Refleksi: Agustus 2006
Minggu 27 Agustus 2006
Selamat Ulang Tahun, Linux!
Tanggal 25 Agustus lalu, sistem operasi GNU/Linux (untuk selanjutnya disebut “Linux” saja) genap berusia 15 tahun. Peluncuran Linux pada 25 Agustus 1991 sama sekali tidak semeriah peluncuran software komersial, yang biasanya dipenuhi tamu undangan dan hingar-bingar seremoni, melainkan hanya ditandai oleh pesan singkat dari penciptanya, Linux Torvalds, pada newsgroup pengguna sistem operasi MINIX di comp.os.minix:
Hello everybody out there using minix -Dalam beberapa jam sejak pesan itu dipostingkan, sepuluh orang mendownload versi pertama Linux di server milik Helsinki University of Technology, dan lima orang mengirimkan kembali versi yang sudah dibetulkan dari kesalahan, diperbaiki kodenya, dan ditambahi kemampuan baru. Dalam waktu singkat, ratusan programmer ikut berpartisipasi dalam diskusi Usenet tentang Linux dan bekerjasama memperbaiki kode program. Dan selanjutnya adalah sejarah.
I'm doing a (free) operating system (just a hobby, won't be big and professional like gnu) for 386(486) AT clones. This has been brewing since April, and is starting to get ready. I'd like any feedback on things people like/dislike in minix, as my OS resembles it somewhat (same physical layout of the file-system (due to practical reasons) among other things).
I've currently ported bash(1.08) and gcc(1.40), and things seem to work. This implies that I'll get something practical within a few months, and I'd like to know what features most people would want. Any suggestions are welcome, but I won't promise I'll implement them :-)
Linus (torvalds@kruuna.helsinki.fi)
Di tahun 1993 terdapat sekitar 20.000 pengguna Linux dengan sekitar 100 programmer yang secara aktif berkontribusi untuk memperbaiki kode. Di tahun 2003, LinuxWorld, mencatat 18 juta pengguna, meningkat dua kali lipat dari perkiraan jumlah pengguna pada 1998.
Apa sebab Linux bisa sedemikian populer? Bagi para pengguna kebanyakan (baca: non-teknis), yang menarik dari Linux adalah distribusinya yang berada dibawah lisensi GPL (General Public License). Dengan demikian, Linux tersedia gratis untuk digunakan tanpa perlu membayar biaya lisensi. Di sisi lain, bagi para pengguna teknis, Linux dikenal sebagai OS yang sangat stabil dan tahan banting. Ini adalah konsekuensi logis, mengingat program ini telah diuji dan diperbaiki oleh sekian banyak pemrogram trampil—lebih banyak ketimbang yang bisa dikumpulkan oleh produsen software komersial macam Microsoft.
Tentu saja popularitas Linux tidak lepas dari peran internet. Pengembangan Linux melibatkan sejumlah besar programmer yang terpisah jauh secara geografis. Dalam skala pekerjaan yang sedemikian besar—mengembangkan, memperbaiki, dan mempertukarkan jutaan baris kode program—tidak ada saluran komunikasi yang lebih handal dan efisien ketimbang internet. Tanpa internet, Linux tidak akan berkembang secepat sekarang. Tidak terlalu mengherankan kalau saat ini sebagian besar server internet justeru dijalankan diatas sistem operasi ini.
Minggu 20 Agustus 2006
Paradoks Olbers
Ada suatu paradoks yang terkenal dalam astronomi dan kosmoslogi: Apabila alam semesta ini luasnya tak terbatas, seharusnya kita akan melihat bintang di setiap sudut langit, dan dengan demikian langit malah akan sepenuhnya terang-benderang. Lantas, kenapa ada daerah gelap diantara bintang-bintang?
Paradoks ini disebut sebagai paradoks Olbers (Olbers's paradox), sesuai nama fisikawan dan astronom Jerman, Wilhelm Olbers, yang menulis tentang paradoks ini pada 1920-an. Sebenarnya Olbers bukanlah orang pertama yang mengangkat wacana ini. Di awal abad ke-17, astronom Jerman lainnya, Johannes Kepler, merujuk paradoks yang sama untuk mendukung pandangannya tentang alam semesta terbatas. Pada 1715, astronom Inggris Edmond Halley, setelah mengamati jejak cahaya cemerlang di langit, mengajukan pandangannya bahwa kendati alam semesta tidak terbatas, namun bintang-bintang tidak terdistribusi secara merata.
Berikutnya, astronom Swiss Jean-Philippe Loys de Chéseaux mulai mempelajari paradoks tersebut berdasarkan teori Halley. Ia berkesimpulan bahwa entah alam semesta sesungguhnya tidak tak-terbatas, atau kekuatan cahaya bintang berkurang seiring dengan bertambahnya jarak, kemungkinan karena adanya material yang menyerap cahaya di ruang angkasa.
Paradoks ini mulai dipahami secara luas berkat artikel yang diterbitkan Olbers pada 1823. Olbers mengajukan teori bahwa gelapnya langit malam karena ada sesuatu di angjasa yang menghalangi sebagian cahaya bintang mencapai Bumi (Para ilmuwan sekarang menyadari bahwa teori Olbers tidak mungkin valid karena apabila materi yang menghalangi cahaya bintang itu benar-benar ada, maka ia akan terus-menerus memanas dan suatu ketika akan memancarkan cahaya secemerlang sebuah bintang). Terjemahan artikel Olbers dalam bahasa Inggris dan Prancis membuat teorinya lebih dikenal luas. Namun demikian, paradoks Olbers tidak pernah didiskusikan lagi hingga lebih dari seabad kemudian.
Pada 1948, paradoks ini kembali muncul. Kali ini sebagai rujukan dari teori keadaan tetap yang diajukan oleh astronom Inggris, Hermann Bondi. Bondi mengajukan solusi bahwa akibat dari ekspansi alam semesta, cahaya yang kita terima dari objek yang sangat jauh akan terlihat memerah, dan dengan demikian jumlah energi pada setiap foton (partikel cahaya) juga lebih sedikit (lihat pergeseran merah). Solusi ini ternyata juga valid untuk teori big bang.
Pemahaman terkini tentang paradoks Olbers beserta solusinya baru diajukan pada 1960-an oleh astronom Amerika, Edward Harrison. Harisson menunjukkan bahwa gelapnya langit malam disebabkan karena kita tidak dapat melihat bintang yang jauhnya tak-terbatas. Solusi Harrison didasarkan pada model alam semesta yang mengembang. Karena cahaya yang dipancarkan sebuah objek memerlukan waktu untuk mencapai Bumi, maka melihat ke kedalaman angkasa sama seperti melihat kejadian di waktu lampau. Di sisi lain, karena alam semesta masih terus mengembang, maka bintang dan galaksi akan semakin menjauh dari waktu ke waktu. Cahaya yang dipancarkan sebuah galaksi hari ini akan menempuh jarak yang lebih jauh ketimbang cahaya yang dipancarkan pada sejuta, atau bahkan setahun lalu, karena jarak yang memisahkan kita di Bumi dengan galaksi bersangkutan terus bertambah. Konsekuensinya, jumlah energi cahaya yang mencapai kita dari objek yang jauh akan terus berkurang setiap waktu. Makin jauh sebuah bintang, makin redup ia terlihat. Dalam model ini, efek pergeseran merah seperti yang diajukan Bondi memiliki pengaruh yang lebih kecil.