Refleksi: April 2005
Minggu 24 April 2005

Antara Astronomi, Kosmologi, dan Astrofisika

Astronomi pada dasarnya adalah ilmu yang mempelajari alam semesta dan benda-benda langit. Pengertian benda-benda langit disini sangat luas, bukan hanya mencakup bintang-bintang, planet, beserta satelitnya, namun juga melingkupi objek-objek eksotis mulai dari galaksi, kuasar, pulsar, hingga gas-gas dan debu yang menempati ruang antar bintang. Secara umum, astronomi mencakup observasi dan teori terhadap segala jenis objek tersebut.

Ilmu astronomi juga mencakup kosmologi, yaitu cabang astronomi yang mempelajari asal usul serta masa depan alam semesta kita. Mereka yang menekuni di jalur profesional kita sebut sebagai astronom (astronomer). Dalam melakukan penelitiannya, para astronom memanfaatkan berbagai metode yang umumnya melibatkan teori-teori fisika. Dengan demikian, kebanyakan astronom juga adalah seorang astrofisikawan (astrophysicist).

Astrofisika adalah cabang astronomi yang berusaha memahami kelahiran, evolusi, dan akhir riwayat dari benda langit dan sistemnya dalam bentuk hukum-hukum fisika yang mengaturnya. Untuk setiap objek atau sistem yang dipelajari, para ahli astrofisika mempelajari radiasi yang dipancarkan melalui seluruh spektrum elektromagnetik dan variasi emisinya. Informasi yang didapat kemudian diinterpretasikan dengan bantuan model-model teoritis. Salah satu model teoritis yang dibangun adalah model yang menjelaskan pancaran radiasi bersangkutan dan bagaimana ia bisa terlepas dari sebuah objek. Pengukuran radiasi dapat digunakan untuk memperkirakan distribusi dan energi dari atom-atom yang membentuk sebuah objek, sementara untuk memperkirakan suhu dan tekanan objek bersangkutan, dilakukan dengan menggunakan hukum termodinamika.

Sementara itu, model teoritis lainnya menjelaskan tentang kesetimbangan benda-benda langit. Model ini didasarkan kepada keseimbangan dari gaya didalam sebuah objek dan gaya yang dikenakan pada sebuah objek, ditambah dengan evolusi berupa transformasi nuklir maupun kimiawi yang terjadi pada objek tersebut. Fenomena perubahan yang sangat cepat (cataclysmic) dapat diinterpretasikan apabila ada sesuatu hal yang mengganggu kesetimbangan ini.

Astrofisika juga mencakup studi terhadap benda-benda langit semacam bintang, galaksi, dan alam semesta secara keseluruhan. Dari setiap objek yang dipelajari, para ahli astrofisika selalu mendasarkan pada model-model teoritis untuk memahami sifat-sifat objek yang bersangkutan.

Di lain pihak, para ilmuwan yang menekuni kosmologi kita sebut sebagai kosmolog (cosmologist). Para kosmolog mempelajari alam semesta melalui observasi (melakukan pengamatan) dan secara teoritis (menggunakan hukum-hukum fisika untuk memahami alam semesta). Pada dasarnya, kosmologi adalah cabang dari astronomi, tetap teknik observasi dan dasar teori yang digunakan oleh para kosmolog juga melibatkan disiplin ilmu lainnya seperti fisika dan kimia. Kosmologi sendiri berbeda dengan kosmogoni (cosmogony), yang semula diartikan sebagai studi tentang asal mula alam semesta, namun sekarang hanya merujuk kepada studi tentang asal mula tata surya.

Tidak semua kosmolog bisa disebut sebagai astronom. Ilmuwan seperti Albert Einstein atau Stephen Hawking adalah seorang kosmolog walaupun mereka tidak pernah berkutat di observatorium sebagaimana para ahli astronomi atau astrofisika. Para kosmolog mendasarkan teori-teori mereka pada observasi astronomi dan konsep fisika seperti mekanika kuantum, dengan sentuhan imajinasi dan filosofis. Kalau pada awalnya, kosmologi hanya bertujuan untuk menentukan letak Bumi di alam semesta, maka kosmologi moderen lebih menitik-beratkan untuk mempelajari asal mula, sifat-sifat, maupun kelanjutan nasib alam semesta kita.

