Refleksi: Juni 2006
Jumat 30 Juni 2006

Situs Berita Astronomi

Bagi Anda-Anda yang cuma tertarik untuk memperoleh informasi terkini terkait dengan astronomi (dalam bahasa Indonesia tentu saja), tapi tidak terlalu berminat dengan segala pernak-pernik “teknis” seperti yang sering diulas disini, sila kunjungi situs berikut: http://ias.dhani.org. Segala macam saran, masukan, atau komentar, dapat ditujukan ke alamat email: graifhan at gmail dot com.

Kenapa harus ada satu situs lagi? Sesekali saya menerima masukan dari pengunjung supaya situs ini juga memuat materi berita, baik dari dunia IT maupun astronomi. Sayangnya, permintaan ini sulit saya penuhi. Dari semula, situs ini memang tidak diniatkan untuk menjadi situs berita. Saya khawatir materi berita justeru membuat situs ini jadi tidak fokus dan malahan melupakan fungsi utamanya yang diniatkan sebagai media pembelajaran.

“Pembelajaran” disini sebenarnya bukan cuma untuk para pengunjung situs, tapi terutama untuk diri saya sendiri sebagai penulisnya. Sering terjadi dalam upaya menulis suatu topik, saya malahan memperoleh banyak pemahaman baru yang mungkin akan terlewat begitu saja apabila saya hanya sekedar membaca. Dari situ, saya harus mengakui kebenaran sebuah ungkapan bijak: Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.

Lantas, kenapa harus astronomi, bukannya IT saja? Jawab: dengan alasan yang sama seperti orang mengembangkan program opensource. Saya hanya ingin menyediakan apa yang belum (jarang) disediakan oleh orang lain. Situs berita IT dalam bahasa Indonesia sudah bejibun, dan rasanya tambahan satu situs tidak terlalu signifikan. Beda dengan situs astronomi berbahasa Indonesia yang masih dalam hitungan jari.

- Diposting oleh Dhani @ 00:13

Rabu 21 Juni 2006

Coding atau Programming? (2)

Lantas, mana yang lebih baik antara coding sendiri, atau menggunakan kode opensource yang siap pakai? Waktu masih idealis dulu sih, saya suka alternatif pertama, tapi dalam konteks sekarang, saya (terpaksa) menyarankan alternatif kedua :(. Untuk keperluan latihan, meningkatkan ketrampilan, memang tidak ada salahnya kita menulis program sendiri. Tapi setelah kita mencapai tingkat penguasaan tertentu, apalagi untuk kepentingan praktis, coding sendiri jelas bukan pilihan yang rasional, khususnya kalau kita bicara soal produktivitas dan efisiensi kerja.

Kita balik sebentar ke kasus “programmer web” yang sudah kita bahas di posting sebelumnya. Bagi programmer yang menguasai kombinasi server side scripting dan database tertentu, entah itu PHP/MySQL, ASP/MS Access, or whatever, membuat aplikasi web sendiri, apakah itu CMS atau Blog, sebenarnya bukan pekerjaan yang kelewat sulit. Tapi, perlu diingat bahwa active content adalah salah satu titik rawan dari sebuah situs web, dan karenanya merupakan sasaran empuk para hacker untuk “menjajal kesaktian”. Kalau sang programmer tidak aware dengan soal kemanaan kode-kode yang ditulisnya sendiri, maka yang namanya XSS atau SQL injection siap mengincar setiap saat. ;)

Akibatnya, bagi seorang amatir dalam pemrograman web, menulis sendiri aplikasi web – apalagi untuk konten yang sensitif – sama saja seperti menggali liang kubur untuk diri sendiri. Sebaliknya, bagi seorang profesional, menulis sendiri aplikasi web sama sekali tidak memberikan nilai tambah apapun. So, kenapa tidak pakai aplikasi opensource saja? Toh sudah tersedia gratis, tinggal install dan jalankan saja. Kalaupun ada fitur yang tidak memuaskan, bisa diperbaiki sendiri (dan dengan demikian, kita sekaligus sudah ikut berkontribusi dalam gerakan opensource).

Ngomong-ngomong tentang opensource, cukup banyak paradigma yang harus dirubah sejak kemunculan gerakan ini. Paradigma pemrograman cuma salah satu diantaranya. Yang lainnya adalah paradigma bisnis software – yang tentu saja tidak disukai oleh para tycoon macam Bill Gates. Tapi urusan bisnis sama sekali bukan porsi jurnal ini. Jadi, cerita kita akhiri sampai disini saja.

