Refleksi: Agustus 2005
Minggu 21 Agustus 2005
Refleksi tentang "Refleksi"
Situs ini bukanlah situs berita; juga bukan situs referensi resmi. Ini hanyalah bagian dari “keisengan” yang entah kenapa masih ingin saya lanjutkan, dari pertama kali dimulai lebih dari 4 tahun lalu, hingga sekarang. Saya tidak berpretensi untuk membuat situs ini menjadi situs yang lengkap dengan info-info terkini. Saya juga tidak meniatkannya untuk menjadi tempat bertanya atau mencari bahan tugas bagi anak sekolahan atau mahasiswa. Tentu saja saya senang kalau ada orang yang terbantu karena keberadaan situs ini. Di sisi lain, saya sebenarnya tidak ingin ada pengunjung yang punya ekspektasi berlebihan, dan akhirnya malahan kecewa karena merasa konten situs ini masih sangat kurang (celakanya hal semacam ini sering terjadi dan sulit dihindari).
Halaman ini juga bukan weblog. Memang, tulisan-tulisan disini disusun dengan format weblog, dengan Blogger sebagai toolsnya. Tapi, tidak seperti weblog yang belakangan ini kian menjamur itu, halaman ini tidak memuat entri-entri pribadi (walaupun di awal-awal dulu, entri pribadi sesekali muncul). Isi “blog” ini hanyalah tulisan-tulisan yang terserak tidak terstruktur. Materinya melompat-lompat tidak beraturan. Tanpa judul, tanpa klasifikasi, dan juga tanpa basa-basi.
Waktu luang yang sempit – yang saya manfaatkan untuk menulis di halaman ini – tidak memungkinkan saya untuk menulis suatu topik secara rinci dalam sekali posting. Setiap entri disini bukan tulisan yang berdiri sendiri. Ia mungkin memiliki kaitan dengan satu atau beberapa entri yang ditulis beberapa bulan, atau tahun sebelumnya. Mungkin juga isinya masih terlalu dangkal, sehingga perlu dilanjutkan suatu saat, mungkin beberapa bulan, atau bahkan beberapa tahun kedepan. Dalam satu-dua kesempatan, beberapa entri saya rangkum untuk dijadikan satu tulisan yang agak panjang, lantas saya muat di rubrik Kumpulan Artikel, baik Astronomi maupun Informatika. Pertimbangannya semata-mata untuk alasan kemudahan, ketimbang dibaca dalam format weblog yang terkadang membingungkan itu.
Mengelola situs ini sebenarnya tidak terlalu rumit. Menulis sebuah topik juga tidaklah sesulit yang (jangan-jangan) dikira oleh sebagian pengunjung situs ini. Pengerjaan situs ini sebenarnya santai-santai saja. Tidak ada deadline, tidak ada redaksi, tidak ada headline seperti di media profesional. Ini adalah proyek pribadi, jadi suka-suka saya untuk memutuskan topik apa yang harus saya tulis, dan kapan itu harus ditulis. Maka itu, updating juga tidak seberapa sering, dan bahkan kadang-kadang sampai berbulan-bulan web ini terlantar, tidak sempat di-update.
Lantas apa manfaatnya bagi saya menulis yang beginian? Well, katakanlah sebagai usaha untuk saling berbagi. Kalau saya merasa topik astronomi atau IT itu menarik, ya siapa tahu dengan menulis disini, gairah saya terhadap bidang-bidang itu bisa menular ke orang lain. Kalaupun tidak demikian, setidaknya web ini bisa menjadi penyaluran, ketimbang semua informasi ini teronggok tidak berguna di dalam sel-sel otak saya. Gitu aja koq!
Minggu 14 Agustus 2005
Open Source vs Free Software (2)
Sebelumnya sudah kita bahas bahwa ketersediaan kode sumber untuk diakses publik tidak serta merta membuat suatu software berhak menyandang sebutan “open source”. Ini kalau kita menggunakan definisi open source versi Open Source Initiative (OSI), sebuah lembaga nonprofit. Definisi formal dari open source menurut versi OSI diantaranya adalah, apabila setiap orang memiliki hak untuk memodifikasi dan me-redistribusi kode program berikut program jadinya. Definisi OSI ini sebenarnya secara umum sama dengan definisi “free software” dari Free Software Foundation (FSF) bentukan Richard Stallman, yang diwujudkan dalam apa yang disebut sebagai General Public License (GPL) itu.
Stallman sendiri mulai mencanangkan gerakan software bebas (free software movement) pada 1983, saat ia mengumumkan rencananya untuk menulis software kompatibel UNIX yang disebut GNU (yang merupakan akronim rekursif dari GNU’s Not UNIX) dan mengedarkannya secara gratis untuk publik. Kita sudah maklum bahwasanya Linux Torvalds menciptakan Linux sebagai sebuah kernel dari GNU sehingga OS buatannya itu lebih pantas disebut GNU/Linux. Dilain pihak, kernel GNU yang ditulis oleh Stallman – disebut Hurd, atau tepatnya GNU/Hurd – sampai saat ini masih dikembangkan dan belum kunjung selesai (!).