- Diposting oleh Dhani @ 06:51

Rabu 20 April 2005

Rasi Bintang

Sejak kapan sih manusia mengenal rasi bintang? Faktanya, gambaran konstelasi bintang tertua yang diketahui berasal dari bangsa Sumeria, berupa pola-pola yang digambar pada segel, vas, dan papan permainan. Hal ini mengisyaratkan bahwa rasi bintang telah dikenal sejak tahun 4000 sebelum Masehi. Nama rasi Aquarius sendiri diberikan oleh bangsa Sumeria, dari mitologi Dewa langit An, saat Ia menumpahkan air keabadian diatas Bumi. Sementara itu penggolongan rasi-rasi dalam Zodiak telah dikenal sejak tahun 450 sebelum Masehi oleh bangsa Babilonia. Rasi-rasi di belahan utara yang dikenal sekarang sedikit berbeda dengan yang diketahui bangsa-bangsa Mesir kuno, Yunani, maupun Romawi.

Istilah “konstelasi” (constellation) yang artinya rasi bintang pertama kali diperkenalkan oleh Homer dan Isiad, dua pujangga Yunani Kuno yang hidup pada abad ke-9 SM, sementara Aratus, penyair dari Soli (315-245 SM) menulis sajak tentang 44 rasi bintang dalam Phaenomena. Astronom dan ahli Matematika Aleksandria, Ptolomeus, mencantumkan 48 nama rasi bintang dalam karyanya, Almagest, dimana 47 rasi diantaranya masih dikenal hingga sekarang dengan nama yang sama.

Rasi-rasi yang dipetakan di jaman itu adalah rasi di belahan Bumi utara. Rasi di belahan Selatan saat itu masih belum dikenal oleh orang asing. Pada abad ke-16, rasi bintang di belahan Bumi selatan pertama kali dipetakan oleh para penjelajah Eropa pertama disana. Seorang ahli navigasi berkebangsaan Belanda, Pieter Dirckz Keyser, memetakan rasi-rasi baru setelah ia mengikuti ekspedisi ke Hindia Selatan (sekarang Indonesia) pada 1595. Rasi belahan Selatan lainnya ditambahkan secara terpisah oleh ahli astronomi Jerman, Johann Bayer --yang pertama kali menyusun peta bintang yang lengkap di dunia Barat, Uranometria--; dan oleh astronom Prancis, Nicolas Louis Lacaille.

Masih ada sejumlah rasi baru lagi yang diusulkan, tapi para astronom akhirnya sepakat pada bilangan 88 rasi bintang. Namun demikian, batas-batas antar rasi masih menjadi bahan perdebatan hingga tahun 1930, ketika batasan yang definitif ditetapkan oleh International Astronomical Union (IAU).

- Diposting oleh Dhani @ 06:52

Minggu 10 April 2005

Perlukah Kuliah di Jurusan Informatika? (2)

Lantas apa bedanya antara lulusan perguruan tinggi dengan jebolan kursus atau otodidak? Kurikulum di perguruan tinggi jurusan Informatika tidak hanya ditujukan untuk mencetak tenaga yang trampil dalam implementasi, namun juga mampu mendesain sebuah sistem. Sebaliknya, mereka yang belajar lewat jalur kursus, program diploma, atau otodidak, kemampuannya hanya sampai ke tingkat implementasi. Mereka umumnya tidak diarahkan untuk bisa mendesain sebuah aplikasi yang kompleks.

Desain dan implementasi sistem itu adalah dua hal yang berbeda. Mendesain sebuah sistem yang rumit memerlukan penerapan teknik-teknik yang cuma bisa dipelajari di bangku perguruan tinggi. Taruhlah dalam penerapan teknik-teknik semacam kecerdasan buatan atau teori automata. Hal-hal semacam itu bukanlah porsi kursus-kursus maupun buku panduan pemrograman populer yang tersedia di pasaran.