- Diposting oleh Dhani @ 23:25

Senin 19 Juni 2006

Coding atau Programming? (1)

Dahoeloe, antara coding dan prorgramming punya pengertian yang setali-tiga uang. Dua-duanya sama-sama diartikan sebagai pekerjaan menuliskan baris-baris kode program yang kelak setelah di-compile akan membentuk software aplikasi yang dapat dijalankan oleh (sistem operasi) komputer. Tapi “trend” saat ini, banyak programmer yang sehari-hari berkutat dengan listing program, tapi ternyata tidak bisa coding. Aneh?

Tidak juga. Saya juga sebetulnya termasuk terlambat menyadari, sampai kemudian pengalaman (yang sebagian tidak mengenakkan) mengajarkan kepada saya, bagaimana para programmer sekarang bekerja.

Maklum, berhubung saya ini “produk” dari jaman DOS (kalau masih ingat dengan OS yang satu ini), maka saya masih terbawa dengan paradigma pemrograman yang dimulai dari nol. Dalam hal ini, kecuali bagian unit atau library (atau whatever istilahnya, tergantung bahasa pemrograman yang dipakai), setiap baris kode program ditulis sendiri mulai dari scratch dalam artian yang sebenar-benarnya, yaitu dari membersihkan (mengosongkan tampilan) layar.

Tapi tentu saja, jaman DOS sudah lama berlalu. Sekarang kan jamannya Open Source. Untuk apa menulis ulang rutin-rutin yang sudah pernah dibuat orang lain, dan tersedia gratis pula? Jadi, kerja programmer sekarang bisa lebih enteng, cuma sebatas tukang rakit dan rangkai. Browsing internet, gunakan fungsi-fungsi dari sini, lantas dioplos dengan library dari sana, ditambah plugin dari situ, wes-ewes-ewes, jadilah software.

Ada lagi profesi “baru” yang kedengaran keren: web programmer. Requirement untuk profesi yang satu ini lumayan bikin gentar. Harus “fasih” berbahasa Java (yang bukan pakai “kulonuwun” atau semacamnya), termasuk juga melek JavaScript (yang bukannya ha-na-ca-ra-ka itu). Tidak ketinggalan penguasaan PHP, ASP, MySQL, dan kawan-kawannya. Tapi, betulkah itu semua terpakai?

Ambil satu hosting yang murah [seperti hosting situs ini misalnya, he-he-he], lantas lihat fasilitas Control Panelnya. Masuk ke menu Fantastico, trus tinggal pilih apa-apa yang mau diinstall ke website. Mau CMS, weblog, forum, sampai Wiki, semua sudah tersedia. Anda bisa bikin weblog, dengan WordPress misalnya, hanya dengan sekali klik. Lantas kalau kurang puas dengan default theme yang tersedia, silahkan goggling untuk mencari theme yang kena di hati. Belum cukup juga? Pasang plugin untuk beberapa fungsi tertentu. Dan tunggu saja sampai ada pengunjung awam yang tercengang dengan kecanggihan web Anda. Setelah itu, Anda sudah bisa menyebut diri Anda programmer web dengan spesialisasi PHP dan MySQL (biarpun kalau berhadapan dengan layar phpMyAdmin bisa muntah-muntah saking bingungnya).

Jadi, kalau kita mendevelop software seperti jaman DOS dulu, itu namanya coding. Kalau macam kerjaan si “web programmer” diatas, itulah yang namanya programming. Tapi, itu tadi memang contoh ekstrim. Kenyataannya, baik programmer maupun “programmer” (yang tidak bisa coding), tetap harus mengerti bahasa pemrograman. Minimal bisa membaca source yang ditulis orang lain. Syukur-syukur bisa memodifikasi untuk menyesuaikan dengan kebutuhan (percaya atau tidak, bagi yang biasa coding sendiri, membaca source yang ditulis orang lain itu terkadang lebih sukar daripada membuat sendiri dari awal).

Konon sih, di era open-source sekarang, coding sendiri itu memang sudah bukan jamannya lagi. So, paradigma yang saya anut itu yang mesti direvisi -- walaupun saya sendiri sebenarnya masih merasa kurang “sreg”. Programmer koq tidak bisa coding?

- Diposting oleh Dhani @ 21:56