dari ledakan tersebut masih tertinggal sebagai sebuah radiasi latar belakang. Meskipun ledakan besar seharusnya menaikkan suhu hingga jutaan derajat, namun seiring mengembangnya alam semesta suhu akan jatuh hingga mendekati nol derajat mutlak (0 derajat Kelvin). Namun pada kenyataannya sisa ledakan besar meninggalkan radiasi yang meliputi seluruh ruang seperti kehangatan api yang nyaris padam. Pada 1965, melalui pengukuran dengan teleskop radio, para astronom berhasil mengkonfirmasi adanya radiasi latar belakang tersebut. Kini kita tahu bahwa suhu alam semesta adalah 2,7 derajat Kelvin, atau dengan kata lain 2,7 derajat diatas nol mutlak.
Namun teori ledakan besar tidak mampu menjawab semua pertanyaan mengenai asal usul alam semesta. Bagaimana sampai terjadi adanya massa tunggal berisikan seluruh materi pada alam semesta? Dan apakah alam semesta akan terus mengembang selamanya? Untuk menjawab pertanyaan ini telah disusun teori lain. Teori ini menyatakan bahwa alam semesta akan terus mengembang, tetapi kecepatan mengembangnya akan melambat karena tarikan gravitasi antar galaksi. Suatu saat di masa depan, pengembangan dapat terhenti dan gravitasi mulai menarik galaksi saling mendekat. Alam semesta akan menyusut hingga semua galaksi mengumpul menjadi massa tunggal, lantas meledak untuk sekali lagi menciptakan pengembangan. Proses ini berlangsung terus menerus dalam suatu daur osilasi tak terhingga. Teori ini juga masuk akal, tetapi bukti pendukungnya masih minim. Beberapa pengamatan akhir-akhir ini menunjukkan adanya tanda-tanda perlambatan pengembangan alam semesta. Jika benar, daur alam semesta masih akan berjalan hingga sekitar 100 milyar tahun lagi.
Sabtu 08 Mei 2004
Teori Pembentukan Alam Semesta (1)
Bagaimana alam semesta ini terbentuk, dan bagaimana pula ia kelak berakhir? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu kembali sejenak ke awal abad ke-19. Ketika itu, seiring dengan ditemukannya teleskop yang makin baik, banyak rahasia kosmos yang mulai terkuak. Pada tahun 1805, setelah mengamati gerakan kecil pada bintang-bintang, astronom Inggris Sir William Herschel menduga bahwa tata surya bergerak ke arah rasi Hercules. Ia juga memperhatikan bahwa sebagian nebula memang merupakan kabut gas yang berkilau, namun sebagian lainnya merupakan sekelompok bintang yang letaknya amat jauh.
Belakangan fakta ini membawanya pada kesimpulan bahwa Matahari merupakan salah satu diantara jutaan bintang yang membentuk sebuah kelompok dalam bentuk mirip seperti batu gerinda. Kesimpulan ini diambilnya saat mempelajari galaksi Bimasakti. Sekarang, kita tahu bahwa Bimasakti -- yang dengan mata telanjang nampak sebagai pita cahaya samar di langit malam -- sebenarnya adalah galaksi dimana Matahari dan segenap anggota tata surya berada.
Konfirmasi atas spekulasi Herschel itu terpaksa menunggu perkembangan teleskop yang lebih kuat. Hal ini baru terjadi pada awal abad ke-20. Adalah Harlow Shapley, seorang astronom Amerika Serikat yang pertama kali membuktikan hal ini ketika meneliti Kelompok Globular. Ia melakukan pengukuran jarak dengan menggunakan metode Variabel Cepheid yang dikembangkan oleh Henrietta Swan Leavitt (lihat catatan tanggal 13 November 2002). Dari sana ia beroleh kesimpulan bahwa Kelompok Globular ternyata terletak dalam suatu cincin di pinggir galaksi Bimasakti. Dari sana, ia dapat menemukan pusat galaksi kita. Semula Herschel mengira bahwa tata surya berada di pusat galaksi, namun Shapley membuktikan bahwa posisi kita sebenarnya agak di pinggir, yaitu sekitar 70% dari jarak ke tepi galaksi.
Pada 1924, astronom Amerika lain, Edwin Hubble. membuktikan bahwa sebuah nebula dalam rasi Andromeda adalah galaksi lain diluar galaksi kita. Ia menghitung bahwa jarak galaksi tersebut adalah sekitar satu juta tahun cahaya (pengukuran lebih lanjut menunjukkan bahwa jarak sebenarnya lebih dari dua kalinya). Dalam perhitungannya, Hubble juga menggunakan metode Variabel Cepheid, namun metode ini tidak berguna untuk mengukur jarak ke galaksi yang sedemikian jauh. Sebagai gantinya, Hubble menggunakan pergeseran merah sebagai indikator jarak. Dari sini ia mengetahui bahwa galaksi-galaksi yang ada ternyata bergerak saling menjauh. Hubble kemudian menyimpulkan bahwa kecepatan menjauhnya galaksi sebanding dengan derajat pergeseran merahnya. Dengan kata lain, semakin jauh sebuah galaksi, makin cepat pula ia bergerak menjauhi kita. Hubungan ini disebut sebagai Hukum Hubble yang menunjukkan bahwa alam semesta mengembang ke segala arah. Lantas apa hubungannya dengan asal mula alam semesta? Ini akan kita bahas pada posting berikutnya.
Sabtu 01 Mei 2004
Tiga Tahun Situs Ini
Ada ratusan situs web baru baru yang bermunculan tiap hari, tapi hanya sedikit yang mampu bertahan hingga selama tiga tahun. Kebanyakan situs memang dibuat untuk keperluan yang sifatnya temporer, sementara situs lain memang akhirnya terkena 'seleksi alam', tutup atau menjadi situs mati, tidak lagi diupdate oleh pemiliknya hingga suatu saat lenyap dari belantara internet.
Situs ini termasuk yang beruntung bisa melewati jangka waktu tiga tahun, dan masih terus diupdate. Selama kurun waktu tersebut, saya telah menulis ribuan kata dan ribuan lagi kata disini. Sepintas seperti pekerjaan konyol, tapi saya sangat menikmatinya. Saya menikmati proses mengumpulkan data untuk sebuah tulisan, melakukan cek silang terhadap sumber-sumber yang ada, menterjemahkan sumber tulisan yang berbahasa asing, dan kemudian mempublikasikannya melalui situs ini. Saya menikmati momen ketika membaca tanggapan atau pertanyaan dari pengunjung, dan bahkan apabila menemui hasil kerja saya dicopy-paste untuk kemudian muncul di media lain.
Terkadang, karena berbagai kesibukan, situs ini tidak diupdate untuk jangka yang cukup lama, tapi saya tidak pernah benar-benar berniat untuk menelantarkannya. Begitu ada kesempatan, ingin rasanya saya bisa berbuat lebih banyak, membuat situs ini lebih lengkap dan berisi. Tapi saya sadar, semua itu diluar kemampuan saya. Cukup banyak waktu, tenaga, dan pikiran yang saya curahkan untuk menangani situs ini, dan rasanya saya tidak bisa menyediakan lebih banyak lagi.
Situs ini memang dibuat dengan dilatari semangat untuk berbagi, dan Insya Allah, akan terus dikembangkan dengan semangat yang sama, sampai suatu saat, entah kapan, saya tidak mampu lagi untuk meneruskannya. Tiga tahun memang waktu yang relatif pendek, tapi saya senang bisa berbuat sesuatu untuk banyak orang dalam kurun waktu sesingkat itu.