Refleksi: Desember 2006
Sabtu 23 Desember 2006

Profesi IT bagi Penyandang Buta Warna

Baru-baru ini di sebuah milis IT sempat dibahas tentang peluang kerja di bidang IT bagi penyandang buta warna. Ada keluhan bahwa mereka yang buta warna sering ditolak saat melamar pekerjaan di bidang IT. Kenapa bisa demikian?

Berita buruknya, memang ada beberapa hambatan bagi penyandang buta warna untuk bekerja di sebagian bidang IT. Untuk Bidang Network, biasanya perlu menangani kabel-kabel yang banyak menggunakan warna-warni yang berbeda dan setting belum tentu berurutan, misalnya untuk kabel RJ 45. Disamping itu, di bidang pemrograman, saat ini software rata-rata telah berbasiskan GUI sehingga agak menyulitkan bagi mereka yang buta warna untuk mendesain tampilan secara efektif.

Berita baiknya, bagi yang memiliki kelainan ini, bukan berarti pintu untuk berkarir di bidang IT sudah tertutup. Masih ada sederet bidang terkait IT yang bisa ditekuni oleh penyandang buta warna. Mereka bisa menjadi implementor, core programmer, system analyst, atau database administrator. Pendeknya, bidang-bidang yang tidak terlalu banyak berhubungan dengan warna.

Tapi sayangnya, di kebanyakan perusahaan, khususnya di Indonesia, tenaga IT dituntut harus bisa “all out”, harus mampu menangani mulai hardware, software, website, network, pokoknya semuanya yang berhubungan dengan IT. Tidak jarang seorang programmer web juga dituntut untuk mampu mendesain grafis untuk web yang ia bangun. Padahal desain grafis sebenarnya bukan “bagian” orang IT melainkan biasanya merupakan “makanan” orang Multimedia.

Di sisi lain, perusahaan yang ingin merekrut tenaga IT bisa saja memilih mereka yang tidak buta warna karena alasan “pragmatis” semata. Kalau ada pilihan tenaga IT dengan kemampuan yang sama maka akan dipilih yang sempurna. Karena itu, bagi penyandang buta warna, tidak ada pilihan selain membangun kompetensi setinggi mungkin di bidangnya. Katakanlah semacam “kompensasi” atas kekurangannya agar bisa memenangkan persaingan di bursa kerja.

- Diposting oleh Dhani @ 23:31

Kamis 21 Desember 2006

Proteksi Anti Virus, Perlukah?

Banyak pengguna komputer yang demi alasan keamanan lantas memasang software antivirus di komputernya. Software anti virus menjadi salah satu tools wajib yang harus selalu ada di setiap sistem komputer pribadi. Sayangnya, setelah anti virus dipasang, kita mulai merasa komputer tidak lagi “berlari” sekencang yang biasanya. Hal ini bukan saja menimpa sistem komputer keluaran lama dengan sumber daya, baik kapasitas memori maupun kecepatan prosesor yang tidak seberapa, tapi juga sistem komputer baru dengan konfigurasi perangkat keras yang memadai. Lantas bagaimana sebaiknya?

Sebelum tulisan ini dilanjutkan, pertama-tama kita perlu tahu sedikit tentang sistem kerja perangkat lunak anti virus. Walaupun ada bermacam-macam software anti virus tersedia di pasaran, tetapi metode kerjanya sebenarnya tidak jauh berbeda. Ada interface bagi pengguna yang akan melakukan scanning secara manual, sementara bagian lain menetap (residen) di memori untuk memonitor setiap aktivitas baca-tulis maupun lalu-lintas file dari gelagat mencurigakan yang mungkin merupakan indikasi keberadaan virus dalam sistem. Nah, bagian yang residen inilah yang sering menjadi “biang kerok” dari menurunnya performa sistem setelah dipasangi anti virus.

