Refleksi: Oktober 2004
Minggu 10 Oktober 2004

Evolusi Bintang (2)

Ada alasan yang mendasar kenapa saya memilih untuk menulis soal evolusi bintang mulai dari tahap supernova -- yang sepintas merupakan tahap akhir dari kehidupan sebuah bintang. Bintang-bintang dan planet pengiringnya dilahirkan dari keruntuhan gravitasional awan gas dan debu antar bintang. Dengan demikian, supernova selain merupakan akhir dari riwayat sebuah bintang, di sisi lain juga merupakan pemicu tahapan evolusi bintang yang melahirkan bintang-bintang baru. Karenanya, saya berpendapat relatif lebih mudah untuk menjelaskan tentang pembentukan bintang apabila pembaca sudah mengetahui sedikit tentang supernova dan proses pembentukannya.

Banyak dari elemen-elemen berat yang dihasilkan selama hidup sebuah bintang atau setelah meledak menjadi sebuah supernova tersebar di ruang antar bintang. Sebagian dari "debu bintang" ini bergabung dengan gas yang runtuh dan membentuk bintang lain di suatu tempat. Miliaran tahun kemudian, generasi bintang-bintang berikutnya pun terlahir.

Masing-masing bintang bisa dikelilingi oleh lingkaran gas dan debu yang dapat menyatu dan membentuk planet berisi elemen-elemen berat seperti kalsium, karbon, dan besi. Adalah kenyataan yang menakjubkan bahwa kita semua tersusun dari elemen-elemen itu. Nitrogen dalam DNA kita, kalsium dalam tulang dan gigi kita, dan besi dalam darah kita, semua atom yang membentuk tubuh kita, terbentuk milyaran tahun yang lalu di perapian yang berasal dari keruntuhan sebuah bintang. Kita semua terbuat dari materi bintang.

Asal usul dan evolusi kehidupan berhubungan erat dengan asal dan evolusi bintang karena beberapa alasan. Pertama: Materi dasar yang membentuk tubuh kita, atom-atom yang memungkinkan kita dapat hidup, dibuat dahulu kala di tempat yang sangat jauh di dalam bintang raksasa merah. Kelimpahan relatif unsur kimia yang ditemukan dalam kosmos bersesuaian dengan kelimpahan relatif atom yang terbentuk didalam bintang, sedemikian sesuainya sehingga hampir tidak diragukan bahwa raksasa merah dan supernova adalah tungku dan wadah peleburan tempat materi ditempa. Kedua: adanya berbagai atom berat tertentu di bumi menunjukkan bahwa pernah ada suatu ledakan supernova yang cukup dekat sesaat sebelum terbentuknya tata surya. Ini nampaknya bukan semata-mata kebetulan. Lebih mungkin bahwa gelombang kejut yang dihasilkan oleh supernova itu memampatkan gas dan debu antar bintang serta memicu kondensasi tata surya. Ketiga: Ketika matahari kita mulai menyala, radiasi ultra-violet yang dipancarkannya menembus atmosfer Bumi yang masih muda dan memicu reaksi kimia yang melahirkan molekul-molekul organik yang merupakan asal mula terbentuknya kehidupan. Keempat: Kehidupan di bumi berjalan hampir seluruhnya karena adanya cahaya matahari semata. Tumbuhan -- yang menduduki tempat paling dasar dalam piramida makanan -- mengumpulkan foton dari cahaya matahari dan mengubahnya menjadi energi. Hampir semua mahluk hidup bertenagakan matahari. Akhirnya, perubahan hereditas yang disebut mutasi melengkapi bahan mentah evolusi.

Sampai disini saya merasa perlu meminta maaf kepada teman-teman yang menentang teori evolusi. Nampaknya kita tidak sependapat dalam hal ini. Tentu saja saya seorang yang religius, tapi saya juga termasuk yang meyakini bahwa Tuhan tidak menciptakan alam semesta ini secara sekaligus, tetapi melalui sebuah proses. Kita telah melihat terbentuknya bintang-bintang baru di Nebula Orion, bintang yang memasuki periode remaja di Pleiades, bintang dalam tahapan stabil seperti Matahari, bintang yang mencapai tahap raksasa merah seperti Antares, hingga bintang yang meledak sebagai supernova di Nebula Kepiting. Bintang-bintang yang kita lihat sebagai titik-titik cahaya kecil di langit malam, hingga yang kita lihat sebagai matahari di siang hari lahir dan mati melalui sebuah tahapan evolusi. Matahari, dan planet-planetnya pun sebelum akhirnya mencapai bentuknya yang sekarang, juga terbentuk melalui suatu proses evolusi.

