Refleksi: Juli 2005
Minggu 31 Juli 2005
Galaksi (3)
Masih seputar galaksi. Bagian dalam sebuah galaksi berputar seperti sebuah benda tegar. Tetapi bagian luar akan mirip dengan planet-planet yang berputar di sekeliling matahari (sesuai dengan hukum Kepler ketiga). Bagian ini berputar dengan kecepatan yang lebih kecil. Lengan-lengannya cenderung untuk melilit pusat galaksi dalam spiral yang semakin ketat. Gas dan debu akan terkumpul pada daerah-daerah lengan spiral yang memiliki kerapatan yang lebih besar. Akibatnya, daerah-daerah ini akan menjadi tempat pembentukan bintang-bintang muda, terang, dan panas. Bintang-bintang yang membentuk pola lengan-lengan spiral sebuah galaksi. Bintang-bintang ini hanya bersinar selama kira-kira sepuluh juta tahun, hanya sekitar 5% dari periode rotasi sebuah galaksi. Tetapi apabila sebuah bintang yang ada di sebuah lengan spiral mati, bintang-bintang baru dan awan-awan yang berhubungan dengannya terbentuk lagi, sehingga pola-pola lengan spiral tetap bertahan. Bintang-bintang yang membentuk lengan spiral sebuah galaksi tidak bertahan sampai satu rotasi, tetapi pola-pola lengan spiralnya tetap ada.
Kecepatan bintang dalam mengelilingi pusat galaksi tidak sama dengan kecepatan lengan-lengan spiralnya. Matahari sudah sekitar 20 kali keluar masuk lengan-lengan spiral selama rotasinya mengelilingi pusat galaksi Bimasakti dengan kecepatan 200 km/detik. Rata-rata matahari dan planet-planet berada dalam sebuah lengan spiral selama 40 juta tahun, kemudian berada di luarnya selama 80 juta tahun, 40 juta tahun lagi di dalamnya, demikian seterusnya. Lengan-lengan spiral merupakan tempat bintang-bintang yang baru dilahirkan. Tetapi tidak selalu merupakan tempat kelahiran bintang-bintang setengah umur seperti matahari kita. Pada saat ini kita sedang berada di antara lengan-lengan spiral.
Lewatnya tata surya di antara lengan-lengan spiral secara periodik mungkin memiliki pengaruh yang penting bagi kita. Kira-kira sepuluh juta tahun yang lalu, matahari keluar dari daerah sabuk Gould dari lengan spiral Orion yang sekarang jaraknya kurang dari 1000 tahun cahaya. (Yang berada di sebelah dalam lengan Orion adalah lengan Sagitarius, dan di sebelah luarnya adalah lengan Perseus). Saat matahari melewati sebuah lengan spiral, maka mungkin sekali kita memasuki sebuah nebula gas dan awan debu antar bintang dan bertemu dengan objek-objek yang massanya kurang dari massa sebuah bintang. Diduga jaman es besar yang dialami planet kita, yang terjadi kira-kira setiap 100 juta tahun adalah akibat adanya materi-materi antarbintang yang berada di antara bumi dan matahari, sehingga menghalangi sinar matahari yang datang ke bumi.
Kemungkinan sejumlah bulan, komet, asteroid, dan cincin-cincin yang mengelilingi planet-planet di tata surya, dahulu bergerak bebas di ruang antar bintang sampai mereka terperangkap dalam daerah tata surya saat matahari memasuki lengan spiral Orion (W. Napier & S. Clube). Ini adalah gagasan yang menarik, meskipun kemungkinannya tidak terlalu besar. Tetapi gagasan ini bisa diuji. Yang perlu kita lakukan hanyalah mengambil beberapa contoh bahan dari sebuah komet, dan meneliti kandungan isotop magnesiumnya. Kelimpahan relatif berbagai isotop magnesium (semuanya mengandung proton dalam jumlah yang sama, tetapi netronnya berbeda) bergantung pada urutannya pada rangkaian reaksi pembentukan inti-inti berat di bintang. Urutan ini termasuk juga saat terjadinya ledakan supernova di dekat bintang. Di daerah galaksi yang berbeda, urutan peristiwa yang berbeda akan berlangsung, dan menghasilkan kelimpahan relatif isotop magnesium yang berbeda pula. Saat ini, wahana antariksa Stardust (AS) telah dikirimkan dengan misi untuk mengambil sampel partikel dari komet Wild 2 dan mengembalikannya ke bumi kelak pada Januari 2006. Diharapkan dari sampel yang diperoleh, kita dapat mengkonfirmasi kebenaran teori ini.