Mengembangkan software yang kompleks tanpa pengetahuan yang memadai tentang desain adalah ibarat membangun gedung dengan konstruksi yang rapuh. Sangat berbahaya. Menulis sebuah program adalah satu hal, sedangkan optimasi adalah hal lain. Mengoptimasi sebuah program membutuhkan desain yang rapi. Program yang tidak dioptimasi akan rawan error maupun bug. Hal ini bisa disebabkan entah manajemen memori yang buruk, kode yang terlampau rakus resource (sumber daya), atau penggunaan fungsi-fungsi yang tumpang tindih. Bagaimana menulis program yang optimal memerlukan pengetahuan teknis yang tidak tercantum dalam buku-buku tentang pemrograman maupun materi di kursus-kursus. Mau tidak mau, kita hanya bisa mendalaminya lewat jalur kuliah.

Apakah desain sistem bisa dipelajari secara otodidak? Sebenarnya bisa saja, tapi dengan beberapa syarat: (1) Kita punya akses ke literatur (buku/materi kuliah) yang biasa dipakai dalam perkuliahan di jurusan Informatika; (2) Kita cukup jenius untuk bisa mempelajarinya sendirian tanpa bimbingan dari seorang dosen; dan (3) Kita punya laboratorium sendiri yang memungkinkan kita melakukan eksperimen sebagaimana halnya kegiatan praktikum di kampus. Pikirkan sendiri, siapa saja yang mampu memenuhi seluruh prasyarat tersebut. ;)

Tentu ini bukan berarti mengecilkan para programmer yang menimba ilmu lewat kursus atau secara otodidak. Mereka-mereka ini cukup bisa diandalkan untuk meng-implementasikan sistem yang telah dirancang sebelumnya oleh tenaga yang lebih kompeten. Tapi tentu saja, mereka tidak bisa diserahi tugas merancang dan meng-implementasikan sebuah sistem yang kompleks mulai dari nol. Itu sama saja dengan menyerahkan urusan rancang-bangun sebuah gedung kepada pemborong. Jelas kurang tepat, karena soal rancang-bangun sebenarnya adalah pekerjaan sarjana teknik sipil dan arsitek!

- Diposting oleh Dhani @ 10:42

Selasa 05 April 2005

Perlukah Kuliah di Jurusan Informatika? (1)

Sebentar lagi tahun ajaran baru. Seperti biasa, di saat-saat seperti ini, para calon lulusan SMA sedang pada sibuk menimbang-nimbang pilihan apakah akan bekerja atau melanjutkan kuliah. Bagi yang memilih melanjutkan kuliah, tentunya sekarang mulai memantapkan hati memilih jurusan yang diminati di perguruan tinggi. Jurusan informatika biasanya termasuk jurusan “favorit” yang dipilih. Mereka yang masuk ke jurusan ini pada umumnya mendasarkan pilihannya atas pertimbangan minat, hobi, atau sekedar karena kemudahan mencari pekerjaan setelah lulus kelak.

Satu hal yang perlu diperhatikan saat memilih untuk mendalami informatika di perguruan tinggi adalah soal kemampuan (baca: potensi) akademik. Banyak calon mahasiswa informatika yang merasa dirinya berbakat, hanya karena sejak usia dini sudah berkenalan dengan komputer, sudah bisa memprogram Visual Basic sejak SMP, sudah biasa main Linux, jago merakit komputer, dan seterusnya. Dalam batasan tertentu, ini memang merupakan bekal yang baik untuk mulai mendalami komputer lewat jalur formal di perguruan tinggi. Tapi itu bukan satu-satunya faktor!

Mendalami ilmu komputer itu sebenarnya adalah mempelajari matematika terapan. Jangan mimpi bisa survive di jurusan informatika kalau kemampuan matematika Anda payah. Di jurusan Informatika, Anda akan banyak bertemu dengan mata kuliah yang terkait dengan matematika. Mulai dari serial Kalkulus (lengkap, mulai Kalkulus 1 hingga 4), Matematika Diskrit, Aljabar Linear, Analisa Numerik, dan sejenisnya. Ini belum termasuk mata kuliah teknis yang juga akrab dengan hitung-hitungan (seperti Aljabar Logika, Rangkaian Logika, maupun Fisika Dasar). Sebelum memutuskan masuk ke jurusan ini, ada baiknya “bercermin” lewat nilai-nilai matematika dan IPA, baik yang tercantum di rapor maupun hasil UAN. Kalau merasa diri kurang di bidang ini, sebaiknya tidak berspekulasi dengan mendaftar masuk ke jurusan Informatika. Saya bukannya menakuti-nakuti, tapi berdasarkan pengalaman, peluang gagal studi (DO dan sebagainya) bagi mahasiswa semacam ini cukup besar.