Kita bisa membayangkan jutaan atau bahkan miliaran tahun yang lampau, pada saat matahari masih muda, saat bumi baru terbentuk. Apakah mungkin bentuk kehidupan yang kita kenal saat ini bisa bertahan hidup dalam kondisi semacam itu? Mungkin manusia memang bukan berasal dari kera seperti yang dicetuskan oleh Darwin, mungkin pula sebagian besar gambaran kita tentang evolusi mahluk hidup memang keliru, tapi setiap spesies perlu (dan bahkan harus) berevolusi untuk dapat mengimbangi tahapan evolusi semesta. Evolusi bukanlah teori, melainkan fakta.

- Diposting oleh Dhani @ 14:39

Sabtu 09 Oktober 2004

Evolusi Bintang (1)

Evolusi bintang merupakan salah satu topik menarik dalam kosmologi. Banyak fakta-fakta menakjubkan yang bisa kita peroleh saat belajar tentang topik ini. Kalau bulan lalu kita sudah sempat belajar tentang akhir kehidupan sebuah bintang, maka kali ini kita akan mencoba menyelami bagaimana sebuah bintang terbentuk.

Bintang-bintang seperti halnya matahari lahir secara berkelompok dalam kompleks-kompleks awan besar yang termampatkan yang disebut nebula. Salah satu nebula yang terkenal yang menjadi tempat kelahiran banyak bintang adalah sebuah bercak samar di rasi Orion yang dikenal sebagai Nebula Orion. Dilihat dari luar, sebuah nebula nampak gelap dan suram, namun di bagian dalamnya mereka teriluminasi dengan cemerlang oleh bintang-bintang yang baru lahir. Setelah itu, bintang-bintang muda itu akan melanglang keluar dari tempat kelahirannya di galaksi induknya.

Ke arah bintang Deneb di rasi Cygnus ada suatu gelembung super yang sangat besar dari gas yang sangat panas yang mungkin dihasilkan oleh ledakan sebuah supernova di dekat pusat gelembung itu. Pada tepiannya, materi antar bintang dimampatkan oleh gelombang supernova dan memicu keruntuhan awan dan pembentukan bintang. Dari segi ini, sebagaimana kehidupan manusia, bintang juga memiliki orangtua. Dan seperti yang kadang-kadang kita alami, orangtua juga dapat mengalami kematian ketika melahirkan anaknya.

Dalam periode remajanya, sebuah bintang biasanya masih diselubungi oleh berkas nebula gas yang berpendar, sisa-sisa dari proses pembentukan yang secara gravitasional masih melekat padanya. Contoh bintang semacam ini bisa kita lihat pada bintang-bintang di rasi Pleiades.

Mirip seperti yang dialami manusia, bintang-bintang yang beranjak dewasa berkelana jauh dari rumah, dan saudara-saudara sekandung jarang saling bertemu. Bisa jadi di suatu tempat di galaksi Bimasakti ada bintang-bintang, mungkin lusinan jumlahnya, yang merupakan saudara sekandung dari Matahari kita. Mereka terbentuk dari nebula yang sama sekitar 5 milyar tahun lalu. Tapi kita tidak tahu bintang yang manakah itu. Mereka bisa saja berada di sisi lain dari galaksi kita, atau mungkin menjadi salah satu dari bintang kecil tak berarti yang kita lihat berkelap-kelip di langit malam.