Minggu 24 Juli 2005
Galaksi (2)
Tipe galaksi berikutnya adalah galaksi eliptik. Galaksi dari tipe ini berwujud sebuah struktur berbentuk bola yang beranggotakan milyaran bintang yang menyerupai kelompok globular dalam skala raksasa. Struktur internalnya sangat kecil, dengan densitas bintang-bintang yang membentuk galaksi berkurang secara gradual, mulai dari bagian intinya yang rapat hingga bagian pinggir yang menyebar. Galaksi-galaksi eliptik memiliki tingkat kelonjongan yang beragam. Tipe galaksi ini biasanya hanya memiliki sangat sedikit gas dan debu antar-bintang, dan tidak memiliki populasi bintang muda (walapun ada beberapa perkecualian untuk ciri ini).
Astronom Edwin Hubble semula menggolongkan galaksi eliptik sebagai galaksi tahap-awal yang akhirnya akan berevolusi menjadi galaksi spiral (yang disebutnya galaksi tahap-akhir). Astronom masa kini telah menyadari bahwa kenyataan yang sebenarnya justeru berkebalikan dari hipotesis Hubble tersebut, namun pelabelan yang dirintisnya itu masih digunakan hingga kini.
Semula diduga bahwa galaksi eliptik adalah bentuk galaksi yang sederhana, namun belakangan ternyata diketahui merupakan objek yang cukup kompleks. Kompleksitas ini bisa dirunut dari asal-usul pembentukannya. Galaksi eliptik dipercaya merupakan produk dari bergabungnya dua atau lebih galaksi spiral menjadi satu galaksi tunggal.
Galaksi-galaksi eliptik yang ada memiliki rentang ukuran dan kecerlangan yang sangat beragam, mulai dari yang berbentuk elips raksasa bergaris tengah ratusan ribu tahun cahaya, dengan kecerlangan hampir satu triliun kali kecerlangan matahari, hingga Eliptik kerdil yang kecerlangannya hanya sedikit lebih besar dari rata-rata kelompok globular biasa. Secara morfologis, galaksi eliptik dapat digolongkan menjadi beberapa kelas:
- cD galaxies
Galaksi yang sangat besar dan cemerlang, dengan ukuran mendekati 1 Megaparsek (3 milyar tahun cahaya) pada diameternya. Objek raksasa ini biasanya hanya ditemui di dekat pusat kluster galaksi yang besar dan padat. Golongan ini nampaknya merupakan hasil penggabungan dari banyak galaksi. - Normal elliptical galaxies
Objek-objek terpadat dengan kecerlangan permukaan relatif tinggi. Termasuk dalam golongan ini adalah galaksi eliptik raksasa (giant ellipticals, gE), galksi eliptik dengan kecerlangan menengah (intermediate-luminosity ellipticals, E), dan galaksi eliptik kompak (compact ellipticals). - Dwarf elliptical galaxies (dE)
Pada dasarnya, kelas galaksi ini berbeda dengan galaksi eliptik normal. Diameternya berkisar antra 1 hingga 10 kiloparsek dengan kecerlangan permukaan yang lebih rendah dari galaksi eliptik normal, membuatnya kelihatan menyebar. Penampakannya menunjukkan karakteristik yang sama seperti karakteristik persebaran bintang pada galaksi, mulai dari bagian inti yang padat dan terus merenggang secara gradual ke arah pinggir. - Dwarf speroidal galaxies (dSph)
Galaksi dari kelas ini memiliki luminositas yang sangat rendah dengan tingkat kecerlangan permukaan yang juga rendah. Karenanya galaksi yang bisa diamati dari kelas ini hanyalah yang posisinya dekat dengan galaksi kita atau di kelompok-kelompok galaksi terdekat seperti halnya kelompok Leo. Magnitudo absolutnya hanya berkisar -8 hingga -15 mag. Salah satu galaksi dari jenis ini yang disebut Draco hanya memiliki magnitudo absolut sebesar -8,6, membuatnya lebih redup dari rata-rata kelompok globular di galaksi Bimasakti. - Blue compact dwarf galaxies (BCD)
Galaksi kecil yang biasanya nampak berwarna kebiruan. Pengukuran warna fotometrik dengan filter cahaya biru (B-V) menunjukkan besaran antara 0,0 hingga 0,30 mag, yang merupakan tipikal bintang yang relatif muda dari tipe spektral A. Ini menunjukkan bahwa BCD dalam keadaan aktif membentuk bintang-bintang. Tidak seperti galaksi elips lainnya, sistem ini kaya akan kandungan gas antar-bintang.