Kalau hanya sekedar untuk belajar memprogram dengan Delphi, Visual Basic, atau bahasa-bahasa pemrograman populer lainnya, Anda bisa mengambil kursus, atau belajar secara otodidak saja. Begitu pula, di perguruan tinggi manapun, tidak ada mata kuliah yang mengajarkan bagaimana caranya merakit komputer. Kuliah di jurusan Informatika bukan sekedar belajar memprogram atau mengoperasikan komputer. Jangan terjebak dengan “citra” dunia IT seperti yang digambarkan di majalah-majalah atau tabloid komputer. Rasanya saya pernah menulis disini bahwa apa-apa yang ditampilkan di media populer itu sama sekali tidak mewakili dunia IT yang sesungguhnya.

Sebagaimana menuntut ilmu di jurusan-jurusan lain, kuliah di jurusan Informatika juga memerlukan minat, bakat, dan kemampuan - selain soal ketekunan tentunya. Faktor minat dan bakat terkadang suka mengecoh. Sebelum Anda menganggap diri Anda betul-betul berminat pada bidang Informatika, coba perhatikan (dan jujur pada diri sendiri!), apakah Anda memang meminati komputer sebagai sebuah ilmu yang harus Anda gali dengan menghabiskan minimal tiga setengah tahun usia Anda di perguruan tinggi, atau Anda hanya tertarik pada penggunaan komputernya (dalam hal ini, mengoperasikan software-software populer, menggunakannya untuk mengakses internet, atau bermain game)?

Begitu pula kalau Anda sudah menguasai satu atau beberapa bahasa pemrograman tertentu, itu sama sekali tidak otomatis berarti Anda memang berbakat di dunia pemrograman. Saya suka menganalogikan pemrograman komputer dengan bermain catur. Setiap orang bisa diajari langkah-langkah dalam permainan catur, tetapi mampu bermain catur dengan benar, apalagi dengan langkah-langkah layaknya seorang grandmaster, memerlukan kelebihan khusus yang tidak setiap orang dikaruniai bakat untuk itu. Seperti halnya catur, memprogram komputer bisa dipelajari setiap orang, tetapi logika pemrograman bukanlah kemampuan yang bisa dikuasai oleh siapa saja. Silahkan menilai kemampuan diri sendiri dulu. Apakah Anda termasuk orang yang suka berpikir secara logis, sistematis, dan terstruktur? Kalau ya, berarti Anda punya potensi untuk berkembang di bidang ini. Bagi yang tidak, jangan coba-coba!

Tapi, bagi mereka yang tidak memenuhi hal-hal diatas, ini bukan berarti kiamat. Ada banyak alternatif yang bisa dipilih, misalnya dengan mengambil jurusan yang lebih aplikatif, semacam Manajemen Informatika atau program diploma. Berkuliah di jurusan lain juga bukan berarti sama sekali tidak akan bersentuhan dengan dunia komputer. Dewasa ini, ketrampilan mengoperasikan komputer merupakan salah satu syarat mutlak untuk memasuki dunia kerja. Kalau Anda punya kemampuan pemrograman, itu bukan berarti Anda cuma bisa mengaplikasikannya di jurusan Informatika. Kenyataannya, di berbagai jurusan di perguruan tinggi, para mahasiswa juga diperkenalkan dengan dasar-dasar pemrograman komputer. Bahkan, di pasar kerja, seorang Sarjana ekonomi atau Sarjana Sains yang “jago” komputer cenderung lebih dihargai ketimbang Sarjana Komputer yang tidak punya ketrampilan apa-apa di bidang lain.

- Diposting oleh Dhani @ 09:28