OSI sendiri akhirnya memisah dari FSF pada 1998, saat mana mereka mulai mengadopsi label open source. Alasannya adalah karena terminologi “open source” dianggap kurang bermuatan ideologis ketimbang “free software”. Kelompok ini meyakini bahwa frase “open source” memiliki daya tarik yang lebih besar bagi kalangan bisnis, kendati sebenarnya software tersebut dikembangkan dengan pendekatan yang kurang lebih serupa seperti model pengembangan pada FSF. Sejak itu pula, kedua gerakan ini memisah secara filosofi. OSI cenderung menempatkan diri dalam kaitan pengembangan software, sedangkan FSF memposisikan kelompoknya sebagai sebuah gerakan sosial.
Minggu 07 Agustus 2005
Open Source vs Free Software (1)
Soal free software vs software komersial sebenarnya bukan isu yang cukup menarik di mata saya, karena itu jarang disinggung di halaman ini, khususnya kalau kita bicara IT. Bukan kenapa-kenapa sih, tapi bagi saya ini sebenarnya adalah isu bisnis, bukan isu teknologi, apalagi sains, yang menjadi perhatian utama saya disini.
Satu hal yang sering rancu adalah pengertian antara open source dan free software (perangkat lunak bebas). Kadang-kadang kita menemui kedua istilah ini dicampur adukkan, padahal keduanya adalah hal yang berbeda. Soal free software, kita tentu sudah hafal definisinya (selengkapnya silahkan simak catatan beberapa tahun lalu tentang GNU/GPL), sedangkan soal open source berkaitan dengan masalah ketersediaan kode sumber (source-code) untuk diakses oleh publik.
Boleh-boleh saja sebuah perangkat lunak open source diaku sebagai free software, tapi masalahnya bukan apakah kode sumber dibuka atau tidak, tapi lebih dari itu, apakah kode itu tersedia secara bebas atau tidak. FreeBSD misalnya, adalah perangkat lunak open source, tapi bukanlah free software, setidaknya kalau kita mengacu pada definisi GPL. Ini karena walaupun kode sumber untuk FreeBSD memang tersedia, namun hanya untuk kalangan terbatas. Kode ini juga tidak bebas untuk dikembangkan sesuka hati oleh usernya. Ketersediaan kode sumber disini sebenarnya semata-mata untuk alasan kemudahan bagi developer untuk mengembangkan perangkat lunak untuk OS bersangkutan. Sebaliknya, OS semacam Linux adalah free software yang definitif karena kode sumbernya selain terbuka, juga dapat dimodifikasi maupun ditingkatkan oleh usernya sendiri (bukan hanya untuk developer).
Di pihak lain, walaupun sifatnya “free”, ini tidak berarti selamanya Linux tersedia secara gratis, karena beberapa paket distrubusi (distro) Linux dikemas sebagai paket komersial dimana pengguna harus membayar biaya lisensi untuk bisa menggunakannya secara legal. Sebaliknya, FreeBSD yang walaupun bukan free software, justeru tersedia secara gratis untuk digunakan oleh siapa saja tanpa perlu dipusingkan soal lisensi.
Kesimpulannya, istilah free software maupun open source sebenarnya tidak berkorelasi langsung dengan masalah harga. Ini cuma persoalan ketersediaan kode sumber dan bagaimana hak pengguna terhadap kode sumber bersangkutan. Untuk ukuran user kebanyakan (non-programmer/developer), urusan ini jelas bukan sesuatu yang signifikan.
Beberapa kelompok pengguna belakangan ini cukup rajin mengkampanyekan Linux, khususnya distro non-komersial, sebagai OS alternatif. Sayangnya, kampanye semacam ini sering diiringi dengan praktek-praktek yang kurang elegan, misalnya dengan berusaha menjatuhkan kredibilitas produsen software komersial tertentu. Ada lagi yang mengkaitkannya dengan isu nasionalisme, mengingat penggunaan software komersial yang kebanyakan buatan luar negeri dianggap sebagai pemborosan devisa negara. Saya sendiri terus terang tidak ada urusan dengan kampanye semacam ini. Bagi saya pribadi sih, OS dan software itu hanyalan sekedar sarana. Untuk itu, performa mestinya menjadi alasan utama bagi pengguna untuk menggunakan OS atau perangkat lunak tertentu. Kalau sudah begini, ceritanya jadi cenderung subjektif. Kalau sudah merasa puas dengan OpenOffice dan tidak butuh MS Office, ya monggo. Tapi kalau tidak merasa cocok dengan Linux dan lebih memilih bayar lisensi untuk Windows, ya go ahead. Duitnya juga bukan duit saya koq :) (1