Minggu 17 Juli 2005
Galaksi (1)
Galaksi Bimasakti, dimana Bumi, Matahari, dan seluruh bintang yang terlihat di langit malam berada, adalah sebuah galaksi spiral, atau lebih tepatnya, galaksi spiral berpalang. Dalam bahasa Inggris, galaksi ini disebut sebagai “Milky Way”, mengacu pada suatu gugusan bintang yang sangat redup dan rapat hingga terlihat dengan mata telanjang sebagai sebuah pita cahaya yang samar saat langit cerah. Itu sebenarnya adalah cakram galaksi yang terlihat dari sudut pandang kita didalamnya.
Galaksi spiral adalah kumpulan dari milyaran bintang yang membentuk cakram, dengan pusatnya yang berbentuk tonjolan yang bersinar terang. Dalam cakram galaksi biasanya terdapat “lengan” yang sangat cemerlang, dimana bisa ditemui bintang-bintang yang paling terang. Lengan-lengan ini menjulur dari pusat galaksi, sehingga membentuk sebuah piringan spiral raksasa.
Galaksi-galaksi diklasifikasikan menggunakan apa yang disebut sebagai “tuning fork diagram” (diagram garpu tala). Ujung dari “garpu” membagi galaksi eliptik, mulai dari yang paling bulat, yang diklasifikasikan dalam kelompok E7. Sementara itu, bagian “gigi garpu” adalah dimana dua tipe dari galaksi spiral ditempatkan: spiral normal dan spiral “berpalang”. Galaksi spiral berpalang adalah galaksi yang memiliki sekelompok bintang pusat yang terentang membentuk sebuah garis dari mana lengan spiral galaksi menjulur.
Kedua jenis galaksi spiral ini diklasifikasikan lagi berdasarkan bentuk tonjolan pada intinya, rata-rata kecerlangan permukaannya, dan kerapatan lengan spiralnya. Semua karakteristik tersebut saling berhubungan satu sama lain, dengan demikian galaksi tipe Sa memiliki tonjolan inti yang besar, permukaan yang lebih cemerlang, dan lengan spiral yang rapat. Sementara itu, galaksi tipe Sb memiliki tonjolan inti yang lebih kecil, cakram yang lebih redup, dan lengan spiral yang renggang dari Sa. Demikian seterusnya pada tipe Sc dan Sd. Galaksi spiral berpalang menggunakan skema klasifikasi yang sama, yang ditandai oleh tipe SBa, SBb, SBc, dan SBd.
Ada pula galaksi yang dikelompokkan dalam kelas S0, yang secara morfologis (dilihat dari proses terbentuknya) merupakan tipe transisi dari galaksi spiral dan eliptik. Lengan spiralnya demikian tipis sehingga tidak terlihat jelas. Galaksi tipe S0 memiliki cakram dengan kecerlangan yang seragam dengan tonjolan inti yang sangat dominan.