Kebanyakan aktivitas baca-tulis di PC adalah berkaitan dengan loading software aplikasi dan memanggil file kerja yang tersimpan dalam hard disk. Cuma sekali waktu saja kita harus memanggil file yang tersimpan di media eksternal. Sementara itu, software antivirus akan terus menerus memantau aktivitas baca-tulis di media penyimpanan. Hal ini jelas-jelas akan mengurangi waktu respon dari sistem. Belum lagi antivirus yang residen jelas menuntut jatah memori—yang seharusnya bisa dipakai oleh software aplikasi lainnya.

Berbeda dengan jaman DOS dulu, dimana perangkat lunak dapat langsung dikopi dan dieksekusi dari media penyimpanan (disket/hard disk), maka dibawah sistem operasi Windows, sebuah software harus melalui prosedur instalasi sebelum bisa dijalankan dengan sempurna. Dan karena software sekarang biasanya berukuran besar, maka media distribusi semacam disket jelas tidak lagi memadai. Software jaman sekarang hampir selalu didistribusikan dalam media CD-ROM yang tentunya lebih aman terhadap ancaman infeksi virus. Paket instalasi software dewasa ini juga dilengkapi dengan checksum yang otomatis tidak akan melanjutkan proses instalasi apabila diketahui ada perubahan pada file-file instalasi (yang mungkin merupakan indikasi aktivitas virus). Dari sini, boleh diambil kesimpulan bahwa ancaman infeksi virus akibat kegiatan pertukaran file program saat ini sudah bisa dieliminasi.

Salah satu celah masuknya virus ke sistem adalah melalui sarana email/internet. Sebagai tindakan pencegahan, lakukan download software hanya dari situs-situs yang terpercaya, dan hindari berkunjung ke situs-situs yang tidak jelas juntrungannya (terutama adult site). Sementara untuk lalu-lintas email, lakukan saja scanning secara manual hanya untuk attachment yang dirasa mencurigakan. Memang sedikit repot, tapi akan lebih menghemat sumber daya komputer ketimbang harus menghidupkan software antivirus yang terus menerus memantau aktivitas baca-tulis di hard disk.

Lantas bagaimana dengan ancaman worm atau malware dan spyware? Jenis software pengganggu ini sebenarnya bukan virus dalam artian sebenarnya karena tidak mengandung rutin-rutin penularan sebagaimana program virus konvensional. Untuk menangkalnya, sebetulnya tidak perlu menggunakan antivirus, namun cukup dengan kewaspadaan saja. Jangan sembarangan mengeksekusi file attachment maupun file-file yang didownload dari internet—apalagi dari situs-situs yang kurang terpercaya (lakukan saja scanning manual seperti yang sudah dijelaskan diatas).

Karena kebanyakan ancaman virus sekarang berasal dari internet, maka penting bagi kita untuk menggunakan software yang “aman” dalam aktivitas ber-internet. Penggunaan browser Internet Explorer dan email client Outlook Express adalah kombinasi yang terkenal buruk dan rentan terhadap “serangan”. Saya sendiri menggunakan Browser Mozilla Firefox dengan email client Eudora, dan sudah beberapa tahun tidak pernah ada masalah dengan software pengganggu apapun, baik dari web maupun email.

Ada lagi hal yang dahulu merupakan ancaman, tapi sekarang sudah bisa dieliminasi, yakni virus macro. Fasilitas macro di software MS Office memang pernah rentan disalahgunakan untuk membuat makro berisi rutin-rutin yang tidak berbeda dengan virus: bersifat menular dan mengganggu. Perangkat lunak MS Office versi terbaru sudah menyediakan proteksi internal yang cukup baik untuk menangkal penyebaran virus makro sehingga resiko infeksi virus jenis ini sekarang sebenarnya sudah sangat kecil, bahkan nyaris nol.

Tapi tentu saja kondisi seperti ini bukan berarti kita tidak butuh antivirus lagi. Saya sendiri misalnya, tetap memasang antivirus, tapi fitur proteksinya saya matikan (disable). Hanya sesekali saya melakukan scanning secara manual untuk memastikan kondisi sistem aman-aman saja.

PERINGATAN: Gunakan cara ini atas resiko Anda sendiri. Penulis tidak bertanggung jawab terhadap masalah yang mungkin timbul akibat tindakan ini

- Diposting oleh Dhani @ 21:51