- Diposting oleh Dhani @ 14:59

Senin 04 Oktober 2004

Memilih Distro (2)

Di kalangan komunitas pengguna Linux, terkadang urusan memilih distro bisa menjadi soal yang sensitif. Seperti halnya memilih presiden, ada saja yang memilih distro berdasarkan alasan-alasan yang kurang rasional. Mungkin ada yang memilih dengan pertimbangan teknis seperti yang kita bahas di catatan sebelum ini: Kalau suka dengan koleksi aplikasi yang berlimpah, dan punya cukup dana (atau nyali untuk menggunakan versi bajakan) bisa memilih SUSE; Kalau suka main aman, silahkan pilih Mandrake atau Fedora; dan kalau suka praktis, pilih saja distro berbasis Debian yang bisa di-boot lewat CD-ROM seperti Knoppix.

Sayangnya, cukup banyak pengguna Linux yang memilih distro dengan beragam alasan yang kurang rasional. Alasan-alasan itu umumnya berkisar pada fanatisme terhadap distro tertentu, soal kebiasaan, hingga soal tampilan. Kadang-kadang upaya untuk memandu calon pengguna Linux untuk memilih distro bisa berujung pada 'perang' antar pengguna fanatik distro yang berbeda (Ini biasa terjadi pada milis atau forum pengguna Linux di internet).

Salah satu alasan yang paling tidak rasional dalam memilih distro adalah soal tampilan. Kita tahu bahwa memilih distro sebenarnya adalah urusan memilih barang yang sama yang dikemas dalam 'bungkus' yang berbeda. Demikian pula untuk soal tampilan, perlu dilihat dengan kacamata yang sama. GUI di Linux umumnya dibangun diatas dua desktop manager paling populer saat ini: KDE dan Gnome. KDE sering dipilih oleh mantan pengguna Windows yang beralih ke Linux. Ini bisa dimaklumi karena inrterface KDE sangat mirip (untuk tidak mengatakan meniru) wajah sistem operasi Windows. Dan seperti juga Windows, KDE juga bisa dikustomasi sesuka hati. Dengan demikian, kita tidak perlu terpaku dengan interface default sebuah distro saat baru diinstall.

Trend yang saat ini berkembang di kalangan pengembang distro adalah berusaha membuat interface default yang semirip mungkin dengan Windows. Sebagai contoh, lihat saja interface KDE dari SUSE 9.1. Sepintas kita mungkin akan mengira sedang berhadapan dengan OS Windows. Bahkan tampilan kotak dialog untuk operasi file pada SUSE sudah susah dibedakan dengan Windows. Mungkin ini bagian dari usaha pengembangnya agar pengguna Windows tidak kesulitan saat berpindah ke SUSE. Sayangnya, bagi para pengguna yang sudah familiar dengan KDE, ini mungkin malah jadi nilai minus bagi SUSE.

Dilain pihak, Gnome sepertinya didesain untuk meniru sebagian interface Apple Macintosh (Mac). Karena itu tidak heran kalau sebagian besar pengguna desktop manager Gnome adalah mantan pengguna Mac. Secara umum interface Gnome kelihatan lebih 'bersih' ketimbang KDE. Hanya saja, fasilitas kustomasinya lebih terbatas. Di kalangan pengguna Linux di Indonesia (dan di Amerika sendiri), Gnome cenderung kurang populer. Ini bisa jadi karena kebanyakan pengguna PC di sini lebih familiar dengan Windows. Lain halnya dengan di daratan Eropa. Disini Gnome banyak dipilih oleh para pengguna Linux, karena Mac disana termasuk platform yang cukup populer. Mungkin kapan-kapan saya akan menulis secara khusus tentang perbandingan kedua desktop manager ini.

- Diposting oleh Dhani @ 14:39

Minggu 03 Oktober 2004

Memilih Distro (1)

Para pengguna baru OS Linux sering dibingungkan oleh banyaknya pilihan paket distribusi (distro) Linux yang tersedia. Saat ini ada paling tidak tiga distro besar yang populer di kalangan pengguna kelas personal, masing-masing adalah SUSE, Mandrake, dan Fedora, sementara Debian dan Slackware sering menjadi pilihan bagi kalangan pengguna yang lebih teknis.

Pada dasarnya, tidak ada perbedaan yang berarti antara distro yang satu dengan yang lainnya. Kernel pada masing-masing distro itu adalah sama-sama Linux, yang membedakan hanyalah pada paket software yang disediakan, pengatoran direktori, serta konfigurasinya. Ada distro yang kuat di aplikasi, yang lain mengandalkan kemudahan instalasi, sementara ada pula yang disuka karena kecepatan dan stabilitasnya.