Galaksi spiral adalah suatu kesatuan yang sangat dinamis. Ia adalah sekumpulan formasi bintang yang berisi banyak bintang dalam cakramnya. Pusatnya yang menonjol terdiri dari bintang-bintang yang lebih tua, dan lingkaran cahaya yang menyebar pada inti galaksi terdiri bintang-bintang yang paling tua. Formasi bintang yang aktif berada di bagian cakram karena disana gas dan debu lebih terkonsentrasi. Kita tahu bahwa gas dan debu adalah komponen utama yang membentuk formasi bintang.
Pengamatan melalui teleskop modern telah menyingkapkan bahwa banyak galaksi spiral yang memiliki lubang hitam supermasif dengan massa miliaran kali massa matahari pada bagian pusatnya. Baik galaksi spiral maupun eliptik diketahui mengandung objek eksotis ini. Pada kenyataannya, kebanyakan astronom masa kini percaya bahwa semua galaksi besar memiliki lubang hitam supermasif pada intinya. Lubang hitam pada inti galaksi Bimasakti sendiri diketahui memiliki massa jutaan kali massa sebuah bintang.
Minggu 10 Juli 2005
Ancaman untuk Komputer
Kalau kita memperhatikan “trend” virus komputer dalam beberapa tahun terakhir ini, kita bisa melihat penurunan yang lumayan signifikan dalam penyebaran virus file dan macro. Cerita-cerita soal virus tertentu yang menginfeksi file executable atau dokumen MS Word sudah jarang kita dengar. Sebaliknya, serangan worm, malware, adware, maupun spyware meningkat cukup tajam.
Sementara itu, masih ada saja anggapan bahwa sistem operasi Windows serta perangkat lunak keluaran Microsoft lebih rentan serangan software pengganggu ketimbang produk sistem operasi atau software aplikasi bikinan perusahaan lain. Ini sebenarnya adalah cerita yang lebih beraroma bisnis ketimbang teknis. Windows adalah sistem operasi yang paling banyak dipakai sejagat, jadi otomatis para pembuat virus akan lebih suka menulis virusnya untuk menyerang Windows ketimbang OS lain yang penggunanya masih jarang, tentu saja supaya dampak penyebarannya lebih luas dan merata. Disamping itu, praktek-praktek bisnis yang biasa dilakukan Microsoft (yang bukan pada tempatnya untuk dibahas disini) sering memancing ketidaksukaan dari sekelompok pengguna yang kemudian mengekspresikannya dengan cara yang tidak semestinya.
Kalau sekarang OS semacam Linux masih “aman” dari serangan virus maupun malware, itu bukan berarti Linux kebal terhadap serangan semacam itu. Namanya juga produk buatan manusia, tentu tidak ada yang sempurna. Masalahnya, Linux (setidaknya sampai saat ini) masih bukan platform mayoritas pengguna PC. Kalau dahulu software-software pengganggu ini ditulis hanya karena iseng, saat ini ada kecenderungan telah bergeser ke motif komersial. Dari semula sekedar nampang, atau pamer kemampuan, para black hacker itu kini mulai termotivasi untuk mengalirkan uang ke kocek mereka melalui software-software pengganggu yang mereka kembangkan. Modusnya bisa bermacam-macam, mulai dari adware yang memunculkan iklan yang tidak dikehendaki, hingga menjadi “serigala berbulu domba” dengan menawarkan “jasa” untuk menghilangkan software pengganggu (yang sebenarnya adalah buatannya sendiri). Masuk akal kalau tidak banyak black hacker yang mau repot-repot menulis software untuk platform yang kurang “merakyat”.
Hal ini juga berlaku untuk Firefox, browser alternatif yang sekarang mulai populer itu. Ini sebenarnya tidak lebih dari masalah penguasaan “pangsa pasar” saja. Saat ini, Internet Explorer (IE) nya Microsoft masih merajai “pasar” pengguna browser. Tidak salah kalau software ini dinilai rentan terhadap serangan dari mana-mana. Kelak seandainya Firefox sudah menyamai atau bahkan melebihi popularitas IE, maka hukum ekonomi akan berlaku pula, alias, para pengguna Firefox pun juga harus mulai bersiap-siap untuk menjadi target serangan berikutnya.