Untuk urusan kelengkapan aplikasi, SUSE mungkin merupakan distro yang menyediakan aplikasi yang paling berlimpah. Ketujuh CD instalasinya penuh dengan paket-paket program yang bervariasi, mulai dari aplikasi Office Standar, grafis, games, hingga program pendidikan. Kalau bukan untuk keperluan yang sangat khusus (dan ini nampaknya akan jarang dialami oleh pengguna kebanyakan) pengguna SUSE boleh dibilang tidak perlu menginstall aplikasi baru. Tapi, perlu dicatat bahwa tidak seperti distro lainnya, SUSE adalah distro komersial, sehingga untuk bisa memakainya, pengguna harus membeli salinan resmi. Melakukan instalasi SUSE dari CD kopian atau bajakan adalah ilegal.

Bagi yang suka gratisan, masih ada pilihan antara Mandrake dan Fedora. Walaupun tidak sebanyak SUSE, Mandrake juga dikemas dengan koleksi aplikasi yang cukup lengkap. Sebagai catatan, Mandrake saat ini cukup banyak dipilih oleh pengguna Linux dari kalangan personal. Selain karena kelengkapan aplikasinya, Mandrake juga dipilih karena kemudahan instalasinya. Hanya saja, penting untuk diperhatikan bahwa rilis terbaru dari Mandrake dikenal banyak menyimpan bugs sehingga masih belum begitu stabil.

Akan halnya Fedora, distro ini tidak lain adalah pengembangan dari distro RedHat yang pernah sangat populer itu. Sayangnya, Fedora, sebagaimana juga RedHat tidak memaketkan software multimedia dalam distribusinya. Hal ini dilakukan karena ganjalan pada soal lisensi. Ini sebenarnya bukan persoalan serius karena walaupun agak merepotkan, pengguna bisa menginstall sendiri paket-paket multimedia yang diperlukan (misalnya Xine untuk VCD player atau Xmms untuk MP3 player). Titik lemah Fedora justeru terletak pada pada unjuk kerjanya. Entah kenapa, distro yang satu ini tergolong lambat. Memang rata-rata distro rilis terbaru menunjukkan performa yang menyedihkan apabila dijalankan pada modus GUI di mesin-mesin tua. Tetapi, khusus untuk Fedora, prosesor tercepat sekalipun masih belum cukup membantu untuk menjalankan distro ini segegas distro lain apabila dijalankan pada konfigurasi hardware yang sama.

Bagi para pengguna teknis, distro macam Debian dan Slackware merupakan pilihan yang banyak direkomendasikan. Kedua distro ini sering menjadi favorit bagi para operator server internet karena reputasinya sebagai distro yang solid, bisa diandalkan dan terpercaya di pasaran. Metoda pengembangan dari kedua distro ini memastikan pengendalian mutu yang baik dan keduanya menikmati dukungan komunitas yang tidak ada duanya dari banyaknya situs web dan komunitas pengguna. Debian selalu menjadi distribusi yang terbaik dalam hal upgrade ke versi terbaru, tetapi dengan penambahan utilitas "swaret" pada Slackware versi terbaru membuat Slackware-pun bisa diupgrade dengan satu perintah. Tanpa perlu dikatakan, Debian dan Slackware terkenal dalam hal menyediakan update security secara tepat waktu.

Hanya saja, bagi pengguna awam, kedua distro ini mungkin bukan menjadi pilihan yang menarik mengingat sedikitnya paket software yang disertakan. Debian sendiri punya reputasi sebagai paket distribusi yang paling menghargai hal-hal yang menyangkut lisensi sehingga hanya menyertakan paket program dengan lisensi yang jelas walaupun jumlahnya terbatas. Namun, untungnya, Debian juga dikenal luwes dalam manajemen aplikasinya. Hal ini membuka kesempatan bagi pengguna Debian untuk membuat distro sendiri dengan basis debian dengan menyertakan software-software pilihannya. Sejumlah distro, termasuk diantarannya Knoppix, didistribusikan dengan memodifikasi paket program pada Debian.

- Diposting oleh Dhani @ 13:32